Dijodohkan Karena Hutang

Dijodohkan Karena Hutang
BAB II


__ADS_3

Hana yang penasaran tentang bagaimana sampai Ayunda dapat mengetahui kalau ayahnya mempunyai hutang yang belum dibayar lunas. Karena selama ini, percakapan dia dengan suaminya terkait hutang sangat rahasia hanya mereka berdua yang tahu, tetapi kali ini, Ayunda juga mengetahuinya jadi, dapat dikatakan itu bukan lagi rahasia. Selama pembicaraan mengenai hutang, mereka berdua pastikan Ayunda sudah tidur, apalagi jarak kamar antara Ayunda dengan orang tuanya sedikit jauh, pembicaraan juga dilakukan dalam kamar.


Hana kebingungan. Akhirnya dia pergi menuju kamar anaknya.


Di dalam ke haluan Ayunda, dikagetkan dengan suara ketukan pintu dari ibunya.


“tok-tok” Hana mengetok pintu kamar Ayunda sembari panggil nama anaknya. “Ayu, kamu sudah tidur?” Tanya Hana. Mendengar pertanyaan dari ibunya, Ayunda bingung mau balas apa karena, kalau balas belum, pasti ibunya marah. Tetapi kalau tidak balas dia akan merasa berdosa karena menipu ibunya.


“Belum bu” jawab Ayunda. “Bolehkah ibu masuk?” tanya Hana lirih.


“Masuk aja bu” jawab Ayunda. Dia lalu bangun dari tempat tidurnya, untuk pergi membuka pintu kamarnya. Sesudah membuka pintu kamar, ibunya lalu masuk. Pintu kamar dibiarkan terbuka begitu saja. Mereka berdua berjalan bersama-sama menuju tempat tidur. Tangan Hana menekan stop kontak yang melekat di dinding. Seketika kamar Ayunda kembali terang. Ketika mereka berdua duduk saling berhadapan di samping tempat tidur, Hana memandang wajah yang penuh kepolosan dari putri kecilnya dalam-dalam. Di dalam hati, dia merubah tujuannya, sedari awal dia ingin bertanya dari mana anaknya dapat mengetahui kalau ayahnya punya hutang.


“Ada apa ibu datang ke kamar saya malam ini?” Tanya Ayunda.

__ADS_1


“ibu hanya memastikan apakah kamu sudah tidur apa belum. Selain itu juga, ibu mau memastikan apakah kamu sudah mengunci jendela kamar atau belum” jawab Hana. Dia berdiri dari tempat tidur Ayunda, dia berjalan ke arah jendela.


“Kalau jendela sudah saya tutup dengan baik.” Hana memeriksa jendela kamar. Apakah yang Ayunda katakana benar atau tidak. Ketika dia sedang memeriksanya ternyata ada satu jendela yang belum di kunci, tetapi yang lainnya sudah.


“Nih ada satu yang belum di kunci” ucap Hana Akhirnya dia mengancingnya. Kalau mau tidur kamu harus periksa baik-baik kamarmu, biar ketika kamu tidur tidak ada bahaya yang datang menghampiri dirimu apalagi sekarang ini lagi marak-maraknya penculikan anak” ucapnya panjang lebar. Sambil berbicara kepalanya dipalingkan ke kanan, matanya tertuju pada putri kecilnya, sedangkan tangannya menarik gorden untuk menutupi seluruh jendela.


Di tengah-tengah pembicaraan Hana yang panjang lebar, dia tidak sadar kalau tidak ada yang mendengar pembicaraannya karena Ayunda sudah tertidur pulas.


“Selalu saja seperti ini. Mungkin dia lebih menyukai saya berbicara panjang lebar untuk membujuknya tidur dari pada saya harus menceritakan cerita dongeng sebelum tidur” ucapnya sambil tertawa kecil. Dia lalu menghampiri anaknya yang sudah berbaring di tempat tidur lalu menyelimutinya dengan kain, juga mencium keningnya yang indah sambil berkata “Selamat tidur puteriku sayang, mimpi yang indah.” Dia kembali memadamkan lampu listrik, setelah itu dia berjalan perlahan-lahan keluar dari dalam kamar itu.


Hana keluar dari kamar. Dia pergi ke kamarnya, tetapi dalam kepalanya masih bertanya-tanya, dari manakah Ayunda mengetahui rahasia antara ayah dan ibunya. Mata Hana tertuju ke jam dinding yang sedang berdetak. Jam dinding tersebut menunjukan pukul sebelas malam. Tetapi suami tercinta belum juga pulang dari tempat kerjanya. Suaminya juga tidak biasa pulang larut pulang seperti ini.


Hana lalu pergi ke dapur mengambil segelas air putih untuk diminum biar pikirannya bisa rileks. Setelah selesai minum, dia balik lagi ke ruang tamu. Di dalam ruang tamu, Hana hanya duduk di sebuah kursi plastik warna merah untuk menunggu kedatangan suaminya.

__ADS_1


Malam itu Gabriel mendapat musibah dalam perjalanan pulangnya. Dia nyaris kehilangan nyawa karena hampir ditabrak oleh sebuah mobil avansa warna hitam Gabriel yang tengah perjalanannya berpikir dari mana harus mendapatkan uang, dikagetkan oleh mobil yang melaju dari jalan sutera, menuju jalan cempaka. Untung saja dia dapat mengontrol setir motor miliknya, tetapi karena dalam keadaan panik akhirnya dia menabrak tiang lampu jalan. Namun, dia tidak cedera, hanya luka sedikit di bagian lutut. Motor yang ia gunakan juga, tidak terjadi, kerusakan yang parah. Gabriel lalu melanjutkan perjalanan pulang namun, siapa sangka baru kurang lebih seratus meter jarak dari lokasi kecelakaan motornya mogok.


“Kenapa nih.” Gabriel memberhentikan motornya. Dia menaikkan standar dua seterusnya dia memeriksa busi motor, ternyata masih berfungsi. Lanjutnya dia memeriksa bensin dan ternyata bensinnya yang habis. Dia menaikkan standar motor lalu mendorongnya untuk mencari pedagang-pedagang bensin eceran yang masih berjualan di jam segini. Ternyata, dia tidak mendapatkan bensin. Lamanya perjalanan dia merasakan kakinya sangat sakit. Akhirnya dia memilih untuk istirahat di sebuah halte yang ada di pinggir jalan. Ketika dia sedang beristirahat untuk menenangkan sakitnya. Ketika kakinya sudah terasa tidak sakit lagi, dia melanjutkan untuk mendorong motornya. Tiba-tiba lewatlah segerombolan anak motor yang sangat ugal-ugalan. Ada seorang anak dari geng itu, yang datang menghampirinya.


“Pak, motornya kenapa?” Tanya anak itu.


“Motor saya kehabisan bensin” jawab Gabriel sambil kakinya menurunkan standar motor. “Bisakah kamu menolong saya?”


“Ya udah pak mari saya tolong” anak itu lalu turun dari motornya. Dia membuka jok motor juga membuka penutup tangki minyak. Sambil mengambil sepotong slang air berdiameter kecil dan memasukannya ke dalam tangki minyak. Dia juga meminta pak Gabriel untuk membuka jok motor serta membuka penutup tengki minyak. Setelah Gabriel melakukan semuanya sesuai apa yang di perintahkan oleh anak itu.


Anak itu terlihat sedikit membungkukkan badan, mulutnya diarahkan ke slang. Dia menghisap bensin dari motornya. Hisapan pertama gagal, kedua pun sama. “Coba sini, saya yang melakukannya” pinta Gabriel. “Tidak usah pak, biar saya saja” balasnya. Dia mencoba menghisapnya sekali lagi ini adalah cobaan yang ketiga dan ternyata berhasil.


Sambil menunggu, bensin di motor Gabriel cukup untuk melanjutkan perjalanan, mereka berdua saling bercerita sampai terlihat sangat akrab padahal, ini pertemuan pertama mereka. Masing-masing dari mereka juga belum saling tahu nama. “Pak ngomong-ngomong perkenalkan nama saya James Arthur” ucapnya sambil menjulurkan tangan. “Saya Gabriel Lowenzky” balas Gabriel sambil mengulurkan tangan kanannya memegang tangan James.

__ADS_1


Mereka bersalaman.


James memutuskan aliran bensin dari motornya ke motor Gabriel. Ini menandakan kalau, tangki bensin sudah terisi, terlihat juga cukup membantu Gabriel untuk sampai di rumahnya. James menutup tangki motor dan joknya kembali. Gabriel juga melakukan hal yang sama.


__ADS_2