
“Kamu mau mendengar darimana, sayang?” Tanya Richard menatap penuh rasa rindu pada sang istri yang duduk di hadapannya, namun berjarak cukup jauh, karena terhalang sebuah meja panjang.
Richard dan Renatta sama-sama menempati sofa single yang terpisah. Sementara, mama Dona dan papa Roy duduk berdampingan pada sofa panjang.
Renatta menatap sang suami penuh amarah.
“Tentang kematian Rianna.” Ucap wanita itu yang kemudian menatap orang tuanya secara bergantian.
“Rianna meninggal karena kecelakaan, Re.” Mama Dona menjawab.
“Bukan karena om Rich?” Tanya Renatta yang kembali menatap sang suami penuh amarah.
“Dia sendiri ‘kan yang mengakui menjadi penyebab meninggalnya Rianna?” Wanita itu beralih menatap mama dan papanya.
“Tidak semua yang kamu dengar itu adalah kebenarannya, sayang.” Papa Roy menimpali.
“Meski orangnya sendiri yang mengakui, tetap bukan kebenarannya?” Renatta kembali bertanya.
Wanita itu mulai hilang kesabarannya. “Tolong jangan berbasa-basi, pa. Aku hanya ingin tahu yang sebenarnya. Sepertinya kalian sangat menyayanginya, sehingga kalian begitu membelanya.”
Richard menghela nafas pelan. Ia sudah sangat merindukan sang istri. Tak ingin jika hubungan mereka salah paham lebih lama.
“Aku memang penyebab meninggalnya Rianna.” Pria itu bersuara.
“Rich.” Papa Roy menggelengkan kepalanya.
Namun Richard tetap melanjutkan ucapannya.
“Karena aku, Rianna mengalami kecalakaan.” Pria itu menghela nafas panjang, sembari memejamkan matanya.
Richard pun mulai bercerita. Suara pria itu mulai berubah.
Sungguh sulit untuk Richard mengingat, apalagi menceritakan kejadian tujuh belas tahun yang lalu itu. Hatinya selalu merasa sakit saat mengingat tubuh mungil bersimbah darah di dalam pelukannya.
__ADS_1
Renatta mengamati sang suami yang terus berbicara dengan mata terpejam. Dahi wanita itu sedikit berkerut ketika mendengar suara berat menahan tangis dari pria dewasa itu.
“Kamu menangis meminta es krim. Aku membawamu keluar dari sekolah untuk membelinya. Dan, saat kita akan kembali, aku melihat kerumunan orang-orang di depan sekolah.” Richard menghela nafasnya lagi.
“Dan— ia tak sanggup melanjutkan cerita. Kepala pria itu sejenak tertunduk.
“Aku lalai. Andai aku tidak mengajak kalian pergi bersama, mungkin hari ini Rianna masih ada bersama kita.” Ucap Richard kemudian.
Pria berusia empat puluh tahun itu memalingkan wajah, agar air matanya tak terlihat.
Jantung Renatta berdebar kencang. Ia ikut merasakan kesedihan, hatinya bagaikan teriris mendengar cerita Richard. Meski pria itu tak melanjutkan akhir cerita, namun Renatta yakin, jika itu adalah kejadian dimana Rianna mengalami kecelakaan hingga kehilangan nyawanya.
“Rich.” Mama Dona mendekat sembari menyodorkan segelas air pada sang menantu.
“Terima kasih, ma.”
“Apa cerita itu bisa aku percaya?” Tanya Renatta.
“Terserah kamu, sayang. Aku sudah menceritakan semuanya. Sejak kecil kamu memang paling manja padaku.” Richard terkekeh pelan sembari mengusap sudut matanya.
Pria itu memberanikan diri menatap ke arah sang istri. Sungguh saat ini Richard ingin sekali memeluk wanita muda itu.
“Lalu kenapa kalian tidak pernah mengatakannya padaku?” Renatta kembali bertanya.
“Bukannya kamu sudah tahu jika Rianna meninggal karena kecelakaan?” Mama Dona berbalik melemparkan pertanyaan.
“Kami merasa tidak ada yang perlu menjelaskan apapun, karena bukan Richard yang menyebabkan kecelakaan itu.” Imbuh wanita paruh baya itu.
“Lalu kenapa membohongiku tentang perusahaan yang mengalami masalah keuangan, dan terancam bangkrut?” Suara Renatta sedikit meninggi. Sepertinya ia kembali terpancing emosi karena merasa di bohongi.
“Setelah kecelakaan itu, aku berjanji akan menjagamu seumur hidupku, sayang. Aku tidak mau kehilangan gadis kecilku lagi.” Richard menjawab pertanyaan sang istri.
“Tetapi, apa seperti itu caranya? Kalian memanfaatkan kelemahanku. Aku gadis bodoh yang tidak pernah tahu tentang urusan perusahaan, percaya begitu saja saat semua keluargaku mengatakan usaha kami akan bangkrut.” Renatta tertawa pilu.
__ADS_1
Ia bisa menerima cerita Richard tentang kejadian tujuh belas tahun yang lalu. Namun, hatinya masih sangat kesal mengingat keluarga sendiri yang membohonginya.
“Sayang, kamu jangan menyalahkan mama dan papa. Semuanya adalah ideku. Aku yang meminta mereka membantuku untuk mendapatkan mu.” Richard kembali menjawab ucapan sang istri. Ia tidak mau jika Renatta marah pada kedua orang tuanya sendiri.
“Untuk apa harus berbohong? Om tahu aku menyukai om dari dulu. Kenapa harus berbohong jika memang om ingin menikahiku?”
“Rena, pelankan suaramu. Kamu sedang berbicara dengan suamimu saat ini.” Mama Dona memperingati ketika suara Renatta mulai meninggi.
Renatta mencebikan bibirnya. “Kalian memang sangat menyayangi dia daripada aku.” Dengus wanita itu.
“Kami menyayangi kalian. Richard juga sudah mama anggap seperti anak sendiri.” Jawab mama Dona.
Richard tak tahan dengan semua ini. Pria dewasa itu kemudian bangkit dan bersimpuh di hadapan sang istri.
“Karena aku tahu, setahun belakangan ini kamu membenciku karena aku sering menolakmu. Aku hanya tidak ingin seperti orang yang menjilati ludahnya sendiri, jika melamarmu secara langsung.” Richard meraih jemari sang istri.
“Maafkan aku untuk semua kesalahpahaman diantara kita. Aku tidak bermaksud menyakitimu, sayang.” Tak perduli jika disana ada kedua orang tua Renatta, Richard pun mengecup tangan sang istri.
“Omong kosong.” Gumam wanita itu.
“Aku berbicara yang sesungguhnya. Jika kamu menganggap aku berbicara omong kosong, aku hanya bisa pasrah, sayang. Semuanya adalah kesalahanku yang tak jujur dari awal.”
Renatta menarik tangannya dari genggaman sang suami.
“Maaf, aku belum bisa menerima ini semua.” Wanita itu bangkit sembari membawa tas yang berisi pakaiannya.
“Aku permisi ke kamar dulu. Tolong jangan ganggu aku.” Ucapnya lagi sembari meninggalkan ruang keluarga.
Richard menghela nafas pelan. Ia kemudian menempati sofa yang tadi di tinggalkan oleh sang istri.
“Maafkan atas sikap Renatta, Rich. Kamu harus lebih banyak bersabar menghadapi sikap kekanakannya.” Ucap papa Roy kemudian.
“Tidak apa-apa, pa. Ini sudah menjadi resiko untukku karena tidak jujur sejak awal.”
__ADS_1
...****************...
Bersambung