
Cerita Richard seolah membuka pikiran Renatta. Wanita itu merasa sangat egois karena telah pergi begitu saja, tanpa menuntut penjelasan apapun.
Harusnya Renatta masuk ke dalam ruangan Randy hari itu. Tetapi ia justru mengambil kesimpulan sendiri.
“Maafkan aku, om.” Ucap Renatta sembari merapatkan tubuhnya pada sang suami.
Jujur, wanita itu sangat merindukan Richard, karena berpisah selama beberapa hari ini.
“Maaf untuk apa, sayang?” Tanya Richard sembari mengusap lembut punggung sang istri.
Renatta mendongak sejenak. “Maaf karena waktu itu aku pergi begitu saja. Maaf karena sudah menuduh om sebagai pembunuh.”
Richard terkekeh pelan. “Jadi, sekarang istriku sudah bisa berpikir dewasa?”
Renatta kemudian mendengus. “Apa kalian menganggap ku seperti anak kecil?”
Richard menganggukkan kepalanya. “Bukannya kamu memang masih kecil?”
Renatta kemudian mencubit pinggang sang suami.
“Kamu melakukan kekerasan dalam rumah tangga, sayang.” Ucap Richard menepis tangan sang istri.
Pria itu kemudian menghela nafas pelan. “Sekarang, kamu sudah tahu yang sebenarnya. Jadi, aku minta agar kamu berhenti bersikap acuh pada papa dan mama.” Richard kembali berbicara serius.
“Mereka menyayangimu, sayang. Setiap orang tua ingin yang terbaik untuk anak-anak mereka.” Imbuhnya kemudian.
“Tetapi, aku masih belum terima karena kalian berbohong tentang perusahaan.” Ucap Renatta.
“Sudah aku katakan, itu semua atas usulanku. Aku sudah menolakmu berulang kali. Dan hal itu membuat kamu membenciku. Jika aku melamarmu begitu saja, aku yakin kamu akan tidak akan mau begitu saja. Kamu pasti membalas dendam dengan menolakku juga.” Jelas Richard panjang lebar.
Renatta kemudian melepaskan diri dari pelukan sang suami. Wanita itu kembali duduk pada posisi semula.
“Dasar licik. Om memanfaatkan kelemahanku.” Ucapnya sembari memicingkan mata.
Richard yang masih duduk bersandar pun tergelak. “Hanya itu cara satu-satunya, sayang. Kamu pasti tidak mau hidup susah. Makanya aku merencanakan ide itu. Aku yakin kamu tidak akan menolaknya.”
“Om lupa aku menolak di awal?” Tanya gadis itu.
__ADS_1
“Dan aku punya cara untuk mengancammu.” Tukas Richard kemudian.
“Dan aku benar-benar bodoh karena percaya begitu saja.” Gumam Renatta.
Richard kembali meraih tubuh sang istri. “Kamu tidak bodoh sayang. Hanya saja kamu terlalu menyayangi keluargamu. Karena itu, kamu tidak ingin mereka hidup sudah.”
Renatta mengangguk dalam dekapan sang suami. Wanita itu setuju dengan ucapan Richard. Ia memang sangat menyayangi keluarganya. Begitu pun dengan dirinya yang tak bisa hidup susah, karena sudah terbiasa hidup berkecukupan.
****
Malam harinya.
“Lepaskan aku, om.” Renatta menggeliat seperti cacing, saat sang suami memeluknya dari belakang.
“Tidak akan. Nanti kamu pergi lagi.” Ucap Richard yang semakin mengeratkan pelukannya.
“Tidak. Ini aku sudah untuk berjalan.”
Renatta yang hendak masuk ke dalam kamar setelah selesai makan malam, tiba-tiba di tempeli oleh sang suami.
“Tidak untuk malam ini. Aku ingin menghabiskan waktu berdua denganmu. Kita baru saja bertemu setelah beberapa hari.”
Richard mendorong secara halus tubuh sang istri hingga jatuh di atas tempat tidur.
Renatta membulatkan matanya. “Apa yang om lakukan?”
“Tentu saja aku akan menghukum istri yang sudah salah paham pada suaminya.”
Pria itu pun ikut menjatuhkan diri di samping sang istri.
“Jangan macam-macam, om.” Renatta menggeser tubuhnya.
“Aku hanya satu macam, sayang.” Ucap Richard sembari terkekeh.
Tangan pria dewasa itu terulur meraih pinggang ramping sang istri. Membuat tubuh mereka merapat.
“Om.” Rengek Renatta yang kembali menggeliat.
__ADS_1
“Sebelumnya kamu tidak pernah menolakku. Kenapa sekarang seolah-olah kamu seorang gadis yang belum pernah tersentuh pria?” Tanya Richard kemudian.
“Bukan begitu, om. Hanya saja— Renatta menjeda ucapannya. Ia mencoba merangkai kata, agar sang suami tidak tersinggung jika wanita itu mengatakan dirinya masih terasa canggung untuk bermesraan bersama Richard.
“Kamu belum percaya dengan apa yang aku ucapkan tadi siang?” Tanya Richard. Pria itu setengah bangkit, kemudian mengukung tubuh sang istri dengan kedua tangannya.
“Aku percaya.” Tukas Renatta dengan cepat.
“Lalu?” Tuntut Richard lagi.
“Ya—ya, aku hanya.” Renatta tergagap.
Hal itu membuat Richard menjadi tidak sabar, kemudian membungkam bibir sang istri.
“Kamu tahu, sayang. Aku bisa gila jika terlalu lama berpisah denganmu.” Ucap Richard saat pertautan bibir mereka terlepas.
Nafas Renatta tersengal. Richard membungkamnya begitu mendadak dan sedikit kasar.
“Bukannya selama ini kita juga tinggal terpisah? Om jangan berlebihan.” Jawabnya setelah nafasnya kembali normal.
“Ya. Meski begitu, kamu tetap berada dalam pantauan ku. Tidak seperti kemarin, kamu menghilang tanpa jejak.”
“Dalam pantauan om?” Tanya Renatta tak mengerti.
“Maksud om apa?” Tuntut wanita itu.
Richard terdiam karena ia hampir membuka rahasianya selama ini.
“Tidak ada. Selama ini aku selalu memantau mu dari mama atau papa.” Ucap Richard yang kemudian kembali membungkam bibir sang istri.
Kali ini Richard tidak membiarkan wanita itu untuk menolak ataupun meronta lagi. Pria dewasa itu sudah terlalu lama memendam kerinduan pada istri kecilnya.
Suasana kamar pun berubah temaram. Di dalam ruang tidur yang luas itu kini hanya terdengar suara keramat Renatta yang semakin membuat Richard bersemangat.
...****************...
Bersambung.
__ADS_1