
Saat Gabriel masih dipeluk Hana, telefon genggam miliknya berdering, mengagetkan mereka berdua. Hana melepaskan pelukannya dan Gabriel mengambil ponsel tersebut. Dilihat itu adalah adalah bibi Ima yang adalah saudari Gabriel di kampung.
Gabriel menyambungkan panggilan.
“Halo bi, ada apa?”
“Paman Jeri telah meninggal” jawab bibi Ima sedu. Hanya kalimat ini yang keluar dan langsung bibi Ima memutuskan panggilan.
“siapa yang telefon?” Tanya Hana kepada Gabriel.
“Bibi Ima.”
“Apa yang dia katakan.”
“Katanya paman Jeri meninggal.” Mata sembab Gabriel kembali menetes air mata yang lebih deras dari yang pertama. Melihat suaminya yang menangis bersedu-sedu Hana akhirnya mengikutinya, sampai suara tangisan itu masuk dikamar Ayunda dan membangunkannya. Tak lama, Gabriel beserta keluarganya bergegas untuk pergi ke kampung halaman Gabriel yakni kampung Delhi untuk menjenguk bibi Ima serta melayat paman Jeri. Perjalanan yang mereka butuhkan untuk sampai dikampung Delhi kurang lebih empat jam karena harus menyebrangi lautan menggunakan kapal feri. Sampainya disana, masih dari jalan Gabriel dan anggota keluarganya melihat sebuah tenda biru yang berdiri kokoh didepan rumah. Gabriel pun langsung membuang tas pakaiannya dan lari masuk ke dalam melihat tubuh paman Jeri yang telah terlunjur kaku, tangisan dari mereka pecah di langit-langit kamar sore itu. Panggilan paman hanya mengikuti aturan keluarga. Tetapi, Gabriel memanggil paman Jeri dan bibi Ima dengan sebutan ayah dan ibu. Dia benar-benar merasa sangat kehilangan karena paman Jeri adalah orang yang telah menjaganya dari kecil sejak ayah dan ibunya memilih cerai karena ibu Gabriel tidak mau mengikuti ayah Gabriel untuk pergi ke Polandia.
“Bu, kapan ayah di makamkan” Gabriel bertanya pada bibi Ima
“Hari ini. Karena kalau besok perut ayah akan makin bengkak” jawab bibi Ima yang sedang duduk di samping suaminya matanya tidak berhenti meneteskan air walaupun sudah berulang kali dia berusaha menahan air matanya tetapi entah kenapa dia tetap keluar membanjiri pipi.
Delhi 26 Desember 2025 pukul 17:00 WIT. Sore itu, pendeta dan para pelayan telah datang menghampiri kediaman bibi Ima untuk membumikan paman Jeri. Tiga orang anggota muhabet mengangkat mayat Jeri dan memasukannya ke dalam peti, sedangkan bapak tuagama yang bertugas untuk membunyikan lonceng pun. Setelah lonceng selesai berbunyi, masyarakat Delhi datang bersama-sama untuk berdoa mengantarkan Jeri ke hadirat Tuhan. Ibadah pemakanan pun dimulai nanyian-nyanyian duka yang menggambarkan suasana nan syahdu di kumandangkan.
“Peti ditutup” kata pendeta. Seketika tangisanan kembali pecah keluarga seakan-akan tidak merelakan kepergian Jeri. Namun apa boleh dilakukan semua sudah ada waktunya. Melihat itu ibu pendeta berusaha memberikan kata-kata penguatan “Ini adalah rencana yang telah Tuhan lukiskan dalam setiap hidup kita. Semua yang datang pasti akan pulang ke pangkuan-Nya”
Hampir 20 menit menangis, akhirnya Gabriel beserta keluarga juga bibi Ima merelakan semuanya dan membiarkan untuk petinya ditutup. Ibu pendeta melanjutkan ibadah sampai akhir mereka membawa peti jenazah ke tempat pemakanan umum lalu menanamnya di samping ibu Gabriel.
***
Di rumah bibi Ima.
__ADS_1
Setelah selesai pemakan paman Jeri, semua orang beranjak meninggalkan tempat pemakaman kecuali Gabriel, Hana, Ayunda dan bibi Ima. Yang masih duduk dan menangis sambil menabur bunga di sekeliling makam.
Masih di tempat pemakaman, Ayunda sudah merasakan badannya sakit dan panas tapi, dia takut memberitahukan kepada kedua orang tuanya, maka sampailah pada ketika selesai pemakaman barulah dia beri tahu kepada ibunya.
“Bu. Ayu sakit”
Hana langsung bereaksi dengan sigap untuk memeriksa anaknya, tangan kirinya ditempelkan pada dahi Ayunda ternyata suhu tubuh Ayunda sangat panas Ayunda langsung melakukan pertolongan pertama dengan menutupnya dengan sweteer. Selanjutnya Hana memberitahukan kepada Gabriel kalau Ayunda jatuh sakit. Hana meminta kepada Gabriel untuk mereka pulang dari makam biar Ayunda bisa langsung dibawa ke puskesmas. Namun, Gabriel tidak tega untuk pulang meninggalkan bibi Ima sendirian akhirnya dia mencoba untuk membujuk bibi Ima.
“Mama, ayo kita pulang ini sudah malam. Cuaca dingin nanti mama bisa sakit loh”
“Bentar lagi Ril.”
“Tapi ma, Ayu..” masih sepenggal kata yang baru keluar dari mulut Gabriel bibi Ima langsung memotong dengan berkata.
“Kalau kau dan istrimu, mau pulang silahkan. Tidak apa-apa kalau mama disini sendirian”
Bibi Ima lalu menunduk dan mencium tanah yang menimbuni tubuh suaminya, Gabriel mengangkat dan menggendong Ayunda. mereka lalu pulang ke rumah. Saat belum sampai di rumah suhu tubuh Ayunda meningkat yang mengakibatkan dia tidak menyadarkan diri. Untunglah ketika itu, mereka sedang berada di depan rumah teman dekat bibi Ima sewaktu muda yang sekarang bekerja sebagai seorang diaken oang itu bernama Dana. Tanpa berlama-lama, bibi Ima pergi mengetok pintu rumah Dana untuk meminta pertolongan.
Dana langsung membuka pintunya, dia bertanya kepada Ima “Ada apa?.”
“Tolong cucu saya.”
Dana melihat tubuh Hana yang sudah sangat lemah, dia menyuruh untuk membawanya ke dalam, sampainya didalam Gabriel lalu membringkan anaknya di sofa. Sedangkan Dana sedang menyiapkan the manis untuk memberi minum kepada Gabriel biar kekuaannya bisa sedikit pulih. Terlepas dari Dana, ada Ayunda dan bibi Ima meremas, dan mengurut tubuh Ayunda. Tapi apalah daya, Ayunda masih tetap dalam keadaan pingsan.
Melihat itu, Hana langsung memanggil nama anaknya sembari menepuk-nepuk pipi sang anak “Ayu bangun, Ayu ayok bangun..” sedangkan, Gabriel melanjutkan dengan meremas ibu jari kaki yang hampir 35 menit dilakukan tapi, hasilnya nihil. Akhirnya Hana ingin melanjutkan dengan mengigit jari kaki. Akan tetapi, belum sempat dilakukan Ayunda langsung memanggil ayah dan ibunya dengan suara yang putus-putus. Walaupun matanya belum terbuka sepenuhnya. Dana lalu menyodorkan tangan memberikan segalas the manis kepada Hana yang hendak diberikan kepada Ayunda.
Selepas pulang dari rumah bibi Ima, Gabriel mendapatkan tawaran pekerjaan dari seorang pengusaha kaya bernama Satria Malek pemilik Media Center Asia yang bertempat di samping hotel Monemvasia. Gabriel menerima tawaran itu dengan senang hati.
“Baik kalau begitu bapak sudah boleh bekerja.” Ucap Satria.
__ADS_1
Gabriel bekerja sebagai seorang penjaga gudang dengan gaji dua juta per bulannya. Lamanya bekerja disana Gabriel berusaha untuk mengumpulkan uang demi bisa menggantikan uang yang pernah ia pinjam. Namun, sebelum hutangnya selesai ia harus menderita kelumpuhan akibat cedera. Dari situlah ia diberhentikan dari pekerjaannya. Dan ketika dia berusaha untuk mencari pekerjaan tidak ada satupun yang mau menerima dirinya. Bulan enam pun tiba, ini adalah waktunya untuk membayar hutang. Didepan rumahnya sudah ada penagih yang datang bersama bos mereka.
Singkat cerita, Gabriel tidak bisa membayar hutangnya, karena uang dia kumpul sudah terpakai untung biaya pengobatan.
“Bapak harus selesaikan kalau tidak bapak akan saya penjarakan.” Kata bos Marsel
“Jangan pak”
Tiba-tiba Ayunda masuk ke ruang tamu dan memanggil ayahnya. Seketika Marsel dan anak buahnya kaget.
“Dia siapa?” Tanya Marsel.
“Itu anak saya.”
“Cantik juga ternyata. Aku punya satu tawaran yang bagus untuk kamu bisa melunasi hutangmu”
“Tawaran apa tuan?” Tanya Gabriel.
“Aku ingin anakmu dijodohkan dengan anakku.” Jawab Marsel santai.
“Nggak ada cara lain tuan? Sampai anakku harus jadi tumbal”
“nggak ada. Ini adalah satu-satunya cara, yang aku berikan. Selanjutnya itu tergantung keputusan antara kamu dan istrimu. Hanya ada dua pilihan kamu, masuk penjara tapi, hutang tetap jalan. Atau kamu menjodohkan anakmu dengan anakku maka hutangmu akan lunas.”
“Baiklah kalau begitu. Saya tidak membutuhkan basa-basi darimu. Jadi, saya hanya menunggu jawaban”
Gabriel hanya terdiam seribu bahasa tanpa mengatakan sepatah kata pun.
“Saya akan pergi. Besok atau lusa saya akan kembali untuk memastikan jawaban darimu.” Marsel beserta anak buahnya langsung minggat meninggalkan Gabriel tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
__ADS_1