
Renatta telah tiba di kampus, dengan diantar oleh sopir berbadan tegap. Semenjak menikah, Richard melarang untuk mengendarai mobil sendiri.
Kemana pun wanita itu pergi, harus diantar. Kalau bukan bersama Richard, maka Renatta harus pergi bersama sopir.
“Pak, nanti aku hubungi jika sudah selesai. Hari ini aku ada kelas tambahan.” Ucap Renatta sembari mebuka sabuk pengamanannya.
“Baik, nyonya.” Jawab pria berbadan tegap itu dengan tegas.
Renatta kemudian keluar dari dalam mobil.
Saat melangkah menuju gedung kampus, mata Renatta tanpa sengaja menangkap sosok Gista yang sedang duduk di bangku taman.
Renatta melirik arloji mahal di pergelangan tangannya. Masih ada sekitar tiga puluh menit waktu tersisa, sebelum kelas pertama di mulai.
Istri dari Richard Wijaya itu pun bergegas menghampiri sang sahabat.
“Gista.”
“Ya.” Gadis itu menjawab tanpa menoleh. Tangannya sedang sibuk bermain dengan ponselnya.
Renatta berdecak kesal. Ia kemudian duduk di samping sang sahabat.
“Ta, kamu sedang apa? Sepertinya sibuk sekali? Punya pacar baru, ya?” Tebak Renatta kemudian.
Gista menoleh sekilas. Ia kemudian kembali fokus menatap layar ponselnya.
“Ih, Gista. Sedang melihat apa sih?” Rasa ingin tahu Renatta membuat wanita itu ikut menatap ke arah layar ponsel sang sahabat.
“Kamu sedang mencari pekerjaan?” Tanya Renatta saat melihat Gista sedang berselancar pada halaman yang menyediakan bursa lowongan kerja.
Gista mengangguk pelan. “Tetapi, aku tidak menemukan pekerjaan paruh waktu yang sesuai.” Ucap gadis itu pelan.
“Kamu mau bekerja paruh waktu, Ta?” Tanya Renatta lagi.
Dan Gista pun menganggukkan kepalanya.
“Bapak punya hutang pada seorang rentenir.” Ucap Gista dengan menundukkan kepalanya.
Renatta tersentak. Ia beberapa kali pernah datang ke rumah Gista saat pulang kuliah. Bapak satu-satunya orang tua yang gadis itu miliki, sangatlah baik dan tidak terlihat seperti pria yang suka berhutang.
“Bapak punya hutang?” Tanya Renatta tak percaya.
Gista kembali menganggukkan kepalanya.
“Berapa?”
Gista menghela nafas pelan. Hanya Renatta yang bisa mendengarkan ceritanya saat ini.
“Seratus lima puluh juta.” Ucap gadis itu lirih.
“APA??!!”
Renatta memekik. Membuat Gista seketika panik.
“Ya Tuhan, Re. Kamu membuat kita menjadi pusat perhatian.” Gista menoleh kesana kemari sembari tersenyum canggung.
“Untuk apa uang sebanyak itu, Gista?” Tanya Renatta dengan mata yang membola.
Gista kembali menundukkan kepala.
“Judi online. Ternyata, uang yang selama ini bapak berikan padaku, hasil dari berjudi online.” Tutur Gista dengan suara pelan. Ia tak ingin ada orang lain yang mendengarkan percakapan mereka.
__ADS_1
“Astaga, bapak.” Renatta menggelengkan kepala tanda tak percaya.
Hening kemudian melingkupi dua sahabat itu. Gista kembali sibuk mencari pekerjaan yang cocok dengannya. Sementara, Renatta sibuk dengan pikirannya sendiri.
“Ta. Pakai uang aku saja. Kamu bayar sama rentenir itu.” Usul Renatta kemudian.
Gista menoleh ke arah Renatta, yang kebetulan wanita itu juga menatap ke arahnya.
Gista kemudian menggelengkan kepala. “Kamu sendiri sedang kesulitan keuangan. Bagaimana bisa berbaik hati meminjamkan uang padaku?”
Renatta mencebikkan bibirnya.
“Ta. Aku sudah menikah. Uang aku sekarang ini dari om Rich. Bukan dari papa atau kakak. Jadi, kondisi keuanganku baik-baik saja.”
Gista nampak berpikir sejenak. Ia lantas menggelengkan kepalanya. Gadis itu merasa tidak enak hati jika harus meminjam uang dari Renatta, sementara uang itu pemberian Richard.
“Aku mau bekerja saja, Re.”
“Bukannya aku meremehkan. Tetapi, memangnya bisa mengumpulkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat? Apalagi dengan bekerja paruh waktu?” Tanya Renatta kemudian.
Gista menggeleng lemah.
“Nah, pikirkan dulu, Ta. Kalau memang perlu cepat dan mendesak, kamu bisa pakai uang aku.”
Renatta bangkit karena waktu hampir habis, dan kelas akan segera di mulai.
“Aku juga tidak memberi kamu cuma-cuma. Kamu pinjam sama aku. Tetapi, aku tidak akan menuntut seperti rentenir itu. Kamu kembalikan nanti saat sudah ada.” Tambah Renatta kemudian.
Gista termenung.
“Ya sudah. Kamu pikirkan saja dulu. Sekarang kita harus masuk kelas. Jangan sampai di hukum sama dosen.”
****
Saat pulang kuliah. Renatta memutuskan untuk mendatangi kantor sang suami.
Pria itu memiliki banyak koneksi dan rekan kerja. Siapa tahu saja, Richard bisa mencarikan pekerjaan untuk Gista.
Sahabatnya masih keras kepala ingin bekerja paruh waktu, dan tidak mau memakai uang pemberian Renatta.
Saat keluar dari lift, Renatta berpapasan dengan Dirga yang juga baru keluar dari ruangannya.
Di lantai tertinggi gedung Wijaya Group, memang di khususkan untuk para petinggi perusahaan.
“Hai, kakak ipar.” Sapa Dirga yang membuat mata Renatta membulat sempurna.
Pasalnya, di lantai itu ada meja para sekretaris yang siap mendengar perkataan Dirga kapan saja.
Renatta tak menghiraukan Dirga, ia berlalu menuju ruangan sang suami.
Melissa menatap tak suka pada Renatta. Sekretaris Richard itu langsung mendapatkan peringatan dari Dirga.
“Kenapa om mengikuti aku?” Tanya Renatta sembari berdekap dada.
Ia hendak membuka pintu ruangan Richard untuk masuk, karena tadi Renatta sudah menghubungi sang suami. Dan pria itu memintanya untuk langsung masuk ke dalam.
Namun tangan Dirga lebih dulu meraih gagang pintu.
“Aku juga mau masuk.” Tukas Dirga.
Renatta berdecak kesal. Ia membiarkan Dirga membuka pintu.
__ADS_1
“Kenapa kalian datang bersama?” Tanya Richard saat melihat sang istri masuk bersama sepupunya.
“Kami tidak sengaja berpapasan di depan.” Ucap Dirga yang tanpa di persilahkan, langsung mendudukkan dirinya di depan meja kerja Richard.
Richard berdecak kesal.
Ia menghampiri sang istri yang memilih duduk di atas sofa.
“Sudah makan siang?” Tanya Richard sembari mengusap pucuk kepala sang istri.
“Sudah.” Jawab Renatta dengan anggukkan kepala.
“Mau membicarakan hal penting apa? Sehingga tidak bisa menunggu sampai aku pulang” Tanya Richard lagi.
Renatta melirik ke arah Dirga yang duduk dengan santai di atas kursi.
“Apa om dan om Dirga sedang sibuk? Kalian ada pembahasan penting?” Renatta berbalik melempar tanya.
“Tidak.” Jawab Richard sembari menatap ke arah sang sepupu.
“Apa kakak ipar memiliki pembahasan penting dengan kak Rich? Jika iya, aku akan permisi. Aku kemari hanya ingin mengundang kak Rich dan kakak ipar untuk datang ke acara pembukaan kafe baru milikku.” Dirga bersiap untuk bangkit.
“Tunggu, om Dirga.” Renatta mengangkat telapak tangannya sebagai tanda untuk menghentikan langkah Dirga.
Pria berusia tiga puluh lima tahun itu kembali duduk.
“Yang pertama, tolong berhenti memanggilku kakak ipar. Bagaimana pun juga, usiaku lebih muda dari om Dirga.” Jelas Renatta.
Dirga hanya menanggapi dengan mengedikan bahunya.
“Yang kedua, tadi om mengatakan acara pembukaan kafe baru? Apa om mencari pekerja paruh waktu?” Tanya Renatta kemudian.
“Ya aku—
“Untuk apa kamu menanyakan pekerjaan paruh waktu? Jangan katakan jika kamu ingin bekerja?” Richard menyela, berbicara dengan mata menatap tajam.
Renatta menggelengkan kepalanya dengan cepat.
“Bukan aku, om. Tetapi Gista. Dia ingin bekerja paruh waktu.” Jelas Renatta pada Richard.
Wanita itu kemudian beralih pada Dirga.
“Bagaimana om Dirga? Apa om mau menerima pekerja paruh waktu? Dia sahabatku dan sedang membutuhkan uang. Aku sudah menawarkan bantuan. Tetapi dia tidak mau. Gista tetap ingin bekerja paruh waktu.”
Renatta menatap penuh harap pada adik iparnya itu.
Dirga nampak memikirkan perkataan Renatta.
“Akhir pekan nanti, bawa dia ikut bersama kalian saat acara pembukaan kafe. Aku akan mempertimbangkan saat melihat gadis itu langsung.” Putus Dirga kemudian.
Senyum terbit di wajah cantik Renatta. Ia kemudian bangkit, berniat untuk memeluk adik iparnya.
“Terimakasih adik ipar—
“Tidak perlu sampai memeluk.” Geram Richard sembari menarik pinggang sang istri sebelum sampai pada Dirga.
“Dasar posesif.” Cibir Dirga kemudian.
***
Bersambung.
__ADS_1