
Iren dan teman-temannya pun tertidur dengan pulas, namun berbeda dengan Dev, ia sama sekali tidak bisa tidur, udara dingin tanpa selimut membuat ia menggigil kedinginan.
Dev pun kembali duduk, lalu meraih ponselnya yang sudah ia letakkan di atas meja. Ia langsung membuka kontak Tasya, dan mencoba untuk menghubunginya, namun sampai detik itu juga, nomor Tasya masih belum bisa untuk dihubungi. Dev sungguh sangat merasa kesal, namun rasa kesalnya masih terkalahkan dengan rasa rindunya terhadap Tasya.
"Tasya, di mana kamu? Kenapa kamu tega melakukan ini, aku sangat merindukan kamu," ucap Dev, sambil memandangi foto Tasya dari layar ponselnya. Tanpa di undang, air matanya berhasil mengalir di wajahnya, ia benar-benar sangat mencintai Tasya, dan mungkin sampai kapanpun tidak akan pernah melupakannya.
Keesokan paginya, suara Irene langsung membangunkan Dev yang tidak tidur dengan nyenyak. Saat ia membuka mata, Irene sudah berdiri tepat di hadapannya, sambil meyilangkan tangannya di dada.
"Kak Dev, aku dan teman-temanku mau sekolah, dan kami sangat lapar, di mana sarapannya?" tanya Irene.
Dev pun langsung bangun, sambil mengucek-ngucek matanya yang masih merasa ngantuk dan perih.
"Irene, kamu apa-apaan sih? Kamu gak lihat aku sedang tidur, tadi malam aku gak bisa tidur, dan sekarang masih pagi-pagi buta kamu sudah mengganggu seperti ini, kamu ngeselin tau gak," ketus Dev kesal.
"Aku tidak peduli, mau kakak tidur nyenyak, mau kakak gak tidur nyenyak, itu urusan kakak. Sekarang aku dan teman-temanku lapar, apa yang harus kami makan?" lanjut Irene, ia benar-benar ingin membalas perbuatan Dev, ia selalu mencari ribut, agar membuat Dev merasa tidak nyaman. Tini, Salsa dan Rara yang duduk di meja makan hanya bisa diam, mereka seolah tidak tega saat melihat Irene memperlakukan Dev seperti itu.
"Mau kamu lapar, mau kamu tidak lapar, aku juga tidak peduli. Aku bukan pembantu kamu, dan soal teman-teman kamu, itu urusan kamu, kamu yang membawa mereka ke sini, jadi mereka urusan kamu," sahut Dev, lalu pergi meninggalkan Irene menuju kamar. Tini, Salsa dan Rara pun menjadi kikuk, ada rasa takut, sungkan, dan juga segan yang langsung menjadi satu.
Irene sungguh merasa malu, ia mengira Dev akan menuruti kemauannya, nyatanya salah, Dev hanya tahluk dan nurut kepada wanita yang ia cintai saja.
Irene pun menghampiri teman-temannya, wajahnya benar-benar panas. Tini, Salsa dan Rara hanya bisa saling menatap, mereka bahkan tidak berani membuka suara.
__ADS_1
"Ayo berangkat, aku seperti tinggal di neraka yang berpenghuni, lama-lama aku bisa mati berdiri jika terus tinggal bersama kak Dev seperti ini," ucap Irene. Dengan cepat Tini, Salsa dan Rara pun langsung mengikuti langkah Irene.
Di dalam kamar, Dev sungguh sangat merasa kesal, ia tahu Irene sengaja mempermalukannya, awalnya ia sama sekali tidak berniat melakukan apa-apa terhadap Irene, namun lama-kelamaan sikap Irene semakin menjadi-jadi, sehingga membuat dirinya kesal dan berniat untuk membalasnya.
"Awas saja kamu Irene, aku akan balas perbuatan kamu, kamu pikir kamu bisa mempermalukan aku seperti ini, aku laki-laki, aku punya harga diri, kamu akan lihat, aku akan membuat kamu menangis, sampai kamu merasa tinggal di dalam neraka," cekam Dev.
Setelah bel sekolah berdering, Irene dan gengnya pun memasuki kelas, mereka selalu menjadi primadona di sekolah, banyak yang menyukai Irene, namun Irene hanya tertarik kepada Alex seorang.
Lalu, tiba-tiba kelas dihebohkan dengan teriakan para siswi, saat Irene melirik, ternyata Alex beserta gengnya datang ke sekolah. Semasa sekolah, Alex dan gengnya juga selalu menjadi idola, banyak wanita yang menyukai mereka, dan tidak memperdulikan Alex yang terkenal dengan sikap playboynya.
"Kak Alex," ketus Irene. Ia pun langsung berlari keluar, lalu disusul oleh Tini, Salsa dan Rara.
Alex berjalan bak seperti seorang pangeran, gaya dan penampilannya cukup menawan, tidak hanya itu, tampangnya juga pantas dijadikan untuk rebutan.
"Kak Alex, tunggu," panggil Rara. Alex dan dan keempat sahabatnya pun berhenti, lalu menoleh ke belakang. Irene yang melihat sikap Rara melotot, ia takut Rara melakukan sesuatu yang mencoreng wajahnya.
Rara pun berlari menghampiri Alex, Tini dan Salsa juga ikut merasa panik, mereka ingin menahan Rara, namun langkah Rara lebih cepat dari tangan mereka.
"Apa yang ingin Rara lakukan?" tanya Irene panik.
"Gak tau Ren, kita lihat saja apa yang dia lakukan," jawab Tini.
__ADS_1
"Hai kak Alex, perkenalkan aku Rara, dan di sana ada teman-temanku Irene, Tini dan Salsa," ucap Rara. Alex pun langsung melirik, namun tatapannya langsung tertuju kepada Irene, kecantikan Irene seakan mampu menarik perhatiannya.
"Kenapa aku baru melihatnya?" tanya Alex dengan teman-temannya.
"Gak tau, mungkin dulu dia anak baru," sahut Kevin.
"Iya Rara, kenapa?" tanya Alex.
"Temanku Irene sangat menyukai kakak, dia sudah lama suka dengan kakak, dia mau kakak menjadi pacarnya," ucap Rara, mendengar itu membuat Irene, Tini dan Salsa terkejut dan nyaris jantungan. Irene pun langsung menghampiri Rara, lalu menarik lengannya. Dan saat mereka hendak pergi, dengan cepat Alex langsung meraih lengan Irene, hingga membuat jantung Irene semakin berdetak dengan kencang hingga nyaris lepas.
"Irene, tunggu," ucap Alex.
Seketika Irene tertegun, namun tidak berani untuk membalikkan badan.
Alex pun langsung berjalan ke depan Irene, ia memandang Irene dan ujung kaki sampai rambut, ia seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Apa benar nama kamu Irene?" tanya Alex memastikan. Irene pun mengangguk, namun tidak berani untuk memandang wajah Alex.
"Cantik, nama dan wajah kamu cantik, aku menyukainya. Dan kamu memang pantas memilikinya," puji Alex, mendengar itu membuat Irene semakin merasa melayang. Tini dan Salsa yang mendengar itu merasa jijik, karena mereka tahu Alex bukan laki-laki yang baik.
"Terimakasih, kak," sahut Irene. Ia seolah mati kutu, dengan sikapnya seperti itu, Alex semakin merasa yakin, bahwa Irene benar-benar menyukainya.
__ADS_1
"Kamu tidak usah malu seperti itu, aku tidak menganggap serius apa yang Rara ucapkan, namun jika kamu berkenan, aku menunggu kamu di kampus, mungkin dulu aku melakukan kesalahan, aku tidak mengenal kamu, namun nanti, jika kamu sudah lulus dan kuliah di tempat yang sama denganku, aku tidak akan pernah memalingkan pandanganku dari wajahmu," kata Alex lagi. Hati Irene pun menjerit, ia ingin teriak, namun ia berusaha untuk tetap calm menjaga imagenya.