
Richard sudah tidak tahan lagi dengan segala kebohongan yang ia katakan pada sang istri.
Ia merasa seperti membohongi dirinya sendiri karena pria itu sangat mencintai Renatta, meski tak pernah mengatakan secara langsung.
Setelah memikirkan beberapa saat, Richard memutuskan untuk berbicara pada keluarga sang mertua.
Ia ingin meminta pendapat orang lain. Tak ingin memendam kegelisahan sendirian. Satu-satunya tempat untuk memembagi cerita adalah keluarga Setiawan.
Maka, siang ini Richard mengalihkan semua tugas kantor pada sang sepupu Dirga. Sementara ia ingin menyelesaikan masalah hatinya.
Ia menghubungi papa dan mama mertuanya, meminta mereka bertemu. Namun bukan di rumah, melainkan di kantor Setiawan. Agar Renatta tidak mengetahuinya.
Richard meminta bertemu setelah makan siang.
Sebelum pergi ke kantor sang mertua, Richard juga menyempatkan diri mengunjungi makam Rianna.
“Kamu sudah makan siang?” Tanya mama Dona saat sang menantu mengambil tempat duduk di sebuah sofa single.
Sementara mama Dona duduk berdampingan bersama papa Roy, dan Randy duduk di atas kursi kebesarannya.
Mereka kini tengah berada di dalam ruangan kerja Randy.
“Aku sudah makan, ma.” Ucap Richard dengan sopan.
“Hal penting apa yang ingin kamu bicarakan, Rich?” Tanya papa Roy.
Richard menghela nafas pelan. Ia melonggarkan dasi yang tadi pagi Renatta ikatkan pada leher pria itu.
“Aku kembali mengalami mimpi buruk itu, pa.” Ucap Richard kemudian.
Papa Roy dan mama Dona saling melempar tatap setelah mendengar ucapan sang menantu. Begitu pula Randy, ia menatap penuh tanya ke arah Richard.
“Mimpi buruk?” Ulang papa Roy.
“Ya, pa. Kejadian tujuh belas tahun silam.” Ucap Richard sembari mengangguk.
“Maaf jika aku mengatakan hal pribadi, tetapi setiap kali aku dan Renatta melakukan hubungan suami istri, setelahnya mimpi buruk itu akan datang. Dan tadi malam, aku bermimpi bertemu Rianna.”
Richard menceritakan tentang percakapan dirinya dan Rianna di alam mimpi.
Ketiga anggota keluarga Setiawan menyimak apa yang pria berusia empat puluh tahun itu katakan.
“Aku merasa jika aku harus mengatakan yang sebenarnya pada Renatta, pa, ma.” Richard menatap kedua mertuanya secara bergantian.
“Apa yang ingin kamu katakan?” Tanya mama Dona.
“Renatta sudah tahu jika saudari kembarnya meninggal karena kecelakaan.” Imbuh wanita paruh baya itu.
“Tetapi Rena tidak tahu kejadian yang sebenarnya, ma. Aku ingin dia mengetahuinya, agar aku bisa hidup dengan tenang bersamanya.”
“Kak, kamu jangan menyalahkan dirimu lagi. Aku yakin, kamu bermimpi seperti itu lagi karena kamu merasa bersalah. Cobalah untuk mengikhlaskannya, kak.” Randy menambahkan.
“Aku tahu yang kak Rich rasakan. Kita mengalami hal yang sama selama beberapa tahun.” Ucap Randy dengan pandangan menerawang jauh.
Setelah kejadian naas tujuh belas tahun silam, tak hanya Richard yang di hantui mimpi buruk. Randy juga mengalami hal yang sama.
Pria itu melihat dengan mata kepalanya sendiri, saat sang adik tertabrak dan jatuh bersimbah darah.
__ADS_1
Papa Roy juga sempat membawa Randy berobat pada ahli kejiwaan. Mungkin karena usianya yang lebih muda dari Richard, sehingga membuat Randy dengan mudah menghilangkan rasa traumanya.
“Tetapi tidak semudah itu, Ran.” Ucap Richard frustrasi.
Entah apa yang membuatnya begitu susah untuk berbicara pada Renatta. Ketakutan akan kehilangan wanita itu, membuat Richard menjadi seorang pecundang.
****
Pulang kuliah, Renatta memutuskan untuk mengunjungi makam Rianna.
Beberapa waktu lalu, wanita itu sempat bermimpi bertemu dengan seorang gadis yang sang mirip dengan dirinya. Renatta yakin jika itu adalah Rianna.
Renatta tidak pernah tahu bagaimana rupa sang suadari. Mereka terpisahkan saat berusia lima tahun. Usia dimana tidak semua orang dapat mengingat kenangannya.
Hanya ada foto masa lalu yang tersimpan rapi, namun tak juga membuat Renatta mengingat masa kecilnya.
Tiba di depan pemakaman, wanita itu tak lupa membeli buket bunga Lily kesukaannya.
“Buket bunga Lily ya, kak?” Tanya penjual bunga kepada Renatta.
Pemuda berusia belasan tahun itu bahkan sampai hafal dengan wajah Renatta.
Renatta tersenyum sembari mengangguk.
Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, Renatta bergegas menuju makam Rianna.
Dahi istri Richard Wijaya itu berkerut halus ketika mendapati sebuah buket bunga Lily yang terlihat masih segar di atas makam Rianna.
“Siapa yang datang?” Tanyanya tanpa ada yang menjawab.
Renatta berjongkok disisi makam, meletakan buket bunga yang ia bawa di samping buket yang lain.
“Aku senang kamu mau datang, meski tak mengatakan apapun.” Ucapnya lagi sembari mengusap sudut matanya.
Ya, meski Renatta bermimpi bertemu dengan Rianna, namun saudari kembarnya itu tidak mengatakan apapun. Hanya lambaian tangan yang membuat Renatta memintanya untuk tetap tinggal, bahkan wanita itu sampai mengigau.
“Lain kali jika datang lagi, tolong bicaralah beberapa patah kata. Aku ingin kita bisa mengobrol. Aku sayang kamu. Kamu tahu itu ‘kan?”
“Semoga kita bisa bertemu lagi, Ri. Walau itu hanya di alam mimpi.”
“Aku pulang dulu.” Ucapnya sembari mengusap nisan Rianna.
Setelah merasa puas berbicara dengan sang saudari kembar, Renatta memutuskan untuk pulang. Saat bangkit dari posisi berjongkoknya, tatapan wanita itu kembali tertuju pada buket bunga Lily yang lebih dulu ada disana.
“Dik, kakak boleh bertanya? Apa tadi ada orang yang membeli buket bunga Lily, sebelum kakak?” Renatta kembali mampir ke toko bunga di depan makam.
Ia yakin jika buket bunga itu di beli dari toko itu, karena pembungkusnya yang sama dengan yang ia beli.
“Ya, kak. Seorang pria tampan.” Ucap pemuda itu.
Renatta mengangguk paham. Ia kemudian pamit.
“Apa kak Randy yang datang, ya?” Monolog Renatta.
“Pak, kita pergi ke kantor papa ku.” Ucap Renatta saat sudah berada di dalam mobil.
Ia ingin bertemu dengan Randy, pria tampan yang di katakan oleh penjual bunga itu.
__ADS_1
“Baik, nyonya.” Ucap sang sopir. Mobil itu pun bergerak meninggalkan area pemakaman.
Kedatangan Renatta di sambut ramah oleh para karyawan yang tanpa sengaja berpapasan dengannya.
Meski jarang ke kantor, namun para karyawan di kantor Setiawan tahu siapa Renatta.
“Aku ingin bertemu dengan kakak.” Ucap Renatta pada pegawai resepsionis.
“Silahkan, mbak. Pak Randy ada di ruangannya.” Ucap pegawai resepsionis dengan ramah.
Renatta mengangguk kemudian ia melenggang menuju lift yang akan mengantarkannya ke ruangan sang kakak.
“Lalu kamu akan mengatakan apa pada Rena? Kamu akan mengatakan jika kamu adalah penyebab kecelakaan Rianna?”
Dahi Renatta berkerut ketika mendengar suara dari dalam ruangan sang kakak. Ia mengenali suara bariton itu.
“Papa bicara dengan siapa? Penyebab kecelakaan Rianna?” Gumam Renatta.
Wanita itu hendak mengetuk pintu, namun papan persegi panjang itu rupanya tak tertutup dengan rapat. Hendak masuk ke dalam tanpa permisi, Renatta tanpa sengaja mendengar suara sang papa.
“Aku hanya ingin Rena tahu kebenarannya, pa.”
Mata Renatta terpejam, ia juga mengenali suara lawan bicara sang papa.
“Om Rich?” Wanita itu semakin penasaran.
Ia mendorong daun pintu perlahan, agar bisa mendengar lebih jelas.
“Aku hanya ingin menjelaskan tentang kejadian tujuh belas tahun lalu. Jika akulah penyebab kecelakaan itu.”
Deg!!
Jantung Renatta berdegup kencang mendengar ucapan sang suami. Tangan wanita itu mencengkeram gagang pintu dengan keras.
Richard penyebab kecelakaan tujuh belas tahun lalu?!
“Lalu, apa kamu pikir setelah itu semuanya akan selesai?”
Itu adalah suara sang mama.
“Aku juga akan mengatakan yang sebenarnya. Jika perusahaan kalian tidak pernah mengalami masalah ekonomi.”
“Kak. Semuanya tidak akan semudah yang kak Rich pikirkan. Aku mengenal betul siapa Renatta.”
“Aku hanya ingin istriku tahu, Ran. Aku tidak bisa terus menerus membohonginya.”
Renatta menggelengkan kepalanya dengan keras. Perlahan kaki wanita itu mundur.
Apakah maksud semua ini?
Richard penyebab kecelakaan Rianna? Semua anggota keluarga Setiawan tahu, bahkan melarang Richard mengatakannya?
Dan lagi, perusahaan tidak pernah mengalami masalah keuangan?
Kenapa begitu banyak rahasia yang mereka sembunyikan dari Renatta?
“Nona Renatta?”
__ADS_1
****
Bersambung.