Dijodohkan Karena Hutang

Dijodohkan Karena Hutang
BAB IV


__ADS_3

Gabriel terkejut karena, sekarang putrinya sudah berani untuk membantah perkataan orang tua. Air mata menetes dari pipinya, hatinya tergores luka yang tak berdarah, tetapi meninggalkan bekas yang dalam.


“Ayah kenapa? Kok ada air mata pipinya?” Tanya Ayunda.


“Ayah tidak kenapa-napa, ini hanya perih. Lihat mata ayah memerah” Gabriel membalas pertanyaan dari Ayunda, sambil menunjukkan kedua bola mata.


“ayo, mari kita menyiram bunga-bunga ini, biar dia tetap terlihat sehat dan indah” ajak Gabriel.


Mendengar ajakan dari sang ayah, Ayunda lalu pergi mengambil gembor yang berada di samping bunga keladi, berjenis Moonligh kemudian dia mengisinya dengan air sampai penuh. Ketika sudah penuh diapun membawa dan memberikan kepada ayahnya.


“Nih ayah”


“Katanya mau menolong ayah. Kenapa harus memberikan gembor itu, kepada ayah”


“ehhh saya lupa” ucap Ayunda dengan wajah yang terlihat malu-malu.


“hahahaha…” Gabriel tertawa kecil karena tingkah anaknya yang lucu. Ayunda lalu menyiram bunga-bunga satu persatu baik yang tertata rapi di terasnya, maupun yang digantung. Sambil menyiram dia juga menghitung jumlah setiap bunga ternyata ada lima puluh bunga dengan jenis yang berbeda-beda. Setelah semuanya selesai disiram, dia kembali meletakan gembor di tempat semula. “Ayah semuanya sudah disiram” lapor Ayunda.


“Kalau begitu, mari duduk bersama ayah” tawar Gabriel. Akhirnya Ayunda menuruti tawaran sang ayah. Dia duduk di samping ayahnya sambil bercerita tentang semua hal yang dia alami semalam. Ketika dia belum selesai bercerita, ayahnya langsung memotong dan bertanya.

__ADS_1


“Jadi, kamu bertemu dengan orang itu di lapangan?”


“Ia ayah, saat itu, ketika aku bersama dengan teman-teman sedang bermain disana” jawab Ayunda.


“Ohh berarti om itu teman ayah. Dia baru dari kampung soalnya, dia juga belum kenal ibu, makanya dia tidak ingin bertemu dengan ibu” lanjut Gabriel, kali ini, dia berusaha untuk membersihkan pikiran putrinya.


“Seperti itu?” Ayunda memutar matanya.


Ayunda tidak yakin dengan pernyataan yang dilontarkan oleh ayahnya barusan, karena dia tidak pernah mendengar kalau ayahnya punya teman dikampung. Lagian juga, ketika ada tamu yang datang baik itu baru pertama atau sudah berulang-ulang kali datang, untuk bertemu dengan ayahnya. Tentu, ayahnya ada di rumah. Kalaupun dia tidak ada, maka dia akan menelefon ibu untuk memberitahukan tetapi kali ini berbeda.


“Pasti ayah menipu saya, tapi ya sudahlah”.


“Kamu kenapa Ayu, kok bengong” Gabriel memukul bahu putrinya, dengan tujuan biar dia sadar.


“Saya percaya kok, kan ayah mengajarkan tidak boleh berbohong. Jadi, saya yakin apa yang ayah katakana itu benar.”


“kalau begitu mari bantu ayah, masuk ke dalam”


Ayunda yang mendengar ayahnya meminta bantuan, dia langsung bergegas. Gayanya seperti biasa, dia menggendong ayahnya, sedangkan tangan sebelah dari sang ayah mencoba untuk menahan di setiap dinding, biar bisa meringankan tubuhnya agar Ayunda tidak terlalu merasa berat. Sambil mereka berdua berjalan tertatih-tatih, sampai ke dalam kamar, ketika sudah di kamar,Gabriel mengambil tas dan Jaket warna cokelat ia mengenakannya. Melihat ayahnya yang sudah rapi, Ayunda lalu bertanya “ayah mau pergi ke mana?”

__ADS_1


“Ayah mau pergi kerja” jawab Gabriel. Ketika mendengar jawaban dari ayahnya, ayunda langsung berusaha menahan ayahnya untuk tidak pergi kerja.


“ayah jangan paksakan diri, itu kakimu belum sembuh”


“Ia sayang ayah tahu, tapi ayah bekerja pakai tangan jadi, tidak apa-apa. Lukanya juga kecil”


“Tidak ayah, intinya ayah tidak boleh kerja hari ini! Kaki ayah belum sembuh titik!” ucap Ayunda tegas. Dia lalu bergegas menarik pintu kamar. Tangannya memegang handel pintu kuat dan menariknya. “Braak” dia mengunci ayahnya. Ayunda membiarkan ayahnya di dalam. Sedangkan dirinya sudah berada di luar kamar.


“Ayu buka! Pintunya” teriak Gabriel kencang


“Tidak ayah, saya tidak akan buka” Ayunda membalas pinta ayahnya dengan suara yang begitu keras dan nada yang tinggi. Sampai-sampai tetangga-tetangga yang berada disekitar situ bertanya satu dengan yang lain. Salah satunya adalah tnte Mona ibu dari teman perempuan Ayunda yang bernama Ellish yang sedang membeli sayur, dari seorang pedagang sayur pagi itu, harus menghampiri rumah mereka, untuk memastikan sebenarnya apa yang sedang terjadi. “Hana, Hana” teriak Mona sambil mengetok pintu rumah mereka. Namun, sudah berulang kali tante Mona memanggil tetapi tidak ada yang menyahut. Akan tetapi dia mendengar ada suara dari dalam rumah, suara dengan nada yang tidak biasa. Akhirnya dia memutuskan untuk masuk ke dalam, Tante Mona berrjalan jinjit dan perlahan-lahan ke dalam, diselubungi rasa takut, karena kalau ada terjadi apa-apa pasti dia yang akan menjadi, saksinya. Namun tante Mona berjalan ke arah yang berbeda, harusnya ke sebelah kiri namun, tante Mona memilih ke sebelah kanan. Baru berapa langkah saja, ia dikagetkan dengan suara teriakan dari Gabriel “Ayu kamu jangan ngelawan! Ini perintah ayah, cepat buka pintunya!” pinta Gabriel. Kini tidak biasa, karena Gabriel memukul-mukul pintu dengan sangat kuat dari dalam. Dia lalu berbalik arah ke sumber suara yang baru saja didengar. Sesampianya di sumber suara itu, ia menemukan Ayunda yang sedang duduk didasar, kaki terlunjur, sedangkan kepalanya menunduk dan kedua tangan yang sedang mengusap matanya. Menandakan kalau Ayunda sedang menangis. Sedangkan ayahnya di dalam sedang berbicara memarahinya.


Tante Mona yang melihat Ayunda seperti itu, langsung cepat-cepat menghampiri dia dan memeluknya. Sambil memeluk, tante Mona bertanya kepada Ayunda. “Kamu kenapa Ayu”


“Ayu takut tante, dari tadi, ayah bersuara besar” ucap Ayunda mewek. Tante Mona kembali bertanya “Emangnya kenapa sampai ayahmu bisa seperti ini?” mendengar pertanyaan itu, Ayunda lalu membersihkan air mata lalu menceritakan kronologinya. “Awalnya itu, ayah ingin pergi kerja, tapi saya tidak mengizinkan dia pergi.”


“Loh, kenapa? Kan ayahmu mau kerja, cari uang buat kalian.”


“Ia tante saya tahu, tetapi ayah lagi sakit. Dia punya luka di lutut yang belum sembuh. Berjalan aja, masih butuh pertolongan masa, dia mau pergi kerja. Takutnya dia kenapa-napa di jalan” jelas Ayunda.

__ADS_1


Ayahnya di dalam masih menyuruhnya untuk membuka pintu. “Ayu, buka pintunya, biar nanti tante yang bicara dengan ayah kamu” tawar tante Mona. Dari tawaran tante Mona akhirnya, Ayunda membuka pintu kamar itu. “Kenapa baru buka pintunya sekarang, ayah sudah terlambat.” Tegas ayahnya. Ayunda tidak menjawab apa-apa.


Tante Mona dan Ayunda masuk ke dalam, lalu duduk di samping tempat tidur, sedangkan Gabriel, sedang marah-marah karena, anaknya lama untuk membuka pintu. Gabriel memarahi anak semata wayangnya. Kali ini, Gabriel terlihat berbeda. Tante Mona kemudian mencoba untuk memancing pembicaraan Gabriel dengan bertanya, “Kamu kenapa?”


__ADS_2