
Setelah selesai kerja, Dev hanya duduk di kursi kerjanya, ia menatap komputer yang masih menyala, ia tidak tahu harus melakukan apa, ia juga tidak tahu harus pulang ke mana.
Melihat lampu ruangan Dev yang masih menyala, Fahri pun datang menghampiri, tanpa mengetuk pintu, ia langsung menerobos masuk.
"Dev, Lo belum pulang?" tanya Fahri. Dev pun memperhatikan jam tangannya dan melihat jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 21:00.
"Bentar lagi gue pulang, Lo pulang duluan saja," ujar Dev. Fahri pun semakin mendekat, ia meletakkan tas kerjanya di atas meja Dev.
"Gue ngerti perasaan Lo sekarang, tapi dengan mengurung diri di sini juga tidak ada gunanya. Lebih baik sekarang Lo pulang, sekarang ada istri Lo yang sudah menunggu," ucap Fahri, padahal Irene sama sekali tidak mengingat Dev, ia sibuk dengan gadgetnya. Irene bahkan berharap Dev tidak pernah pulang ke rumahnya.
"Entahlah, gue merasa Irene bukan istri gue, gue juga tidak tahu mau pulang ke mana, ke rumah nyokap, atau ke rumah Irene," sahut Dev.
"Jadi bagaimana rumah yang sebelumnya sudah Lo beli? Apa Lo tidak tinggal di sana?" tanya Fahri lagi, sebulan sebelum pernikahan, Dev dan Tasya sudah membeli sebuah rumah yang cukup mewah untuk mereka tinggali setelah menikah.
"Gue tidak menikah dengan Tasya, untuk apa gue tinggal di rumah itu," jawab Dev, Fahri pun mendengus, bisa-bisanya Dev memiliki pemikiran sempit seperti itu.
"Berhenti nyangkutin semua masalah dengan Tasya, walaupun Lo tidak menikah dengannya, Lo bisa tinggal di sana dengan Irene, jangan kekanakan Dev, umur Lo udah gak muda lagi," kata Fahri kesal. Dev pun mulai berfikir, seketika ia merasa setuju. Jika Irene belum mau tinggal dengannya, ia bisa tinggal di sana sendiri, dan ia juga bisa pulang ke sana, tanpa harus bingung memikirkan pulang ke rumah orangtuanya atau ke rumah Irene.
"Benar, tumben Lo bijak seperti ini. Berhubung lagi bahas rumah, besok gue tugasin Lo beli perlengkapan rumah, isi rumah itu dengan perabotan-perabotan yang menurut Lo akan gue gunakan," ucap Dev, Fahri hanya bisa mengangkat alisnya, ia sudah bisa menebak, ujung-ujungnya akan seperti ini, setiap ia memberikan sebuah saran, maka ia akan langsung mendapat pekerjaan tambahan.
"Demi Lo gue lakuin semua, kalau bukan sahabat gue, udah gue tikam Lo," umpat Fahri.
__ADS_1
"Ya sudah, sekarang Lo boleh pergi, gue mau sendiri, enneg gue lihat Lo lama-lama," ucap Dev lagi, padahal sebenarnya ia merasa terhibur saat ada Fahri, namun ia juga mengerti, Fahri baru pulang dari luar kota, mewakili dirinya untuk meeting dengan beberapa klien di sana. Jadi ia tahu, Fahri sebenarnya lelah, dan butuh istirahat. Setelah itu Fahri pun pamit pulang, walau sebenarnya ia ingin menemani Dev, namun ia juga tidak ingin mengganggu Dev.
Tidak lama setelah Fahri pulang, Dev pun berniat untuk pulang. Ia mematikan komputernya, lalu memeriksa ponselnya, saat melihat sebuah pesan dari papa Bram, Dev pun langsung bergegas untuk membukanya.
'Dev, maaf sudah mengganggu. Papa hanya ingin mengatakan, Irene berencana untuk mogok sekolah, katanya dia malu karena teman-teman sekolahnya sudah mengatahui pernikahannya. Papa mohon lakukan sesuatu, setidaknya Irene bisa sekolah sampai lulus, agar dia bisa kuliah," tulis papa Bram dalam pesannya. Dev pun langsung mengerutkan keningnya, setelah itu ia langsung bergegas pulang ke rumah Irene.
Sepanjang jalan Dev terus memandangi foto Tasya dari ponselnya, ia benar-benar sangat merindukan Tasya, apalagi ia harus pulang ke rumah papa Bram dan mama Ratna, semakin membuat kerinduan itu bergejolak di dadanya.
Dev pun membuka kontak Tasya, lalu mencoba untuk menghubunginya, namun lagi-lagi nomornya tidak bisa dihubungi, hal itu membuat Dev kesal hingga ia membanting setirnya.
Menghabiskan waktu 1 jam, Dev pun tiba di rumah Irene, ia langsung mematikan mesin, namun tidak bergegas turun. Entah kenapa kakinya terasa berat, perasaanya tidak nyaman, ia seolah seperti orang asing, padahal ia sudah menjadi menantu di sana.
Papa Bram dan mama Ratna yang sudah mendengar suara mobil Dev hanya bisa menunggu di dalam, mereka sengaja menunggu Dev, sebab mereka yakin Dev akan pulang ke sana. Mereka juga mengerti perasaan Dev, Dev juga sebenarnya tidak menginginkan pernikahan ini terjadi, seharusnya Dev melupakan semua masalah ini, tapi justru semakin mengikat dan mengingatkannya dengan Tasya dengan menikahi Irene.
Setelah mengumpulkan niat, Dev pun akhirnya keluar dari mobil, lalu bergegas masuk ke rumah.
Saat berada di depan pintu rumah, seketika tangan Dev terasa gemetar, ia juga tidak mengerti, kenapa ia seperti itu. Padahal dia bukan orang lain, namun rasanya sangat berbeda, ketika ia memasuki rumah itu sebagai suami Irene, dan ketika ia memasuki rumah itu saat berpacaran dengan Tasya. Setelah berperang dengan hati dan pikirannya, Dev pun akhirnya memberanikan diri untuk menarik gagang pintu. Mendengar suara pintu terbuka, papa Bram dan mama Ratna pun langsung pura-pura sibuk, mereka tidak ingin Dev tahu, bahwa mereka sedang menunggunya.
Melihat keberadaan papa dan mama mertuanya membuat Dev terkejut, sekarang nyali Dev seakan sirna, untuk bertemu papa dan mama mertuanya saja ia sangat merasa sungkan, padahal kemarin hubungan mereka terlihat sangat dekat.
Dev pun berjalan menghampiri, "Selamat malam pa, selamat malam ma," sapanya, pertama kali ia memanggil papa Bram dan mama Ratna dengan panggilan papa dan mama. Namun tetap saja rasanya berbeda, mungkin jika Tasya yang menikah dengannya akan terasa indah, tidak ada perasaan sungkan seperti ini.
__ADS_1
"Selamat malam Dev, kamu sudah pulang? Apa kamu sudah makan?" tanya mama Ratna. Padahal jam dinding sudah menunjukkan pukul 00:00, namun papa Bram dan mama Ratna sama sekali tidak bertanya, kenapa Dev pulang selarut itu.
"Sudah ma, tadi Dev sudah makan malam dengan teman-teman kerja," jawab Dev berbohong, padahal ia hanya sarapan tadi pagi, itupun karena dipaksa oleh papa Bram.
"Syukurlah, kamu boleh ke kamar Irene. Kamu pasti capek, kamu boleh istrahat di sana," sambung mama Ratna. Dan Dev pun mengangguk.
"Kalau begitu Dev pamit dulu Pa, Ma. Papa dan Mama juga istrahat, ini sudah larut malam," ucap Dev.
"Iya Dev," jawab mama Ratna, Dev pun hendak melangkahkan kakinya, namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat papa Bram memanggil namanya.
"Dev, tunggu," panggil papa Bram. Dev pun langsung menoleh, "Iya Pa," jawabnya.
"Apa kamu sudah membaca pesan papa?" tanya papa Bram lagi.
"Sudah pa. Papa dan mama tidak usah kwatir, besok Dev akan urus semuanya," jawab Dev, membuat papa Bram merasa lega.
"Terimakasih Dev," ucap papa Bram.
"Sama-sama pa," jawab Dev, setelah itu ia pun langsung menuju kamar Irene. Selepas kepergian Dev, mama Ratna pun langsung bertanya, apa yang sudah suaminya itu lakukan dengan menantu mereka. Mama Ratna sama sekali tidak tahu, kalau papa Bram mengirimi Dev pesan tentang mogok sekolah yang Irene lontarkan.
"Pa, apa yang papa maksud dengan Dev?" tanya mama Ratna.
__ADS_1
"Ini soal sekolah Irene ma, papa hanya minta tolong agar Dev menyelesaikan itu semua, bagaimanapun keluarga Dev pemilik sekolah itu, jadi jika Dev yang bicara, seluruh sekolah pasti akan terbungkam," jawab papa Bram, membuat mama Ratna langsung merasa lega.