Dijodohkan Karena Hutang

Dijodohkan Karena Hutang
BAB III


__ADS_3

Sudah pak, sepertinya ini lebih dari cukup. “Terimakasih nak, kamu memang anak yang baik” ucap Gabriel juga memuji kebaikan James. “Udah pak, saya harus buru-buru, takut ditinggal jauh oleh teman-teman saya” ucap James menaiki motornya. Dia kemudian pergi meninggalkan pak Gabriel sendirian. Setelah James pergi, Gabriel juga mengendarai sepeda motornya pergi dari tempat itu. Dalam perjalanan menuju rumahnya dia meminta agar anaknya kelak bisa seperti James yang suka menolong walaupun belum mengenal.


Akhirnya Gabriel tiba di rumahnya. Dia memarkirkan sepeda motor di teras. Tangannya mengetuk pintu rumah tetapi tidak ada seorang pun yang datang membukanya, untung saja, dia punya kunci darurat yang diselipkan dalam dompet kecil yang terbuat dari kain. Dua jarinya dimasukan ke dalam dompet itu, sehingga menarik kunci keluar.


Gabriel memuka pintu rumah. Sebelum masuk ke dalam rumah, dia melepaskan sepatunya kemudian diletakkan di tempat sepatu yang terbuat dari rotan, yang terletak dibawah jendela kamar milik dia dengan sang istri.


Ketika masuk ke dalam rumah ternyata sudah jam tiga pagi, Gabriel kembali menutup pintu rumahnya. Dia mendapatkan istrinya tertidur pulas di atas kursi. Dia mencoba membangunkan istrinya. Tetapi tidak bangun akhirnya dia menggendong istrinya ke dalam kamar. Sesampainya di kamar dia membaringkan Hana di atas tempat tidur, tubuhnya di selimuti dengan kain hangat. Sedangkan Gabriel melepaskan tas yang masih melintas di bahunya kemudian, sweater dan kemeja putih yang ia kenakan juga dilepas. Saat ini, tubuhnya hanya dibalut oleh kaos kutang warna putih hingga terlihat sangat seksi. Karena sudah diselimuti dengan rasa ngantuk yang sangat dalam, akhirnya Gabriel tidur, tanpa membersihkan darah yang masih mengalir di lukanya. Pada akhirnya ketika pagi tiba, istrinya terbangun. Hana dikagetkan dengan noda darah yang mencemari seprei kesayangannya.


“Darah dari mana ini?” ucap Ayunda, sambil mengusap-usap noda darah yang mencemari sepreinya.


“Ayah ayo bangun, lihat ada darah di kasur kita”


“Darah apa?” sambar Gabriel. Dia belum sadar kalau darah itu berasal dari luka yang ada di kakinya sendiri.


“Bangun dulu ayah, lihat nih, ada darah. Ibu tidak bohong” Hana membangunkan suaminya, dia menggoyang badan suaminya sampai terlentang. Hana merasakan seperti ada yang berbisik di telinganya untuk melihat lutut kanan Gabriel. Hana mengikuti perintah dari bisikan itu, matanya memandang dengan tajam lutut kanan suaminya. Terlihat disana ada banyak darah yang telah mengering di lutut suaminya bahkan, sampai celana panjang yang digunakan sudah menempel dengan lukanya.


“Ayah bangun, kamu kenapa bisa luka seperti ini?” ucap Hana. Gabriel tidak pusing dengan apa yang diucap istrinya, apalagi rasa ngantuknya belum hilang walaupun, sekarang sudah jam setengah tujuh pagi.


“Ayah bangun, lihat lututmu berdarah” teriak Hana, kali ini dia menaikkan nada suara. Suaranya juga sedikit goyang menandakan kalau dia panik. Mendengar teriakan dari Hana, Gabriel kaget, dia pun bangun. Bukan saja Gabriel, tetapi Ayunda juga ikut terbangun akibat suara yang berasal dari ibunya.


“Auuh, sakit bu,” Gabriel menjerit kesakitan saat, dia mencoba untuk menurunkan kakinya. “Jangan turunkan kakinya,” tegur Hana.


Hana menjulurkan tangannya, dia menarik laci meja. Tangannya mengeluarkan sebuah kotak P3K. meja itu, tidak jauh dari tempat tidurnya. Di kamar yang lain, Ayunda yang baru saja terbangun akibat suara ibunya, dia langsung pergi ke kamar kedua orang tuanya untuk memastikan apa yang menyebabkan hingga sang ibu, bisa berteriak dengan nada yang sangat tinggi seperti tadi. Ketika Ayunda sampai kamar, orang tuanya dia melihat kaki ayah terlunjur kaku diatas tempat tidur, sedangkan ibunya, sedang membersihkan luka menggunakan air hangat.


“Bu, ayah kenapa?” Tanya, Ayunda. Ketika dia menginjakkan kaki kanan di dalam ruangan itu.

__ADS_1


Hana mencelupkan sepotong handuk kecil ke dalam air panas yang berada di dalam baskom


“Ibu tidak tahu sayang” Hana menjawab pertanyaan dari anaknya. Kedua tangn sambil meremas handuk yang baru saja dicelupkan ke air panas. Setelah selesai, membasuh luka. Hana mengambil plester dan perban untuk menutup luka, tetapi karena terhalang oleh celana levis yang digunakan oleh suaminya sangat susah untuk dilepas maka, Hana memutuskan untuk menggunting celana kesayangan suaminya itu. Hana menggunting dengan sangat hati-hati, dia takut jangan sampai gunting mengenai luka dilutut suaminya. Pada akhirnya semuanya berjalan dengan baik.


Hana dapat mengobati luka suaminya.


Gabriel dapat menjulurkan kakinya, walaupun masih terasa sakit.


Tetapi anak semata wayang mereka, belum merasa baik karena dia belum tahu, apa yang menyebabkan sampai lutut ayahnya berdarah.


“Ayah, lutut ayah kenapa bisa berdarah?” Tanya Ayunda penasaran. “Sejak ayah, dalam perjalanan pulang, ayah hampir saja ditabrak oleh sebuah mobil namun, ayah menghindar dan langsung ayah menabrak tiang lampu yang terletak di pinggir jalan” Jawab Gabriel.


“Oh seperti itu.”


“Ia bu” ucap Ayunda lirih.


“Kamu tinggal jaga ayah, ibu hendak pergi ke pasar”


“Baik ibu. Laksanakan!”


Ketika Hana pergi ke pasar, Ayunda tinggal bersama sang ayah. Mereka berdua saling bercerita dan bercanda. Pagi itu didalam kamar terasa sangat hangat. Di tengah candaan dan tertawa yang begitu lepas. Ayunda memberitahukan pesan yang disampaiakan oleh pria yang bertemu dengan dia tadi, malam.


“Ayah semalam ada orang yang bertemu dengan saya dilapangan katanya dia datang untuk mencarimu”


“siapa?” Tanya Gabriel. “Kamu kenal atau tidak” lanjutnya sambil mengusap rambut putri kecilnya

__ADS_1


“Saya tidak kenal dia ayah namun, dia katakan kepada saya kalau dia akan datang mencari ayah” jawab Ayunda.


“Mungkin itu teman ayah” ucap Gabriel.


“Sayang kamu bisa nggak menolong ayah” tawar Gabriel


“Menolong apa ayah?”


“Sekarangkan ayah lagi sakit jadi tidak mungkin bergerak dengan baik. Jadi, saya akan menolong ayah”.


Mendengar jawaban dari anaknya, Gabriel tersenyum bahagia sambil berkata dalam hati “Semoga kamu akan selalu seperti ini yah sayang.”


“Kamu membantu memegang ayah untuk berjalan keluar dari kamar ini”


“Ayah mau ke mana?” Tanya Ayunda, tangan kanannya melingkar di pinggang sang ayah, sedangkan tangan kiri Gabriel diletakan diatas bahu Ayunda, dan tangan kanannya menahan disetiap benda-benda di samping untuk membantu kekuatan kakinya. Mereka berdua berjalan tertatih-tatih sampai tiba di teras rumah. Ayunda memberikan ayahnya duduk di bangku yang ada di samping pintu.


“Ayah, orang yang datang itu mungkin penagih hutang” sambar Ayunda. Gabriel terkejut karena anaknya tahu kalau dia punya hutang.


“Bukan sayang, itu pasti teman ayah. Lagian sejak kapan ayah punya hutang” balas Gabriel. Dia berusaha memutar pikiran anaknya.


“Kalau teman ayah kenapa dia tidak mau bertemu dengan ibu” Tanya Ayunda.


“ahh mungkin itu baru pertama, jadi, dia takut untuk bertemu dengan ibu” Jawab Gabriel.


Ayunda membantah pernyataan dari sang ayah. “Tidak mungkin. Karena, setiap teman ayah yang datang ke rumah. Pasti mereka bertemu ibu, kalau ayah tidak ada.”

__ADS_1


__ADS_2