
Setelah meminta bantuan orang-orang suruhannya, Richard kemudian menghubungi nomor ponsel sang istri.
Namun Richard kurang beruntung, karena Renatta telah mematikan ponselnya lebih dulu.
“Sayang. Ini tidak lucu. Kamu mau bermain-main dengan aku? Kamu belum tahu siapa aku, sayang.” Gerutu Richard sembari terus mencoba menghubungi sang istri.
Pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sembari tetap menjaga fokusnya, Richard memindai jalanan berharap bisa melihat sang istri.
Hampir setengah jam menyusuri jalanan, makam Rianna tiba-tiba iterlintas di benak Richard.
“Makam. Renatta pasti pergi kesana.” Ucap Richard penuh keyakinan.
Pria itu pun melajukan mobilnya ke arah pemakaman.
Tiba disana, Richard tak menemukan siapapun. Hanya ada dua buah buket bunga Lily putih di atas gundukan tanah. Satu yang Richard bawa, satu lagi pasti Renatta.
“Maaf. Aku mau bertanya. Apa gadis yang sering membeli bunga Lily putih hari ini datang kemari?” Tanya Richard pada penjual bunga dimana tadi siang ia membelinya.
“Iya, pak. Nona itu datang beberapa saat setelah bapak pergi. Dia juga bertanya padaku, siapa yang membeli bunga Lily putih. Aku katakan saja seorang pria tampan. Dan nona itu langsung pergi.”
Richard mengangguk paham.
“Terim kasih.”
Richard kembali mencari, mengingat, kemana dan dimana sekiranya sang istri saat ini berada.
Gista.
Ya, Gista sahabat sang istri. Renatta pasti menemui gadis itu. Richard pun melajukan mobilnya menuju rumah Gista.
Sekitar setengah jam dari pemakaman, Richard pun tiba di rumah Gista. Bagaimana pria itu bisa tahu alamat gadis itu? Tentu saja, semua hal yang berhubungan dengan Renatta sudah Richard cari tahu sebelumnya.
“Pak Rich?” Ucap Gista pelan ketika melihat siapa orang yang mengetuk pintu rumah kontrakannya.
“Ada yang bisa—
“Dimana istriku?” Tanya Richard menyela. Pandangan pria itu sudah masuk, memindai isi rumah Gista.
“Renatta?” Tanya Gista. Jujur saat ini jantung gadis itu sedang berdetak sangat kencang. Mungkin saja, dosennya itu dapat mendengarnya.
__ADS_1
“Siapa lagi?” Hardik Richard.
“Renatta tidak ada disini, pak.” Ucap Gista dengan tenang.
“Jangan berbohong kamu.”
Gista menelan ludahnya kasar ketika mendapat tatapan tajam dari suami sahabatnya itu.
“Saya tidak berbohong, pak. Renatta memang tidak ada disini. Bapak bisa memeriksanya jika memang tidak percaya.” Gista menyingkirkan tubuhnya supaya Richard bisa masuk ke dalam rumahnya.
“Tidak ada siapa-siapa ‘kan, pak?” Tanya Gista setelah Richard kembali.
“Aku akan membuat perhitungan dengan kamu jika aku tahu, kamu menyembunyikan istriku.”
Gista menghela nafas pelan.
“Maaf, pak. Tadi Renatta memang sempat kemari. Tetapi, tidak lama dia pamit pergi. Saya sudah mencoba menahannya. Namun Renatta bersikukuh untuk pergi.” Jelas gadis itu kemudian.
Richard yang hendak pergi, kemudian menghentikan langkahnya. Ia menatap Gista dengan lekat. Tidak ada kebohongan yang terlihat pada mata gadis itu.
“Apa ucapan kamu bisa di percaya? Bukan kamu ‘kan yang yang menyuruh Renatta pergi, karena tahu aku akan mencarinya?” Tanya Richard penuh selidik.
Gista menggelengkan kepalanya.
“Tetapi, saya tidak menyalahkan Renatta atas pikiran buruknya terhadap kalian. Saya pun jika di posisi Renatta, pasti akan berpikiran seperti itu. Memilih pergi, untuk menenangkan hati dan pikiran yang sedang sangat kacau.”
“Tetapi kamu tahu ‘kan jika itu berbahaya? Bisa saja Renatta nekat melakukan sesuatu. Atau terjadi hal buruk padanya di luar sana?”
Gista mengangguk pelan. “Saya tahu. Tetapi, saya tidak bisa melarang Renatta untuk pergi. Dia membutuhkan waktu untuk sendiri.”
****
“Bos. Aku belum menemukan keberadaan nona. Dia mematikan ponselnya sehingga aku tidak dapat melacaknya.”
Pesan yang di kirim Bobby membuat Richard mencengkeram ponselnya dengan kuat.
Matahari sudah merangkak di ujung barat, namun Richard masih berada di jalanan dan belum menemukan keberadaan sang istri.
Richard menepikan mobilnya. Ia menyandarkan punggung pada sandaran kursi mobil.
__ADS_1
“Sayang, kamu dimana?” Gumamnya.
Richard kemudian membuka ponsel, melihat foto-foto sang istri yang memenuhi galeri benda pintar itu.
Pria dewasa itu kemudian menghubungi Randy. Siapa tahu kakak iparnya itu memiliki petunjuk keberadaan Renatta.
“Bagaimana?” Tanyanya pada ponsel yang menempel di telinga.
“Aku belum menemukannya, kak.”
Richard menghela nafas pelan. Tanpa berbicara lebih banyak, ia pun memutuskan panggilan.
Richard kemudian menghubungi Dirga.
“Bagaimana? Apa urusanmu sudah selesai?”
Suara Dirga terdengar seperti orang yang meremehkan.
Richard menghela nafas pelan.
“Renatta mendengar pembicaraan kami. Dan sekarang, dia pergi entah kemana.” Ungkap Richard kemudian.
“Kakak ipar pergi?” Suara Dirga terdengar terkejut.
“Aku akan meminta anak buahku mencarinya, kak.” Imbuhnya kemudian.
“Ya.”
Richard memutuskan panggilan. Pria itu memejamkan matanya. Senyum manis sang istri terlintas di benaknya.
Sungguh Richard sangat takut kehilangan wanita itu. Meski ia tahu, hal itu tidak akan pernah terjadi. Tetapi, Richard takut jika setelah ini, perasaan Renatta akan berubah padanya.
“Ya Tuhan, tolong jaga istriku di luar sana. Aku akan menerima semua kemarahannya. Asalkan dia kembali dengan selamat.” Gumam Richard. Tanpa ia minta, air matanya metes begitu saja.
Richard memang seorang pria dewasa. Tetapi ia akan rapuh jika mengingat tentang kehilangan orang terdekatnya.
Trauma kepergian Rianna sangat membekas. Bahkan menjadi ketakutan yang menghantui Richard setiap harinya.
Richard tidak mau kehilangan karena kesalahannya lagi. Cukup sekali ia lalai.
__ADS_1
****
Bersambung.