Dijodohkan Karena Hutang

Dijodohkan Karena Hutang
BAB XVI


__ADS_3

Ayunda dan Ika cepat-cepat merapikan buku yang mereka baca di atas meja begitu saja karena akan ditata kembali oleh petugas perpustakaan. Berlanjut ke bawah keduanya mengeluarkan kunci masing-masing lalu membuka pintu loker dan mengambil tas mereka masing-masing. Diteruskan dengan keduanya langsung pergi menuju aula II. Ketika hendak masuk pintu mereka berdua dihadang oleh oleh seorang wanita yang bertugas sebagai sekretaris osis meminta mereka berdua untuk pergi mengambil kursi di tempat lain dengan alasan kalau sudah tidak ada lagi kursi yang kosong. Ika yang tidak terima langsung membantah dengan suara yang lembut dia meminta “tidak apa-apa kak. Biar kita berdua bersila saja.”


“Ia kan Ayu”


“Ia” kepala Ayunda mengangguk menandakan kalau dia setuju.


Namun, sekretaris osis mmbantah mereka berdua “Nggak ada. Kalian harus angkat”


Tiba-tiba ada teman-teman seangkatan Ayunda dan Ika masuk ke ruang aula II, dengan langkah yang begitu santai, mereka memasuki pintu aula.


“Tapi, Kak. Kok mereka bisa masuk?” Tanya Ayunda.


“Nggak usah banyak nanya dan tapi-tapian. Sekarang ayo pergi.” Ketus sekretaris osis.


Akhirnya, Ayunda dan Ika kembali pergi ke kelas mereka untuk mengangkat kursi duduk mereka sendiri, dengan langkah yang terantuk-antuk mereka berdua membawakan kursi sampai di aula II. Saat, kursi tersebut dimasukan kedalam, mereka berdua melihat ternyata masih ada banyak kursi yang kosong. Selain itu juga, semua mata sisiwa SMA 1 Pulau Seribu yang berkumpul saat itu, memandang ke arah mereka dengan mata melotot. Mereka keheranan, karena mengapa ada siswa yang membawa kursinya sendiri sedangkan ada banyak kursi kosong didalam aula.


“Dek, disini tidak ada virus menular” tegur Masaya, seorang siswa pindahan yang duduk di kelas 2 SMA.


“Ia kak saya tahu. Tapi, ini perintah dari sekrtaris osis”


“Kalian berdua pasti di kerjain tuh.”


Ayunda dan Ika lalu meletakan kursi mereka yang berdampingan dengan Masaya. Masih dalam percakapan yang sama tiba-tiba datanglah sekretaris osis sambil menepuk tangannya.


plak


plak


plak.


“Kak. Kenapa harus menyuruh mereka berdua angkat kursi sedangkan dalam masih banyak kursi yang belum di tempati” Tanya Masaya.


“Nggak ada apa-apa.”

__ADS_1


“Kalau nggak ada apa-apa. Kenapa harus seperti itu”


“Kamu nggak usah banyak nanya!” ketus skretaris osis.


“Kamu nggak usah jadi, dewa penolong disini. Kalau tidak, rahasiamu akan saya bongkar” kata sekretaris osis, sembari menunjukan jari telunjuknya ke wajah Masaya.


Masaya tertegun.


“I..ia kak” balas Masaya terbata-bata.


Tuk..tak..tuk..tak. bunyi sepatu hils 5 cm. Memasuki aula II itu adalah, ibu Jerlicia, yang hendak memberikan pengumuman kalau besok semua siswa wajib hadir tepat waktu. Ini merupakan pengumuman yang sudah lazim di telinga para siswa. Tetapi, dilain sisi harus beri peringatan setiap saat karena masih banyak siswa yang datang terlambat.


“Baik. Sebelum kita pulang, ibu meminta seorang untuk berdoa” pinta ibu Jerlicia.


Semua siswa menunggu lama, berharap siapa yang akan maju. Sudah hampir lima menit setelah perkataan ibu jerlicia keluar dari mulutnya, tidak ada satupun yang maju. Akhirnya Ayunda yang duduk paling belakang dengan cepat-cepat berjalan ke depan semua siswa yang ada untuk memimpin doa.


Dia langsung memulai doanya. Setelah selesai berdoa, Airlangga selaku ketua osis langsung memberi aba-aba kepada seluruh siswa untuk memberi salam kepada ibu Jerlicia. Semuanya keluar dari aula II. Ayunda dan Ika berjalan sampai di depan pintu gerbang. Mereka berdua harus membagi jalan, Ayunda yang pulang ke arah timur, sedangkan Ika ke arah barat. Ayunda yang telah di tinggalkan Ika sendirian, akhirnya pergi dan duduk berkumpul dengan beberapa siswa perempuan yang sedang duduk di halte, menunggu kedatangan mobil jemputan. Sudah sangat lama mereka menunggu tetapi, mobil jemputan tidak datang. Yang datang hanyalah, sebuah pesan dari penjaga sekolah yang disampaikan oleh supir mobil jemputan melalui panggilan telefon kalau, hari ini dia tidak menjemput anak sekolah karena, harus pergi mengantarkan istrinya ke rumah sakit karena akan melahirkan. Ketika pesan itu, sampai di telinga anak-anak yang menunggu jemputan, mereka semua bergegas mencari jalan pulangnya masing-masing.


“Selamat sore ayah, ibu.”


“Selamat sore juga sayang”


“Kenapa pulangnya terlambat” Tanya ayah Ayunda.


“Karena om Dani tidak menjemput kita hari ini ayah, katanya dia lagi mengantar istrinya ke rumah sakit.”


Ayunda masuk ke kamarnya, untuk mengganti pakaian. Tetapi, karena sudah waktunya untuk mandi maka, dia mengambil handuk dan berjalan menuju ke kamar mandi untuk mandi. Setelah selesai mandi, Ayunda membantu ibunya untuk menyiapkan makanan karena sudah waktunya untuk makan malam. Keluarga kecil Louwenszky duduk melingkari meja dan mencicipi makanan yang telah di hidangkan. Setelah selesai makan, Ayunda mendorong ayahnya masuk ke kamar sedangkan, Hana merapikan meja makan. Ketika semuanya telah beres Hana datang menghampiri Ayunda dan Gabriel yang sedang bercakap-cakap tentang aktifitas sekolah. Berjarak kira-kira 70 cm, Hana mendengar Ayunda berkata kalau dirinya di katakana miskin oleh seorang teman sekelasnya.


“Siapa namanya?” Tanya Gabriel.


“Esmeralda ayah.” Jawab Ayunda lirih.


“Terus apa yang kamu lakukan?”

__ADS_1


“Saya tidak lakukan apa-apa”


“Mengapa kamu tidak laporkan kepada wali kelas.” Tanya Hana.


“Saya takut bu. Karena, dia adalah anak dari bapak Mulyono”


“Mulyono itu siapa?”


“Orang terpenting yang megatur dan mnyalurkan beasiswa kepada Ayunda” Gabriel memberi jawaban kepada Hana menggantikan Ayunda.


“Oh jadi, itu yang menybabkan kamu takut”


“I..ia bu” jawab dengan suara yang gugup.


“Ingat! Yang perlu kita takuti hanyalah Tuhan yang kita imani. Selebihnya dari itu, tidak perlu untuk di takuti.”


“Kamu jangan hiraukan apa yang dia katakan. Yang penting hanyalah, kamu harus fokus kepada apa yang kamu inginkan. Beasiswa yang kamu terima itu adalah hasil kerja kerasmu. Kamu juga pantas menerimanya karena prestasi yang bagus. Jangan ambil pusing dengan pandangan negatif dari orang lain cukup terima yang positif” nasehat Gabriel memberikan kata-kata penguatan.


“Baik ayah. Bu, ayah. Ayu permisi ke kamar dulu sudah ngantuk soalnya.”


Ayunda lalu, bergerak ke kamarnya.


Kring…king..kring.. jam weker berbunyi, menunjukan kalau sudah pagi. Ayunda bergegas cepat-cepat untuk berangkat ke sekolah.


“Selamat pagi ayah, ibu. Ayu brangkat dulu” Ayunda berpamitan sembari mencium pipi ayah dan ibunya.


“Ini, uang ongkos mobil” Hana memberikan uang itu kepada. Ayunda mengulurkan tangan kanannya, untuk mengambil uang yang berjumlah sepeluh ribu itu. Dia lalu keluar, dan berdiri di depan pintu pagar, dan menunggu datangnya mobil untuk dia tumpangi. Namun yang datang adalah mobil jemputan dari sekolahnya. Ayunda lalu masuk ke mobil itu. Didalam mobil Ayunda bertanya kepada om Dhani.


“Om mengapa saya sendiri?”


“Karena yang lain sudah pergi menggunakan angkotan umum. Om juga sebenarnya belum belum kerja hanya saja, saat om hendak pergi ke rumah sakit. Tetapi, karena melihat kamu sedang berdiri menunggu makanya om brhenti.”


“oohh”

__ADS_1


__ADS_2