
Malam itu, Shania yang sedang duduk di halte, sambil menikmati roti dan the pucuk yang ia beli untuk mengganjal perutnya yang sudah teriak lapar dari tadi. Dia melihat pak Salim dan dua anaknya, yang sedang berdiri di tepi jalan untuk memperhatikan, mobil dan motor yang berlalu lalang, karena mereka bertiga hendak menyebrang, jalan. Pak Salim menggandeng tangan anak-anaknya lalu dia mnuntun mereka, tangannya di angkat untuk memberikan aba-aba kepada pengendara biar mereka bisa sedikit mengurangi kecepatan kendaraan, akhirnya mereka bertiga tiba di seberang dengan selamat. Pak Salim lalu, pergi mengunci jendela kiosnya, karena sudah waktu untuk tutup, namun sebelum langkahnya sampai dia di hadang oleh seorang wanita yang tidak di kenal. Wanita itu adalah Shania.
“Pak..pak.. permisi pak.” Pekik Shania. Sambil tangannya meraih tangan pak Salim. Pak Salim mengebas tangan Shania,
Pak Salim menghentikan langkah dan bertanya. “Kamu siapa? Orang gila ya? Atau mau jambret”
“Tidak pak, saya tidak gila. Dan saya juga bukan jambret.”
“Saya bisa meminta waktu bapak sebentar?”
“Maaf saya tidak punya waktu. Ini sudah malam, saya ngantuk jadi harus buru-buru pulang.” Pak Salim dibantu kedua anaknya untuk menutup jendela.
“Nanti saya bayar kalau bapak punya waktu.”
Tubuh pak Salim langsung tegak. “Saya punya waktu” ucap pak Salim, sembari tangannya menyekan debu yang menempel di kursi.
“Duduk disini saja” pak Salim menyodorkan kursi tersebut pada Shania.
Shania, menempatkan bokong, di bangku terebut. Namun seorang anak pak Salim tidak sengaja menendang bangku tersebut yang membuat Shania hampir terjatuh.
“Maaf kak” ucapnya memohon. Pak Salim datang menghampiri anaknya lalu menjewer telinga si anak.
“Maaf nak, atas ketidak sopanan anak saya. Silahkan duduk.”
“Ia pak”
“Bayarnya berapa? M-maksud saya ada perlu apa?”
“Nih bapak, udah tua. Matre lagi.” Batin Shania.
“Gini pak. Bapak kan punya cctv. Jadi saya meminta bapak untuk mengecek rekaman minggu lalu.”
“Ia nak. Tapi, orang yang mengoperasikan cctv sudah pulang. Sedangkan saya tidak tahu cara megecek dan sebagainya.”
Saat itu juga, wajah Shania langsung berubah muram “Begitu yah pak”
“Tunggu dulu nak. Nanti saya suruh anak buah saya datang.”
Pak Salim, lalu menghubungi anak buahnya, tetapi tidak ada satupun yang datang.
__ADS_1
“Ayah, ayo kita pulang,” rengek anak pak Salim.
“Sebentar sayang, ayah lagi melayani tamu.”
Shania yang merasa sudah mengganggu, bahkan karena waktu sudah begitu malam, dengan sedikit kekhwatiran akan keresahan orang tuanya, melintas di kepala, akhirnya dia meminta permisi untuk pulang.
“Pak, karena anak buah bapak belum datang. Jadi, saya pulang dulu? Nanti besok saya kembali lagi ke sini.”
“Ia nak. Hati-hati. Tapi bayarannya?” tanya pak Salim serius.
“Bayar? Bapak tidak salah bertanya nih?. Masa belum apa-apa juga sudah minta bayaran.”
“Tapi, saya sudah membuang wakutu saya untuk anda. Ada pepatah yang mngatakan “Waktu adalah uang”
“Ia pak kata pepatah memang begitu, tapi konsepnya bukan seperti ini juga.” Shania membantah.
“Minimal DP dulu lah. Kalau tidak maka siaran cctv tersebut saya hapus. Kamu pilih yang mana?”
Shania tidak bisa lagi membantah, dia tidak tahu harus menggunakan kata-kata apa lagi, untuk bisa mncuci otak pak Salim, pada akhirnya, Shania memberikan uang pecahan seratus sebanyak dua lembar kepada pak Salim. Shania yang penuh kekeasalan, pergi dari situ.dia berdiri di tepi jalan menunggu tukang ojek yang datang untuk mengantarnya pulang. Dalam perjalanan pulangnya, Shania sangat kesal karena dia tidak mendapatkan informasi apa-apa tapi, malah dia harus mengeluarkan uang.
“Neng turunnya dimana?” tanya tukang ojek.
“Di depan rumah tinggi berwarna putih,”
“Hah,” mulut Shania terbuka lebar, dia keheranan karena perasaannya pasti perjalanan lama, tapi kok ini cepat bangat. Mana motor ia tumpangi saja, sudah butut.
“Benarkan neng.”
“Ia, pak. ini pak ongkosnya, kembaliannya ambil saja. Anggap saja itu sedekah.”
Shania membuka pintu pagar untuk masuk ke dalam halaman rumah. Ia di kejutkan dengan cahaya lampu mobil merek Bugatti menyinari wajahnya, yang memuat mata indahnya silau.
Dia yang tiba-tiba berdiri di depan mobil, membuat ayahnya mengira kalau itu penampakan. Apa lagi, hari ini, adalah hari jumat. “Mama, ada hantuu!” pekik Romy, menunduk kepalanya, serta menutup matanya dengan kedua tangan.
“Mana papa? Mama tidak lihat”
“Itu mam, di depan kita.”
Jeni keluar dari dalam mobil.
__ADS_1
Shania berjalan mendekati mobil yang akan di kendarai orang tuanya.
“Papa, mama.” Sapa Shania.
“Pap. Ini Shania, bukan hantu. Shania ayah kamu sudah di rasuki film-film horor jadi gitu tu. Masa anak mama, yang cantik ini dibilang hantu”
Jeni memegang kedua bahu Shania. “Kamu tidak apa-apa kan nak. Masih utuh kan?”
“Masih mam, tidak lihat saya masih nafas?” tindih Shania.
“Shania” panggil Romy.
“Kenapa papa? Mau katakan saya hantu?”
“Tidak sayang. Kamu kemana sih? Papa dan mama khawatir loh. Kalau ada kepentingan diluar, sebaiknya, kamu harus memberikan informasi ke papa dan mama.” Shania tidak pusing dengan apa yang dikatakan papanya. Selama papanya berbicara, dia memainkan bibir mulutnya.
Shania sudah merasa sangat lelah, akibat kelamaan duduk di motor. Maka, dia berjalan masuk ke rumahnya.
“Shania.. Shania.. dengar perkataan papa kamu!”
“Dia bukan papa saya!” balas Shania lirih dengan air wajah serius, dia berjalan masuk seraya mengibaskan rambut panjangnya.
Jeni tercengang. Seluruh tubuhnya lunglai, kepalanya jatuh di pundak suaminya. “Papa, maafkan Shania ya”
“Ia mam, apa yang dia katakan itu tidak salah. Papa hanya perlu waktu, untuk mengambil hatinya.”
Sepasang suami istri itu, berjalan masuk mengikuti langkah anaknya. Saat sudah di dalam, Romy meletakan tubuh di atas sofa, sedangkan Jeni menaiki tangga menuju lantai dua, mengikuti anaknya.
“tok..tok… tok” tangan Jeni mengetuk pintu kamar Shania.
“Ia mam. Kenapa?”
“Mama, ingin bicara sama kamu.”
“Besok saja mam. Ini sudah waktu tidur.” Jawab Shania dari dalam kamar, sambil membantingkan tubuhnya di atas kasur. Jeni mendengar jawaban dari anaknya, dia marasa ada yang aneh karena tutur katanya berubah 90 derajat.
“Shania, buka pintunya!!.” Jeni mendobrak pintu kamar anaknya.
“Mama, aku kan sudah bilang. Kalau aku ini sudah mengantuk. Besok bukan akhir zaman jadi masih ada waktu mama” Shania bersedekap dan memjamkan matanya.
__ADS_1
“Shania ini penting” tekan Jeni.
“Ya Tuhan, berilah kekuatan pada hamba untuk menghadapi semua ini?” batin Jeni. Air matanya keluar membasahi pipi, akibat tutur kata, dan tingkah Shania, yang benar-benar di luar apa yang selama ini dia ajarkan. Isakan berhenti. Jeni menghapus air matanya dengan tangan. Setelah bersih dia berjalan turun menemui suaminya yang masih duduk di sofa.