Dijodohkan Karena Hutang

Dijodohkan Karena Hutang
BAB XIV


__ADS_3

Shania, berjalan ke arah pondok pak Salim, suaranya berteriak memanggil sembari tangannya mengetuk pintu


“Tok.. tok.. tok”


“Pak Salim” teriak Shania.


Suara teriakannya, semakin lama semakin tinggi, sampai terdengar oleh orang pemilik tokoh yang bersebelahan dengan pak Salim.


“Ahh, orangnya diamana sih?” Tanya Shania sambil jarinya menekan bell yang menempel di tembok samping pintu.


“Kriiing.. kriiing..” suara bell berbunyi.


“Nak cari siapa?” Tanya sorang wanita paruh baya dengan suara parau.


“Mbak, pemilik pondok ini ada dimana?”


“Mereka sedang pergi beribadah”


“Pulangnya jam brapa mbak?” Tanya Shania.


“Mungkin sejam lagi nak” jawab Mbak Lala, dia langsung membalikan badan meninggalkan Shania, karena dia mau melayani orang yang datang belanja.


“Terima kasih mbak” balas Shania. Shania yang dari tadi berdiri, di depan pintu kios, akhirnya berjalan pergi, untuk duduk dan beristirahat di halte sambil menunggu kedatangan pak Salim. Shania yang ingin memberi kabar kepada ayah dan ibunya, kalau dia pulang sedikit gelap. Namun, kinginan itu terhalang karena beterai ponselnya habis.


Di rumah Shania, ayah dan ibunya sangat khawatir karena anak gadis mereka belum pulang ke rumah. Jeni yang adalah ibu Shania sudah mencoba menghubungi penajaga sekolah untuk menanyakan, apakah Shania ada di skolah?. Tetapi jawaban penjaga sekolah adalah


“Sekolah sudah pulang dari jam 2 siang.”


Jawaban itu, membuat Jeni mulai khawatir dan langsung berpikir yang tidak-tidak tentang anaknya.


“Papa… papa..” panggil Jeni panik.


“Ada apa ma?” Tanya Romi, ayah sambung Shenia.


“Shenia belum juga pulang pap,”

__ADS_1


“Mama, sudah menghubunginya?”


“Belum pap.” Jawab Jeni dan langsung mengambil ponsel di atas meja, dan menlepon anaknya.


“Nomor yang ada tujui sedang tidak aktif, atau berada di luar jangkawan. Coabalah beberapa saat lagi.”


“Nggak masuk, papa. Yang di tujui Shania, yang jawab malah operator telkomsel” rengek Jeni.


“Sudahlah mam, dia sudah dewasa, sudah mampu menjaga diri sendiri dong,” ucap Romi, mengelus rambut Jeni yang sebagiannya telah memutih.


“Tapi, mam tidak yakin pap. Mama takut dia kenapa-napa. Bagaimana kalau dia di culik. Terus di bunuh, ginjalnya di ambil dan di jual” ucap Jeni penuh kekhawatiran.


“Mama ada-ada saja deh.. pikiran mama terlalu berlebihan. Nih minum air putih dulu, biar pikirannya tenang” Romi memberikian segelas air putih kepada istrinya. Jeni meneguk air itu tiga kali, hingga airnya turun ke bawah membasahi bagian dalam tubuh Jeni.


“Sekarang tarik nafas yang dalam tahan sedikit dan buang” Romi memberikan perintah.


Jeni mengikuti, arahan dari suaminya. Dia menarik nafas dalam-dalam dan dibuang secara perlahan, sebanyak tiga kali. Cara ini adalah untuk terapi pikiran Jeni.


“Bagaimana mam. Sudah tenang?” Tanya Romi.


“Ya sudah, pikirannya di tenangkan lagi, biar kita berdua bisa cari sama-sama”


“Coba mam, telefon Rendy ketuanya Shania. Siapa tahu, mereka lagi mengadakan kegiatan osis”


“Nomor Rendy tidak ada pap.” Romi, mengingat-ingat siapa saja teman-teman Shania yang bisa di hubungi melalui daring. “Kalau nomor Hp Bara, ada atau tidak?”


“Tida ada pap. Di ponsel mam, yang ada hanyalah nomor papa, Shania, dan teman-teman mama”


Romi yang sejak tadi tidak bingung, sekarang mulai kebingungan. Kepalanya pusing, dari mana dia bisa mendapatkan nomor telefon teman-teman dari anak tirinya.


“Mam tunggu pap disini sebantar yah, pap ke atas dulu.” Romi menaiki tangga menuju lantai dua, dia memasuki kamar Shania, yang kebetulan hari ini tidak di kunci. Romi masuk ke dalam, dan mencakar bagian atas nakas yang di penuhi dengan buku, untuk mencari buku-buku kecil kesayangan Shania. Buku-buku kecil itu, tersimpan berbagai macam nama, hal-hal yang di sukai, serta nama-nama teman Shania semua tertulis rapi didalamnya. Sembari mencari, Romi melihat ke arah jam tangan yang ia kenakan, ternyata waktu sudah pukul 20:13 WIT. Saat tangannya hendak di turunkan biar bisa sejajar dengan badannya, tak sengaja, siku tangannya, menyenggol foto Shania yang membuatnya melayang dari atas meja. Namun, tangan Romi bergerak secepat kilat, dan meraihnya. Sialnya, dia menyenggol sebuah kotak kecil hingga terjatuh dan semua barang yang ada dalam kotak itu pun, berhamburan di atas lantai. Untungnya tidak ada barang yang pecah.


Romi langsung bergegas merapikan semuanya ke keadaan semula. Sambil menata kembali atas nakas, Romi meendapatkan sebuah notebook berukuran kecil, dia membuka dan membaca helai demi helai, saat dia bepindah ke helai berikutnya, dia menemukan beberapa kumpulan nomor telefon. Dengan buru-buru dia keluar dari kamar anaknya tanpa menutup pintu. Dia berjalan menuruni tangga, menuju istrinya. Buku itu dibawa dan di serahkan kepada Jeni. Jeni lalu mengetik nomor di layar ponselnya, dia menghubungi nomor itu satu per satu. Dari panggilan pertama sampai ke lima, tidak ada jawaban. Pada yang terakhir adalah nomor Rendy, Jeni menghubungi nomor itu. Dan ternyata masuk, namun pemilik nomor itu tidak mengangkat panggilan telefon tersebut, Rendy yang tengah konsentrasi untuk membuat tugas kimia, merasa terganggu, apa lagi, volume dering yang full mmbuatnya kaget, hingga materi dan rumus-rumus yang sudah ada di benakknya tiba-tiba hilang begitu saja. Ibu Shania mencobanya sekali lagi.


“Siapa sih? Yang ganggu malam-malam begini?”

__ADS_1


Karena rasa penasaran akan nomor baru ini, akhirnya, Rendy mengangkat telefon dan menyambungkan panggilan.


“Hallo, selamat malam ini siapa?” Tanya Rendi penasaran.


“Selamat malam nak Rendy, ini tante Jeni. Ibu Shania”


“Ia tante maaf yah. Saya angkatnya lama. Saya pikir ini panggilan telefon dari penipuan. Ngomong-ngomong, tante ada perlu apa sampai telefon saya malam begini.”


“Begini nak. Tante mau tanya, apakah ada kegiatan osis di sekolah?”


“Tidak ada ada tante. Emangnya ada apa dengan osis tante?”


“Tante hanya tanya, soalnya Shania belum pulang rumah. Apakah nak Rendy melihat dia di sekolah tadi”


Rendy, tertegun dia menahan untuk menjawab pertanyaan dari tante Jeni. Dia mengingat kejadian waktu di sekolah.


“Halo nak Rendy.. Rendy??”


“I.ia tante.” Ucap Rendy seperti orang gagu. “ Seingat saya, Dia sudah pulang tante, soalnya, tadi saya melihat dia di antar pulang oleh seorang tukang ojek”


“Terima kasih nak Rendy”


“Ia tante, sama-sama.”


Jeni, langsung memutus sambungan panggilan.


Di saat Jeni dan Rendy berbicara, papa Romy melanjutkan untuk membuka dan membaca buku kecil tersebut, dengan harapan, dia dapat menemukan nomor telefon Bara.


“Apa yang Rendy katakana mam?” tanya ayah Shania penasaran sambil melemparkan buku ke atas sofa.


“Kata dia, Shania sudah pulang, dia di antar oleh tukang ojek”


“Papa, apa kita hubungi polisi saja, biar mereka yang cari.”


“Jangan dulu gegabah mama. Siapa tahu kalau dia sedang bersama dengan teman-temannya. Lagian ini belum sampai sehari.”

__ADS_1


Jeni menepik.


__ADS_2