
Dengan penuh kegembiraan Ayunda kembali ke kamar ayahnya lalu membangunkan dia. “Ayah ayo bangun kita main masak-masak.” Tetapi Gabriel tidak bangun, karena dia masih mengantuk. Namun Ayunda yang sudah mendapatkan ‘yes’ maka dia tetap mencoba membangunkan ayahnya. Ada beberapa percobaan yang ia lakukan mulai dari menggoyang badan ayahnya, sampai menggelitik telapak kaki pun Gabriel tidak bangun. Tubuh Gabriel bagaikan sebatang pohon kayu yang terdampar di pinggir pantai. Pada akhirnya Ayunda mempunyai satu cara terakhir yang di pastikan ampuh untuk membangunkan ayahnya yaitu dengan, menggelitik ketiaknya. Ayunda pun melakukan, dan ternyata membuahkan hasil. Gabriel pun bangun, untuk menemani anaknya bermain. Ayunda sangat senang karena. Ketika mereka berdua bermain, Ayunda bertanya kepada ayahnya tentang ibunya yang belum pulang.
“ayah. Ibu dimana?”
Sambil meletakan sebuah piring mainan Gabriel berkata “Ibumu lagi berjualan di pasar”
“Sejak kapan ibu berjualan?” Ayunda balik Tanya.
“Sejak minggu lalu.”
Hana yang bekerja sebagai pedagang sayur, sudah melakoni pekerjaan ini sejak dia belum dinikahi oleh Gabriel, namun ketika sudah menikah dia memilih untuk berhenti. Namun, karena kondisi ekonomi keluarga yang mulai menipis akhirnya dia kembali menjadi seorang pedagang sayur.
Hari ini, pembeli di tempat jualan Hana sangat ramai, sampai-sampai belum waktu makan siang saja, jualannya sudah habis terjual. Pendapatan di hari ini juga cukup untuk makan selama dua hari. Dia pun pulang ke rumahnya. Sebelum pulang, Hana membeli sayur dan tahu untuk dimasak. Setelah selesai memeli, Hana pun pulang dengan menumpangi sebuah mobil angkot. Sesampainya di rumah ia disambut hangat oleh suami dan anaknya.
“Ibu pulang..” Ayunda bersorak bahagia dia, berlari ke arah Hana lalu memeluknya.
“ayah kakimu sudah membaik?” Tanya Hana kepada suaminya. Ketika dia meletakkan tas pinggang di kursi.
“Sudah ibu” sahut Gabriel.
__ADS_1
Ayunda melepaskan pelukannya, lalu menarik tangan sang ibu, dan mengajaknya untuk main “Ibu ayo main.”
“Ibu harus memasak, kamu bermain dulu bersama ayah”
“Ok lah” mulut Ayunda manyun.
“Hmmm” dia mengangkat kedua bahunya juga melipatkan tangannya.
“Sini sayang, main sama ayah” teriak Gabriel saat raut wajahnya dibuat lucu.
Dengan rasa sedikit kesal akhirnya Ayunda pergi bermain dengan ayahnya. Sedangkan Hana pergi ke dapur untuk memasak. Namun ketika Hana belum sampai di dapur ia, dikejutkan dengan penampakan kamar tidur yang berantak seperti kapal pecah. Hana berdiri di depan pintu kamarnya, matanya memandang tajam ke semua sisi kamar. Hampir semua benda pindah dari tempat asalnya secara takaruan. Melihat semua kekacauan itu, Hana berkata dalam hati katanya “Tadi sebelum saya ke pasar, kamar tidak seperti ini kan? tetapi kenapa berubah macam ini?”
Hana bingung. Dia ingin mencari jawaban dari pertanyaan yang ada dalam benaknya di suami dan anaknya namun, dia takut mereka terganggu. Juga karena perutnya sudah merasa lapar, terpaksa dia meninggalkan kamarnya begitu saja “Nanti saja, setelah saya habis memasak.” Dia berlalu dari kamarnya dan pergi ke dapur. Sampainya di dapur dia langsung bergegas untuk masak nasi, tahu saos, dan sayur kangkung tumis. Semuanya dia lakukan secara bersamaan, tangannya yang lihai serta pandai dalam meracik bumbu, ketika dia menumis bumbu yang akan digunakan untuk sayur, baunya sangat wangi, bahkan bagi siapa pun yang menciumnya pasti ingin untuk memakannya. Di tangan Hana, makanan yang sederhana dapat mempunyai rasa yang istimewa. Sekitar satu jam dia di dalam dapur akhinya, semua makanan pun selesai dimasak. Hana lalu mengantar makanan-makanan itu ke ruang makan untuk menyajikannya di meja makan. Hana juga mengambil tiga buah piring dan sendok lalu menatanya di atas meja makan.
Hana yang merasa, kalau suami dan anaknya sudah merasa lapar karena ini sudah jam 12 siang. Bahkan ketika pagi tadi dia pergi ke pasar, dia belum sempat menyiapkan apa-apa untuk anak dan suaminya. Dia pun pergi memanggil mereka berdua untuk makan “Ayah dan Ayu mari kita makan bersama.”
Setelah memanggil mereka berdua, dia meninggalkan mereka, dan pergi ke kamarnya untuk membersihkan juga menata kamarnya seperti semula.
Ayunda berdiri meninggalkan permainannya, Gabriel juga.
__ADS_1
Gabriel yang kelamaan duduk, pada akhirnya susah untuk berdiri karena kakinya keram, juga akibat dari pengaruh luka yang masih mentah. Dia lalu di tolong oleh putrinya. Mereka berdua mengikuti panggilan dari Hana. Ketika sampai di ruang makan, Ayunda langsung pergi ke tempat cuci piring untuk mencuci kedua tangannya. Sedangkan ayahnya langsung ke meja makan. Sambil mengatur kursi meja makan, untuk dia beserta istri dan anak. Dia memanggil istrinya.
“Ibu ayo kita makan bersama”
“Kalian berdua makan duluan saja, nanti ibu nyusul” balas Hana dari dalam kamarnya.
Setelah selesai mencuci tangan, Ayunda menghampiri ayahnya dan duduk di kursi yang sudah disediakan oleh ayahnya. Sambil duduk tangan kanannya mengambil piring dan sendok yang sudah disediakan oleh ibunya kemudian diletakkan sejajar dengan wajahnya. Setelah itu, dia membuka tudung saji, untuk mengambil makanan. Ayunda dan Gabriel pun makan ketika hendak memasukkan satu sendok nasi ke dalam mulut ayunda berkata kepada ayahnya.
“Selamat makan ayah”
“Selamat makan juga sayangnya ayah dan ibu”
Di kamar, Hana membereskan semua benda-benda yang berserakan dia mengembalikan semuanya ke tempat semula juga tempat tidurnya di atur dengan sangat rapi. Dalam kurang lebih 30 menit akhirnya semua beres, kamar kembali tertata dengan rapi. Hana yang sudah merasa lapar sejak pulang dari pasar tetapi, harus ditahan kerena harus membereskan kamar lebih dulu. Kini rasa itu mengamuk dengan mengeluarkan bunyi yang kuat dari dalam perut, akhirnya dia pergi mencari makan. Sesampainya di ruang makan, dia melihat suami dan anaknya yang baru saja selesai makan, dan sedang membersihkan meja makan.
“Ibu dari mana? Kok baru datang sekarang?” Tanya anak perempuannya. “Saya dan Ayunda sudah selesai makan” ucap Gabriel mlanjutkan pembicaraan anaknya sambil meneguk segelas air putih.
“Ibu dari kamar sayang. Ia ayah”
Gabriel dan Ayunda meninggalkan Hana, mereka keluar dari ruang makan menuju teras. Sedangkan Hana lanjut makan. Namun dia masih tidak tenang dengan Ayunda yang mengetahui kalau suaminya punya hutang. Hanya baru beberapa sendok nasi yang masuk ke dalam mulutnya saja, dia memasukannya kembali ke bawah tudung saji. “Nanti saja di habiskan ketika saya sudah kembali lapar.” Tangan sebelahnya diletakan di atas meja makan sedangkan tangannya yang lain memegang gelas yang berisikan air putih untuk diminum. Sambil minum, dia mengingat-ingat percakapan antara dia dengan suami tentang hutang yang bisa diketahui oleh putrinya.
__ADS_1
“Saya harus bertanya kepadanya” ucapnya sambil kembali meletakkan gelas ke atas meja.