Dijodohkan Karena Hutang

Dijodohkan Karena Hutang
BAB XI


__ADS_3

Setelah hampir dua jam bermain, Ayunda kelelahan hingga menyebabkan dia tertidur, siang itu. Gabriel menggendong putrinya masuk ke kamar. Diletakan putrinya dengan hati-hati di atas kasur lalu meninggalkannya sendirian. Dia menutup pintu kamar.


“Ceeklak”


lalu berbalik ke tempat mereka bermain untuk membereskan mainan-mainan yang terhambur kesana, kemari. Dimasukan semua ke dalam kota organizer.


‘Di dapur’


Gabriel menemui isitrinya untuk meenyampaikan maksud dari kedatangan tiga orang tadi.


“Ibu, kita harus membayar hutang dalam minggu ini”


“Tapi kita tidak punya uang ayah.”


“Itu yang membuat ayah bingung. Entah mau dari mana lagi.” Ucap Gabriel sambil memegang rahang dan menjerit kesakitan “Aaaah.”


“Nanti ayah usahakan untuk pinjam di teman-teman ayah.”


“Baiklah kalau begitu.”


Akhirnya, siang itu juga, Gabriel membersihkan tubuhnya, dan menggunakan celana jeans, baju kaos krak warna putih, dan mengenakan sandal sebagai alas kaki. Dengan bermodalkan uang lima puluh ribu dari Hana, Gabriel menaiki transportasi umum menuju pusat kota, ketika sampai disana, Gabriel pergi untuk mencari pinjaman. Dia mengunjungi dari satu kantor ke kantor yang lain, tapi tidak ada satupun yang mau membantunya. Sebenarnya bisa namun, karena saat ini dia tidak bekerja, maka bendahara yang ada di masing-masing kantor menolok untuk memberikan pinjaman kepada dirinya. Lamanya berjalan membuat dia lapar dan haus bahkan kelelahan hingga harus bersistirahat. Gabriel beristirahat di depan sebuah warung makan milik Mama Ona. Rasa haus dibarengi dengan bunyi perut.


“Gruuuk..gruuk.” akhirnya dia memilih untuk masuk ke dalam warung itu. Sampainya di dalam warung dia di hampiri oleh seorang pelayan wanita.


“Permisi pak. Mau makan apa?” sembari menyerahkan daftar menu kepadanya. Gabriel mengambil selembar kertas yang telah di pres iitu, lalu melihat-lihat menu makanan yang ada di warung ini. Lain dari itu, dia mencari harga yang murah. Setelah hampir satu menit, dia ditanya kembali oleh pelayan “Pilih yang mana pak?” tanyanya sambil berdecak kesal “Ccck”


“Saya pilih yang ini saja, non” jawab Gabriel saat jarinya menunjuk gambar nasi goreng toge.


“Kalau minum?” Tanya pelayan sinis.


“Air putih aja, non.” Tanpa menatap pelayan, Gabrial menjawab dengan suara penuh kelembutan, seraya mengembalikan daftar menu kepada pelayan. Kertas tersebut di tarik dengan kasar dari tangan Gabriel.


Sambil menunggu datangnnya makanan, Gabriel melihat melalui jendela ternyata ada sebuah mobil Alphard warna hitam yang masuk ke garasi di sebuah bangunan yang terletak diseberang jalan dia melihat dua orang berpakaian hitam keluar melalui pintu belakang mobil ada pula seorang yang keluar melalui pintu depan mobil. Salah seorang dari mereka membuka pintu mobil sebelah kiri, terlihat seorang pria yang usianya berkisar 35 atau 40 tahun mengenakan outfit serba hitam keluar dari mobil yang sama dengan menggunakan sepatu kulit warna cokelat brogue merek Foostep Footwear. Badannya diselimuti jas hitam dalaman putih merek Hamlin serta celana kain dari brand Balenciaga juga dilengkapi dengan dasi hitam yang melingkar di lehernya. Tiga orang itu, berdiri mengelilingi pria berdasi yang baru saja keluar dari mobil tersebut. Seorang di sebelah kiri, seorang di sebelah kanan, sedangkan yang memegang koper berdiri di belakang. Pria yang berdasi hitam berdiri di tengah dengan wajah yang tegak menghadap gedung yang bertuliskan PTP. Wai Tala.


Melihat itu, Gabriel berkata. “Tiga orang itu pasti pengawal, bagi dia yang terakhir keluar dari mobil.”


“Permisi pak, nih makanannya” sambar seorang pelayan dengan suara lemah lembut. Sontak kaget Gabriel memindahkan pandangan dari pria berdasi ke arah wanita yang menyuguhkan makanan kepadanya dengan tatapan penuh Gabriel menatap wanita itu, dari ujung rambut sampai ujung kaki.

__ADS_1


“Kamu yang tadi?”


“Bukan pak, yang awal layani bapak itu teman saya”


“Ouh pantasan beda”


“Apanya yang beda pak?” Tanya pelayan seraya menyajikan makanan untuk Gabriel diatas meja.


“Nggak non.” Gabriel bicara seperti orang gagu.


“Baik kalau begitu. Saya permisi ya pak.”


“Ia non. Terimakasih.”


Saat pelayan belum jauh meninggalkan meja Gabriel. Gabriel bertariak memanggilnya dari belakang. “Non mana minumnya!”


Semua pengunjung kaget.


Mereka memandang Gabriel. Bahkan ada yang tertawa lebar.


Gabriel yang tengah malu hanya menunduk kepala sambil mengorek-ngorek touge dengan sendok forok. Tidak hampir satu menit dia mengangkat kepala serta dipalingkan kiri dan kanan untuk melihat apakah pengunjung di situ masih memandang dirinya atau tidak. Ternyata sudah tidak lagi.


Daerah yang berada di tengah-tengah tubuhnya sudah sangat lapar, meminta untuk di isi. Maka tidak tunggu lama Gabriel memakan sepiring nasi goreng yang sudah ada di depan matanya dengan lahap.


Datanglah pelayan yang sama, membawakan seceret air putih dengan sebuah gelas plastik, lalu diletakan di atas meja Gabriel tanpa, mengucapkan apa-apa dia pergi. Gabriel menuangkan air ke dalam gelas sampai penuh lalu meneguknya.


“ahhh,” Rasa haus merosot pergi, bersama dengan lima atau enam butir nasi masuk ke dalam perut.


Setelah selesai makan, tanpa menunggu lama Gabriel prgi ke meja kasir, untuk membayar makanan.


“permisi mbak, mau bayar”


“Boleh tau, apa yang bapak makan?”


“Saya makan nasi goreng toge” jawab Gabriel, seraya menyodorkan uang 50.000 rupiah. Uangnya di ambil tak lama, si pelayan mengembalikan uang sejumlah 35.000 rupiah. Gabril mengambil uang kembaliannya, lalu bergegas pergi. Dia menyebrangi jalan Anggrek untuk pergi ke kantor PTP Wai Tala. Namun, sebelum dia sampai di depan kantor tersebut, dia di datangi oleh seorang pria tua yang meminta pertolongan.


“Bapak bisakah engkau membantu saya?” ucapnya sambil memandang kesana kemari.

__ADS_1


“Bantu apa pak?” “Kalau saya mampu, maka saya akan bantu.”


“Bantu saya untuk menyebrangi jalan”


“Boleh pak. Itu sangat boleh.”


Gabriel memegang tangan kakek, mereka berdiri dibawah lampu lalulintas untuk menunggu lampu merah. Setelah tiga menit menunggu, akhirnya lampu hijau digantikan dengan warna merah. Semua mobil dan motor berhenti, dengan sangat teratur dan rapi. Maka Gabriel memegang erat, tangan pria itu, lalu buru-buru membawanya ke seberang jalan. Saat sudah di sberang jalan, Gabriel pun kembali balik, menuju kantor. Namun, ketika langkah ringannya hendak masuk ke dalam, ia diberhentikan oleh seorang security.


“Bapak mau perlu apa?”


“Saya ingin bertemu dengan empat orang pria yang baru masuk ke dalam”


“Emangnya ada keperluan apa?”


“Tidak ada perlu apa-apa saya hanya ingin bertemu.”


“Kalau begitu tidak bisa masuk” “Pakaian seperti ini, pasti seorang pengemis” gumam security.


Namun, Gabriel tetap bersikeras untuk bisa masuk.


“Pak. Pak berhenti pak.” Kata security, sembari kedua tangannya direntangkan untuk menghadang Gabriel. Tetapi, lagi-lagi Gabriel bersikeras untuk masuk.


“Pak tolong berhenti!” Ucap security dengan kasar seraya melayangkan pukulan ke rahang Gabriel. Untung suara teriakan “stoop…!!” dari seorang wanita menghentikannya, kalau tidak. Mungkin, bibir Gabriel sudah pecah, atau mungkin giginya patah satu.


“Ada apa ini?” Tanya wanita tersebut. Dia adalah seorang pegawai kantor yang bekerja di bagian penjualan dan pemasaran online.


“Ini bu, orang ini ingin bertemu dengan bos tapi, saya tidak izinkan”


“Mengapa tidak diizinkan untuk masuk.”


“Karena dia tidak punya alasan yang masuk akal.”


“Kalau begitu, jangan izinkan dia untuk masuk”


“baik bu.”


“Kamu awasi dia. Atau usir dia dari sini.” Perintah wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2