Dijodohkan Karena Hutang

Dijodohkan Karena Hutang
BAB XV


__ADS_3

Kegiatan belajar mengajar tahun ajaran 2032/2033 pun dimulai, Ayunda mendapat kelas VII A. Dalam kelas ini terdapat 25 orang peserta didik yang terdiri dari 15 perempuan dan 10 laki-laki. Setiap proses pembelajaran, Ayunda sangat unggul satu poin melebihi teman barunya yang bernama Ika. Hingga membuat iri seorang siswi bernama Esmeralda. Anak ini merupakan anak bungsu dari pemimpin Samadara Fundation.


“Hari ini, kita, akan belajar tentang bagian-bagian otak” kata ibu Jerlicia yang mengampuh mata pelajaran Biologi Setelah, selesai mengucapkan selamat pagi. Sebelum masuk pembelajaran ibu Jerlicia mulai dengan suatu pertanyaan sebagai bentuk apersepsi.


“Apa yang menjadi pusat kendali tubuh manusia?” tanyanya. Dengan serentak Ayunda dan Esmeralda berdiri dan mengangkat tangan bersama sambil mengucap “Saya bu.” Ibu Jerlicia menatap keduanya dengan mata melotot untuk mempersilahkan siapa yang harus menjawab. Dalam hati Esmeralda sangat berharap agar dirinya yang mendapat kesempatan untuk menjawab. Namun, ekspetasinya berbanding terbalik dengan realita. Ternyata ibu Jerlicia tidak mempersilahkan dirinya.


“Ayunda silakan menjawab”


Hati Esmeralda langsung memanas saat mendengar perkataan dari ibu Jerlicia dalam pikirannya langsung memikirkan bagaimana cara untuk bisa menyingkir Ayunda dari sekolah. Matanya memandang wajah Ayunda dengan tatapan tajam.


“Otak. Bu guru” jawab Ayunda dengan santai. Ketika ingin duduk, kepalanya dipalingkan ke kiri seketika, matanya seperti ditarik oleh magnet dan langsung bertatapan dengan Esmeralda.


Setelah 135 menit belajar, bell istirahat pun berbunyi bertanda kalau jam pelajaran pertama telah selesai. Suasana kelas yang tadinya diam seketika langsung ricuh masih bisa dikontrol oleh ketua kelas.


“Bu, waktunya sudah habis!” teriak Yandri, sorang anak yang terkenal di angkatan mereka karena sifatnya yang tidak bisa di atur.


“Iya, ibu tahu. Tetapi, sebelum keluar ibu harus memberi tugas. Tugas kalian adalah menggambar otak serta bagian-bagiannya.”


“Siap ibu.”



Berdirilah seorang siswa laki-laki bernama Jhoni yang menjadi, ketua kelas dan berteriak memberikan aba-aba kepada seluruh temannya untuk memberikan salam dan hormat kepada ibu Jerlicia “siap bri hormat!”


Semua siswa-siswi berdiri serempak “Selamat pagi ibu guru dan teman-teman” ucap mereka bersama-sama.


“Selamat pagi anak-anak.” Balas ibu Jerlicia sembari menenteng buku dan berjalan keluar meninggalkan ruang kelas VII A. Mungkin langkah ibu Jerlicia baru sepuluh atau sebelas langkah dari pintu, suasana kelas kembali ricuh bahkan susah untuk dikontrol. Semua siswa berjalan berbondong-bondong menuju kantin untuk membeli makan dan minum. Kecuali, Ayunda dan Ika yang tetap di dalam kelas untuk menikmati bekal yang telah disediakan oleh ibu mereka dari rumah. Sembari mengeluarkan bekal dari dalam tas, Ayunda berkata kepada Ika “Kamu tahu nggak kalau, tadi Esmeralda menatapku dengan wajah penuh kemarahan.”

__ADS_1


“Serius?”


“Ia Ika. Mungkin dia marah karena saya yang dipersilahkan untuk menjawab”


“Pasti. Tapi, kan kamu tidak salah. Karena itu pilihan dari ibu Jerlicia”


Di tengah-tengah perbincangan Ayunda dan Ika sembari makan bersama, datanglah Esmeralda and the geng dari namanya grupnya, geng itu dipimpin oleh Esmeralda dan diikuti oleh empat orang perempuan. Mereka berempat menghampiri Ayunda dengan Ika.


“Eh ada kumpulan anak miskin” Esmeralda mengejek Ayunda dan Ika.


“hahahahaha” teman-teman Esmeralda tertawa.


“Sekolah kok pakai duit orang lain” sindir seorang perempuan.


“Duit sendiri dong.” Sambung yang lain.



“Nihh. Ayo tampar gue ikhlas” Esmeralda menyodorkan pipinya pada Ika, juga dia mengangkat tangan Ika lalu menampar pipinya.


“Nggak berani yah?” Tanya Esmeralda kepada Ika.


“Nggak berani lah..” jawab Hani teman Esmeralda menggantikan Ika.


“Kalau berani nanti apa Girls”


“Nanti tidak bisa sekolah disini lagi. Ha ha ha” Jawab Esmralda and the geng serempak. Mereka berlima, pindah dari tempat duduk Ayunda dan Ika ke tempat duduk mereka masing-masing.

__ADS_1


“Ting-ting ting…” bel kembali berbunyi, pertanda untuk masuk kelas karena, pembelajaran kedua akan dimulai.


Di mata pelajaran kedua ini, guru yang mengajar tidak hadir karena, harus menjaga anaknya yang sedang terbaring kaku di tempat tidur rumah sakit tanpa sadar. Seluruh peserta didik menggunakan jam kosong ini untuk bermain. Kecuali, Ayunda dan Ika yang memilih untuk mengisi jam kosong dengan pergi ke perpustakaan untuk membaca buku disana. Sampainya di perpustakaan, keduanya mengisi buku tamu yang telah tertera di layar monitor komputer. Setelah selesai, mereka berdua memasukan tas ke dalam loker. Tidak disadari ternyata Esmeralda dan kawan-kawan juga mengikuti mereka.


Ika yang melihat itu, langsung bertanya pada mereka dengan nada suara yang sedikit “Ada apa kalian ikuti kita disini”


“Nggak ada yang ngikutin kalian” belas Esmeralda.


“Ini tempat belajar. Jadi, nggak usah kepedean kalau kita ngikutin kalian berdua.” Sambung seorang dari mereka.


Ayunda yang tahu kalau Ika adalah anak yang tidak bisa mengontrol keadaan dan mulut yang ceplas ceplos dengan sigap menarik tangan temannya itu, lalu membawanya menaiki tangga menuju lantai dua. Sesampainya di atas mereka berdua masuk di ruang baca nomor dua untuk mengambil buku Biologi yang akan mereka baca. Selanjutnya mereka pergi duduk di kursi untuk baca. Sembari membaca Ayunda menasihati Ika untuk tidak berlaku jahat kepada orang lain. Namun Ika membantah dengan berkata.


“Pikiranmu seperti ini, pantasan kamu terima kalau diejek”


“Sesungguhnya saya tidak terima. Tapi, kamu tahu sendiri kan kalau, beasiswa yang kita terima itu berada di bawah kendali ayah Esmeralda”


“Ia Ayu. Saya tahu. Tapi, tutur katanya sudah berlebihan dan patut untuk diberi teguran” balas Ika saat tangannya di kepal sampai timbul urat tangan.


“Redakan emosimu. Tidak pantas seperti itu. Mari lanjut baca” tegur Ayunda, sekaligus mengajak Ika.


“Ternyata begini yah, kelakuan anak orang kaya, tutur katanya tidak memikirkan perasaan orang lain.”


“Hentikan omelanmu. Nanti bukumu menangis kalau hanya sekadar buka tapi, tidak dibaca.”


Akhirnya Ika membaca buku yang telah dibuka sejak tadi. Namun, perkataan dari Esmeralda and The Geng masih terbang mengitari kepalanya. Hingga membuat dia membaca setengah-setengah kemudian pindah ke halaman berikutnya.


oo000oo

__ADS_1


Jam di ruang guru menunjukkan pukul satu siang lebih 5 menit. Ibu Jerlicia, yang mempunyai jadwal untuk memberi apel kepada seluruh siswa. Dia lalu pergi membunyikan Bell sekolah setelah itu, dia mengambil mikrofon yang kemudian dicolokkan ke pengeras suara untuk memanggil semua siswa datang dan berkumpul di aula II untuk mendengar arahan dan nasehat sekaligus pengumuman tentang beberapa hal ke depan.


__ADS_2