
Hana lalu masuk ke dalam rumah, ketika mau ke dapur dia menemukan anaknya yang telah membuka pintu kamar dan berdiri didalamnya, sedangkan sang suami sedang duduk sambil berusaha memasukan sepasang sandal swallow ke dalam kakinya.
“Ibu dari mana?” Tanya suami dan anaknya secara bersamaan. Hana mengingat pesan dari tante Mona jadi, dia membohongi suami dan anaknya dengan berkata “Ibu baru saja pulang dari kios”
“Untuk apa ibu pergi kesana?” Tanya Ayunda ngotot.
Sambil tertawa, Hana menjawab pertanyaan dari anaknya “Buat beli lah, masa buat ngopi. Ibu kesana untuk beli ‘royco’ tapi sayangnya sudah habis.”
Setelah berdiri hampir 20 menit untuk menjawab pertanyaan dari suami dan anaknya, dia berlanjut masuk dapur. Untuk mengambil segenggam sayur sawi untuk di ikat. Setelah selesai di ikat Hana memanggil anaknya untuk menyuruh dia membawa sayur tersebut kepada tante Mona, “Tolong berikan sayur ini ke tante Mona”
“Bentar ya bu, tunggu setelah saya selesai mandi.” Teriak Ayunda dari dalam kamar mandi.
Hana lalu menunggu anaknya sampai habis mandi. Namun, karena Ayunda mandi terlalu lama, maka Hana membawanya sendiri ke rumah tante Mona. Ketika Ayunda selesai mandi, dia keluar dengan handuk menggumpal di kepalanya, dan langsung masuk ke dapur tetapi, dia tidak menemukan siapa-siapa, yang ada hanyalah sayuran dan buahan di atas meja, dia lalu mencari ke ruang tamu dan kamar-kamar tetapi, tidak ada juga.
Sesampainya di rumah tante Mona, Hana pun masuk mengetuk pintu memanggil Mona.
Tok..tok..tok
“Mona..”
Ellish anak dari tante Mona, yang sedang duduk sembari membaca buku dongeng, mendengar teriakan Hana tapi, dia tidak membuka pintunya, dia malah pergi memanggilnya ibunya di kamar
“Ibu ada tamu di depan”
“Siapa?” Tanya tante Mona
“Saya tidak tahu bu,”
Tante Mona lalu pergi ke depan, untuk membuka pintu. Ketika dari jauh dia sudah mendengar suara itu, ternyata itu adalah Hana. Tante Mona pun membuka pintu.
“Hai tante” ucap Ellish sembari melambaikan tangannya.
“Nih ambil sayurmu” Hana memberikan seikat sayur kepada tante Mona. Tante Mona pun mengambilnya.
“Terimakasih” kata tante Mona
“Tante, mana Ayunda?” Tanya Ellish.
__ADS_1
“Dia ada di rumah” jawab Hana.
Hana kembali ke rumahnya. Namun ketika belum sampai di rumah, ia di panggil oleh Bu Haja untuk menghadiri acara syukuran terhadap anaknya yang baru saja wisuda magister di Amerika Serikat.
“Bu Hana, besok tolong datang ke rumah saya ya”
“Untuk apa?”
“Ada syukuran kecil-kecilan karena, anak saya baru selesai wisuda”
“Ia bun nanti saya pergi”
Setelah dari itu, Hana pun pulang ke rumahnya. Ketika telah tiba di rumah, dia lalu mnyiapkan makanan untuk makan malam ini.
Mereka sekeluarga akhirnya makan bersama. Di tengah-tengah menikmati makanan dalam suasana yang hening Hana lalu angkat bicara.
“Ayah, apakah tadi pagi kamu dan Ayunda melakukan sesuatu?” Tanya Hana layaknya seorang detektif.
Gabriel sesak, makanannya tersangkut dalam tenggorokannya ketika mendengar pertanyaan dari Hana.
“Mengapa kamar tidur kita berdua bisa berantakan seperti itu?”
“Itu karena…” jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, ketika dia hendak memberi jawaban namun, Gabriel tidak melanjutkan pembicaraannya karena dia baru ingat apa yang terjadi tadi pagi.
“Karena apa” Tanya Hana dengan penuh tatapan tajam seraya meneguk segelas air.
“Ibu pelan-pelan, kalau minum” ucap Ayunda.
Ketika Gabriel hendak menjawab pertanyaan dari Hana, namun Hana mendahului pembicaraannya. “Ayo lanjut makan, kasih jawaban nanti saja.” Mereka bertiga akhirnya lanjut makan, tetapi jantung Gabriel masih berdetak karena, dia bingung mau memberikan jawaban seperti apa nantinya. Dia takut kalau istrinya marah besar.
Ayunda yang sadar akan, apa yang ibunya tanyakan, hanya memilih tutup mulut dan membiarkan sang ayah menjawab semua pertanyaan dari ibunya, walaupun dia tahu semuanya karena, memang dia yang menyebabkan ayahnya bisa membuat kamar menjadi sangat berantakan. Setelah selesai makan, saat Ayunda dan Gabriel hendak berdiri dari meja makan, tetapi Hana menahan suaminya.
“Ayah tetap di sini” pinta Hana.
“Ayunda, cepat tinggalkan ayah dan ibu.”
“Baik ibu.” Ayunda pun pergi dari mereka berdua, setelah selesai cuci tangan, dia masuk ke kamarnya.
__ADS_1
Sudah pukul Sembilan malam, saat Hana dan Gabriel masih di ruang makan. Tiba saatnya untuk Gabriel memberikan jawaban kepada Hana, sebelum itu, dia menyiram air putih dari teko ke dalam gelas kemudian di minum. Waktu masih minum, Gabriel kembali di introgasi.
“Apa alasannya?”
“Itu adalah ketika aku, hendak pergi ke tempat kerja, namun Ayunda tidak mengijinkanku. Bahkan mengunciku di kamar.”
“Terus…”
“Apa lagi? Perasaan aku sudah memberikan jawaban yang tepat.”
Hana belum puas, saat mendengar jawaban dari Gabriel. Maka, dia kembali bertanya.
“Mengapa sampai, Ayunda bisa menangis?”
“Itu karena aku membentaknya” jawab Gabriel singkat.
“Itu saja?”
“Ia”
Hana bergerak keluar dari ruang makan, dengan langkah penuh kecepatan. Penuh sakit hati, karena Gabriel membentak Ayunda. Kalimat dari mulut Gabriel yang mengatakan ‘aku membentaknya’ masih terbang di pikirannya. Hana merasa jengkel dengan jawaban suaminya. Tapi, mau apa lagi karena, kenyataannya memang seperti itu.
Gabriel berusaha menghentikan istrinya dengan cara memanggil namanya. “Hana..Hana.” Hana mengabaikan panggilan itu sampai Gabriel berdiri dan memukul meja makan dengan penuh kekuatan “Braaak”
Hana tetap pergi meninggalkan suaminya tanpa menanggapi sedikitpun. Gabriel akhirnya kembali duduk di kursinya. Sedangkan istrinya sudah di kamar untuk tidur.
***
Minggu, 7 Desember 2025. Pagi itu, suasana dalam keluarga Louwenzky kembali tenang setelah semalam terjadi keributan. Mereka semua menjalankan aktifitas mingguan yakni membersihkan halaman rumah, masing-masing dari mereka melaksanakan tugasnya. Gabriel memangkas tanaman, Hana menyapu semua dedaunan yang berguguran, sedangkan Ayunda mengangkat sampah-sampah yang berserakan lalu membuangnya di tempat sampah. Lamanya waktu yang di butuhkan mereka untuk membersihkan semuanya sekitar satu jam.
Hana masuk ke dalam ruamhnya, tidak lama dia keluar dengan dua gelas teh manis dan segelas kopi untuk Gabriel. Juga ada sepiring roti yang terdapat sembilan potong dengan tiga jenis yaitu; pau, babengka, dan ampas terigu masing-masing tiga potong. Lalu diletakan di atas meja selanjutnya dia memanggil mereka untuk minum teh tetapi sebelumnya dia menyuruh mereka berdua untuk membersihkan tangan. Gabriel, Hana dan, Ayunda menikmati hidangan itu. Sambil menyeruput kopi Gabriel meminta Hana untuk membuka perban di lukannya. “Ibu, kaki ayah sudah tidak sakit lagi. Jadi, perbannya boleh dibuka.”
Hana masih ragu karena, luka suaminya baru dua hari mana mungkin bisa sembuh. “Ayah yakin?”
“Ia ibu. Lihat nih kaki ayah bisa di gerakkan kesana dan kemari.” Ucap Gabriel saat kaki kanan menendang pot bunga.
“baiklah kalau bagitu, tapi nanti dulu setelah ini” Hana lanjut minum teh. Namun ketika belum selesai meminum teh, mereka di datangi tiga orang pria berkepala botak dengan menggunakan pakaian serba hitam mereka mengenderaikan tiga buah sepeda motor yang bunyinya sangat tidak sedap jika masuk di telinga.
__ADS_1