
Renatta tidak tahu apa yang harus ia lakukan di hari minggu ini. Pergi berbelanja, tetapi tidak punya teman karena Gista sudah mulai bekerja.
Pulang ke rumah orang tua, tidak ada orang karena papa dan mama sedang pergi ke luar kota untuk berlibur sembari bekerja.
Bukankah masih ada Randy?
Pria itu sekarang justru sedang berolahraga bersama Richard, di lantai paling bawah rumah mewah ini.
Renatta merasa hari liburnya membosankan.
“Apa aku belajar memasak saja?” Gumam wanita itu.
Ia merasa sedikit tertantang saat Richard dengan terang-terangan menyebutnya tidak bisa masak, dan hanya akan menghancurkan dapur.
“Ya. Tidak ada salahnya, ‘kan?”
Wanita itu pun bangkit dari atas tempat tidur, kemudian keluar dari kamarnya untuk pergi ke dapur.
“Bi, aku mau belajar memasak.” Ucap Renatta yang membuat asisten rumah tangganya menatap tak percaya.
“Tetapi nyonya—
Wanita paruh baya itu mengatupkan bibirnya saat Renatta menatap tajam.
“Apa bibi takut aku akan menghancurkan dapur ini?”
“Bukan seperti itu, nyonya.” Wanita paruh baya itu menggeleng pelan.
“Tetapi, tuan melarang saya untuk mengijinkan nyonya memasak.” Jelasnya dengan gugup.
Mata Renatta membola sempurna.
“Jadi bibi lebih mendengarkan ucapan suamiku?”
Asisten rumah tangga itu mengangguk pelan.
“Maafkan saya, nyonya. Tetapi, jika belum pernah memegang peralatan dapur, sesuatu bisa saja terjadi. Mungkin itu akan melukai nyonya sendiri.” Jelas Asisten rumah tangga yang lebih muda.
Renatta mencebikkan bibirnya.
“Ah, katakan saja jika kalian memang melarangku karena tidak mau aku merusak tempat kalian.”
Renatta mengibaskan tangannya.
“Tidak perlu menjelaskan dengan bahasa yang panjang lebar seperti itu. Aku mengerti. Aku memang tidak bisa dan tidak pernah memasak. Maka dari itu aku ingin belajar.”
Wanita itu bersedekap sembari berjalan berkeliling.
“Kalian tahu artinya belajar? Melakukan sesuatu yang belum pernah kita lakukan sebelumnya. Aku memang tidak bisa, karena itu aku ingin belajar. Dan ketika aku baru mulai belajar, mana mungkin aku langsung bisa membuatnya?” Renatta berhenti di sebuah kursi, kemudian mendaratkan bokongnya disana.
“Kalian yang melakukan dan menjelaskan tahapannya padaku. Aku akan mendengar, dan menyimak dengan baik. Percayalah, aku tidak akan merusak dapur kalian.”
Kedua asisten rumah itu saling melepas pandang. Mereka masih mencerna perkataan sang nyonya.
“Tunggu apa lagi? Mulailah melakukan langkah-langkah memasak. Aku akan melihatnya dulu.” Perintah Renatta.
Kedua asisten rumah itu kemudian menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Mereka kemudian mulai bekerja dengan Renatta berada disana menjadi seorang penonton.
“Bi, aku boleh bertanya sesuatu?” Renatta berucap di sela kesibukan para asisten rumah menyiapkan bahan-bahan untuk memasak.
“Tentu, nyonya.” Asisten itu menjawab. Namun tangan dan kakinya tetap bergerak kesana kemari, membuat kepala Renatta juga mengekori mereka.
“Apa kalian tahu tentang isi kamar di lantai tiga yang tidak boleh di masuki orang lain itu?”
Pertanyaan Renatta membuat kedua asisten rumah itu sontak menghentikan kegiatannya.
Mereka berdua kembali saling melempar tatap.
“Kami tidak tahu, nyonya. Seperti yang nyonya katakan tadi, kamar itu tidak boleh di buka oleh orang lain kecuali tuan sendiri.” Jelas asisten rumah yang paling tua.
Renatta mendengus pelan.
“Apa kamar itu tidak pernah di bersihkan? Pasti kotor sekali di dalamnya.”
“Itu juga tuan yang melakukannya, nyonya.”
“Ya sudah. Lanjutkan pekerjaan kalian. Aku mau kembali ke kamar dulu.” Ucap wanita muda itu, kemudian keluar dari dapur.
****
Bukannya kembali ke kamar seperti yang ia ucapkan pada asisten rumah. Renatta justru pergi ke lantai tiga rumah mewah itu.
Selain satu kamar yang tidak boleh di buka orang lain, di lantai tiga juga masih terdapat dua kamar kosong yang belum terisi.
Pendengar penuturan para asisten rumah, membuat rasa penasaran Renatta kembali muncul.
Sebenarnya, apa yang disembunyikan Richard di balik pintu kamar itu? Mungkinkah pria itu menyembunyikan alat-alat untuk merakit bom? Atau obat-obatan terlarang?
“Tidak. Itu tidak mungkin.”
Wanita itu kemudian mendekat ke arah pintu kamar. Tangannya terulur untuk membuka gagang pintu. Namun sayang, papan persegi panjang itu terkunci.
“Semoga dia meletakkan kuncinya di sekitar sini.”
Renatta memeriksa setiap laci meja, pot bunga, pajangan bahkan lukisan yang ada di lantai itu.
Namun ia tidak menemukan apapun.
“Aku bodoh sekali. Om Rich bukan pria teledor yang meletakkan kunci di sembarang tempat. Apalagi ini kunci penting.” Wanita itu memukul kepalanya dengan pelan.
Sementara itu di lantai bawah. Richard dan Randy telah selesai berolahraga.
Richard meminta sang kakak ipar untuk ikut makan siang bersama di rumah itu, mengingat mama dan papa sedang keluar kota.
Randy setuju, namun ia meminta ijin untuk pulang membersihkan diri terlebih dulu.
“Dimana istriku?” Tanya Richard pada asisten rumah saat ia pergi ke dapur membawa botol kosong.
“Nyonya tadi mengatakan kembali ke kamar, tuan.”
“Istriku sempat turun?” Tanya Richard penasaran.
“Iya. Nyonya ingin belajar memasak. Tetapi kami tidak mengijinkan. Jadinya, nyonya hanya menonton saja.”
__ADS_1
Richard menganggukkan kepalanya. Ia kemudian bergegas pergi ke kamar mereka.
“Sayang?” Panggil Richard sembari membuka pintu kamar.
Tak ada siapapun disana. Ia kemudian masuk ke dalam ruang ganti. Hingga memeriksa kamar mandi pun, tak ia temukan keberadaan sang istri.
Pria itu kembali turun. “Kalian yakin istriku mengatakan akan kembali ke kamar?” Tanyanya mengagetkan seisi dapur.
“Iya, tuan.”
“Lalu kenapa dia tidak ada di kamar? Apa yang kalian bahas selama istriku berada disini?”
Kedua asisten rumah itu seketika membeku. Sepertinya mereka telah melakukan kesalahan dan terancam akan kehilangan pekerjaan setelah ini.
Richard sudah pernah mewanti-wanti agar tidak ada yang membahas tentang kamar di lantai tiga itu.
Tetapi, tanpa sadar tadi mereka telah membahasnya dengan Renatta.
“Katakan? Apa mungkin istriku mengatakan akan pergi ke rumah orang tuanya?”
Salah satu asisten rumah menggelengkan kepalanya.
“Maafkan kami, tuan. Tadi nyonya bertanya tentang kamar—
Belum selesai wanifa paruh baya itu berucap, Richard sudah membalik tubuhnya sembari mengumpat keras.
Pria itu mengambil langkah lebar agar segera sampai di lantai tiga.
Ia yakin sekarang sang istri sedang berada disana.
“Sayang.”
Renatta menoleh ke arah sumber suara. Wanita itu menelan ludahnya dengan kasar, sebab tangannya kini berada di atas gagang pintu.
Richard menatapnya dengan tajam.
“O-om.” Renatta menarik tangannya. Kemudian mendekat ke arah sang suami.
“Sedang apa kamu disini?”
Renatta menggeleng kencang. “Tidak ada. Hanya sedang bosan.” Ucapnya dengan menerbitkan senyum terpaksa.
“Om sudah selesai? Mau mandi? Ayo, biar aku siapkan airnya.”
Renatta berjalan mendahului sang suami. Baru selangkah, pria itu tiba-tiba menarik tangannya. Membuat tubuh mereka menempel.
“Apa kamu berniat menguntit?”
Renatta kembali menggeleng.
“Lain kali jangan lakukan itu lagi. Apapun yang ada di balik pintu itu, bukanlah urusanmu.” Suara Richard terdengar tegas dan tak terbantahkan.
“Jangan coba-coba untuk membuka pintu itu lagi. Kamu mengerti?”
“I-iya, om.”
****
__ADS_1
Bersambung.