Dijodohkan Karena Hutang

Dijodohkan Karena Hutang
BAB XIV


__ADS_3

Malam tiba suasana di luar sangat gelap dan sedikit menakutkan, Gabriel, terbangun dari tidurnya yang indah, pikirannya kacau, wajahnya bingung. Tangannya memegang kepala sampai juga menjambak rambutnya sendiri. Ia bingung atas jawaban apa yang hendak diberikan kepada Marsel. Hana yang terkejut merasakan suaminya tidak ada di samping dirinya, dia langsung membuka mata meninggalkan tidurnya yang tadi benar-benar pulas.


“Ayah..” panggil Hana


Gabriel mendengar suara panggilan dari istrinya, tapi dia tidak menjawab hingga Hana harus bangun menghampiri suaminya.


“Ayah kenapa?”


“Ibu, tadi penagih hutang datang di rumah untuk menagih hutang. Tapi, karena ayah tidak bisa membayarnya, maka si Marsel meminta untuk anaknya dijodohkan dengan Ayunda”


Hana terkejut. “Apa!!”


“Tenang bu.”


“Mengapa harus menjodohkan Ayunda. Apakah tidak ada pilihan lain?” Tanya Hana


“Ada bu. Pilihannya ada dua. Kalau Ayunda dijodohkan maka hutang kita lunas. Tapi, kalau tidak dijodohkan maka ayah akan masuk penjara dan hutang tetap berjalan”


“Pilihan macam apa ini. Memang brengsek itu orang” emosi Hana mulai naik tinggi.


“Lalu apa yang ayah jawab.”


“Ayah belum jawab apa-apa.”


Malam itu, di dalam bilik yang kecil dua insan manusia yang adalah sepasang suami istri kembali berdiskusi untung mencari jawaban apa yang harus diberikan kepada Marsel. Memang, jika Ayunda dijodohkan dengan anak laki-laki Marsel, pasti hidupnya akan tercukupi tapi, apakah anak itu adalah takdir untuk Ayunda.


Keesokan harinya waktu masih menujukan sekitar pukul sepuluh atau sebalas siang mengikuti aturan waktu Indonesia Timur, Marsel kembali mengunjungi rumah keluarga Louwensky untuk meminta jawaban yang pasti dari Gabriel beserta istrinya. Ia didampingi oleh seorang pengawal yang menyetir mobil. Perjalanan yang memakan waktu satu jam itu, akhirnya mereka tiba kediaman Gabriel.


“Tok..tok..tok” tangan Marsel mengetuk pintu utama rumah Gabriel. Mendengar suara ketukan pintu tersebut, Hana dan Gabriel yang saat itu, sedang berbincang hangat tentang bagaimana membayar hutang, langsung beranjak pergi, langkah Gabriel yang kini dibantu oleh dua tongkat membuat sedikit lama berjalan karena baru pertama menggunakannya. Jadi, dia dibantu oleh istrinya. Sesampainya di depan pintu Hana langsung menjulurkan tangan kiri untuk membukanya.


“Ceklak” pintu terbuka. Terlihat disitu seorang pria tampan berketurunan full Arab sedang berdiri didampingi oleh pengawalnya.


Marsel yang sedang berdiri didepan pintu, disambut dengan hangat dari Gabriel dan istrinya.


“Mari pak masuk dulu” ajak Hana. Sesampainya di dalam, tanpa ada basa-basi dari mereka bertiga Gabriel langsung bertanya pada inti dari maksud kedatangannya.

__ADS_1


“Bagaimana? Apakah kalian berdua sudah punya jawabannya.?”


“Belum ada pak” jawab Gabriel.


“Apa belum ada? Jawabanmu enteng sekali.” Kata Marsel juga diikuti dengan tangannya melemparkan sebuah kursi plastik ke dinding.


Kamu ingat! Waktu kamu pinjam uang, semua yang kamu katakan aku turuti. Masa jawab ya dan ok saja kamu tidak bisa!”


“Ia pak”


“Tahan dulu emosinya pak” kata si pengawal untuk menenangkan bosnya.


“Saya tidak bisa tahan lagi. Pokoknya hari ini kalian berdua harus memberikan jawaban yang pasti pada saya.” Kata Gabriel dengan suara yang tinggi kasar sembari jari telunjuk kanannya menunjuk ke arah Gabriel dan istrinya.


“Ayah apa yang harus ibu jawab” ucap Ayunda penuh kebingungan.


“Ayah bingung bu,”


Gabriel memikirkan sesuatu dalam otak yang tidak masuk akal, dia mendekatkan mulutnya di telinga Hana berbisik. “Bagaimana kalau kita menjodohkan Ayunda.” Ucap Gabriel lirih.


“Tapi mau gimana lagi. Ayah pikir ini adalah pilihan yang paling tepat”


“Ya sudah ayah. Ibu kurang setuju tentang hal brengsek ini. Semuanya ibu serahkan kepada ayah tapi, jika kedepan ada apa-apa dengan Ayunda, ibu lepas tangan.”


“Baik bu. Semuanya akan menjadi tanggung jawab ayah.”


Marsel menunggu lama hingga membuatnya bosan langsung meminta jawaban.


“Saya rasa sudah cukup diskusinya. Jadi, apa jawaban kalian.” Ucap Gabriel sampai bunyi gertakan giginya terdengar oleh Gabriel dan istrinya.


“Baik pak. Setelah diskusi panjang antara saya dan istri maka, memilih untuk anak saya dijodohkan dengan anak bapak. Tapi..”


Dalam hati Marsel dia sangat bahagia, walaupun dia mengalami kerugian sebesar 200.000.000 tanpa ada uang ganti sepeser pun, karena ia menginginkan jawaban ini untuk keluar dari mulut Gabriel.


“Tapi, apa lagi?” tanyanya.

__ADS_1


“Anak saya akan tetap tinggal bersama saya, sampai usianya menginjak 17 tahun, barulah dia bisa tinggal bersama anda dan anak anda.”


“Ok lah kalau begitu. Permintaan dari anda akan saya terima. Asalkan, anakmu tidak menikah dengan pria lain. Jika, dia melewatinya maka, kupastikan keturunanmu lenyap.” Ancam Marsel.


Setelah selesai berbicara, tangannya diangkat dan matanya melihat ke arah jam tangan merek Casio G-sock yang ia kenakan. Ternyata sudah pukul 13:00 WIT sudah saatnya ia harus pergi karena akan ada pertemuan dengan sorang pengusaha kaya asal Jepang.


“Ehmm” Marsel berdehem.


“Saya permisi” kata Marsel sembari langkah kakinya berjalan keluar dan diikuti oleh pengawalnya dari belakang.


Waktu Marsel dan anak buahnya pergi. Hana dan suaminya hanya duduk diam saling bertatapan hanya sepasang mata yang kontak seakan berbicara dalam angan sampai keduanya mengeluarkan air mata secara bersamaan.


Sembari menangis, dalam hati Gabriel berkata.


Ayunda, anak kesayangan papa. Papa minta maaf karena kamu harus menjadi korban atas apa yang telah papa lakukan. Papa tahu kamu pasti akan kecewa jika nantinya kamu akan mengetahui kalau papa dan mama telah menjodohkan dirimu dengan orang yang kamu kenal seperti apa.


Papa ikhlas jika nantinya kamu menyangkal papa. Tapi kamu harus tahu apa yang papa lakukan ini juga untuk masa depannmu..


Dalam keheningan, Hana mulai berbicara kepada Gabriel “Kamu yakin dengan akan keputusan itu. Mengapa harus anak kita yang jadi korban bukan kamu saja.”


“Saya belum yakin sepenuhnya bu. Tapi, mau bagaiamana lagi? Ini sudah menjadi pilihan yang tepat. Antara kita berdua”


“Apa kamu bilang mas! Pilihan kita berdua?”


“Iya bu.”


Hana yang tadinya duduk tegang di tempar langsung menarik tubuhnya kebelakang sambil menyilangkan kedua tangannya dan berkata.


“No itu Cuma pilihan dan keputusanmu. Aku tidak ikut campur dengan hal itu.


***


Delapan tahun kemudian.


Kini, Ayunda gadis kecil yang dulunya cantik dengan senyuman manis telah tumbuh menjadi seeorang wanita yang cantik imut nan seksi. Dia baru saja melepeskan statusnya dari remaja akhir menuju dewasa awal usianya sekarang sudah 16 tahun. Tersisa sepuluh bulan lagi untuk masuk di usia 17 tahun yang biasa disebut ‘Sweet Seventeen’ Ayunda melanjutkan pendidikan menengah atas di SMA 1 Pulau Seribu yang terletak di tengah-tengah kota Tepesh. Sekolah ini sangat populer di mata anak-anak SMP akhir yang akan pindah ke SMA. Untuk masuk ke sekolah ini, seleksinya begitu ketat, biaya yang diperlukan juga mahal.

__ADS_1


Dari awal ayah dan ibu Ayunda sudah menawarkan agar dia lebih baik masuk menengah kejuruan karena, biayanya murah juga tujuh orang temannya masuk kejuruan. Tapi, dia tetap bersikeras untuk masuk SMA 1 Pulau Seribu. Karena, sekolah ini sudah menjadi target sejak lama sewaktu dirinya masih pertama kali menginjakan kaki di kelas 1 menengah pertama. Ketika lulus SMP dia mencoba untuk mengikuti ujian untuk seleksi beasiswa. Seminggu sebelum pengumuman lolos ke SMA, namanya digantungkan sebagai penerima beasiswa penuh dari Samadara Fundation, yang merupakan salah satu bidang yang bergerak memperhatikan pendidikan anak-anak yang tidak mampu namun, berprestasi.


__ADS_2