
“Pak Richard keren, ya?”
“Iya. Dia tampan sekali. Kabarnya masih lajang.”
“Tidak. Ini artikel di internet mengatakan jika dia sudah menikah. Tetapi, nama istrinya di rahasiakan.”
“Wah pasti beruntung sekali wanita yang menjadi istri pak Richard. Secara dia tampan dan mapan.”
Renatta mendengus kesal mendengar para mahasiswi lain sedang membicarakan sang suami di kantin kampus.
Tangan wanita itu terkepal meremas botol jus jeruk yang tadi ia beli.
“Kenapa? Panas ya? Makanya, status istri sah jangan di rahasiakan.” Ucap Gista terkekeh melihat wajah sang sahabat yang memerah karena menahan kesal.
“Tidak. Terimakasih. Aku masih waras. Apa kata orang-orang kampus jika tahu aku menikah dengan dosen sendiri?” Renatta mengedikan bahunya sendiri.
“Sudah. Jangan di bahas. Biarkan saja mereka membicarakan om Rich. Yang terpenting, dia milik aku.”
Gista setuju dengan menganggukkan kepalanya.
“Oh ya, Ta. Apa kamu sudah mendapat pekerjaan yang sesuai untuk kamu?” Tanya Renatta kemudian.
Gista menghela nafas pelan. “Ada sih beberapa pilihan. Tetapi aku belum mengirim lamaran.”
“Bagaimana jika Sabtu besok kamu ikut aku? Adik sepupu om Rich membuka kafe baru. Siapa tahu, kamu cocok bekerja disana.”
Gista nampak berpikir. Ia tidak enak hati pada Renatta yang selalu saja membantunya.
“Tetapi, Re—
Renatta menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak mau mendengar penolakan apapun lagi. Kamu sudah menolak menerima uang pemeberian dari aku. Sekarang kamu tidak boleh menolak lagi.” Renatta berbicara dengan intonasi tegas dan tak terbantahkan.
“Baiklah. Tetapi, apa mungkin sepupu pak Richard itu akan menerima aku bekerja? Maksudku, apa dia menerima pekerja paruh waktu?”
Renatta menganggukkan kepalanya.
“Pasti diterima. Dia orangnya baik. Suka jahil, tidak kaku seperti om Rich.” Jelas Renatta kemudian.
“Lalu besok pergi jam berapa?” Tanya Gista kemudian.
“Sore. Aku jemput pukul tiga.” Renatta bersiap bangkit dari kursi kantin yang sejak tadi ia tempati.
“Re, tunggu. Apa kita juga akan pergi bersama pak Rich?”
“Ya.” Jawab Renatta.
“Kamu beritahu saja alamatnya. Biar aku datang sendiri.”
Renatta mengerti maksud ucapan Gista yang mungkin sungkan dengan Richard.
“Baiklah. Nanti aku kirim alamatnya. Kamu harus datang. Awas kalau tidak! Aku tidak mau lagi kenal sama kamu.” Ancam Renatta kemudian.
Gista menyodorkan jari kelingking sebagai janji ia akan datang.
“Baiklah. Ayo kita masuk kelas. Aku tidak mau kena marah dosen.”
Renatta bergegas bangkit.
“Katakan saja jika kamu sudah tidak sabar untuk bertemu dengan pak Rich.” Cibir Gista.
Gadis itu mendapat cubitan tajam pada lengannya karena berbicara sedikit keras dan membuat beberapa mahasiswi melihat ke arah mereka.
***
Keesokan harinya.
__ADS_1
Renatta dan Richard tengah bersiap untuk pergi menghadiri acara pembukaan kafe baru milik Dirga.
Mereka menggunakan setelan jas dan gaun yang senada. Hijau muda menjadi tema hari ini, karena kafe yang Dirga buka memiliki konsep Garden Cafe.
“Apa temanmu jadi ikut?” Tanya Richard saat membantu Renatta mengaitkan kancing gaun yang berada di punggung wanita itu.
“Jadi, om. Nanti kita bertemu di tempat. Dia tidak mau di jemput.” Jelas Renatta. Ia merasakan hembusan nafas sang suami menerpa kulit lehernya.
Dan benar saja, saat melihat pantulan cermin, wajah pria itu kini berada tepat pada cerukan lehernya.
“Om, jangan macam-macam.” Renatta menjauh. Menatap tajam sang suami.
“Aku hanya meminta balasan dari apa yang telah aku lakukan. Kamu tahu, di dunia ini tidak ada yang gratis.” Ucap Richard dengan seringai kecil.
Renatta menghela nafas pelan. “Ya, aku tahu.”
Ia teringat akan pernikahan mereka yang terjadi karena Richard membantu perusahaan Setiawan.
Ya. Di dunia ini memang tidak ada yang gratis.
“Ayo.”
Richard mengulurkan tangan, berniat mengajak sang istri keluar dari dalam kamar dan segera berangkat.
Namun suasana hati Renatta mendadak berubah. Mungkin karena masih datang bulan, jadi ia mudah sekali sensitif.
Wanita itu tak menyambut tangan sang suami, ia mendahului Richard keluar dari kamar mereka.
Richard mengendarai mobilnya dengan santai. Sesekali pria dewasa itu melirik sang istri yang membisu sejak tadi.
Richard mencoba menerka, apa yang membuat sang istri kecil menjadi bungkam. Lalu pria itu teringat jika Renatta masih dalam masa bulannya. Jadi, Richard pun memaklumi tanpa bertanya lagi.
Hingga sampai di tempat tujuan, Renatta masih saja setia pada diamnya. Ia kemudian mengambil ponsel untuk menghubungi Gista.
“Ayo.” Richard mengajaknya untuk masuk.
“Sebentar, om. Aku menunggu Gista.”
Renatta menghela nafas pelan. Ia tidak tahu kenapa suasana hatinya menjadi buruk setelah mendengar ucapan Richard.
Harusnya wanita itu tak ambil hati, karena pada kenyataannya hubungan mereka memang berlandaskan sebuah pinjaman.
“Re. Maaf aku datang terlambat.”
Suara Gista menginterupsi lamunan Renatta.
Renatta menerbitkan senyum terbaiknya. Ia harus melupakan yang Richard ucapkan.
“Aku juga baru datang, Ta.”
Gista mengangguk. “Kamu sendirian? Pak Rich dimana?” Tanya gadis itu kemudian.
“Om Rich sudah ke dalam tadi. Ayo. Aku akan mengenalkan mu pada sepupunya om Rich.”
Renatta mengandeng tangan sang sahabat memasuki area kafe itu.
Dirga tidak mengundang banyak orang. Hanya beberapa rekan kerja, sahabat dan juga keluarganya.
Renatta menghampiri Richard yang sedang berbincang dengan om Jordan, papanya Dirga.
“Apa kabar kamu, Re?” Tanya om Jordan sembari memeluk Renatta.
“Baik. Om apa kabar?” Tanyanya kembali.
“Om juga baik. Kamu dapat salam dari tante. Maaf, kami tidak bisa hadir saat pernikahan kalian. Ada sesuatu yang harus kami urus.” Jelas pria paruh baya itu.
“Tidak apa-apa, om.”
__ADS_1
Renatta tahu, jika mama Dirga sedang menjalani proses pengobatan. Sehingga harus berada di Singapura untuk beberapa waktu.
“Om Dirga dimana?” Renatta memutar kepalanya mencari keberadaan sang adik ipar.
“Ada. Dia lagi mengobrol bersama rekan kerja kita.” Richard menyahuti.
Renatta mengangguk paham.
“Tunggu sebentar ya, Ta.” Beritahunya pada Gista.
“Kalian mau makan atau minum sesuatu dulu?” Tanya Richard kemudian.
Gista menggeleng pelan.
“Kamu tidak perlu sungkan, kita sekarang sedang tidak berada di kampus. Di luar, saya adalah suami sahabat kamu.” Ucap Richard kemudian.
“Ya, pak.” Sahut Gista semakin canggung.
Ia terbiasa melihat Richard yang bersikap tegas dan galak saat mengajar. Tidak semudah itu mengubah persepsinya menjadi ‘suami dari sahabat’ seperti yang pria itu katakan.
Richard mengajak sang istri dan Gista pergi ke arah meja prasmanan. Mereka mencicipi menu yang akan menjadi andalan di kafe itu.
“Nah, itu orangnya datang.” Ucap Richard sembari menunjuk ke arah Dirga yang berjalan mendekati mereka.
“Maaf jika membuat kalian menunggu lama. Bagaimana rasa hidangannya? Apa cocok di lidah kalian?” Tanya Dirga menatap Richard dan Renatta bergantian.
Ia belum sadar jika ada orang lain diantara kakak dan kakak iparnya.
“Makanannya enak, om.” Jawab Renatta mengacungkan ibu jarinya.
Dirga tersenyum sembari mengedipkan sebelah matanya.
Saat pria itu menarik kursi untuk duduk, ia baru sadar jika ada tamu lain di meja itu.
Dirga bertanya pada Richard melalui bahasa isyarat mata.
Richard mengerti kemudian berdeham pelan.
“Sayang, perkenalkan teman kamu.” Ucapnya pada sang istri.
“Oh, iya.” Renatta kemudian meletakan alat makannya.
“Om Dirga, perkenalkan ini Gista sahabat aku. Dia yanb aku ceritakan tempo hari. Bagaimana menurut om? Apa Gista masuk seleksi sebagai pekerja magang di kafe ini?” Renatta berbicara penuh harap pada Dirga.
Ia sangat ingin memaksa adik iparnya itu untuk menerima Gista sebagai pekerja paruh waktu.
Dirga menatap lekat ke arah Gista. Dari segi penampilan, tak ada cacat fisik terlihat. Meski tidak secantik Renatta, namun gadis itu terlihat manis.
Di perhatikan seperti itu membuat Gista menjadi canggung, dengan kaku ia menerbitkan senyum terbaiknya.
“Saya Dirga.” Pria itu mengulurkan tangan.
Gista menyambut dengan tangan sedikit bergetar. “Saya Gista, pak.”
“Kamu yakin ingin bekerja paruh waktu?” Tanya Dirga kemudian.
Gista mengangguk pelan.
“Baiklah. Kamu saya terima. Saya harap kamu bisa bekerja dengan baik.” Ucap Dirga kemudian.
Gista menganga. Semudah inikah mendapat pekerjaan? Apa karena Dirga adalah keluarga dari Renatta?
“Saya menerima kamu karena beberapa hal. Dan salah satunya, karena kamu sahabat kakak ipar saya. Saya percaya, kamu pasti gadis baik, karena kakak ipar saya juga baik.” Jelas Dirga setelah melihat reaksi Gista.
“Iya, pak. Terimakasih. Semoga saya tidak mengecewakan bapak kedepannya.” Sahut Gista kemudian.
“Salah. Seharusnya kamu menjawab, semoga kamu tidak mengecewakan Renatta kedepannya.” Koreksi Dirga kemudian.
__ADS_1
***
Bersambung