Dijodohkan Karena Hutang

Dijodohkan Karena Hutang
BAB XVII


__ADS_3

Tibanya di sekolah, Ayunda berjalan terburu-buru karena tidak ada lagi siswa yang berkeliaran didepan kelas. “Bentar pak, bentar…” terik Ayunda, mencoba menghentikan satpam yang sedang menarik pintu gerbang, yang tersisa sedikit lagi akan tertutup rapat.


“Wuussh” Ayunda menyampingkan badan, dia berhasil masuk ke dalam.


“Selamat pagi pak,” ucap Ayunda memberi salam.


Dengan berjalan menunduk tanpa melihat ke arah depan. Akhirnya dia menabrak seorang anak laki-laki di depanya.


“Aduh,” celetuk Ayunda mengusap jidatnya.


“Kalau jalan pandang ke depan jangan pandang ke bawah” kata Bara.


Mendengar kalau suara itu berasal dari Bara, pipi Ayunda langsung memerah, jantungnya berdetak cepat. Karena, pria yang berhadapan dengan dia adalah pria yang beberapa bulan ini, dia selalu membayangkan untuk menjadi, pacarnya. Memang bagi dirinya ini sedikit tidak masuk akal, karena Bara adalah anak orang kaya, sedangkan dia tidak.


“Kamu kenapa dek?” nada deep voice Bara kembali keluar, membuat Ayunda tertegun.


“Dek?”


“Ia kak. Kenapa?”


“Kakak minta maaf yah”


“Semestinya saya yang harus minta maaf, bukan kakak.” Balas Ayunda sembari mengangkat wajahnya, dan menatap wajah Bara yang sedikit tinggi darinya.


“Ya, sudah ini sudah jam berapa ini. Sana masuk kelas” suruh Bara, sambil matanya memandang ke arah jam tangan yang ia kenakan di tangan kanannya.


“Saya pergi dulu ya kak.” Ayunda lalu berjalan melewati ruang guru dan masuk ke dalam kelasnya. Di dalam kelas, dia melihat Ika yang sedang beradu mulut dengan Esmeralda soal perkataan yang keluar dari mulut Esmeralda kemarin.


“Kamu pikir saya takut! Tidak! Saya tidak takut sama siapapun” kata Ika sambil mencengkeram kerah baju Esmeralda dan mengangkatnya ke atas.


‘Esmeralda seketika berdiri dengan jari kakinya.’


“Ohhh kamu tidak yah”


“Pa-tas” bunyi suara tamparan keras dari tangan Esmeralda yang mendarat dengan sempurna di pipi Ika.


Suasana kelas diam seketika.


“Ahhh” erang Ika, wanita berparas cantik, bersifat tomboi itu, mengusap pipinya. Tanpa berlama-lama, Ika membalas dengan penuh emosi, merenggut rambut Esmerlda dan mnariknya sesuka hati. Teman-teman geng Esmeralda tidak ada yang brani maju, karena mereka juga takut kepada Ika. Ayunda buru-buru menghampiri dan melepaskan tangan Ika dari Esmeralda.


“Ika stop!” ucapnya sambil menarik tangan Ika. Tapi, pegangan tangan Ika yang erat membuat Ayunda susah melepasnya.


“Ahhh…ahh..ahhh” Esmeralda menjerit kesakitan.


“Stoooooop” teriak Ayunda di dalam kelas. Ika akhirnya berhenti.

__ADS_1


Teriakan itu, sampai mengusik telinga seorang guru yang sedang berdiri tidak jauh dari kelas X A.


“Ada apa ini?” Tanya pak Olan selaku guru BK. Dia berdiri tepat di depan pintu kelas.


Matanya memandang, ke arah Ayunda, Ika, dan Esmeralda. Dia melihat, pakaian Ayunda sangat berantakan rambutnya juga acak-acakkan.


“Dia kenapa?” Tanya pak Olan, kepada semua siswa yang ada dalam kelas.


“Dia berkelahi pak” jawab seorang anak laki-laki yang dicap sebagai banci.


Tanpa balik bertanya, pak Olan memerintahkan Esmeralda, Ika, dan Ayunda, untuk mengikutinya di ruang BK.


~Di ruang BK


Dihadapan pak Olan yang sedang duduk dibangku kayu sembari memainkan ponsel, berdirilah tiga orang wanita, dengan kepala menunduk dan ekspesi wajah yang murung.


“Kenapa, kalian berkelahi?”


“Saya tidak berkelahi pak. Hanya mereka berdua” jawab Ayunda.


“Kenapa kalian berdua bisa berkelahi?”


“Karena dia menampar saya pak.” Jawab Ika.


“Esmeralda, apa alasanmu?” pak Olan menunjukan pena ke arah Esmeralda.


“Kalian berdua ayo, saling meminta maaf” suruh pak Olan. Ika lalu menjulurkan tangannya, dan memegang tangan Esmeralda, dan masing-masing saling mengucapkan kata “Saya minta maaf.”


“Saya harap, ini adalah yang terakhir, jika terjadi sekali lagi maka saya akan memberikan sanksi yang berat kepada kalian berdua.”


Setelah selesai, mereka bertiga kembali ke kelas, akan tetapi, Esmeralda melanjutkan langkahnya, ke kelas XII MIA untuk bertemu dengan sekretais osis. Namun, pada saat itu, kelas XII MIA sedang melakukan pembelajaran Kimia. Akhirnya dia balik ke kelasnya. Sampainya di kelas, dia disambut oleh teman-temannya yang sedari tadi mununggunya, mereka ingin tahu tentang apa yang di alami Esmeralda saat berada di dalam ruang BK. Tetapi, Esmeralda tidak menceritakan apa-apa karena dia masih mendongkol, sebab harus berjabat tangan dengan Ika juga, dia harus meminta maaf dan lebih parahnya lagi, dia tidak ditolong teman-temannya.


“Mengapa kalian tidak menolong saya tadi?”


“Kita tidak berani Alda,” jawab seorang temannya.


“Kamu mau, kita dijadikan sambal goreng sama dia. Dia itu, anak karate, sedangakan kita cuma cheerleader,” sambung Hani.


Bukan hanya Esmeralda yang kesal, Ika pun sama, dia kesal karena dia yang pertama meminta maaf.


Kriiiing…kriiiing, bel keluar main berbunyi. Semua siswa berjalan keluar meninggalkan ruang kelas, dan langsung menuju kantin. Kecuali, Ayunda, dan Ika, yang hanya berjalan-jalan diluar untuk melihat keindahan bunga-bunga dan mendapatkan udara segar untuk meredakan emosi Ika yang dari tadi, belum surut. Mereka berdua melewati lapangan basket, terlihat disana Bara bersama teman-temannya sedang bermain basket melawan tim Gara. Teriakan para betina sangat hesteris untuk mendukung tim Bara.


“Wuuuuuuuuuww, semangat Bara. Yaolooh ganteng bangat kak Bara” teriak seorang teman angkatan Ika dan Ayunda.


Ika, memalingkan kepalanya, dua bola mata indah menatap Bara, “Kak Bara, ternyata ganteng bangat yah” ucap Ika lirih di telinga Ayunda.

__ADS_1


“Ia dia ganteng bangat” balas Ayunda menunduk.


“Coba kamu menatapnya,” pinta Ika.


Ayunda tidak berani menatap Bara, karena jika dia menatap baik dari jauh maupun dekat, jantungnya berdetak cepat.


“Kamu suka ya? Sama kak Bara,”


“Ti, tidaklah” Ayunda membohongi Ika tapi, tidak dengan hatinya.


“Priiiit” wasit meniup lepri yang tergantung dilehrnya, untuk menghentikan permainan sementara grup Bara yang memimpin pertandingan dengan poin beda tipis. Tiba-tiba seorang perempuan memasuki lapangan, dia berjalan ke arah Bara sambil memegang satu botol air. Wanita itu adalah sekretaris osis yang bernama Shania.


“Sayang, minum dulu” ucapnya Shania, ketika tangannya memberikan air minum kepada Bara.


‘Bara heran’ dia menatap Shania dengan wajah rata.


“Kenapa natap aku seperti itu. Aku tahu aku memang cantik. Tapi, jangan menatapku seperti ini juga” ucap Shania dengan penuh percaya diri.


Bara, tidak pusing dengan Shania, dia meninggalkan Shania sendirian, di tengah lapangan. Bara pergi mengambil handuk kecil yang ada dalam tasnya untuk ngelap keringat yang mengalir di pipinya.


Semua siswa yang masih ada situ langsung mengejek Shania dengan berteriak “Huuuuuuuu”


Shania tetap mengikuti Bara, seperti biasa, dia menyodorkan air minum kepada Bara. Alhasil Bara mngambilnya. Tapi, dia masih bingung dengan wanita yang satu ini.


“Ayo ikut aku” Bara, menyeret Shania keluar lapangan. Bara membawa Shania ke belakang kelas XII MIA. “Kamu mau apa sih?” Tanya Shania.


“Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa jadi, tolong jangan ganggu aku” Bara memohon.


“Apa maksudmu tidak ada apa-apa?” Shania kebingungan.


“Bukannya waktu itu, kamu minta putus. Masa sekarang lupa”


“Waktu itu, gue cuma sengaja kok. Lagian sekarang saya tidak ada hubungan lagi dengan Mario”


“Saya tidak akan menerima omong kosongmu. Saya muak dengan semuanya.”


“Cukup hari ini, kamu mengganggu saya tapi, esok dan seterusnya, jangan. Hati saya bukan pintu, yang se-enaknya untuk kau buka dan tutup. Jadi, tolong pergilah”


“Priiiit” tiupan lepri berbunyi, semua pemain kembali memasuki lapangan. Bara berlari memasuki lapangan, dia meninggalkan Shania sendirian. “Ihhh” Shania mengentak kakinya.


Pertandingan basket kembali, dilangsungkan perlawanan sengit, tim lawan sangat panas karena mereka terbuang jauh yang artinya, mereka sudah mendekati dengan kekalahan. Di detik-detik terakhir permainan, Guy mngoper bola pada Bara, dengan sigapnya, Bara mengambil bola tersebut dia menggiring bola melewati lawan, ketika dekat dengan keranjang, Bara melakukan gaya Slam Dunk bola pun, masuk dalam keranjang, dan Bara menggantungkan dirinya di ring.


“Wuuuuuuuuu, horeeeee” semua penonton bersorak bergembira melihat gaya Bara memasukan bola.


“Kak Bara, mau nggak jadi pacar aku!” teriak seorang wanita yang berdiri dibelakang Ayunda. Suaranya merasuki gendang telinga Ayunda sampai dirinya merasa geli.

__ADS_1


“Priiiiiit” wasit meniup lepri, permainan berhenti dengan kemenangan di raih oleh tim Bara. Bara dan teman-temannya bersorak gembira, mereka semua bersalaman dengan tim lawan, sekaligus berjalan keluar meninggalkan lapangan. Ketika telah berada di luar lapangan, Bara memandang ke arah siswa-siswi yang menonton, dia melihat Ayunda yang berada di pintu keluar, Bara melihat Ayunda dari kejauhan, sampai terciptanya senyum indah di wajah Bara.


__ADS_2