Dijodohkan Karena Hutang

Dijodohkan Karena Hutang
BAB XVIII


__ADS_3

Shania, melangkah pindah dari belakang kelas, berjalan pergi masuk ke kelasnya. Sampainya di depan pintu kelas saat kakinya hendak melangkah ke dalam, ternyata ada sekelompok wanita yang nge-rumpi, dia mendengar mereka sedang membahas ketampanan Bara yang tiada duanya dan, lebih parahnya lagi, Shania mendengar seseorang menjelekan dirinya, sontak mereka semua tertawa bersama. Hatinya memanas. Tetapi, dia tidak masuk ke kelas, dia melangkah mundur secara perlahan, dan mengumpet di bawah jendela untuk mendengar pembicaraan lanjut dari kelompok wanita tersebut. Hampir lima menit menguping, Shania mendengar kalau ada yang mengatakannya dengan istilah rumput cari kuda.


“Rumput cari kuda? Apa maksudnya” tanyanya sembari menggaruk kepala yang tidak gatal. Shania lalu mamasukan tangannya ke dalam, saku rok. Dikeluarkan olehnya ponsel genggam, dia lalu membuka app pencarian untuk mencari apa maksud dari kata rumput cari kuda. Dan jawaban yang keluar adalah, wanita yang mencari atau mengejar laki-laki. “Ohh ini maksudnya,” gumamnya dalam hati.


“Ehhh, kalian tahu tidak, kalau Shania itu sasimo”


“Sasimo? Sashimi kali” bantah seorang.


“Sasimo bego! Kau pikir dia ikan salmon yang sashimi? Kalau sashimi itu makanan khas dari Jepang” ucap Jeje, sambil menjitak kepala Porche.


“Lantas, apa itu sashimo” Tanya Porche.


“Sana sini mau” ucap Jeje spontan.


“Itu ya. Tapi, kenapa sasimo, bukan sasimu” Porche kembali bertanya.


“Jaman sekarang aneh yah. Huruf O bisa digantikan dengan huruf U” ucap Porche lanjut dengan wajah yang penuh kebingungan.


“Ah, tidak tahu. Yang pasti, itu adalah istilah anak zaman sekarang”


“Mangkanya, sering-sering update informasi terbaru biar tahu. Tiap hari cuman baca buku jadi, gitu tuh” oceh Jessy sambil menunjukan senyum jengkelnya.


Sekarang, hati Shania benar-benar terbakar, dalam benak kepalanya, ia ingin sekali untuk melabrak seorang.


“Mereka sudah sangat keterlaluan. Ini harus diberi pelajaran. Karena, jika dibiarkan begitu saja mereka akan merasa benar” kata Shania sambil mengepal tangannya, di iringi dengan gertakan gigi, membuat dia semakin greget.


Ditengah amarahnya yang mencuat, datanglah pak Erik,


“Itukan Shania. Mengapa dia bermain dibawah jendela?”


“Shania!” panggil pak Erik. Suara panggilan ini,mengganggu konsentrasi Shania.


“Shania kamu lagi buat apa disitu?” Tanya pak Erik.

__ADS_1


“haaaa!” Shania terkejut, dia melompat katakutan. Namun naas, kepalanya berciuman dengan jendela.


“Auhhh, sakit” ucapnya, sambil tangan kirinya mengusap bubungan kepala.


“Pak, kenapa harus mengagetkan saya sih. Karena ulah bapak, kepala saya jadi benjol” mulut Shania cerocos terus sambil menunjukan wajah sedihnya. “Saya tidak mengagetkan kamu. Tapi, kamu saja yang terkejut ketika mendengar suara saya. Saya pikir kamu adalah sekretaris osis yang sudah seharusnya menunjukan jalan yang benar, kamu sebaiknya masuk ke kelas ketika bell masuk selesai berbunyi. Bukannya, duduk dibawah jendela seperti penagih hutang” tegas pak Erik.


“Begitu ya pak?”


“Ia”


Pada saat kata itu keluar dari mulut pak Erik, Shania langsung melangkahkan kakinya, menuju pintu untuk masuk ke kelas. Sambil berjalan, tangannya terus mengusap benjolan di kepalanya, biar sakitnya berkurang.


Di lapangan basket, Bara masih merasa jengkel dengan perlakuan Shania yang, sangat alay. Seingat Bara, selama berpacaran, sampai sekarang, saat mereka telah menjadi mantan, ini adalah pertama kalinya Shania memberikan air minum kepada Bara di tengah orang banyak. Benar-benar fenomena langkah.


“Ahh persetan dengannya!”


Bara lalu berpindah dari lapangan basket ke kamar mandi cowok untuk menggantikan pakaiannya. Sampainya di depan kamar mandi, dia lalu masuk ke dalam. Saat di dalam dia melapaskan seluruh pakaian yang membungkus tubuh atletisnya, dia kemudain mengenakan pakaian seragam setelah selesai, Bara menyalakan keran air untuk dia membasuh wajah tampannya. Ketika semuanya selesai dia keluar. Tangannya memegang gagang pintu lalu di tarik.


“Cekleek” suara pintu terbuka.,


Bara pergi memasuki kelasnya, sepanjang perjalanan melewati kelas X MIA A sampai XII IIS C, seeluruh siswa perempuan menyoraki, dan memanggil namanya, hingga membuat dirinya merasa malu sendiri. Saat sampai di kelas, Bara menggantungkan tas di sandaran bangku, dan langsung pergi duduk dan berkumpul dengan teman-teman kelasnya yang sedari tadi sudah membentuk lingkaran kecil di pojok kelas. Mereka semua duduk dan menyanyi dengan iringan gitar sembari berhura-hura untuk merayakan kemenangan. Hampir sekitar dua puluh lima menit mereka bernyanyi, masuklah Dita sambil memegang pena, dia langsung menghampiri Jeno temannya, dan berkata.


“Sayang minum dulu” ucap Dita saat menyerahkan sebuah pena pada Jeno. Mereka memparodikan gaya Shenia yang memberikan minuman kepada Bara.


Suara nyanyian pun berhenti.


“Cie-cie, yang katanya sudah move on. Kok sekarang rujuk lagi” Jeno mencemooh Bara.


Ejekan dari Jeno menggelitik hati teman-teman kelas. Namun, tidak ada orang yang berani tertawa kecuali, Jeno. Sebenanya Bara tidak berlaku kasar pada teman-temannya. Hanya saja, ketika ada orang lain yang tertawa selain Jeno maka, mimik wajah Bara akan berubah seketika.


“Hei. Bro, saya dan Shania, si cewek rewel itu. Sudah putus. Dianya saja, yang mohon-mohon minta balikan sama gue. Bara gitu loh” dia menyombongkan diri.


“Ya elah, udah tiga kalian putus tapi nyambung kembali. Jadi kali ini, gue yakin, kalau kamu akan balik lagi, dengan Shania.” Cakap Jeno.

__ADS_1


“Untuk kali ini, tidak lagi bro,” Bara membalas. Saat menarik dan mendekatkan bangkunya dengan Jack.


“Semoga saja bro” balas Jeno sambil memukul bahu sahabatnya tiga kali.


Puk


Puk


Puk.


Mereka semua kembali bernyanyi.


Di dalam kelas XII MIA.


Shania duduk, di bangkunya, dia memikirkan bagaimana caranya, untuk bisa balik menjalin hubungan dengan Bara karena hubungan yang telah mereka bangun sudah sangat lama, namun semuanya berakhir ketika dia melihat Bara dengan seorang perempuan yang sedang berteduh di halte dekat pondok pak Salim sewaktu, Shania pulang belanja dari pasar. Di melihat dengan jelas Bara menggunakan jaketnya untuk menutupi kepala si wanita biar terhendar dari percikan air yang turun dari langit sore itu.


“Sebenarnya siapa wanita itu sebenarnya?” Tanya Shania dalam hati.


“Aku harus mencari tahu”


Pada waktu itu juga, Shania menyusun rencananya, untuk pergi ke pondok pak Salim.


Bell sekolah berbunyi, semua siswa pulang ke rumah mereka masing-masing. Namun Shania pergi dengan menggunakan ojek, dia di bonceng oleh Mas Oi, yang adalah seorang tetangga, dekat dengan Bara. Mas Oi, lalu menginjak starter dan menyalakan motornya. Sheina menaiki motor tersebut, motor pun melaju, menuju pondok pak Salim. Di dalam perjalan, mas Oi bertanya kepada penumpangnya.


“Mau kemana neng?”


“Ke pondok pak Salim”


“Neng yang sering ke rumah nak Bara kan?”


“Ia mas. Kok mas tahu?”


“Saya kan tetangganya.”

__ADS_1


Waktu itu, sekitar jam lima sore, Shania tiba di pondok pak Salim. Setelah dia membayar biaya perjalanan mas Oi langsung kembali ke pangkalan ojek depan sekolah SMA 1 Pulau Seribu yang bernama, linggo.


__ADS_2