Dinikahi Pacar Kakakku

Dinikahi Pacar Kakakku
Perasaan Apa Ini?


__ADS_3

Setelah selesai mandi, Dev dan Irene pun langsung melakukan makan malam. Untuk pertama kalinya mereka duduk bersama di meja makan, pak Harto dan bik Yani yang menyaksikan itu pun tersenyum, mereka akhirnya bisa melihat suami-istri itu duduk dan makan bersama.


Selesai makan, Irene pun langsung melakukan perawatan malam, seperti menggunakan skincare, lotion, vitamin rambut dan lainnya, ia benar-benar sangat menjaga kecantikannya. Dev yang melihat itu hanya diam, sambil sibuk dengan notebooknya.


Kemudian Irene pun langsung membalikkan badan menghadap Dev.


"Kak Dev," panggilnya.


"Hem," sahut Dev, tanpa menoleh.


"Kapan kakak mau beli tempat tidurku, kalau kakak gak mau, biar aku saja yang belikan, aku mau punya kamar sendiri," ucap Irene. Dev pun menghela nafas, lalu menatap Irene.


"Emang kenapa kalau kamu tidur di sini, apa aku melakukan sesuatu yang membuat kamu gak nyaman?" tanyanya.


"Bukan seperti itu, hanya saja aku gak terbiasa berbagi kamar, aku punya privasi, begitu juga dengan kakak," sahut Irene.


Dev pun kembali menatap notebooknya, "Aku sudah setuju untuk semua permintaan kamu, dan aku hanya minta satu hal, kita harus tidur satu kamar. Aku gak akan pernah mengusik privasi kamu," ucapnya.


Irene pun beranjak dari meja riasnya, "Tapi kak, apa salahnya jika aku tidur sendiri, toh kakak bisa bebas jika sendiri, kakak bisa sepuasnya merindukan kak Tasya," ucap Irene lagi.

__ADS_1


Dan kali ini jari-jari Dev pun langsung terhenti, "Jangan pernah membahasnya Irene. Mungkin kamu belum pernah merasakan merindukan seseorang yang benar-benar sangat kamu sayang, tapi kamu tidak tahu harus melakukan apa-apa."


Sejenak Irene pun diam, ia bisa mengerti bagaimana perasaan Dev, apalagi beberapa hari ini Dev sudah bersikap baik, jadi ia tidak tega jika harus berdebat dengan Dev.


"Maaf kak, aku gak bermaksud apa-apa. Dan aku juga minta maaf, aku gak bermaksud berantam atau musuhan dengan kakak. Hanya saja aku belum bisa menerima pernikahan ini, dan sampai kapanpun mungkin aku gak akan pernah bisa menerimanya," ucap Irene jujur.


"Sini duduk, jangan bicara sambil berdiri seperti itu. Dan sepertinya kita memang harus membicarakan ini," ajak Dev. Dengan rasa sedikit sungkan, malu, Irene pun menghampiri Dev ke sofa dan duduk tepat di sebelah Dev.


Setelah itu, Dev pun langsung mematikan notebooknya, dan saat melihat tubuh Dev dari dekat seperti itu, membuat Irene merasa sesuatu, apalagi mencium aroma tubuh Dev, membuat Irene semakin merasa sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Tidak hanya itu, kali ini Irene bisa melihat wajah Dev dari dekat tanpa rasa emosi, jadi membuat ia seperti memiliki rasa kagum, namun sangat mustahil untuk diakui.


"Irene, sebelumnya aku juga mau minta maaf. Aku membuat keputusan yang benar-benar merugikan kamu. Tapi kamu gak usah takut, aku gak akan pernah merenggut masa muda kamu, apalagi cita-cita kamu. Setelah papa dan mama, aku juga orang yang akan mendukung kamu, apapun yang akan kamu lakukan jika untuk kebaikan. Aku juga minta maaf, sejak kita menikah, aku membuat kamu kesal, marah atau tersinggung. Namun aku benar-benar gak bermaksud mau melakukannya, kamu sudah tau aku bagaimana, aku paling gak suka berdebat dengan wanita. Namun kali ini, aku mau minta satu hal, bagaimana pun orang-orang sudah tau kamu istriku, aku minta tolong, sekali ini saja, tolong bersikap selayaknya bagaimana istriku," ucap Dev. Membuat Irene langsung melotot dan memasang ekspresi wajah kebingungan.


"Sebelumnya aku minta maaf, aku bersikap seperti ini bukan karena mengharapkan pembalasan. Lusa, semua rekan-rekan bisnisku aku mengadakan party di sini, mereka ingin bertemu kamu, dan mereka ingin merayakan pernikahan kita. Aku mohon, kamu sudi untuk bergabung," jawab Dev.


Irene pun langsung beranjak, "Oh, jadi tujuan kakak ini, kakak bersikap baik hanya untuk ini. Jika aku melakukannya, sama saja aku melakukan hal bodoh, aku memperkenalkan diri sebagai istri kakak, mau ditaruh di mana mukaku. Ingat kak, pernikahan ini hanya sementara, dan aku gak akan pernah mau, aku mau bersembunyi sebagai istri kakak, bukan malah mau pamer," tolak Irene mentah-mentah.


Dari awal Dev sudah mengira akan seperti ini, ia tahu Irene akan menolak. Namun niatnya untuk berbaikan dengan Irene memang tulus. Dan ia juga tidak pernah berniat mau mengambil hati Irene apalagi mencintainya.


"Kamu gak usah marah, aku gak maksa. It's Ok kalau kamu gak mau. Kan aku sudah bilang, aku ingin mengakhiri perdebatan yang terjadi diantara kita. Kamu gak usah pikirkan. Aku bisa mengerti dan menerima keputusan kamu," ucap Dev lagi. Setelah itu ia pun langsung mengambil notebooknya dan kembali mengerjakan pekerjaannya. Sementara Irene langsung menuju tempat tidur.

__ADS_1


Keadaan kamar itu benar-benar terasa canggung, Irene kembali merasa kesal, ia mengira Dev tulus, rupanya hanya untuk mengharapkan pembalasan. Sementara Dev juga merasa menyesal, tidak seharusnya ia mengatakan itu kepada Irene, karena jelas-jelas ia sudah tahu Irene tidak akan pernah mau.


Sejak melihat Irene meringis kesakitan, membuat Dev merasa tidak tega, jika harus memeranginya. Dev merasa ia harus berterimakasih, sebab Irene sudah sudi membantunya dengan menikah dengannya. Apalagi Irene juga sudah mengorbankan statusnya, sehingga membuat Dev mengurungkan semua niat jahatnya.


Keesokan paginya, Irene sudah tidak melihat keberadaan Dev. Seperti biasa, bantal dan selimut sudah tersusun rapi di sofa. Dan saat Irene beranjak, matanya pun langsung tertuju kepada selembar kertas yang Dev letakkan di atas nakas.


'Irene, sorry untuk ucapanku tadi malam. Aku tau nanti kamu mungkin akan terganggu, atau merasa risih. Sebagai permintaan maafku, aku sudah siapkan paket liburan untuk kamu. Jadi kamu bisa pergi, agar kamu bisa menghindarinya, kamu bebas ajak teman-teman kamu. Have fun'


Tulis Dev, Irene pun kembali meletakkan surat itu, dan langsung siap-siap untuk berangkat sekolah.


Di dalam kelas, Irene terus memikirkan ucapan Dev. Entah kenapa ia memikirkan itu semua, bahkan ia juga merasa bersalah, tidak seharusnya ia membenci Dev.


"Aku kenapa sih? Kenapa aku gelisah seperti ini? Dan kenapa aku harus merasa bersalah? Apa yang terjadi denganku?" batin Irene, sambil *******-***** rambutnya. Tini, Salsa dan Rara yang melihat sikap Irene pun langsung menghampiri, dan bertanya apa yang sudah terjadi.


"Kamu kenapa Ren? Dari tadi kita perhatikan kamu kayak mikir sesuatu? Kamu ada masalah? Masalah apa? Kak Alex?" tanya Tini beruntun.


"Bukan kak Alex, tapi kak Dev," jawab Irene. Tini dan Salsa pun saling tatap.


"Kenapa dengan pak Devan, apa dia menyakiti kamu?" sambung Salsa.

__ADS_1


"Bukan. Besok kak Dev melakukan party di rumah dengan rekan-rekan bisnisnya. Dan sebenarnya tujuan mereka itu mau melihat aku. Ya kali aku harus menunjukkan diri, aku udah nolak sih, dan kak Dev juga gak masalah, bahkan dia sudah siapin paket liburan, agar aku bisa menghindar, namun entah kenapa aku jadi merasa bersalah. Dan aku juga gak ngerti, kenapa aku harus merasa seperti ini, dan menurutku aku wajar menolaknya, sebab pernikahan ini hanya sementara dan memang harus ditutup-tutupi, jadi untuk apa aku harus menunjukkan diri," jelas Irene. Tini dan Salsa pun tersenyum, mereka seakan mengerti apa yang terjadi dengan sahabat mereka itu, namun Rara hanya diam, sambil fokus mendengarkan cerita Irene.


__ADS_2