Dijodohkan Karena Hutang

Dijodohkan Karena Hutang
BAB VII


__ADS_3

Mata Hana memandang ke arah luar melalui jendela yang terletak tidak jauh dari hadapannya. Siang itu, langit yang cerah tiba-tiba berubah menjadi, mendung sekumpulan awan hitam berkumpul dan menjadi satu di udara, tiupan angin yang kencang diikuti dengan gemuruhnya guntur dan sambaran petir hingga terjadilah hujan yang lebat membasahi seluruh kota Tepesh. Ayunda yang bersama dengan ayahnya sejak tadi duduk di teras akhirnya lari masuk mengamankan diri dari butiran air hujan yang jatuh dan masuk ke teras akibat tiupan angin. Sesampainya di dalam rumah, Gabriel perintahkan putrinya untuk menutup pintu dan jendela.


“Ayu tolong untuk menutup pintu dan jendela, biar air tidak masuk sampai sini.”


“Baik ayah” Ayunda pun, menjalankan perintah dari ayahnya.


Setelah semuanya di tutup rapat. Ayunda dan ayahnya duduk di kursi. Gabriel menyalakan Tv sedangkan, di luar guntur dan petir masih menyambar tetapi, Gabriel tidak menghiraukan itu. Dia tetap mengaktifkannya. Ketika TV sudah menyala, Ayunda yang mengambil alih dia mengambil remot lalu jarinya menekan tombolnya dia mengganti saluran Tv satu per satu demi mendapatkan film yang sesuai dengan kemauannya. Namun, beberapa kali berpindah saluran belum ada satupun yang cocok dengannya.


“Kamu sebenarnya mencari film apa?” Tanya Gabriel.


“Saya cari yang cocok dengan saya”Jawab Ayunda.


“Perasaan ayah semuanya cocok untukmu. Itukan ada Upin dan Ipin, Boboiboy, Bahkan berita K-Pop kesukaan kamu pun ada. Masa itu semua tidak cocok?” tutur Gabriel sambil meminta remot dari anaknya. “Sini berikan remotnya, biar ayah cari yang cocok”


“Saya tidak mau. Biar saja saya yang cari.” Balas Ayunda. Dia lalu berdiri dari kursi dan berlari mengitari ayahnya sambil tertawa. Akhirnya Gabriel berlari mengikuti anaknya walaupun larinya seperti sedang main gici-gici. Dia juga tertawa bersama anaknya, sampai terdengar seperti keributan di telinga Hana. Hana langsung menghampiri mereka ke sana. Sesampainya di ruang tamu ia melihat suami dan anaknya sedang main kejar-kejaran seperti kucing dan tikus sedangkan, Tv sedang menyala. Hana menarik nafas panjang lalu berteriak “Diaaaam.” Gabriel dan anaknya berhenti, mereka duduk di kursi seperti semula. Sedangkan Hana menatap mereka berdua dengan wajah yang datar menunjukan kalau dia sedang marah.


“Siapa yang berani nyalakan Tv di saat seperti ini?” Tanya Hana.


“Ayah” jawab Ayunda singkat. Sambil jarinya menunjuk Gabriel.


“Ayu bunuh itu, televisi kamu tidak dengar kalau di luar ada guntur dan kilat” Perinta Hana, dia juga bertanya kepada suaminya “Ayah suka kalau Tv ini rusak?” “Tidak bu” jawab Gabriel.


“Ya kalau tidak suka, kenapa harus di nyalakan inikan ada guntur dan petir. Kalau di sambar petir kan nanti rusak dia.”


“sudah ibu” ucap Ayunda setelah selesai mengnonaktikan Tv. Hana lalu menyuruhnya untuk pergi tidur. Sedangkan Gabriel tetap bersama dengan isterinya.


Ayunda pergi masuk kamar. Di dalam pikirannya, dia merasakan setengah hari ini, seperti ada perbedaan pada kedua orang tuannya. Ibunya yang marah-marah ayahnya pun sama. “Apakah ini karena hutang yang belum di lunasi?”


“Bukan-bukan. Ini bukan karena hutang tetapi, karena saya buat salah.” Ucapnya dalam hati.


Ayunda lalu membuang semua pikirannya tentang hutang dan mencari posisi yang nyaman untuk tidur sembari menutupi badan dengan kain selimut.

__ADS_1


Setelah Gabriel mematikan Tv dia melanjutkan dengan merapikan kembali kursi dan meja yang sudah acak-acakan ke tempatnya masing-masing. Ketika selesai dia membujuk istrinya untuk duduk karena, ada sesuatu yang akan disampaikan. “Ibu ayo duduk” ajak Gabriel sambil tangannya menyeka debu di kursi.


Hana pun duduk di kursi yang telah di sediakan oleh Gabriel.


“Ibu, ayah mau ngomong sesuatu tapi, ibu jangan marah.”


“Mau ngomong apa ayah?” Tanya Hana penasaran.


“Ayah dipecat” jawab Gabriel singkat.


Hana kaget.


“Apa!? ayah dipecat!”


“Ia ibu, katanya pendapatan di toko menurun makanya ayah dipecat. Nanti gaji ayah di bulan ini, akan dikirim beserta uang tanda terimakasih” jelas Gabriel beri alasan.


“Tapi nanti, ayah akan mencari pekerjaan baru.” Lanjut Gabriel.


“Ibu dengar nggak? Apa yang ayah bicarakan” Tanya Gabriel. Karena istrinya hanya diam sejak dia berbicara sampai akhir.


“Dengar ayah” jawab Hana.


“Ibu marah, kalau ayah dipecat?”


“Tidak ayah. Ibu hanya sedih mendengar ayah dipecat.”


Gabriel memegang erat tangan sang istri, sambil mengusap air mata yang mengalir di pipi Hana.


Hana bersedih, dia kebingungan memikirkan bagaiamana caranya mendapatkan uang untuk membayar hutang. Sedangkan debt collector akan datang dalam waktu dekat untuk menagih.


“Ayah bagaiman dengan hutang kita?” Tanya Hana

__ADS_1


“Ayah tidak tahu lagi bu, uang kita sudah hampir habis. Sedangkan besoknya debt collector akan datang.”


“Dari mana ayah tahu kalau, debt collector akan datang besok” Tanya Hana.


“Saya dengar dari Ayunda, katanya akan ada orang yang datang, tapi tidak ingin bertemu denganmu. Jadi, saya mengambil kesimpulan sementara.”


“Nggak mungkin” ucap Hana, sembari mengangkat bokongnya dari kursi dan berpindah dari tempat itu.


“Bu”


“Ia ayah” balas Hana.


“Ibu kenapa Ayunda bisa tahu kalau kita punya hutang?”


“Ibu tidak tahu ayah” balas Hana mengangkat kedua tangan dan bahunya.


Ketika jawaban itu sampai di telinga Gabriel, dia lalu berdiri dari kursi, untuk pergi ke kamar namun karena dia belum bisa berjalan dengan baik, maka istrinya membantu untuk menggandengnya menuju kamar. Ketika sampai, Hana menutup pintu kamar, sedangkan Gabriel melanjutkan perjalanan ke kasur. Seketika suasana kamar hening, yang terdengar hanyalah suara jarum jam yang berdetak. Gabriel mlirik ke arahnya ternyata, sudah pukul dua siang lebih lima mnit tandanya untuk tidur siang. Namun, sepasang suami istri ini, tidak tidur. Mereka berdua masih bersama-sama menyatukan pikiran untuk mencari jawaban, dari mana sampai anak mereka bisa tahu kalau mereka berdua punya hutang.


“Ayah jangan sampai, Ayunda nguping pembicaraan kita”


“Tidak mungkin bu, selama ini kita tidak pernah bicara di depannya. Juga pembicaraan tentang hal ini selalu di lakukan saat tengah malam ketika dia sudah tidur. Mana mungkin dia nguping?” ucap Gabriel saat membaringkan badannya di tempat tidur.


“Ia juga sih.”


Hana mengangguk, seraya tangannya menarik sebuah kursi plastik warna merah yang ada di belakang pintu lalu di letakkan bersebelahan dengan lemari pakaian. Kemudian dia duduk di atasnya.


“Ibu harus mencari tahu” kata Gabriel.


“Ia ayah.”


Hana akhirnya berdiri dari kursi, dan keluar dari kamar, tangannya menutup pintu erat-erat. Dia meninggalkan Gabriel sendirian di kamar. Gabriel yang pada sore itu, tubuhnya di selimuti hawa dingin yang menyengat sampai ke tulang-tulangnya pun akhirnya tidur dengan nyenyak.

__ADS_1


__ADS_2