
Diiringi dengan tangisan, Irene pun berlari keluar, pak Harto dan bik Yani hanya bisa diam, sambil menyaksikan Dev dan Irene yang saling kejar-kejaran.
"Irene, tunggu. Aku tidak bermaksud seperti itu," ucap Dev, namun Irene sama sekali tidak peduli, ia terus berlari hingga keluar rumah.
Tidak ingin menambah masalah, Dev pun semakin mempercepat langkah, ia langsung menyusul Irene dan berhasil menarik lengan Irene yang hampir berhasil keluar pagar.
"Irene, tunggu dulu, aku bisa jelaskan. Aku tidak bermaksud seperti apa yang kamu pikirkan," jelas Dev, sambil menahan lengan Irene, namun dengan cepat Irene langsung menghempaskanya.
"Kenapa kakak tidak menepati janji kakak. Aku tidak mau hubungan seperti ini kak, aku masih ingin bebas, aku masih ingin pacaran, dan aku tidak ingin kakak memperlakukan aku seperti istri kakak. Aku sudah anggap kakak seperti kakak iparku sendiri, jadi tolong, jangan pernah ikut campur dengan urusanku, aku mohon!" pinta Irene dengan tangis.
"Ok, fine. Tapi sekarang kita masuk ya. Ini sudah malam, apa kata orang nanti melihat kamu menangis seperti ini, aku janji, aku akan memberikan kebebasan untuk kamu, aku tidak akan pernah ikut campur urusan kamu, aku akan membiarkan kamu melakukan apapun, termasuk pacaran dengan siapapun, aku tidak akan pernah ikut campur," ucap Dev.
"Janji," ucap Irene, sambi memasang jari kelingkingnya.
"Aku janji," sahut Dev.
Setelah itu, Dev pun membawa Irene masuk, tidak pernah terbesit dalam hati mereka untuk menjadi musuh setelah menikah. Namun saat mereka berjalan melewati tangga, Irene kembali teringat dengan barang-barangnya yang kini sudah berada di kamar Dev.
"Kak tunggu."
"Iya Irene, kenapa?"
"Kenapa kakak meminta bik Yani membawa semua barang-barangku ke kamar kakak?" tanya Irene, sehingga membuat Dev langsung merasa panik.
"Oh, itu. Aku lupa beli tempat tidur untuk kamu, jadi aku hanya ingin berbagi kamar dengan kamu. Aku janji, aku gak akan pernah nyentuh kamu, dan aku akan jaga jarak," ucap Dev, rencana yang ia susun kini hancur begitu saja, awalnya ia ingin mengerjai Irene, namun sekarang ia seperti senjata makan tuan.
Irene pun langsung mengerutkan keningnya, ia tahu Dev berbohong, namun bukan Irene namanya jika tidak melakukan pembalasan.
__ADS_1
"Oh begitu, kalau begitu malam ini aku akan tidur di ranjang, kakak bisa tidur di sofa," ucap Irene. Dev ingin berontak, namun ia tidak kuasa. Ia paling tidak bisa melihat wanita menangis, itu adalah senjata yang selama ini Tasya gunakan. Karena ia tahu, Dev paling tidak bisa melihatnya menangis.
"It's Ok. Aku gak masalah," sahut Dev pasrah, membuat Irene tersenyum puas.
"Rasain, emak enak. Siapa bilang mau ngerjain aku," batin Irene puas.
Setelah itu, Irene pun langsung menuju kamar Dev, ia langsung mengeluarkan handuk dan juga baju tidur. Ia berniat untuk bersih-bersih, sedangkan Dev langsung mengambil bantal lalu menuju sofa yang Irene perintahkan.
Setelah melihat Irene masuk ke kamar mandi, Dev pun langsung melampiaskan kekesalannya, ia menumbuk-numbuk bantal lalu menggigitnya.
"Kenapa aku yang harus tidur di sini," ucapnya kesal. Sementara Irene asik membersihkan diri, memakai rangkaian alat mandi serta perawatan tubuhnya.
Menghabiskan waktu 35 menit, Irene pun keluar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Sekilas ia melihat Dev yang sudah tertidur, lalu menaikkan bibir atasnya, ia seakan masih tidak terima, dengan tuduhan yang Dev lontarkan untuknya.
Setelah itu, Irene pun memakai skincare malamnya, dan mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Setelah semua selesai, ia pun langsung membaringkan tubuhnya ke kasur yang lembut dan empuk. Tidak menunggu lama, ia pun langsung terbawa ke alam mimpinya.
Selang beberapa jam, Dev pun terbangun dari tidurnya, ia mendengar suara rintihan seperti menahan sakit, dengan mata yang masih mengantuk, Dev pun bangkit, lalu melihat Irene yang kini sedang meringkuk menahan sakit. Dengan cepat, ia pun langsung menghampiri Irene.
"Aku senggugutan kak," jawab Irene sambil meremas perutnya yang terasa sakit. Dev pun semakin mendekat, lalu duduk di samping Irene.
"Bagaimana sakitnya? Apa sakit sekali? Apa kita perlu ke rumah sakit?" tanya Dev lagi.
"Gak perlu kak, aku sudah terbiasa begini, satu atau dua jam lagi mungkin baikan," jawab Irene. Namun Dev tetap merasa kwatir, seketika ia pun langsung teringat dengan pegawainya yang dulu juga pernah mengeluh karena senggugutan.
"Kamu tunggu sebentar, aku akan ambil air hangat," ucapnya. Setelah itu ia pun langsung keluar menuju dapur.
Mendengar suara kebisingan di dapur, membuat bik Yani terbangun, ia pun langsung menuju dapur dan melihat Dev yang kini sibuk merebus air.
__ADS_1
"Tuan Dev, apa yang tuan lakukan? Kenapa tuan tidak memanggil saya?"
"Gak apa-apa bik, aku hanya butuh air hangat, tolong bibik cari botol yang tahan air panas," pinta Dev, dengan cepat bik Yani pun langsung mengambilnya.
"Ini tuan, apa yang akan tuan lakukan dengan botol ini?" tanya bik Yani lagi.
"Irene sedang senggugutan bik, setau aku air hangat dalam botol bisa meredakan sakitnya," jawab Dev.
Dev pun langsung mencampur air panas dan dingin, lalu memasukkan ke dalam botol. Setelah itu ia langsung membawanya ke kamar.
"Tuan Dev, jangan lupa kaki non Irene di kusuk juga, biar sakit sama ngilunya berkurang," ucap bik Yani.
"Iya bik," sahut Dev, dan langsung berlari ke kamar.
Setibanya di kamar, Dev pun melihat Irene berguling-guling di atas ranjang, hampir setiap bulan Irene selalu merasakan sakitnya senggugutan ketika mau datang bulan.
"Irene, kamu gak apa-apa?" tanya Dev lagi.
"Kakak udah lihat sendiri, tolong jangan banyak tanya, aku gak bisa menahan emosi kalau sedang begini," sahut Irene. Namun Dev sama sekali tidak tersinggung, sebelumnya ia juga sudah tau, wanita yang sedang datang bulan bawaannya pasti mudah marah dan selalu emosi.
"Maaf, aku hanya kwatir, sekarang letakkan ini di atas perut kamu, setau aku ini bisa sedikit membantu untuk meredakan sakitnya," ujar Dev. Irene pun langsung mengambil botol yang berisi air hangat itu dari Dev, lalu meletakkannya di atas perutnya.
"Aw, panas!" keluh Irene. Dev pun langsung menghampiri, lalu mengambil kembali botol itu.
"Jangan langsung di letakkan di atas perut, biarkan baju kamu jadi alasnya, biar gak panas," ucapnya. Irene hanya bisa diam, sambil membiarkan Dev meletakkan botol itu ke atas perutnya.
"Sekarang panjangkan kaki kamu, jangan ditekuk," ucap Dev lagi.
__ADS_1
"Apa yang mau kakak lakukan?" tanya Irene, ia takut Dev mengambil kesempatan dalam kesempitan, karena bagaimanapun dulu ia pernah memergoki Dev dan Tasya yang saling bercumbu manja secara diam-diam.
"Gak usah banyak tanya, dan gak usah mikir aneh-aneh," sahut Dev, dengan ragu-ragu, Irene pun langsung membentangkan kedua kakinya, kemudian Dev pun langsung melakukan saran bik Yani.