Dijodohkan Karena Hutang

Dijodohkan Karena Hutang
BAB I


__ADS_3

Tepesh 6 Desember 2025, ada seorang anak yang hidupnya sangat bahagia walaupun keluarganya sangat sederhana. Nama lengkapnya adalah Ayunda Natalia Louwenzky gadis berketurunan Indonesia dan Polandia yang diwariskan dari ayahnya Gabriel Louwenzky pria bertubuh tinggi dan gendut dengan pipi cabi, hidung mancung, mata biru, kulit cerah, serta rambut pirang. Sedangkan istrinya bernama Hana Mahendra, berketurunan kental Indonesia tubuhnya tidak terlalu kurus, juga tidak terlalu gemuk, dia tinggi rambutnya hitam dan panjang nan terurai sampai ke pantat, kulit putih, dan mata hitam. Mereka berdua hanya memiliki seorang anak perempuan yang bernama Ayunda Louwenzky yang biasa di panggil dengan sebutan Ayu atau Ayunda. Sebenarnya sepasang kekasih ini ingin mempunyai lima anak tetapi, karena ketika Hana melahirkan Ayunda yakni sebagai anak pertama, harus melalui operasi sesar maka mereka berdua mumutuskan untuk hanya memiliki seorang anak. Anak itu lahir pada 31 Desember 2018. Dan kini dia telah berusia 8 tahun. Pada waktu lahirnya, ayah dan ibunya tidak punya uang selembar pun akhirnya ayahnya meminjam di salah satu lembaga peminjaman uang yang ilgal, uang yang di pinjam oleh Gabriel berjumlah hampir dua ratus juta, juga mempunyai bunga yang besar.


Sudah tepat delapan tahun tetapi uang itu belum juga di bayar lunas sedangkan perjanjian yang telah ditanda tangani oleh Gabriel, hutangnya harus lunas dalam bulan ini.


Jam dinding terus berputar, jarum jam menunjukan pukul 19:20 WIT. Ini menandakan bahwa hari sudah mulai malam. Malam itu, cuaca di luar sangat indah. Cahaya bulan dan bintang melebur menjadi, satu hingga menghasilkan terang yang luar biasa, bintang-bintang berkedap-kedip di langit seperti lampu natal yang di nyalakan setiap bulan desember. Semua makhluk Tuhan hari itu sangat bahagia melihat keindahan langit malam itu. Hampir sebagian masyarakat dikota Tepesh keluar dan berkumpul di Pandora. Itu adalah lapangan terbuka yang biasa digunakan untuk berbagai macam kegiatan. Tak sedikit dari mereka yang mengabadikan keindahan langit malam itu. Akibat fenomena yang berdurasi dua puluh lima menit itu, banyak sekali awak media dari berbagai stasiun televisi yang datang untuk meliputnya. Karena kejadian seperti itu hanya terjadi, dikota Tepesh. Juga, kejadian itu baru pertama kali terjadi, di Indonesia. Di tengah-tengah kumpulan masyarakat kota Tepesh yang berkumpul di situ, ada sekelompok anak kecil yang terdiri dari delapan orang anak, dengan latar kehidupan yang berbeda-beda, mereka adalah, Ayunda, Claudya, Gideon, Rehan, Ellish, Naldo, Sarah dan Maria. Sekelompok anak kecil ini, sudah sangat terkenal dilingkungan tempat tinggal mereka. Mereka terkenal bukan karena menang di ajang internasional atau nasional, tetapi karena, setiap hari minggu mereka selalu menyanyi dari gereja ke gereja.


Ketika mereka sedang berlari ke sana dan ke mari, seorang dari mereka melihat ada bintang yang jatuh.


“Hei lihat ada bintang yang jatuh” ucap seorang bocah perempuan kepada teman-temannya. Jari telunjuknya mengarah ke arah langit. Mendengar ucapan itu, mereka langsung berkumpul.


“Wah, itu bintang permohonan” ucap Claudya.


“Ayo kita sama-sama sampaikan cita-cita kita biar bisa dikabulkan” ajak seorang anak laki-laki berusia delapan tahun.


Mereka semua mengepalkan kedua tangan lalu menyampaikan permohonan mereka masing-masing dengan mengucapnya keras-keras kecuali, Ayunda. Dia hanya berbicara di dalam hatinya.


Dimulai dari Gideon “Saya ingin menjadi, seorang tentara.”


“Saya ingin menjadi, seorang astronot.” Ucap Rehan.


“Saya ingin menjadi, sorang polisi” ucap Naldo.


“saya ingin menjadi, seorang pendeta” ucap Sarah.


“saya ingin menjadi, seorang guru” ucap Ellish.


“Saya ingin menjadi, seorang dokter” ucap Claudya.


“saya ingin menjadi, seorang perawat” ucap Maria.

__ADS_1


“Saya memohon, untuk hutang bapak saya bisa lunas” ucap Ayunda dalam hati, disertai air matanya yang mengalir di pipi, sampai menetes jatuh ke tanah.


Setelah selesai pengucapan permohonan. Mereka kembali bermain, tetapi tidak dengan Maria. Dia menghampiri Ayunda lalu bertanya kepadanya “Kau, memohon apa? Kok bisa sampai menangis seperti itu.”


“Saya memohon untuk cita-cita kita semua bisa tercapai biar kita menjadi, orang yang sukses” jawab Ayunda. Sambil mengelap air matanya dengan lengan bajunya.


“Terus kenapa, kamu tidak menyampaikannya dengan suara yang keras” Maria kembali bertanya.


“Kata bapak saya, kalau menyampaikan permohonan jangan sampai didengar orang lain. Karena kalau didengar orang lain, nanti permohonannya susah untuk terkabul.


“ouh gitcyu yah” ucap Maria dengan suara imutnya juga sedikit centil.


“ayok kita kembali bermain” Ayunda lalu menarik tangan Maria. Mereka berdua berlari menghampiri teman-teman yang lain. Di tengah-tengah ke asikan bermain, mereka dihampiri oleh seorang pria yang bertanya tentang kediaman bapak Gabriel.


“Permisi adek-adek, ada yang tahu rumah dari bapak Gabriela Lowenzky”


“Tahu om” jawab Gideon.


“Adek bapakmu ada di rumah atau tidak” Tanya orang itu.


“Saya tidak tahu om, soalnya tadi saya keluar dari rumah, bapak belum pulang kerja” jawab Ayunda. “Tapi ibu ada di rumah” lanjutnya.


“Om tidak perlu dengan ibumu. Kalau bapakmu pulang, tolong katakan kepada dia kalau om akan datang mencarinya”


“Baik om” balas Ayunda.


Orang itu pergi meninggalkan mereka. Tidak tahu ke mana perginya.


Di rumah Ayunda, Hana ibunya, sedang menunggu kedatangan Ayunda putri semata wayangnya yang belum juga pulang sedari tadi. Sedangkan jam dinding sudah menunjukan pukul sembilan malam. “Duh nih, anak belum juga pulang” ucapnya. Dia terlihat sangat gelisah, sesekali dia keluar dan berdiri di teras rumahnya. Matanya memandang ke sana dan ke mari. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi memanggil anaknya di lapangan.

__ADS_1


“Ayu, mari pulang sudah waktunya untuk tidur.” Panggilnya.


Ayunda yang mendengar suara panggilan dari ibunya, “Ia bu,” sahut ayunda.


dia langsung pergi menghampiri ibunya. Tetapi sebelum itu, dia berpamitan kepada teman-temannya. “Saya balik duluan yah.”


“Ia Ayu” balas mereka bertujuh secara bersamaan. Ternyata bukan saja Ayunda yang pulang meninggalkan tempat itu, tapi teman-temannya juga karena semua orang yang tadi, berkumpul di situ mulai bubar sebab, fenomena itu telah berlalu.


Di dalam perjalanan pulang, Hana selalu bertanya kepada Ayunda mengenai kegembiraan, dan kebersamaan dia dengan teman-temannya yang bermain di bawah terangnya cahaya bulan serta kelap-kelip cahaya bintang. “Senang nggak, bermain dengan teman-teman”


“Senang bangat bu” jawab Ayunda.” Tadi, kami melihat ada bintang yang jatuh. Kata Claudya itu adalah bintang permohonan. Sehingga kami samua mengucapkan permohonan masing-masing” lanjutnya


“Oh, yah. Kamu memohon apa” Tanya Hana penuh antusias, wajahnya terlihat sangat gembira.


“Saya memohon untuk hutang bapak bisa lunas” ucapnya.


Mendengar jawaban dari anaknya, wajah gembiranya langsung berubah menjadi, sedih.


“Kenapa wajah ibu seperti itu?” Tanya Ayunda. “Tidak ada apa-apa.” Hana merasa bersalah sebagai seorang ibu, bukan karena dia tidak pandai mendidik anak-anaknya, tetapi kerana kenapa anaknya yang baru berusia delapan tahun itu, harus tahu tentang problem yang di alami oleh keluarga kecilnya.


Lamanya perjalanan akhirnya mereka tiba rumah.


“Yee sampai rumah” ucap Ayunda disertai loncatan penuh gembira.


“Ehh, jangan lompat-lompat nanti kau bisa kencing di tempat tidur” Hana menegur putri kecilnya.


Tangan Hana menggapai handel pintu lalu membukanya sambil mengajak putrinya untuk masuk “Ayo masuk”. Hana membiarkan masuk duluan barulah dia mengikutinya dari belakang. Hana kembali menutup pintu setelah mereka sudah ada di dalam rumah.


“Ibu ayah di mana?” Tanya Ayunda.

__ADS_1


“Ayah masih di kantor sayang” jawab Hana. “Kapan pulangnya bu?” Ayunda balik bertanya. “Mungkin sejam lagi, baru ayahmu pulang” jawab Hana. Ketika Ayunda ingin kembali bertanya ibunya langsung memotong pembicaraan.” Udah tidak usah bertanya lagi. Ini sudah jam tidur.” Mendengar ucapan dari Hana, Ayunda langsung pergi menuju kamarnya. Sesampai di kamar, dia memadamkan lampu listrik, sedangkan lampu kecil di sudut kamarnya dibiarkan menyala. Dia naik ke atas tempat tidur dan berbaring, tetapi tidak tidur. Matanya memandang ke arah plafon kamar yang dipenuhi dengan gambar tata surya. Sambil membayangkan dia dan teman-temannya bermain di malam hari dengan di temani oleh cahaya bulan dan bintang, ketika mereka sudah dewasa nanti.


__ADS_2