Dinikahi Pacar Kakakku

Dinikahi Pacar Kakakku
Apakah Irene Setuju Bercerai?


__ADS_3

Setelah keluar dari kamar Irene, mama Ratna pun langsung menuju kamar mereka, air matanya tidak bisa dibendung, serta suara tangis yang tidak bisa untuk ia tahan. Di dalam kamar ia menangis sesenggukan, ia sangat berat melepas kepergian Irene.


Papa Bram yang baru pulang dari kantor merasa heran, biasanya ia melihat mama Ratna menunggunya di depan, namun kali ini ia tidak melihatnya, sehingga membuatnya bertanya-tanya, apa yang terjadi, sampai-sampai istri kesayangannya itu tidak menunggu dan menyambutnya pulang.


"Selamat malam pak, bapak sudah pulang?" tanya mbok Atun yang kebetulan sedang membereskan ruang tamu.


"Malam mbok. Mbok, di mana ibu? Biasanya dia ada di sini?" tanya papa Bram.


"Tadi saya melihat ibu ke kamar non Irene pak," jawab mbok Atun.


"Oh begitu, ya sudah, mbok bisa lanjut kerja," ucap papa Bram, "Baik pak," jawab mbok Atun, setelah itu papa Bram pun langsung menuju kamar mereka, ia tidak ingin mengganggu waktu anak dan istri kesayangannya itu.


Setibanya di depan pintu kamar, papa Bram langsung mendengar suara tangisan, perasaanya langsung tidak enak, sebab ia sangat mengenal suara itu. Dengan cepat ia membuka pintu, dan memergoki mama Ratna menangis.


"Mama, mama kenapa?" tanya papa Bram panik. Kedatangan papa Bram membuat mama Ratna semakin sedih, ia pun semakin menangis sehingga membuat papa Bram semakin kuatir.


"Hei, mama, mama kenapa? Apa yang membuat mama sedih sampai menangis begini?" tanya papa Bram lagi.


Dengan sesenggukan mama Ratna pun menjawab, "Irene, pa. Irene," ucapnya.


"Irene, kenapa Irene?" tanya papa Bram panik.

__ADS_1


"Irene sudah setuju pindah ke rumah Dev, itu pertanda Irene akan pergi dari rumah ini. Mama gak siap pa, apa jadinya rumah ini tanpa mereka. Tasya saja gak tau di mana, dan sekarang Irene juga mau pergi," keluh mama Ratna. Mendengar itu papa Bram pun tertawa, kecemasannya seketika hilang saat mengetahui apa sebenarnya yang membuat istrinya itu menangis.


"Ya ampun mama, papa kira ada apa. Bagus dong kalau Irene mau tinggal dengan Dev, itu memang seharusnya yang Irene lakukan, Dev sekarang suaminya, jadi kemanapun Dev pergi, ya Irene harus ikut. Apa bedanya mama sama Irene sekarang, mama dan Irene sudah sama-sama menjadi istri, mama ada-ada saja, seolah Irene pergi jauh saja," ucap Papa Bram sambil menepuk-nepuk punggung istrinya itu.


"Apa papa gak sedih? Irene putri kesayangan papa, sejak kecil papa selalu memanjakannya," sambung mama Ratna.


"Bukannya papa gak sedih, hanya saja papa malu. Papa gak sanggup melihat Irene. Papa gak bisa melindunginya, padahal dia tidak menginginkan pernikahan ini, tapi papa hanya bisa diam. Sampai sekarang papa gak sanggup melihat Irene ma, papa terus merasa bersalah, cuma papa yakin, suatu saat dia dan Dev pasti bisa hidup bahagia dan saling mencintai, jadi keputusan Irene untuk setuju tinggal dengan Dev adalah keputusan terbaik, setidaknya mereka punya ruang untuk saling mengenal, walaupun papa yakin, Irene pasti memiliki rencana sendiri atas kesetujuannya ini, mama macam gak kenal Irene saja," sahut papa Bram.


"Mama juga berharap seperti itu pa. Dev laki-laki yang baik, tapi bagaimana dengan Tasya pa? Bagaimana jika suatu saat dia kembali? Bagaimana kalau dia tidak menerima pernikahan ini?" tanya mama Ratna lagi. Ia sangat mengenal Tasya, ia takut kepulangan Tasya nanti akan menghancurkan semua yang sudah terjadi, namun bukan berarti mereka tidak menginginkan kepulangan Tasya secepat mungkin.


"Tasya pasti sudah memikirkan matang-matang sebelum melakukannya, dia pasti sudah ikhlas kehilangan Dev, makanya dia lebih memilih lari. Jika Dev dan Irene saling mencintai, maka papa yang akan turun tangan melindungi pernikahan mereka, tapi jika Dev dan Irene tidak saling mencintai juga, mungkin bukan takdir mereka untuk bersama, kita serahkan saja semua pada yang di atas ma, mama tidak usah memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi," jawab papa Bram, mama Ratna hanya bisa mengangguk, berharap semua terjadi seperti keinginan mereka.


Fahri yang sudah selesai mengisi perabot di rumah Dev pun langsung kembali ke kantor, seharian ia menghabiskan waktu untuk memilih dan membeli barang-barang, ia sungguh sangat merasa lelah, dan ia yakin, jam segini Dev pasti masih berada di kantor.


"Malam Santi. Apa Dev sudah pulang?" tanya Fahri.


"Belum pak, pak Dev masih ada di ruangannya," jawab Santi senyam-senyum, ia selalu mencari perhatian Fahri, sebab ia sangat menyukai Fahri.


"Oh, kamu belum pulang?" tanya Fahri lagi, selain harmonis, Fahri juga memiliki sikap yang ramah, itu sebabnya kadang sikapnya membuat para wanita salah paham, mereka mengira Fahri juga memiliki perasaan yang sama, namun nyatanya Fahri hanya sekedar bercengkrama.


"Belum pak, saya menunggu pak Dev pulang," jawab Santi.

__ADS_1


"Oh, kamu pulang saja. Ini sudah jam kantor pulang, saya yang akan bicara dengan Dev jika dia bertanya soal kamu," sambung Fahri, sehingga membuat Santi semakin melayang tinggi.


"Baik pak," ucap Santi. Setelah itu Fahri pun langsung menuju ruangan Dev.


Setibanya di ruangan Dev, lagi-lagi Fahri memergoki Dev yang sedang menyendiri, melihat penampilan Dev membuat Fahri kesal, Dev terlihat sangat berantakan. Fahri pun langsung menerobos masuk, lalu melemparkan kunci rumah Dev kepadanya.


"God, damn it!" umpat Dev, ia benar-benar merasa terkejut.


"Melamun aja lo terus, bisa-bisanya lo duduk santai sendiri, sementara lo biarin gue capek sendiri. Ditelfon gak diangkat, padahal itu rumah lo, bisa-bisanya gue yang sibuk mikir mana yang cocok, mana yang gak cocok. Parah lo men, sumpah," keluh Fahri. Walaupun Dev bos-nya, ia sama sekali tidak sungkan untuk mengumpat Dev, jika Dev membuatnya kesal.


Melihat Fahri ngerocos seperti janda kehausan, membuat Dev mendengus, tanpa berkata-kata iapun langsung membuka ponselnya, lalu membuka aplikasi m-banking, dan langsung mengirimkan sejumlah uang yang cukup besar untuk Fahri, karena ia tahu, hanya dengan uang Fahri akan berhenti. Mendapat notifikasi di ponselnya membuat amarah Fahri meredam, ia pun cengar-cengir lalu duduk bersandar di sofa.


"Gitu dong, capek gue kan langsung hilang. Ngomong-ngomong lo kenapa? Ada masalah apa lagi? Tampang lo benar-benar berantakan, lo bukan seperti ditinggal lari nikah, tapi seperti ditinggal mati, tau gak lo," ucap Fahri lagi.


"Bisa diam gak lo, apa uangnya masih kurang?" sahut Dev.


"Gue serius, tidak semua harus lo ukur dengan uang. Apa ini masalah Irene?" tanya Fahri menebak. Sejak gagal menikah dengan Tasya, penampilan Dev benar-benar berantakan, sangat jauh berbeda sebelum Dev memutuskan untuk menikah.


"Siapa lagi kalau bukan dia. Sekarang masalah gua hanya dia. Gue mikir untuk mau ceraikan dia saja, gua gak bisa hidup dan tinggal dengan orang yang sama sekali gak gue cintai. Apa lo ada solusi, kalau gak tolong lo cariin pengacara yang bisa mengurus masalah ini," kata Dev. Fahri pun langsung beranjak lalu menatap Dev dengan tajam.


"Sialan lo Dev, lo kira menikahi dan menceraikan anak orang sembarangan. Jangan macam-macam lo, sampai kapanpun gue gak bakalan mau," tolak Fahri.

__ADS_1


"Terus apa yang harus gue lakukan. Gue benar-benar gak bisa nerima Irene sebagai istri gue, gue gak mau nyakitin dia dengan sikap gue seperti ini. Lo bayangin aja lo harus tinggal dengan seseorang yang sama sekali gak lo suka, dan dengan seseorang yang bakalan tiap hari ribut dengan lo. Sanggup gak lo ngelakuinnya?" tanya Dev. Seketika Fahri pun diam, ia bisa ngerti maksud dan perasaan Dev, namun bagaimanapun ia juga tidak setuju jika Dev harus langsung bercerai. Tapi ia juga tidak bisa melakukan apa-apa untuk kehidupan Dev.


"Gini aja. Nanti setelah lo pulang, coba lo tanya baik-baik dengan Irene. Jika dia juga memang mau bercerai, gak ada salahnya lo lakuin. Gue yakin, orangtua lo dan orangtuanya Iren pasti mendukung apapun yang akan lo dan Irene lakukan. Sebelum semua terlambat, dan sebelum lo dan Irene melangkah terlalu jauh," ucap Fahri memberi saran. Dev pun setuju, ia memang harus membahasnya dengan Irene terlebih dahulu, setelah itu mereka pun memutuskan untuk pulang.


__ADS_2