Dijodohkan Karena Hutang

Dijodohkan Karena Hutang
BAB X


__ADS_3

Saat Gabriel melihat tiga orang itu, memasuki halaman rumah mereka tanpa izin, dia sudah brfirasat tidak enak. Maka, dia meminta untuk Hana dan Ayunda masuk ke dalam rumah dengan pesan “Sampai di memanggil nama mereka, barulah mereka bisa keluar”


“Selamat pagi” ucap Eros.


“Pagi bang, ada apa?” Tanya Gabriel.


“Jangan banyak nanya kamu. Bayar hutangmu sekarang juga!” ucap Pacco yang adalah bos mereka. Sedangkan seorang dari mereka memukul bunga yang di gantung sampai jatuh hingga dan pecah di tanah dia itu adalah Gelendra.


“Tahan bang. Kita bisa bicara baik-baik di dalam.”


“Tidak perlu. Saya datang bukan untuk bicara baik-baik.” Kata bos mereka sambil merogohkan tangannya ke dalam piring dan mengambil sepotong roti babengka dan memakannya.


“Bos, itu bukan punya kita” tegur Eros.


“Ia saya tahu. Tapi, saat ini saya sedang lapar”


Gabriel kembali meminta untuk bisa berbicara baik-baik. Emosi mereka mendadak lenyap akhirnya bos mereka menyetujui permintaan Gabriel.


“Duduk dulu bang,”


Saat mereka sudah duduk, Gabriel mulai membuka percakapan dengan meminta mereka untuk waktunya di perpanjang. Tapi, mereka bertiga tidak setuju karena hutang ini sudah sangat lama.


“Maaf bang tetapi, saat ini, saya belum punya cukup uang untuk membayarnya.” Saat kata itu baru keluar dari mulut Gabriel, Galendra melayangkan pukulannya ke rahang Gabriel. Sampai Gabriel jatuh, tergelatak di tanah.


“Berdiri kamu.” Galendra menyuruh Gabriel untuk berdiri. Tetapi karena kelamaan, Galendra melakukan tindakan paksa. Dia mencengkeram kerah baju Gabriel juga mencekik lalu menarik dengan paksa tubuh Gabriel sampai bisa berdiri dengan tegak di hadapan Pacco.


Sambil di cekik oleh Galendra, Pacco bertanya kepada Gabriel “Terus kapan kamu bisa bayar?”


Gabriel yang merasa kesakitan di lehernya hanya bisa menerima perlakuan dari mereka, tanpa ada pembelaan diri sedikit pun.


Dengan penuh kesusahan berbicara Gabriel menjawab pertanyaan dari Pocco “Dalam minggu ini bang.”


“Saya terima janjimu”

__ADS_1


“Galendra lepaskan dia”


“Baik bos.”


Galendra melepaskan tangannya dari leher Gabriel.


“Hari ini kamu saya selamatkan. Dengan catatan aku menerima tawaranmu untuk dilunasi dalam minggu ini. Tetapi, jika tidak melunasi hutang dalam minggu ini, maka kamu akan mati dari saya.” Kata pocco. Dia lalu mengajak anak buahnya untuk pergi meninggalkan Gabriel “Ayo kita pergi dari sini.”


Gabriel berdesis juga menggertakan gigi dengan penuh amarah kebencian.


Di dalam rumah, tepatnya di kamar Ayunda, dengan penuh ketakutan, Hana mengurung diri bersama anaknya.


“Ibu siapa mereka”


“Itu teman ayah.”


“kalau mereka teman ayah, mengapa ayah tidak membiarkan saya dan ibu duduk bersama mereka”


“Tidak baik sayang, kalau kita sebagai perempuan mendengar apa yang di bicarakan laki-laki”


“Bukan begitu sayang. Yang ini beda konsep.”


Gabriel berjalan masuk ke dalam rumah, langkah kakinya berat. Leher sakit begitupun dengan rahang, dan kepala pening. Ia mengingat katanya sendiri bahwa hutang akan di lunasi dalam minggu ini tapi, “Dari mana dapat uang sebanyak itu?” tanyanya.


Apa lagi, ada di sertai bumbu-bumbu ancaman yang membuat Gabriel makin takut. Dia sangat tidak yakin dengan janjinya. Dia menguatkan dirinya, meremas leher untuk menghilangkan rasa sakit agar ketika dia berbicara dengan istri anaknya, mereka tidak curiga.


“Hana, Ayunda” panggil Gabriel.


Mendengar suara panggilan dari sang ayah, Ayunda buru-buru membuka pintu kamar dan berlari ke arah Gabriel. Dari belakang di ikuti oleh Hana. Dari jauh Gabriel sudah berlutut dan membuka kedua tangannya lebar-lebar saat putrinya sudah dekat dengannya, dia lalu memeluk dan menggedong anaknya. Saat Gabriel mendukung Ayunda, tanpa sengaja, Ayunda melingkarkan tangan di leher Gabriel, tangannya tepat di area yang sakit hingga membuat Gabriel sedikit menjerit.


“Aaargggh”


“Ayah kenapa?”

__ADS_1


“Nggak ada apa-apa sayang.” Kata Gabriel. Dia lalu mengangkat anaknya ke udara. Dia menaruh tangan sebelah di dada Ayunda, tangan sebelahnya lagi memegang erat lutut Ayunda, dan Ayunda merentangkan kedua tanganya. Mereka berdua bermain pesawat terbang.”


“Hati-hati ayah jangan sampai jatuh” kata Ayunda melarang suami dan anaknya yang sedang bermain. Sembari memegang kemoceng microfiber yang dipakai untuk menyeka debu-debu yang melekat di atas lemari tempat dia menyimpan barang pecah belah.


“Ayah tadi om-om itu siapa sih? Sampai ayah tidak mau saya dan ibu bertemu dengan mereka” Tanya ayunda yang membuat kedua orang tuanya kaget.


“Ehem”


“Ehem”


“Ehem” Hana berdehem tiga kali, tanda memberi kode kepada Gabriel untuk tidak memberitahukan kalau itu adalah debt collector. Gabriel mengetahui kode dari istrinya bahkan, dia juga tidak ingin menyampaikan yang sebenarnya kepada putri kecil mereka.


“Itu teman ayah. Mereka baru datang dari kampung”


“Wajahnya jahat-jahat semua ya ayah.” Ayunda tertawa kecil.


Ayunda meminta berhenti untuk bermain bersama ayahnya, dia kembali melirik sang ibu untuk meminta izin biar dapat keluar bermain bersama dengan teman-temannya. Karena udah seharian terkurung dalam rumah. Dengan suara yang lembut dia berkata “Ibu bolehkan saya keluar untuk bermain di luar bersama teman-teman”


Tanpa mengiakan permintaan dari anaknya, Hana berpura-pura tidak dengar, dia melanjutkan untuk menyeka debu yang masih melekat di bingkai bingakai foto wisudanya. Akibat dari tidak adanya jawaban maka, Ayunda berbalik dan meminta izin dari ayahnya namun, Gabriel membalas dengan berkata “Hanya ibu yang bisa memberi izin.” Seketika suara yang tadinya lembut langsung berubah menjadi serek yang diiringi air mata yang mengalir di pipinya.


“Masih pagi udah nangis. Malu tau”


“Ini masih pagi, nanti sore baru kamu bisa bermain di luar” kata Gabriel seakan memberikan platinum tiket kepada anaknya. Ayunda merasa senang wajahnya kembali ceria karena ada izin dari ayahnya. Tapi, tidak dengan ibu.


“Tidak bisa, dia harus tetap di dalam rumah. Cuaca di luar kurang bagus untuk anak-anak seusia mereka.”


Ketika kata itu sampai di telinga Ayunda, seketika wajah cerianya pupus.


“Apa yang ibu bilang itu benar. Dia tidak ingin kamu jatuh sakit jadi dia melarangmu untuk keluar.” Gabriel berusaha membujuk anaknya.


“Hari ini ayah tidak pergi kerja jadi, dia bisa menemanimu bermain sepuasnya.”


Ayunda tersenyum bahagia, mendengar kalau ayahnya tidak pergi bekerja. Karena awalnya dia mengira kalau ayahnya akan pergi bekerja walaupun, ini hari minggu.

__ADS_1


Maka seperti hari kemarin, Ayunda pergi mengambil semua permainannya di kamar. Dia memasukan mainan-mainan kedalam kotak organizer berukuran medium. Dia mendorongnya keluar seperti sekelompok orang yang sedang mendorong mobil mogok. Pada akhirnya Gabriel bermain bersama anaknya, semua mainan di mainkan bahkan setelah ayunda sudah bosan, dia menggunakan ayahnya sebagai mainan baru. Apa yang dilakukan oleh dia Gabriel hanya menerima.


__ADS_2