DIJODOHKAN DENGAN OM RICH

DIJODOHKAN DENGAN OM RICH
52. Bos, Nona Pulang Hari Ini.


__ADS_3

Keesokan harinya.


Setelah berpikir sepanjang malam, Renatta memutuskan untuk kembali pulang. Mungkin benar yang Randy katakan, ia harus menanyakan alasan di balik kebohongan yang di lakukan oleh keluarganya.


“Kamu yakin akan pulang?” Tanya Bobby sekali lagi.


Renatta menggangguk yakin. “Bukannya kamu sendiri yang menyuruhku untuk pulang?” Tanya balik wanita itu. Ia sedang merapikan beberapa barang yang di bawa dan di belikan oleh Bobby.


Pria itu menghela nafas pelan. “Bukan begitu maksudku. Apa hatimu yakin untuk pulang? Aku tidak mau kamu melakukannya karena terpaksa.”


Renatta menatap Bobby dengan tatapan yang sangat sulit di artikan.


“Sebenarnya aku belum ingin pulang. Tetapi, ucapanmu ada benarnya juga. Aku harus mencari tahu alasan mereka membohongiku. Jika masuk akal, aku akan mencoba untuk menerimanya. Jika tidak, aku akan pergi lagi.”


“Aku yakin mereka sangat menyayangimu, Re.”


Renatta mencebikkan bibirnya. “Jika menyayangiku, tidak seharusnya mereka membiarkan aku menikahi seorang pembunuh. Dengan membohongiku tentang perusahaan yang mengalami masalah keuangan.” Gumam wanita itu.


“Pembunuh?” Tanya Bobby dengan dahi berkerut.


Renatta mengangguk. “Pria yang menikahiku adalah penyebab kematian saudari kembarku.”


“Kamu yakin?”


“Aku mendengar sendiri pria itu mengatakan begitu. Dan parahnya, semua anggota keluargaku tahu.” Suara Renatta terdengar serak menahan tangis.


Jujur Bobby tidak tahu tentang hal ini. Selama bekerja dengan Richard, ia hanya menjalankan tugas untuk mengikuti kemana Renatta pergi.


Bobby tidak pernah ikut campur urusan pribadi atasannya. Dan hari ini ia baru tahu jika Richard yang menyebabkan kematian saudari kembar Renatta.


“Menurut kamu, apa mungkin ada alasan lain yang membuat mereka berbohong padaku?” Tanya Renatta kembali.


Bobby tidak tahu harus menjawab apa.


“Mungkin saja.” Ucap pria muda itu hati-hati.


“Mungkin suami kamu bukan pelaku sebenarnya. Tetapi, dia ada disana saat itu dan tidak bisa menyelamatkan saudarimu. Karena itu, dia merasa bersalah.”


Renatta kembali menatap Bobby. Pria muda itu kemudian mengedikan bahunya.


“Mungkin seperti di sinetron, kamu hanya mendengar sebagian ucapan suami dan keluargamu. Sehingga membuat kamu salah paham, Re.” Bobby kembali berucap.


“Apa mungkin seperti itu?” Gumam Renatta.


“Bisa saja, ‘kan? Jadi, memang lebih baik kamu pulang. Cari tahu kebenarannya. Setelah itu, baru putuskan apa yang terbaik untuk selanjutnya.”


Renatta mengangguk paham.


“Baiklah. Aku akan pulang.” Wanita itu bangkit, sembari menenteng tas jinjingnya.


“Biar aku antar.” Bobby mengambil alih tas itu.


Namun Renatta menolak. “Aku bisa naik taksi, Bob.”

__ADS_1


“Aku antar saja.” Pria itu menarik dengan paksa tas itu, hingga berpindah padanya.


“Jarak rumah kamu dari sini itu lumayan jauh. Ini pinggiran kota.” Bobby keluar dari kamar, membuat Renatta terpaksa mengekorinya.


“Tetapi, Bob—


Bobby menatap tajam ketika Renatta ingin kembali merebut tasnya.


“Kamu itu keras kepala sekali. Kenapa suami kamu mau ya menikah dengan gadis labil seperti kamu ini?”


Renatta mengerucutkan bibirnya.


“Apa susahnya menurut? Aku hanya memastikan jika kamu benar-benar pulang.” Ucap Bobby lagi sembari mengunci pintu rumahnya.


Ia kemudian mengambilkan sebuah helm, dan memberikan pada Renatta.


“Iya, iya. Kenapa kamu jadi cerewet begini?” Wanita itu pun memasang helm di kepalanya sembari mendengus kesal.


Melihat Renatta tengah sibuk, Bobby kemudian mengirim pesan pada Richard.


‘Bos, nona pulang hari ini.’


*****


Richard tersentak membaca pesan yang Bobby kirim. Perasaannya menjadi campur aduk. Akhirnya sang istri mau kembali pulang.


Richard pun mengirim sejumlah uang bonus untuk Bobby karena berhasil membujuk Renatta untuk kembali.


Tak lupa juga Richard mengabari sang mertua jika Renatta akan pulang hari ini.


“Apa penampilanku sudah tampan?” Pria itu berlari ke ruang ganti untuk melihat tampilan dirinya.


“Ah, tidak. Aku harus terlihat tidak baik-baik saja. Istriku kabur dari rumah. Dan aku tidak sempat mengurus diri.” Pria itu mengacak rambutnya sendiri.


Ia yang hendak mencukur bulu-bulu halus yang tumbuh di sekitar wajahnya pun, mengurungkan niatnya.


Richard kembali ke dalam kamar. Ia kemudian menghubungi Dirga, untuk mengatakan jika hari ini tidak akan datang ke kantor.


Pria dewasa itu kemudian keluar dari kamarnya. Sudah satu jam berlalu setelah Bobby mengirim pesan. Mungkin sebentar lagi istrinya akan tiba.


Dan tepat saat Richard membuka pintu utama rumahnya, Renatta pun turun dari atas motor Bobby yang berhenti di depan pintu gerbang.


Dengan cepat Richard berlari menghampiri sang istri.


“Sayang.” Pria dewasa itu menarik lengan Renatta yang hendak melepaskan helm di kepalanya.


Wanita itu tersentak. “Lepaskan aku, om.” Berontaknya.


Namun Richard seolah tuli. Ia kemudian memeluk tubuh sang istri. “Kamu kemana saja? Aku sangat merindukanmu.” Ucapnya penuh haru.


“Om, lepaskan aku.” Renatta mendorong tubuh sang suami. Ia mendelik kesal. Kepalanya berat karena masih memakai helm.


“Terima kasih, Bob.” Ucapnya sembari mengembalikan helm itu pada Bobby.

__ADS_1


“Sama-sama, Re.” Jawab Bobby tersenyum. Pria muda itu juga mengembalikan tas yang berisi barang-barang Renatta.


“Apa dia tukang ojek?” Richard kemudian merogoh saku celana panjangnya untuk mengambil dompet, kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribu.


“Terima kasih sudah mengantar istriku pulang dengan selamat.” Ucap pria dewasa itu sembari mengedipkan salah satu matanya.


Bobby hanya mampu menganga tak mengerti. Namun melihat kedipan mata sang atasan, ia pun paham maksud pria berusia empat puluh tahun itu.


“Sama-sama, pak.” Ucapnya sembari menerima uang itu.


Lumayan untuk uang jajan. Sorak batin Bobby.


Pria muda itu kemudian pamit pergi.


“Dia bukan tukang ojek, om.” Ucap Renatta saat sang suami menuntunnya untuk masuk ke dalam rumah.


“Siapapun dia, aku tidak perduli. Yang penting, dia sudah mengantarmu pulang dengan selamat.”


Richard hendak merangkul pundak sang istri. Namun wanita itu menghindarinya.


“Aku rasa, saat kita tidak sedang baik-baik saja. Jadi, jangan berharap bisa menyentuhku.” Ucapnya sembari menjauh.


“Sayang.” Richard mengiba pada sang istri.


Renatta menggeleng pelan. Kakinya hendak melangkah menuju rumah. Namun, suara mama Dona menghentikan langkah wanita itu.


“Rena, sayang. Akhirnya kamu kembali, nak.”


Renatta berhenti di tempat. Ia kemudian memutar tubuhnya.


Papa Roy, dan mama Dona sedang berjalan ke arahnya.


“Kebetulan kalian datang. Ada hal yang ingin aku pertanyakan. Dan aku harap, kalian bisa menjawab dengan jujur tanpa menutupi apapun lagi dariku.”


“Tentu, sayang. Apapun pertanyaanmu, kami akan menjawabnya.” Ucap mama Dona yang sudah berada di depan Renatta.


“Sebaiknya kita masuk dulu.” Ucap Richard kemudian.


Mereka pun masuk ke dalam rumah.


Para asisten rumah senang melihat sang nyonya telah kembali.


“Ambilkan susu hangat untuk istriku.” Perintah Richard.


Salah satu asisten rumah menganggukkan kepalanya, kemudian pergi ke dapur.


“Kita duduk dulu, sayang.” Richard membawa Renatta menuju ruang keluarga.


“Aku rasa, kita tidak perlu berbasa-basi. Sebaiknya, kalian jelaskan apa yang seharusnya aku ketahui. Bukannya ada banyak rahasia yang kalian tutupi?”


Papa Roy menatap sang menantu. Richard pun menganggukkan kepalanya.


...****************...

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2