
Laki-laki itu pun lalu membawa pergi perempuan itu dari hadapan yuna yang terlihat sangat syok, tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Setelah dua orang itu pergi, ayu pun membawa yuna keluar dari bioskop, lalu mengajak nya duduk sebentar di cafe, sebelum mereka pulang. Sekaligus ayu ingin menanyakan kejadian barusan.
" Yuna. Kejadian sebenar nya itu bagaimana, aku percaya kamu nggak mungkin melakukan hal yang seperti perempuan itu tadi katakan " Tanya ayu. Ia tahu jelas sifat sahabat nya itu, yuna yang sangat tertutup apa lagi kalau masalah laki-laki, lalu tidak tiba-tiba malah tertarik dengan laki-laki yang sudah memiliki pacar.
" Sebenarnya aku memang beberapa kali melirik laki-laki itu, tapi aku tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya merasa kalau aku kenal sebelum nya, tapi aku tidak tahu dimana " Jawab yuna, wajah nya nampak masih sangat syok atas kejadian tadi.
" Iya aku percaya sama kamu. Mungkin kamu memang pernah sebelum nya ketemu sama laki-laki itu. Dan aku juga percaya kalau kamu nggak mungkin punya niatan lain " Kata ayu
Ayu pun lalu bangkit dari posisi nya lalu berpindah kesamping yuna lalu memeluk nya. Memberikan semangat karena ia tahu pasti sahabat nya itu sangat kaget, dan dia juga percaya dengan apa yang yuna katakan.
Setelah mereka rasa cukup untuk bersantai nya. Ayu dan yuna pun memutuskan untuk pulang, karena besok mereka harus kembali bekerja.
***
Pada pukul 06:00. Ningsih sebenarnya sudah terbangun semenjak 30 menit yang lalu, namun ia merasa teramat sakit pada kepala nya, yang membuatnya selalu gagal untuk bangkit, untuk memulai pekerjaan nya.
" Ayo Ningsih kamu harus bangkit, sudah waktu nya untuk kamu bekerja " Gumam Ningsih kepada dirinya sendiri.
Dengan bermodal bertumpu pada ujung tempat tidur nya, Ningsih pun berusaha untuk bisa bangkit melawan rasa sakit kepala nya. Karena ia harus segera bangun dan melakukan kewajiban nya sebagai ART.
Setelah berhasil bangkit dari tempat tidur, Ningsih langsung mengambil obat didalam laci di samping tempat tidur nya.
Iya ini memang hal yang sering dialami oleh Ningsih, karena sejak muda ia mempunyai riwayat darah tinggi, jadi apa bila tekanan darah nya naik maka kepala nya pun akan terasa sangat sakit. Akan tetapi biasa nya setelah ia meminum obat maka rasa pusing nya akan sembuh
Dan benar saja setelah beberapa waktu setelah meminum obat, kepala nya pun terasa berkurang sakit nya. Dan tanpa membuang-buang waktu lagi Ningsih langsung menuju dapur, karena ia harus memasak sarapan untuk majikan nya.
__ADS_1
" Bu Ningsih ibu kenapa kok kelihatan pucat sekali, apa ibu sakit " Tanya Lastri, yang juga merupakan ART di rumah keluarga mahendra.
Ningsih menggelengkan kepala nya, dan tentu saja dia berbohong. Nampak nya obat yang tadi dia minum hanya bertahan sebentar saja, karena di saat dia memulai memasak sakit kepala nya kambuh kembali, namun Ningsih tetap memaksakan diri nya sehingga membuat nya terlihat sangat pucat. Dan lastri yang melihat itu pun menjadi sangat khawatir
" Bu. Saya tau sekarang ibu lagi nggak baik-baik saja kan, ibu nggak perlu bohong sama saya " Kata lastri.
" Iya, kepala saya sakit sekali " Jawab ningsih.
Kini ia mendudukkan diri nya di kursi, kini ia tidak tahan lagi menahan rasa sakit kepala nya.
" Ya ampun bu. Ibu jangan maksain diri ibu, sebaik nya sekarang ibu istirahat saja di kamar, biar saya yang lanjutin masak nya " Ucap Lastri.
Dengan sangat berat hati Ningsih pun menyetujui, ia merasa sangat bersalah karena tidak dapat menyesuaikan pekerjaan nya, namun apa boleh buat dia sudah tidak kuat lagi.
" Kalau begitu maafkan saya karena merepotkan kamu " Ucap Ningsih.
***
" Ningsih mana " Tanya Adriana kepada Lastri. Karena biasa nya Ningsih lah yang melayani mereka makan
Mendengar itu Lastri menundukkan kepala nya, lalu menjelaskan kondisi Ningsih. Tentu saja mendengar itu Adriana menjadi sangat khawatir, ia lalu menyuruh Lastri untuk melihat kondisi Ningsih sekarang.
" Nyonya Tuan!!!....Bu Ningsih pingsan di kamarnya " Ucap Lastri dengan raut wajah nya yang ketakutan
" El kamu siapin mobil untuk membawa Ningsih ke rumah sakit " Perintah ferdinan kepada putra nya, yang telah menyelesaikan sarapan nya.
Arel pun menganggukkan kepala nya, lalu langsung berlari ke bagasi untuk mengambil mobil, sedangkan ferdinan dan Adriana pergi ke kamar Ningsih
__ADS_1
Arel dan Adriana pun membawa Ningsih yang sudah kehilangan kesadaran nya ke rumah sakit, sedangkan ferdinan tidak dapat ikut, karena ia harus segera menghadiri rapat.
***
" Silahkan duduk " Ucap seorang dokter perempuan, yang menyuruh Adriana dan El untuk duduk
Setelah menunggu hampir 3 jam akhir nya mereka di panggil keruangan dokter. Perasaan campur aduk dirasakan oleh adriana, penasaran dan khawatir apa yang sebenar nya terjadi pada Ningsih. Mengapa membutuhkan waktu yang sangat lama untuk dokter menangani dan mengetahui penyakit nya.
" Dokter apa yang terjadi kepada Ningsih?, dia baik-baik saja kan " Tanya adriana.
Dokter perempuan itu terlihat menghembuskan nafas nya pelan, bahkan raut wajah nya pun berubah menjadi sedih. Membuat adriana yang melihat itu menjadi semakin khawatir
" Pasien terkena stroke " Ucap dokter itu dengan lemah.
Tentu saja El dan Adriana yang mendengar itu menjadi sangat kaget, bagaimana tidak mereka melihat Ningsih akhir-akhir ini baik-baik saja, dan tidak ada tanda-tanda kalau ia sedang sakit.
" Stroke dok " Kata Adriana, yang masih tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar barusan
" Benar ibu, pasien nampak nya sudah mempunyai riwayat darah tinggi semenjak remaja. Karena tekanan darah atau hipertensi yang terlalu tinggi akhirnya menyebabkan pembuluh darah arteri yang membawa darah dan oksigen pecah, sehingga pasien mengalami stroke " Ucap dokter, yang berusaha memberikan penjelasan singkat, mengapa Ningsih bisa mengalami stroke.
***
" Mah ayo makan siang dulu " Ucap El, lalu menyerahkan makanan yang tadi dia beli, karena jam sudah memasuki jam makan siang.
Adriana menggelengkan kepala nya, sambil terus mengarahkan pandangan nya kearah Ningsih, yang belum sadarkan diri terbaring di ranjang rumah sakit.
Adriana terus menyalahkan diri nya atas apa yang menimpa Ningsih, mengapa bisa ia tidak mengetahui kalau Ningsih mempunyai tekanan darah tinggi, padahal Ningsih sudah bekerja hampir 16 tahun, dan andai ia tahu sejak awal, maka ia bisa lebih memperhatikan makanan yang dikonsumsi oleh Ningsih. Dan mungkin ini semua tidak akan terjadi, begitu lah pikir adriana
__ADS_1