
Mendengar perkataan dari wanita yang memerintahkan security, Gabriel akhirnya pergi meninggalkan mereka berdua. Dalam hatinya berkata “Dari pada nanti saya di usir secara paksa. Lebih baik saya angkat kaki dari sini.”
Gabriel berpindah tempat ke terminal Mardika untuk menumpangi angkot yang membawa penumpang melewati tempat tinggal dia. Akan tetapi, karena baru pertama kali masuk terminal ini, hingga dia hampir salah jalan untuk menuju parkiran angkot yang melintasi daerahnya untungnya, dia mendengar suara teriakan dari kanek yang berteriak “Nari..nari..” untuk menarik siapa saja yang jalan pulangnya melintasi nari.
***
(Di rumah keluarga Louwenzky)
Hana sedang mengintrogasi putrinya.
“Ayuda, bolekah ibu menanyakan sesuatu?” Tanya Hana kepada putrinya yang baru bangun tidur seraya medudukan anaknya di kursi.
“Tanya apa ibu,”
“Ibu hanya ingin tahu, dari mana kamu dapat mengetahui kalau ayah dan ibumu punya hutang yang belum dilunasi”
“Ohhh, tentang itu.”
“Waktu malam itu, ketika saya hendak pergi ke dapur untuk minum. Saya mendengar ayah sedang berbicara di telefon dengan seseorang selagi ia duduk di lantai kamarnya. Suara dari orang itu sangat kasar tetapi, ayah membalasnya dengan lembut. Saya pikir itu adalah ibu, atau teman ayah yang bicara. Jadi, saya menguping pembicaraan mereka di luar pintu. Saya mendengar orang itu, menanyakan kepada ayah kapan ayah akan melunasi hutang-hutannya. Tetapi, ayah hanya membalas dengan berkata berikan saya waktu. Saat orang itu mendengar jawaban dari ayah maka dia membalas pembicaraan ayah dengan kasar, bahkan ada sepenggal kata-kata makian yang dilontarkan kepada ayah. Saya tidak mendengar lanjut pembicaraan itu, karena harus buru-buru mengambil air minum. Ketika saya selesai minum dan kembali melintasi depan kamar ayah dan ibu, aku hanya mendengar ayah katakan “Saya akan melunasi hutang itu secepatnya.” Ayunda memberi jawaban.
“Jadi, seperti itu. Sampai kamu bisa tahu kalau orangtuamu ini punya hutang.”
“Ia bu. Tapi, mengapa ayah dan ibu bisa meminjam uang di orang yang tidak ayah dan ibu kenal?” Tanya Ayunda.
Sambil mengurut kening Hana menjawab pertanyaan dari Ayunda “Kamu cukup tahu kalau ayah dan ibu punya hutang. Tapi, tentang alasan mengapa ayah dan ibu harus minjam uang, kamu tidak perlu tahu.”
Setelah Hana selesai mengintrogasi putrinya, dia lalu beranjak ke ruang tamu untuk mengambil sebuah buku majalah yang ingin dibaca. Namun, saat tangannya baru saja meraih dan memegang buku majalah yang masih tersusun rapi di rak meja ia dikagetkan suara pintu yang terbuka “Cekleek”. Sampai buku yang ia sudah pegang terlepas dari tangannya.
__ADS_1
“Selamat sore bu.” Kata suami Hana dengan suara yang berat.
“Sore ayah.” Balas Hana.
Gabriel melepaskan sendalnya di atas alas kaki yang ada di depan pintu dan langsung masuk ke dalam. Hana meninggalkan buku yang terjatuh begitu saja dan langsung menghampiri suaminya. Karena kehausan Gabriel meminta segelas air dari istrinya. Hana lalu meninggalkan Gabriel sendirian lalu dia melangkah ke dapur untuk mengambil air, dia kembali bertemu suaminya. Diberikan air itu kepada Gabriel untuk meminumnya. Ketika selesai minum, Gabriel pergi meninggalkan suaminya. Singkat cerita, waktu yang telah ditetapkan untuk membayar hutang pun tiba.
Di rumah Gabriel telah menyiapkan uang sejumlah dua ratus juta, untuk menebus pinjamannya.
“Tok..tok..tok” suara ketukan pintu disertai panggilan dari seorang penagih hutang. Gabriel buru-buru membuka pintu rumahnya.
“Selamat pagi pak. Sudah ada uangnya?”
“Sudah pak,” jawab Gabriel.
“Mari bang, masuk di dalam” Gabriel mempersilahkan Pacco beserta anak buahnya untuk masuk ke dalam rumah. Mereka pun menerima tawaran tersebut, tanpa melepaskan alas kaki, mereka bertiga menuju ke dalam rumah. Gabriel yang melihat itu, hanya bisa menerima dengan lapang dada.
“Ini berapa harganya” Tanya Pacco sambil tangannya mengelus-elus sebuah keris yang menempel ditembok.
“Yang itu tidak dijual bang”
“Kalau yang itu?” Pacco kembali bertanya. Tapi, kali ini jari telunjuknya diarahkan ke sebuah piring besar yang dalamnya ada gambar ayam jantan.
“Itu juga tidak dijual bang” “Bukan itu saja. Tapi, semua yang disini tidak saya jual karena ada banyak kenangan didalamnya.” Tegas Gabriel.
“Sombong juga. Si miskin ini” kata Pacco kepada anak buahnya yang dari tadi hanya duduk diam. Mereka bertiga tertawa bersama, mengejek Gabriel. Pacco memegang bahu Gabriel dan berbisik tepat di telinga, “Mana uangnya?”
“Tunggu bang. Saya akan mengambilnya.”
__ADS_1
Gabriel pergi ke kamarnya untuk mengambil uang yang telah tersusun rapi dalam koper. Ketika keluar dari kamarnya, ia dikagetkan oleh istrinya yang baru saja keluar dari dapur.
“Ayah.” Panggil Hana dengan suara yang pelan-pelan.
“Ia bu. Kenapa?” Tanya Gabriel.
“Jangan cari jangan masalah dengan mereka.” Pesan Hana.
“Ia bu. Lagian ayah mereka sudah tidak ganas seperti minggu lalu. Hanya saja mereka sedikit sombong.”
Gabriel langsung menuju Pacco dan anak buahnya. Dari kejauhan Pacco telah melihat Gabriel memegang koper kecil warna hitam. Langsung memerintahkan Eros mengambilnya Gabriel.
“Mari bang. Biar saya saja yang membawanya” pinta Eros. Gabriel memberikan koper itu kepada Eros. Waktu Eros sampai di hadapan Pocco dan berdiri saling berhadapan, datanglah Galendra menghampiri mereka. Dia berdiri di samping kanan Eros. Sedangkan, Gabriel di samping kiri Eros.
Pacco yang penasaran dengan keaslian uang langsung menyuruh Galendra untuk membuka koper tersebut. Galendra pun menurutinya. Ketika dibuka, koper tersebut terlihat disana uang dengan pecahan seratus ribu tersusun rapi, aroma harumnya sampai masuk ke dalam hidung melawati lebatnya hutan silia hingga mampu mempengaruhi saraf olfaktori. mata Pacco langsung membesar seperti mau lompat keluar. Dengan wajah penasaran dia mendekati Galendra dan mengambil satu bal uang lalu menghitungnya.
“Gimana bos. Cukup nggak?” Tanya Eros.
“Ini cukup.”
Galendra menutup koper itu. Sedangkan Pacco berjabat tangan dengan Gabriel untuk mengakhiri janji. Pada akhirnya Pacco beserta anak buahnya meninggalkan Gabriel dan keluarganya. Saat itu juga, hati Gabriel sedikit lega karena hutangnya telah lunas. Hanya saja, dia harus berusaha mencari pekerjaan secepatnya biar bisa, melunasi uang yang dia pinjam dari seorang pengusaha kuliner. Untungnya, dia tidak perlu membayar bunga, cukup sesuai dengan apa yang dipinjam tapi, dengan ketentuan dalam kurun waktu enam bulan harus sudah lunas.
Hana, dari jauh memasang telinganya di dinding untuk mendengar percakapan antara suaminya dengan Pacco beserta anak buahnya. Namun, ia tidak lagi mendengar apa-apa. Hana lalu mencoba mngintip ternyata tersisa suaminya sendiri yang sedang asik berdiri.
“Ayah. Mana mereka?”
“Sudah pulang bu. Hutang kita sudah lunas. Tapi muncul juga hutang yang baru.” Kata Gabriel kepada suaminya, air mata Gabriel mengalir di pipinya sembari dia berkata “Hana aku meminta maaf atas semua ini, selama ini aku sudah berusaha untuk menjadi suami yang baik dan tidak menyusahkan tapi, semuanya sia-sia. Entah ini aku yang tidak mampu berusaha ataukah memang sudah takdir untuk aku hidup seperti ini.”
__ADS_1
“Nggak apa-apa ayah. Itu hanya cobaan dari-Nya. Cobaan yang Dia berikan juga, tidak melebihi kekuatan kita jadi jangan menyerah.” Hana memeluk Gabriel dari belakang. Gabriel membrsihkan air matanya.