Dijodohkan Karena Hutang

Dijodohkan Karena Hutang
BAB V


__ADS_3

Gabriel tidak membalas pertanyaan dari Tante Mona, dia malah duduk di bangku yang terletak tidak jauh dari tempat tidur, sambil menatap putrinya yang sedang duduk di samping tempat tidur. Matanya memerah, dan masih mengisak-isak tangsinya. Tante Mona yang merasa dirinya diabaikan oleh Gabriel, dia tidak lagi bertanya, dia memilih diam sambil mengusap-usap rambut Ayunda yang panjang nan terurai. Sedangkan Gabriel yang masih larut dalam emosinya dikagetkan dengan suara deringan dari telefon genggam miliknya. Gabriel merogohkan tangannya ke dalam tasnya, lalu mengeluarkan ponsel, matanya melihat ke arah ponsel itu, ternyata tertera nama Peter. Dia adalah sekretaris di toko tempat Gabriel bekerja. Gabriel lalu menekan tombol warna hijau yang berada disisi kanan ponsel.


-- Panggilan telefon terhubung.


Gabriel dengan penuh rasa takut dimarahi karena tidak masuk, langsung memberikan alasan kepada pak sekretaris


“Halo pak selamat siang, mohon maaf saya tidak bisa masuk kerja hari ini Karena kaki saya sedang sakit, saya mohon izin ya pak”


“Ia pak, tapi maksud saya bukan itu” ucap sekretaris di seberang sana.


“Terus maksudnya apa pak?” Tanya Gabriel penasaran.


“Saya mohon maaf, yah pak” ucap sekretaris yang membuat, Gabriel semakin penasaran.


“Kenapa memohon pak, bapak tidak pernah punya masalah sama saya”


“Mohon maaf, keputusan dari bos, bapak harus dipecat, karena saat ini pendapatan di toko sangat kecil sedangkan pengeluaran besar. Jadi, mohon maaf sekali lagi yah pak” jelas Peter si sekretaris.


“Pak apakah, tidak bisa dipertimbangkan lagi. Saya kan, tidak pernah alpa kerja, bahkan ini baru pertama kalinya” tawar Gabriel.


“Tidak bisa pak, ini sudah keputusan yang sangat bulat dari beberapa pertimbangan yang saya lakukan dengan bos. Yang dipecat juga bukan bapak sendiri, tetapi ada sekitar enam orang juga yang di-PHK” balas Peter. “Nanti gaji bapak, beserta uang tanda terimakasih akan saya proses, dan kirimkan secepatnya” lanjut Peter, dan langsung memutuskan panggilan telefon.

__ADS_1


Saat mendengar berita itu, tubuh Gabriel seketika seperti kehilangan tenaga, dia melempar ponselnya ke atas tempat tidur, diikuti oleh tubuhnya yang jatuh terlentang dan kaku, tubuhnya begitu lemas.


“Ayah.. ayah kenapa?” Ayunda menggoyangkan tubuh ayahnya.


“Ayah tidak kenapa-napa sayang, tolong ambilkan segelas air putih hangat untuk ayah”


Tante Mona bergegas ke dapur, dia mengambil gelas warna putih dihiasi dengan gambar bunga keemasan bertuliskan Papa yang berada diatas meja, Tante Mona mengisinya dengar air panas setengah gelas juga ditambahkan air dingin stengah gelas. Lalu kembali membawanya kepada Gabriel.


“Ayo bangun, nih airnya” pinta tante Mona. Gabriel pun bangun dan meminum air itu. Gabriel terlihat sudah sedikit tenang, setelah selesai minum, dia memberikan gelas kosong kepada Ayunda, dan diletakkan di atas meja samping tempat tidur ayah dan ibunya.


Ketika Tante Mona, melihat Gabriel sudah tenang, dia lalu meminta permisi untuk pulang ke rumahnya. “Ayunda, tante pulang dulu yah, mau masak soalnya. Lihat nih sayur-sayur tante sepertinya sudah layu”


“Ia tante. Terimakasih” ucap Ayunda sambil menebarkan senyum manisnya. Ketika tante Mona telah pergi meninggalkan mereka Ayunda bertanya kepada ayahnya mengapa sampai dia bisa seperti tadi."


“Ayah mendengar berita yang tidak enak”


“Berita apa?” Ayunda lanjut bertanya.


“ayah sudah dipecat dari tempat yang ayah bekerja” mendengar jawaban dari ayahnya, Ayunda langsung respect tangan kanannya memukul dahinya dan berkata. “Oh My God. Bagaimana, ayah bisa membayar hutang”


“Sayang.. udah berapa kali ayah katakan, kalau ayahmu ini tidak punya hutang” bentak ayahnya.

__ADS_1


“Maafin saya ayah, saya lupa”


“Ia, ayah maafkan kamu. Ayah juga meminta maaf yah, karena sudah ngebentakmu tadi”


“Tadi, kamu menangis?” Tanya ayahnya.


“Tidak ayah, saya tidak menangis” jawab Ayunda berbohong. Tetapi Gabriel merasakan kalau anak semata wayangnya itu menangis sejak tadi. Karena, feeling seorang ayah, kepada anaknya tidak pernah salah, apalagi anak perempuan. Ada banyak orang yang berkata kalau seorang anak perempuan sangat dekat dengan ayahnya begitupun sebaliknya, jika ada anak perempuan di dalam sebuah keluarga, maka cinta seorang ayah akan lebih besar kepada anak perempuan.


“Ayah tahu, kamu menangis” ucap Gabriel sambil mendekati anaknya. Tangannya terbuka lebar dan membungkus Ayunda dalam dekapan penuh kasih sayang. Ayunda yang merasakan pelukan kehangatan dari ayahnya, dia pun kembali memeluk ayahnya.


Melalui berbagai macam drama yang mereka berdua alami, bahkan sampai menambahkan tokoh baru dalam drama itu, mereka berdua sadar ternyata waktu di luar sudah sangat terang, jam dinding sudah menujukan jam Sembilan pagi.


“Ayo kamu pergi mandi” perintah ayahnya.


“Ok ayah saya mandi, dulu yah” Ayunda meninggalkan ayahnya sendiri di kamarnya. Dia bergegas ke kamar mandi.


Dalam kesendiriannya di kamar, Gabriel menyesali perbuatannya sejak tadi. Karena selama ini, dia selalu mampu menjaga dan mengontrol emosi, tetapi kali ini emosi yang mengontrolnya hingga, ia berlaku yang tidak pantas kepada anaknya. Apalagi anaknya masih kecil, usianya masih membutuhkan kasih sayang yang penuh dari kedua orang tua. Sedangkan yang Gabriel lakukan adalah, membentak anaknya.


“hahhh, aku benar ayah yang jahat” ucap Gabriel sambil kepalanya menunduk dia menutup wajah dengan dua tangan. Dia masih merasa ngantuk, matanya masih terlihat seperti mata panda. Akhirnya dia kembali tidur. Tidurnya juga tidak lama, baru beberapa menit saja, dia diganggu oleh Ayunda yang mengajaknya untuk bermain masak-masak. “Ayah, ayo main” teriak Ayunda. Teriakan itu tidak didengar oleh ayahnya. Karena, sang ayah sudah tertidur pulas.


“Ayah ayo main” teriak Ayunda sekali lagi. Seperti biasa ayahnya tidak mendengar, akhirnya dia pergi ke kamar menghampiri ayahnya. “Ya elahh, malah tidur” ucapnya lirih. Terpaksa Ayunda balik dan bermain sendiri, akan tetapi lamanya bermain dia merasa bosan. “Apakah aku harus membangun ayah” ucapnya dalam hati. Dia lalu mengambil sebuah kotak kecil warna merah muda yang dihiasi dengan berbagai macam jenis bunga. Kotak itu hadiah dari ibunya ketika dia meraih juara kelas minggu lalu. Di dalam kotak tersebut berisikan sepuluh kertas potongan-potongan kecil yang tergulung, di bagian atas penutupnya tertulis ‘Kotak Keberuntungan’ dengan sangat rapi. Kotak ini digunakan hampir mirip dengan pencabutan lotrei. Cara menggunakannya harus dengan menutup mata, kemudian memilih satu gulungan kertas, jika mendapatkan kertas dengan bertuliskan ‘yes’ maka ia bisa membangunkan ayahnya, tetapi kalau dia mendapatkan kertas dengan bertuliskan ‘no’ berarti tidak boleh.

__ADS_1


Ayunda melakukan ritualnya. Dia membuka tutup kotak itu, lalu meletakannya di atas meja kemudian matanya ditutup erat-erat lalu memilih kertas yang tergulung. Ketika dia sudah memilih kertas dan membukannya, ternyata bertuliskan ‘yes’ yang berarti dia boleh membangun ayahnya.


__ADS_2