
Namun karena terus mengurus berkas kelulusannya membuat kepulangannya selalu tertunda.
" Serius!!!. Mamah seneng banget dengernya " Ucap adriana, kini senyumannya telah kembali
" Iya mah, aku nggak mungkin bohong " Jawab El.
" Baiklah besok mamah akan siapkan makanan kesukaan kamu " Ucap adriana.
" Iya terserah mamah saja. Kalau begitu aku tutup telponnya ya ".
Ningsih yang dari tadi mendengarkan pembicaraan antara adriana dan El pun ikut tersenyum bahagia.
" Ningsih besok kamu bantuin saya ya, buat masakin makanan kesukaan El " Ucap adriana. dengan terus tersenyum, walaupun kini sambungan telponnya dengan sang putra sudah terputus, namun tidak dengan senyuman nya.
" Siap nyonya " Jawab ningsih yang juga ikut merasakan bahagia, karena anak majikannya itu akan segera pulang setelah sekian lama.
Setelah itu Ningsih dan adriana melanjutkan sarapan mereka dengan sambil mengobrol, membahas makanan apa yang besok akan mereka masak untuk menyambut kedatangan arel.
***
Pukul 19:30 malam. Ningsih terlihat sedang mencuci piring sisa makan malam majikannya di dapur. Namun tiba-tiba terdengar bel rumah berbunyi, yang menandakan kalau ada orang yang datang bertamu
Dengan segera Ningsih membersihkan tangan nya terlebih dahulu dari sisa sabun cuci piring, sebelum ia beranjak untuk membukakan pintu. Setelah itu Ningsih pun berjalan menuju pintu utama, dan alangkah terkejutnya ia melihat orang yang berdiri didepan nya.
Terlihat seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap, membuat Ningsih yang melihatnya menjadi tertegun. Wajah yang begitu familiar dimata Ningsih seakan menyihir pikirannya.
" Nak arel. " Ucap Ningsih dengan raut wajah yang masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat
" Iya bi saya El. Mamahnya ada di rumah kan " Tanya laki-laki yang bernama El itu.
Mendengar itu alam bawah sadar Ningsih terus memaksanya untuk tidak percaya, karena bagaimana pun tadi dia mendengar secara langsung kalau El bilang ia baru akan pulang besok.
__ADS_1
" Bi. Mamahnya ada di rumah kan " Tanya El sekali lagi, sambil melambai-lambaikan tangan nya kearah wajah Ningsih, karena ia melihat Ningsih yang nampak melamun
" Aaahh... Maaf saya melamun " Jawab Ningsih yang baru sadar dari lamunannya.
" Iya nyonya ada di rumah. Silahkan tuan muda masuk, saya akan panggilkan nyonya dulu " Sambungnya.
Setelah mengatakan itu Ningsih lalu berlari kecil menuju kamar majikannya yang berada di lantai 2, untuk memberitahukan kalau sekarang El sudah pulang.
El mulai masuk kedalam rumah yang sudah sangat lama ia tinggalkan sambil menarik kopernya.
" El..... " Teriak adriana dari lantai 2
" Hati-hati mah jangan lari-lari nanti jatuh " Ucap El saat melihat adriana yang berlari seperti anak kecil menuruni anak tangga.
Setelah sampai adriana langsung memeluk tubuh putra kecilnya, yang sekarang sudah berubah menjadi laki-laki dewasa. Arel pun juga membalas pelukan ibunya, bagaimana pun ia juga sangat merindukan ibunya itu.
" Kamu kenapa bohongin mamah, bilangnya besok baru pulang. Kan sekarang mamah jadi nggak siapin apa-apa buat menyambut kamu " Ucap adriana dengan kesal, ia lalu melepaskan pelukannya dan memukul lengan putranya, seperti yang dulu ia lakukan kalau putranya membuat ia kesal.
" Aku minta maaf. Tadinya aku mau bikin kejutan buat mamah sama papah, tapi sekarang papahnya malah nggak ada " Ucap El
" Lagi pula mamah nggak perlu siapin apa-apa buat aku, cukup bisa liat mamah sehat itu sudah lebih dari cukup " Sambungnya.
Mendengar itu adriana tidak bisa menahan tangisnya, putra yang sangat ia cintai mengatakan hal itu didepan nya, tentu saja membuatnya menjadi sangat terharu. El pun lalu melepaskan pelukannya, kemudian menyeka air mata ibunya yang sudah terlanjur membasahi pipinya. Setelah itu pun adriana dan arel saling bertukar cerita, seakan melepaskan rasa rindu yang selama ini menyiksa mereka.
Ningsih yang menyaksikan itu dari kejauhan meneteskan air matanya. Melihat adriana dan arel yang saling melepaskan rindu mereka, membuat Ningsih menjadi begitu merindukan putrinya yaitu yuna. Yang tinggal terpisah dengannya, dan mereka sudah tidak bertemu hampir 2 bulan.
Sebenarnya dulu yuna juga ikut dengan Ningsih tinggal di kediaman keluarga mahendra, karena Ningsih tidak mempunyai tempat untuk menitipkan yuna yang pada saat itu masih sangat kecil, dan tentunya atas persetujuan dari ferdinan sebagai tuan rumah
Namun disaat yuna berusia 14 tahun, ia memutuskan untuk meninggalkan kediaman mahendra dan tinggal di rumah peninggalan mendiang ayahnya, dengan alasan ia ingin lebih mandiri. Tentu saja pada saat itu Ningsih menolak nya, karena yuna yang pada saat itu masih sangat belia untuk tinggal sendirian.
Akan tetapi yuna sudah bulat dengan tekadnya, yang membuat Ningsih tidak bisa berbuat apa pun lagi, karena ia harus tetap bekerja, karena dari pekerjaan ini lah Ningsih baru biasa membiayai sekolah sang putri.
__ADS_1
Ningsih dengan cepat menyeka air matanya, kemudian bergegas menuju ke dapur untuk melanjutkan pekerjaan nya. Karena kalau dia terus berada disitu, hanya akan membuatnya semakin terpuruk dan bersedih.
***
Keesokan harinya pada pukul 18:00. Yuna mengemasi barang-barangnya bersiap untuk pulang, karena sudah waktunya berganti dengan pegawai yang lain.
" Yuna " Sapa ayu yang tiba-tiba saja berdiri di samping nya.
" Iya ada apa? " Jawab yuna, dengan tetap fokus memasukkan barang-barangnya kedalam tas ransel yang selalu ia bawa.
" Drama yang kamu tunggu-tunggu itu udah tayang loh di bioskop. Bagaimana kalau malam ini kita pergi buat nonton " Ucap ayu.
Sebagai pencinta drama tentu saja yuna sangat senang mendengar itu. Ia pun dengan cepat menganggukkan kepalanya menyetujui tawaran ayu, yang mengajaknya untuk pergi menonton
" Baiklah, nanti malam aku akan jemput kamu " Ucap ayu.
Setelah semuanya telah ditentukan, yuna pun berpamitan dengan ayu, karena ia harus segera pulang, karena kalau ia terlambat sedikit saja maka ia akan kegelapan sampai ke rumah.
***
Malam sekitar jam 20:00.
" Mau kemana El " Tanya adriana, saat melihat El keluar dari kamar nya dengan pakaian rapi.
" Aku mau keluar jalan-jalan mah " jawab El, lalu ikut duduk di sofa ruang keluarga, yang mana disitu juga ada ferdinan yang datang tadi siang dari perjalanan bisnisnya.
" Sama siapa " Ucap ferdinan tiba-tiba, matanya tetap fokus pada berkas-berkas pekerjaan yang ada ditangannya
Mendapatkan pertanyaan itu El menelan saliva nya, jantungnya pun tiba-tiba berdegup dengan sangat kencang.
Ferdinan melirik kearah putranya yang nampak kesusahan menjawab pertanyaan simpel nya.
__ADS_1
Melihat diamnya El, sudah cukup membuat ferdinan tahu____