
Hujan di luar telah redah ketika hampir dua jam membasahi kehidupan bumi yang layu nan kering. Hana yang keluar dari kamar, dia pun pergi ke kebun yang ada di belakang rumah untuk melihat-lihat tanaman-tanamannya, baik tanaman hias yang masih dirawat dalam polibek bahkan tanaman yang di gunakan sebagai bahan makanan bahkan ketika ada yang lebih maka dapat dijual. Awalnya Hana pergi ke halaman belakang rumah, sambil membawa sebuah bakul berukuran sedang yang terbuat dari bambu. Dia pun berjalan mengelilingi tanaman satu persatu untuk membersihkan dedaunan yang berguguran serta untuk melihat apakah sudah bisa untuk dipanen atau belum. Ternyata, ada sebagian tanaman yang sudah bisa. Mulai dari terong, cabe, labu siam, dan sawi. Dia lalu memetiknya satu demi secara perlahan. Setelah semuanya selesai dipetik, Hana mendapatkan satu bakul penuh. Dia pun membawa itu semua kembali ke dalam dapur. Dia menaruh bakul itu di atas meja, kemudian mengeluarkan sayur mayur beserta terong juga cabe, dan diletakkan di dalam nyiru. Dia membiarkan semua itu begitu saja, lalu pergi ke teras untuk memeriksa tanaman-tanaman hias miliknya. Sambil memegang sepotong ranting kecil berukuran 30 cm yang ia bawakan dari halaman belakang, lalu di gunakan untuk menggugurkan daun-daun yang telah menguning.
Di tengah-tengah aktifitasnya, ia dikagetkan dengan suara teriakan dari segerombolan ibu-ibu kompleks yang sedang duduk, ngerumpi di rumah tante Mona.
“Bu Hana ayo sini kumpul” panggil seorang ibu saat tangannya mengisyaratkan untuk Hana beerkumpul bersama mereka.
“Ia bu” balas Hana.
“Pasti mereka lagi gosipin, ibu Haja yang baru beli kulkas baru minggu lalu” ucap Hana dalam hati.
“Bu Hana ayo sini” panggil ibu itu sekali lagi.
Hana yang masih menggugurkan dedaunan warna kuning yang masih melekat di setiap tanamannya hanya membalas “Ia bu” tanpa pergi menghampiri mereka. Karena, ia yakin mereka memanggil dia hanya untuk gosip. “Nih ibu-ibu kompleks kalau udah duduk kaya gitu, pasti sedang gosip.” Hana akhirnya kembali masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah ia mendapati putri semata wayangnya telah bangun dan sedang duduk di kursi ruang tamu sambil kedua tangan mngucek-ngucek matanya.
“Ehh anak ibu sudah bangun” ucap Hana seraya tangannya membenarkan rambut anaknya yang masih acak-acakan.
“Sudah ibu.”
Hana meninggalkan anaknya sendirian. Dia berbalik badan untuk pergi ke luar, bukan utuk pergi bergabung dengan ibu-ibu kompleks tetapi, untuk membersihkan air hujan yang tergenang di teras. Waktu sudah senja ketika sekelompok ibu-ibu yang kumpul di rumah tante Mona bubar. Ketika mereka semua pulang ke rumah mereka masing-masing, tante Mona lalu datang menghampiri Hana yang sedang membersihkan genangan air di lantai.
“Halo Hana selamat sore.”
Hana yang sedang ada dalam keadaan serius, langsung terkejut. “Ia bu Mona, ada apa?” Tanya Hana.
“Saya mau bilang sesuatu” ucap tante Mona
__ADS_1
“Bilang apa?” Tanya Hana saat tangan kanannya menarik tangan kirinya di tarik oleh Mona dan membawanya keluar. Tapi, Hana yang tidak tahu apa-apa, dia langsung menghempaskan tangan Mona sampai terlepas dari tangannya “Ada apa sampai main tarik-tarik kaya gini.”
Mereka berdua berdiri mematung sejenak.
“Ini tentang suami dan anakmu jadi, kita tidak bisa membicarakannya di sini”
“Emangnya anak dan suami saya kenapa?” Hana kembali bertanya.
“sudah tidak usah banyak bertanya sini ikut saya” ucap tante Mona, saat tangan kanannya menarik tangan kiri Hana. Hana mengikuti Mona tapi, dia masih bingung sebenarnya ini ada apa dengan suami dan anaknya sedangkan dia baru meninggalkan mereka setengah hari. Tante Mona membawa Hana sampai di rumahnya lalu menyuruh Hana untuk duduk di sofa. Sofa itu, seperti sudah di khususkan untuk Hana.
“Sebenarnya ini ada apa?” Hana bertanya sekali lagi.
“Saya akan memberi jawaban atas pertanyaanmu tapi, tolong jangan sampai tensimu naik.” Mona memohon.
“Akan saya usahakan. Tapi, tolong untuk segera mengatakan apa yang mau kamu bilang.” Tante Mona kemudian duduk di sofa yang berhadapan dengan Hana.
“Sejak pagi tadi, saat kamu tidak ada di rumah, aku mendengar ada keributan di rumahmu ketika aku bersama-sama dengan ibu-ibu sedang membeli sayur di mas Ojak langganan kita. Terus ketika aku masuk ke dalam aku menemukan anakmu sedang tergeletak di lantai sambil menangis. Saat aku menghampirinya dia sedang memegang kunci”
“Kunci apa?” Tanya Hana serius.
“Mungkin itu adalah kunci kamarmu” jawab Mona.
“Lanjut?”
“Dan pada saat itu, suamimu sedang mengamuk di dalam kamar sambil teriak buka pintunya! Lalu aku membujuk anakmu untuk membuka pintu kamar. Ketika pintunya di buka kami berdua melihat kamarmu berantakan sekali sedangkan suamimu sedang memakai jas kulit dan memikul sebuah tas. Selepas itu, selang beberapa menit suamimu mendapat telefon yang entah dari mana asalnya dan isi pembicaraannya bagaimana sampai suamimu tiba-tiba dia jatuh tak berdaya seperti orang yang terkena serangan jantung. Lalu aku mnolongnya, ketika dia sudah membaik aku pergi meninggalkan mereka.” Mona melanjutkan pembicaraannya sampai selesai.
__ADS_1
“Tapi, ketika aku pulang mereka berdua baik-baik saja.” Ucap Hana lirih.
“kalau kondisi kamar kamu?” Tanya tante Mona.
“Kamar saya sangat berantakan” jawab Hana.
Di rumah Hana, Ayunda sedang mencari ibunya, “Ibu.. ibu” dia berteriak ke sana kemari. Karen rumah mereka yang berhadapan dan hanya di batasi oleh jalan jalan raya. Sehingga, teriakan itu sampai terdengar di telinga Gabriel dan akhirnya dia pun bangun lalu pergi bertemu anaknya serta bertanya “Dimana ibumu?”
“Saya tidak tahu ayah. Ibu sudah keluar tidak ada sejak tadi entah kemana perginya” ucap Ayunda seraya membuka kedua telapak tangannya.
“Mungkin ibumu lagi pergi ke kios” kata Gabriel.
Saat Hana sedang berbicara dengan tante Mona, dia mendengar suara teriakan dari Ayunda yang memanggil dirinya tetapi, dia mengabaikan suara yang memanggil dirinya karena dia, masih mencari jawaban yang lebih detail dari pertanyaan ‘siapa yang membuat kamarnya berantakan’. Bukan saja Hana yang mendengar teriakan dari anaknya namun, tante Mona juga mendengarnya “itu suara anakmu yang sedang berteriak mencarimu, dengar dia berteriak memanggil dirimu. Kamu dengar atau tidak?”
“I..ia.. saya dengar itu suara anak saya”
“Saya pamit dulu yah.” Hana meminta diri dari tante Mona untuk pulang. Sebelum pulang tante Mona memberi sebuah amanat singkat kepada Ayunda “Kamu jangan bilang, kalau saya yang ceritakan” pesan tante Mona.
“Siap Mona.”
Hana meninggalkan rumah tante Mona, dia berjalan cepat-cepat kedua kakinya dikerahkan dengan kekuatan penuh biar cepat sampai rumah. Tetapi, sebelum pulang Hana menawar tante Mona untuk mau ambil sayur di dia atau tidak “Kamu mau sayur nggak? Tapi masih mentah” tawarnya.
Kepala tante Mona mengangguk sembari mengucapkan “Mau.”
Ketika Hana sampai di rumah, masih dari teras rumah dia sudah berteriak memanggil anaknya “Ayu.. Ayunda..”
__ADS_1
“Ya ibu” sahut Ayunda.