Dinikahi Pacar Kakakku

Dinikahi Pacar Kakakku
Fahri Ingin Merebut Irene


__ADS_3

Dua hari kemudian, Dev dan Irene pun akhirnya pindah. Irene sengaja mengajak Tini, Salsa dan Rara, bahkan mengundang mereka untuk menginap. Irene sengaja melakukannya, karena ia tahu, Dev sama sekali tidak suka dengan kebisingan. Semua rencana sepertinya sudah Irene susun dengan baik, ia hanya menunggu waktu lalu memainkannya dengan Dev.


Bukan hanya teman-teman Irene, Fahri juga sudah berada di sana. Ia ingin melihat Irene, dan mencari alasan, kenapa Dev tidak menyukainya. Namun saat melihat Irene, membuat Fahri merasa pangling, Irene benar-benar terlihat sangat cantik dan seksi. Ia bahkan langsung menyukai Irene pada pandang pertama.


"Dev, apa dia Irene?" tanya Fahri yang merasa kagum.


"Hem, kenapa?" tanya Dev, yang sibuk menyusun barang-barangnya, serta memajang foto-fotonya dengan Tasya.


"Irene benar-benar cantik, bagaimana bisa lo gak menyukainya?" sambung Fahri, sambil memperhatikan Irene yang sibuk dengan Tini, Salsa dan Rara.


"Di hati gue hanya ada Tasya, mau Irene secantik apapun, kalau gue gak suka, ya gak bakalan suka," sahut Dev, sambil memandangi foto Tasya.


"Jika Irene buat gue aja gimana?" tanya Fahri ceplos, Dev pun langsung meletakkan foto Tasya, lalu menatap Fahri. Namun saat melihat tatapan Fahri kepada Irene, membuat Dev geleng-geleng, ia pun langsung menendang bokong Fahri sehingga membuat Fahri meringis kesakitan.


"Aw. Lo apa-apaan sih Dev?" tanya Fahri kesal, sambil mengelus-elus bokongnya.


"Lo yang apa-apaan, jaga mata lo, jangan menatap Irene dengan tatapan menjijikkan seperti itu," ucap Dev. Mengetahui kesalahannya, Fahri pun nyengir, lalu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak terasa gatal.


"Gua gak bermaksud seperti itu, gue hanya kagum. Sejak kapan gue pernah merendahkan wanita. Dev, gue serius, lo gak ada niatan jatuh cinta pada Irene, kan? Dan pernikahan lo ini sementara saja, kan?" tanya Fahri serius. Ia merasa sudah menyukai Irene, ia bahkan berencana mendekati Irene, jika Irene sudah bercerai dari Dev.


"Kenapa? Apa lo mau ambil istri sahabat lo sendiri?" sindir Dev.


Fahri pun langsung mendekati Dev, ia takut Dev salah paham dengan maksudnya.


"Bukan, maksud gue bukan seperti itu. lo sendiri yang bilang, kalau lo gak menyukai Irene, dan pernikahan lo ini sampai Tasya kembali, jadi maksud gue, jika suatu saat hubungan lo dan Irene berakhir, gue bisa kan dekatin dia," jawab Fahri menjelaskan, namun belum sempat Dev menjawab, tiba-tiba Irene pun menjerit, "Kak Dev," jeritnya.


Dev dan Fahri pun saling menatap, lalu menyusul Irene ke kamar sebelah.


"Irene, kamu kenapa? Kenapa kamu menjerit?" tanya Dev.


"Kakak apa-apaan sih, maksud kakak apa? Aku tidur di lantai? Di mana tempat tidurku?" tanya Irene. Dev pun memperhatikan kamar Irene yang kosong, lalu menatap Fahri dengan tajam.


"Fahri, apa maksudnya ini? Kenapa tempat tidur Irene gak ada?" tanyanya.

__ADS_1


"Mana gue tau lo dan Irene akan tidur di kamar yang berbeda, gue cuma punya waktu sehari, dan lo gak ngasih tahu gue apa-apa. Gue udah ngelakuin apa yang lo suruh, gue beli satu tempat tidur untuk lo dan Irene tiduri," jawab Fahri ngeles, padahal ia tahu hubungan Irene dan Dev, namun ia sengaja membeli satu tempat tidur, agar Dev dan Irene bisa tidur bersama, dan melakukan hubungan suami-isteri pada umumnya. Namun setelah melihat Irene, ia seakan menyesali perbuatannya.


Mendengar itu Dev pun mengerutkan keningnya, ia benar-benar merasa malu. Apalagi saat melihat reaksi teman-teman Irene yang seolah sudah mengetahui semuanya.


"Lo ikut gue, kita akan beli tempat tidur sekarang," ajak Dev.


"Yang benar aja lo Dev, sekarang sudah malam. Apa salahnya malam ini kalian tidur bareng, gak seharusnya suami-istri tidur pisah," tolak Fahri. Tini dan Salsa pun cengar-cengir, mereka seolah setuju dengan Fahri.


"Gak boleh, Irene dan pak Devan gak boleh tidur bareng, Irene masih sekolah, nanti kalau Irene hamil gimana?" sambung Rara dengan polos, mendengar itu membuat Fahri tertawa, hingga terbahak-bahak.


"Hahahaha kamu bisa saja. Siapa nama kamu?" tanya Fahri.


"Rara," sahut Rara.


"Rara, kamu tenang saja, pak Devan tidak akan membuat Irene hamil. Kalaupun Iren hamil, kan seru, kalian jadi punya teman baru," ucap Fahri lagi. Seketika Rara pun tersenyum, ia langsung membayangkan Irene memiliki bayi yang lucu dan menggemaskan.


"Wah, benar. Sepertinya lucu jika kamu punya anak Ren, bagaimana jika malam ini kamu dan pak Devan tidur bareng. Aku, Tini dan Salsa akan pulang, lagian di sini gak ada tempat tidurnya, kami mau tidur di mana," sambung Rara, membuat Irene, Tini dan Salsa menghela nafas, diantara mereka berempat hanya Rara yang selalu lola.


"Gak, gak. Kakak harus menemani Kak Dev pergi. Beli yang berukuran besar, teman-temanku akan nginap di sini malam ini," perintah Irene.


"Tapi kak," rengek Irene.


"Sudah, sudah. Malam ini kamu dan teman-temanmu tidur di kamarku saja, jangan membuat kebisingan, aku lelah dan butuh waktu untuk istirahat," ucap Dev menengahi. Irene pun tersenyum, lalu mengajak teman-temannya ke kamar yang akan Dev tempati.


Setelah itu, Dev pun langsung turun ke ruang tamu, ia sama sekali tidak ada pilihan, selain tidur di sofa. Melihat penderitaan Dev membuat Fahri tersenyum, ia sangat suka melihat Dev terpojokkan seperti ini. Kehadiran Irene membuat Fahri semakin senang, karena hanya Irene lah yang bisa mengalahkan Dev, yang mampu membuat Dev marah, namun tidak bisa melakukan apa-apa.


"Pak Devan," panggil Fahri menggoda, ia sebenarnya sangat merasa geli saat mendengar Rara memanggil Dev dengan panggilan seperti itu.


"Apalagi, apa lo juga mau tidur bareng mereka?" tanya Dev. Ia bahkan tidak fokus dengan panggilan Fahri, rencana Irene seakan berhasil, untuk membuat Dev marah dengan sikapnya dan juga teman-temannya.


"Ya gak, gue mau nanya pertanyaan gue barusan, jadi bagaimana pendapat lo?" tanya Fahri lagi.


"Ambil saja, sampai kapanpun gue gak bakalan pernah jatuh cinta pada Irene," tegas Dev. Dev bisa merasakan niat Irene, Irene seolah sengaja ingin mempermalukan dirinya di depan teman-temannya.

__ADS_1


"Lo serius kan?" tanya Fahri lagi, sehingga membuat Dev merasa kesal.


"Kalau lo masih banyak tanya, mulai besok gue akan turunin gaji lo," ancam Dev.


"Jangan dong, kan gue hanya bertanya, biar nanti kita gak ada salah paham," sahut Fahri beralasan.


"Terserah lo. Tapi selagi Irene berstatus istri gue, jangan pernah lo coba-coba untuk mengganggunya, kalau gak, bisa kelar hidup lo," sambung Dev. Fahri hanya bisa memanyunkan bibir, ia sepertinya tidak bisa mempercayai ucapan Dev. Fahri bahkan bisa bertaruh, suatu saat Dev akan menjilat air liurnya sendiri.


Tidak ingin ikut menderita, Fahri pun akhirnya pamit pulang, walaupun Dev sudah menahannya, namun ia yang terbiasa tidur di kasur empuk dan lebar, tidak akan bisa tidur di sofa kecil seperti yang Dev tempati sekarang. Dev yang tidak ingin ribet pun membiarkan Fahri pergi, lalu membaringkan tubuhnya di sofa.


Irene, Tini, Salsa dan Rara yang sedang berada di kamar Dev, asik bercerita sambil memakai masker kecantikan bersama-sama. Mereka seperti wanita pada umumnya, saling curhat dan juga menggibah.


"Ren, kita gak apa-apa kan tidur di sini. Terus terang aku gak enak sama pak Devan. Kalian baru pindah, tapi kami sudah ikut mengacau," ucap Tini.


"Kalian gak usah takut, lagian siapa yang mau peduli dengannya. Di sini aku urus hidupku sendiri, begitu juga dengan dia. Walaupun statusku sudah menjadi istri, tapi sampai kapanpun aku masih single, aku bebas mau dekat dan pacaran dengan siapapun," jawab Irene.


"Jadi bagaimana dengan kak Alex Ren, apa kamu masih menyukainya?" tanya Salsa. Alex adalah laki-laki yang disukai Irene, ia menyukai Alex sejak 1 SMA. Namun Alex yang sekarang sudah duduk di bangku kuliah, membuat Irene tidak memiliki peluang untuk mendekatinya. Irene hanya bisa memantau sosial media Alex, dan mengetahui sedikit banyak tentang informasi Alex dari sana.


"Sampai sekarang aku masih menyukai kak Alex, aku berharap bisa kencan dengannya, walaupun aku gak bisa jadi pacarnya," sahut Irene.


"Tapi dia playboy Ren, nanti kalau kamu dimainin gimana," ucap Rara. Selain tampan, Alex juga terkenal playboy, yang suka memainkan perasaan wanita.


"Iya Ren, lebih baik cari laki-laki lain, kami gak mau kamu menjadi korban kak Alex yang ke sekian kalinya," sambung Tini. Namun Irene tetap pada pendiriannya, sekali ia menyukai seseorang, maka ia akan terus memperjuangkannya, ia tidak akan pernah puas jika belum bisa mendapatkannya. Ia adalah tepikal wanita yang lebih suka mengejar daripada dikejar.


"Aku akan buat kak Alex mencintaiku, sampai dia berhenti mencari wanita lain. Setelah lulus, aku akan kuliah di kampus yang sama dengan kak Alex, agar aku bisa dekat dengannya," sahut Irene.


"Terus bagaimana dengan pak Devan Ren?" tanya Rara.


"Nanti kalau kak Tasya kembali, kami akan bercerai," jawab Irene.


"Sepertinya pak Devan memang sangat mencintai kakak kamu, dinding kamar ini hampir dipenuhi dengan foto mereka," sambung Tini. Irene pun memperhatikan dinding dan meja kamar Dev, ternyata benar, secepat itu Dev memajang fotonya dan Tasya di sana.


"Iya, benar. Tapi foto pernikahan kamu di mana Ren? Kok aku gak melihatnya," sambung Salsa.

__ADS_1


"Entahlah, aku aja gak tau fotonya ada apa gak. Sepertinya memang gak ada. Biar sajalah, lebih bagus gak ada, aku gak mau melihat foto pernikahanku dengan laki-laki yang gak aku cintai, rasanya lebih menggelikan," sahut Irene. Tini, Salsa dan Rara hanya bisa mengangguk, bagaimanapun mereka sangat mengenal Irene. Mereka tahu jika Irene mengatakan tidak berarti memang tidak, Irene tidak pernah neko-neko, jika ia suka maka ia katakan suka, begitu juga dengan sebaliknya. Setelah cerita panjang lebar, sampai masker mereka kering dan retak, mereka pun akhirnya membersihkannya, lalu memutuskan untuk istirahat.


__ADS_2