DIJODOHKAN DENGAN OM RICH

DIJODOHKAN DENGAN OM RICH
44. Bobby Itu Orang Suruhanku.


__ADS_3

“Bobby?” Ulang Richard dengan dahi berkerut.


Renatta mengangguk. Ia kemudian memperlihatkan ponsel Richard yang ada di tangannya.


“Bobby yang mengirim pesan ucapan terima kasih atas bantuan yang om berikan, dan dia berjanji besok akan mengikuti nona lagi.” Terang Renatta.


Richard menghela nafas pelan. Ia tidak boleh kelihatan panik, karena itu akan membuat Renatta menjadi curiga.


“Bobby itu orang suruhanku. Aku memintanya mengikuti salah satu karyawan kantor yang bernama nona, karena beberapa Staff mencurigainya melakukan kecurangan.”


Richard kemudian mendekat, meraih ponsel yang ada di tangan sang istri.


“Kamu memeriksa ponselku?” Tanyanya kemudian.


Renatta menggeleng pelan.


“Tidak. Aku bahkan tidak tahu berapa kata sandi ponsel itu.” Ucap Renatta sembari mendengus.


“Tadi ada panggilan masuk. Saat akan aku angkat, panggilan itu berakhir. Kemudian sebuah pesan pun masuk. Aku hanya membaca pesan dari layar depan.” Imbuh wanita itu.


Dalam hati Richard merutuki kebodohannya dalam menggunakan ponsel. Harusnya, ia mengatur agar pesan yang di terima tidak terlihat di layar depan.


“Kenapa kamu penasaran dengan Bobby?” Tanya Richard sembari meletakkan ponselnya di atas nakas.


“Aku pikir dia orang yang sama dengan yang aku kenal.” Ucap Renatta. Wanita itu pun duduk di tepi tempat tidur.


“Kamu memiliki teman pria bernama Bobby?” Tanya Richard berpura-pura terkejut. Pria itu mengambil tempat di samping sang istri.


Renatta menjadi gelagapan. Selama ini, Richard dan Randy tahu jika dirinya tidak memiliki teman dekat pria.


“I-itu, kami tanpa sengaja bertemu di taman bermain.” Renatta kemudian menceritakan awal pertemuannya dengan Bobby beberapa minggu lalu.


Richard berpura-pura menyimak. Padahal ia sendirilah yang merancang pertemuan kedua muda mudi itu.


“Jadi kamu memiliki teman dekat seorang pria?”


Renatta menggeleng dengan cepat.

__ADS_1


“Kami memang berteman, tetapi tidak dekat. Om jangan salah paham.” Ucap wanita itu.


“Apa kalian sering bertemu?” Tanya Richard penuh selidik.


Tanpa bertanya pun, pria dewasa itu sudah tahu jawabannya.


Renatta menggeleng pelan. “Hanya beberapa kali dan itu tanpa sengaja.”


Richard mengangguk. “Aku harap, istri kecilku ini tidak mendua di luar sana.” Ucapnya terkekeh.


Renatta memutar bola matanya dengan malas.


“Jika aku ingin mendua, mungkin sudah aku lakukan beberapa tahun lalu. Saat di tolak berkali-kali oleh seorang pria tua.”


Richard tergelak. Ia kemudian meraih bahu sang istri, dan membawanya ke dalam pelukan hangat.


“Sekarang pria tua itu sudah menjadi milikmu. Seratus persen masih utuh. Jadi, jangan lagi berpikir untuk mendua.”


Renatta mengangguk pelan. “Siapa juga yang ingin mendua? Apa om tidak bisa melihat keseriusan ku?”


“Aku bisa melihatnya, sayang.”


‘Maafkan aku, sayang. Aku belum bisa mengatakan yang sebenarnya. Aku janji akan mencari waktu dan cara yang tepat untuk mengatakannya padamu.’


****


“Kenapa om tidak mengatakan yang sebenarnya pada Renatta?” Tanya seorang gadis yang memiliki wajah mirip dengan Renatta.


“Aku tidak tahu harus memulai darimana. Jika Rena menuntut penjelasan tentang foto-foto itu. Apa yang harus aku katakan?” Tanya Richard dengan wajah sendu.


“Apa om begitu pengecut?” Gadis itu kembali melempar tanya.


“Seharusnya om berani mengungkapkan yang sebenarnya. Apa om tidak takut jika Rena akan salah paham jika ia terlambat mengetahuinya?”


Gadis itu nampak cantik dengan rambut terurai dan gaun putih panjang yang membalut tubuhnya. Ia berdiri tak jauh dari Richard dengan menggenggam buket bunga Lily putih.


“Itu artinya aku harus mengatakan yang sebenarnya. Tentang kejadian tujuh belas tahun yang lalu.” Ucap Richard lirih.

__ADS_1


“Memangnya kenapa jika Rena tahu, om? Tidak ada yang salah dengan kejadian itu. Semuanya adalah suratan yang telah di takdirkan dalam hidup kita. Kebersamaan ku dengan kalian, hanya sampai usia lima tahun.”


Gadis itu berjalan mundur secara perlahan.


“Jangan pernah takut untuk mengatakan yang sebenarnya, om. Aku menyayangi kalian semua.”


“Ri.. tunggu.” Richard mengulurkan tangan, namun tubuh gadis itu telah lenyap di telan kabut putih.


Richard terbangun dengan peluh yang membasahi keningnya. Ia kembali bermimpi, namun kali ini bukan tentang kejadian tujuh belas tahun lalu. Rianna datang menemuinya dalam tidur.


Bayangan gadis itu begitu nyata. Memiliki wajah yang sangat mirip dengan Renatta. Mungkin jika ia masih ada sampai saat ini, orang lain akan sulit membedakan antara Renatta dan juga Rianna.


“Om. Ada apa?” Tanya Renatta sembari mengusap wajahnya. Wanita itu menarik selimut hingga dada, untuk menutupi tubuh polosnya.


Richard menatap ke arah sang istri. Ia kemudian membawa wanita itu ke dalam dekapannya.


“Tidak apa-apa. Aku hanya kelelahan.” Ucap Richard.


Renatta mendongak, ia pun mengusap kening basah sang suami.


“Sudah tahu lelah, siapa suruh meminta lembur lagi? Harusnya om memanfaatkan waktu istirahat dengan baik. Ingat usia om sudah tidak muda lagi.”


Richard mencebikkan bibirnya. Ia tak menanggapi ucapan sang istri, namun semakin mengeratkan pelukannya.


“Sudah jangan banyak bicara. Atau kita melanjutkan lagi kegiatan yang tadi.”


Renatta menggeleng pelan. “Ayo kita tidur lagi, om. Besok aku harus bangun pagi.”


Richard terkekeh. Ia kemudian mengecup pucuk kepala sang istri.


Pria itu memejamkan matanya, namun ia tak bisa terlelap. Bayangan Rianna kembali terlintas.


Dalam benaknya bertanya-tanya, kenapa setiap kali ia dan Renatta melakukan hubungan suami istri, setelah itu Richard akan bermimpi tentang Rianna.


Saat Renatta datang bulan kemarin, Richard bahkan tidak mengalami mimpi apapun.


Kenapa mimpi itu seolah menjadi teguran untuk Richard? Haruskah ia mengatakan yang sebenarnya? Apakah sekarang sudah saatnya Renatta tahu, jika Richard penyebab kepergian Rianna?

__ADS_1


***


Bersambung.


__ADS_2