Dinikahi Pacar Kakakku

Dinikahi Pacar Kakakku
Mencari Keberadaan Dev


__ADS_3

Dengan hati-hati, Dev pun mulai memijat kaki Irene, Irene yang terkejut pun spontan menghempaskan tangan Dev, dan kembali menarik kakinya.


"Apa yang kakak lakukan?" tanyanya merasa tidak nyaman.


"Aku hanya mau mijit kaki kamu, kata bik Yani, kalau orang yang senggugutan jika kakinya di pijit, sakitnya akan berkurang. Aku tidak ada niat macam-macam," sahut Dev.


"Gak usah, aku udah biasa, jadi kakak tidur saja," tolak Irene, terus terang ia takut melihat Dev, ia takut Dev akan melakukan sesuatu yang tidak-tidak dengannya. Bukan hanya itu, ia bahkan merasa geli saat disentuh oleh Dev.


Tidak ingin berdebat, Dev pun langsung menuruti perintah Irene, ia juga tidak ingin melakukan sesuatu, jika Irene tidak suka, ia seakan sudah malas, jika harus ribut dengan Irene.


"Ya sudah. Tapi kalau kamu masih merasa sakit, kamu bisa panggil aku, gak usah segan-segan, sekarang ini hanya aku yang ada di sini, mau tidak mau, jika butuh bantuan gak usah gengsi," ucap Dev lagi.


Dev pun langsung beranjak, dan kembali ke sofa, ia langsung membaringkan tubuhnya, sambil menghadap ke langit-langit kamar mereka. Sekilas ia teringat dengan Tasya, lalu merindukannya. Hampir setiap hari rasa rindu itu seakan membunuhnya.


Irene yang masih menahan rasa sakit dan nyeri hanya bisa meringis. Entah kenapa kedua paha dan kakinya terasa pegal dan ngilu, namun berkat air hangat yang Dev berikan, sedikit mengurangi rasa sakit dan nyeri di perutnya.


Dev pun kembali memejamkan mata, namun tidak menunggu lama, ia kembali mendengar suara Irene meringis. Sambil menghela nafas, Dev pun kembali menghampiri Irene.


"Kenapa? Apa masih sakit?" tanya Dev lembut, ia seakan mengerti bagaimana sakitnya senggugutan itu. Tanpa menjawab, Irene hanya mengangguk, sedari tadi ia ingin minta tolong, namun ia merasa sungkan.


Dev pun langsung duduk di atas ranjang, ia meminta Irene untuk membentangkan kakinya, Irene yang benar-benar merasa sakit pun akhirnya mengalah, dan kali ini ia sama sekali tidak bisa berkutik.


Dengan hati-hati, Dev pun kembali memijat kaki Irene, dan hal yang tidak Irene duga, ternyata jika di pijat rasa nyeri dan ngilunya memang langsung berkurang.


"Bagaimana? Apa sakitnya berkurang?" tanya Dev, dan lagi-lagi Irene hanya mengangguk.


"Ya sudah, kamu tidur saja, aku akan memijat kaki kamu sampai kamu tertidur, apalagi besok kamu sekolah, aku tidak mau papa dan mama menyalahkan aku jika sekolah kamu terganggu," ucap Dev lagi.


Irene sama sekali tidak bisa berkata apa-apa, sekejap itu ia luluh akan pengertian Dev terhadap dirinya. Lama-lama makin lama, rasa sakit dan nyeri yang Irene rasa pun berkurang, hingga membuat ia tertidur. Hampir dua jam Dev memijat kaki Irene, dan setelah memastikan Irene sudah tertidur dengan nyenyak, Dev pun berhenti dan beranjak dari tempat tidur.


Di pagi hari, suara alarm pun langsung membangunkan Irene, dengan mata yang masih mengantuk, ia pun meraih jam weker lalu mematikannya, Dev memang sengaja menyetelnya, agar Irene tidak terlambat bangun tidur.


Irene pun langsung bergegas bangun, kemudian ia membentangkan kedua tangannya, sambil menguap, rasa sakit dan nyeri di perut, kaki dan pinggangnya benar-benar hilang.


Setelah itu, Irene pun langsung membidik sofa, lalu melihat bantal dan selimut yang Dev gunakan sudah tersusun rapi.


"Jam berapa ini? Kenapa kak Dev sepagi ini ke kantor, ya sudahlah, biarkan saja, ngapain aku harus memikirkannya," batin Irene. Setelah itu ia pun beranjak dari tempat tidur, lalu bergegas membersihkan diri.


Setelah selesai memakai seragam sekolah, Irene pun langsung turun menuju meja makan, di sana sudah ada bik Yani yang menunggu, dan entah kenapa, Irene berharap akan melihat Dev di sana.


"Selamat pagi non Irene," sapa bik Yani.


"Selamat pagi bik," sahut Irene, lalu duduk di kursi.


"Non Irene mau sarapan apa? Biar bibik siapkan," ucap bik Yani lagi.

__ADS_1


"Tolong buatin susu hangat aja bik, sekalian roti tawarnya," pinta Irene.


"Baik non," sahut bik Yani, lalu langsung menyiapkan permintaan Irene.


Diam-diam Irene pun membidik setiap rumah, entah kenapa ia sangat berharap bisa melihat Dev, ia ingin mengucapkan terimakasih, karena berkat Dev, ia terlepas dari sakitnya senggugutan dan bisa tidur dengan nyenyak.


Tidak menunggu lama, bik Yani pun datang membawakan susu hangat dan roti tawar.


"Ini non roti dan susunya," ucapnya.


"Terimakasih bik," ucap Irene, lalu meneguk susu dan mengigit roti tawarnya.


Setelah selesai sarapan, Irene pun langsung beranjak dari meja makan, rasa kecewa seakan menyerangnya, saat ia tidak melihat keberadaan Dev pagi itu juga. Ia ingin bertanya kepada bik Yani, namun lagi-lagi ia merasa sungkan, apalagi jelas-jelas ia meminta, untuk tidak menganggapnya seperti istri Dev.


Dan saat Irene melangkah, bik Yani pun kembali memanggilnya, "Non Irene, tunggu sebentar, bibik lupa. Tadi pagi tuan Dev menyerahkan ini untuk non Irene," ucap bik Yani, wajah Irene yang tadinya murung, kini langsung berubah. Dengan cepat Irene langsung mengambil pemberian Dev dari bik Yani.


Tidak ingin menunjukkan rasa penasarannya, Irene pun kembali memasang wajah datarnya, "Kalau begitu aku berangkat sekolah dulu ya bik, tolong jaga rumah," ucap Irene.


"Iya non, hati-hati ya. Non Irene yang semangat sekolahnya," sahut bik Yani, dan Irene pun tersenyum.


Irene pun langsung bergegas keluar, dan menemui pak Harto yang sudah menunggu di luar.


"Selamat pagi non Irene," sapa pak Harto, sambil membukakan pintu mobil untuk Irene.


"Selamat pagi pak," sahut Irene, lalu memasuki mobil. Pak Harto pun langsung masuk ke dalam mobil, lalu melajukan mobil.


'Mulai sekarang pakai kartu ini, aku tau kamu akan membutuhkannya, aku sama sekali tidak bermaksud apa-apa, hanya saja aku merasa wajib memberikannya. Nikmati hidupmu, gunakan uangnya sepuasnya, selama kamu masih berstatus sebagai istriku'


Tulis Dev dalam selembaran kertas, Irene pun tersipu malu, lalu menyimpan kartu ATM yang Dev berikan.


Setibanya di kantor, Dev pun kembali memandangi foto Tasya, ia bahkan sudah mencoba untuk menghubunginya, namun sampai sekarang, nomor Tasya sama sekali tidak bisa dihubungi.


"Dev, sebentar lagi meeting dengan klien dari Singapura akan dimulai. Ayo siap-siap, mereka sudah menunggu. Jangan pasang wajah kusam seperti ini, masih banyak yang harus kita selesaikan, jangan habiskan waktu untuk memikirkan sesuatu yang mempengaruhi kehidupan lo," ucap Fahri. Tanpa menjawab, Dev pun langsung bangkit, lalu mengambil jas dari gantungannya.


"Nah gitu dong, kalau penampilan lo seperti ini kan kerren," puji Fahri lagi. Namun Dev sama sekali tidak menggubris. Setelah itu mereka pun langsung menuju ruang meeting.


Di sekolah, Irene dan lainnya sudah memulai pelajaran, tiba-tiba Irene mendapatkan sebuah notifikasi dari nomor baru, Irene pun langsung membuka ponselnya dan melihat, "Hai Irene, ini aku Alex."


Deg, seketika jantung Irene kembali dag dig dug, bagaimana bisa ia melupakan rasa bahagia yang ia dapatkan dari Alex tadi malam.


"Astaga, kenapa aku tidak ingat kak Alex sama sekali," batin Irene. Setelah itu ia pun langsung membalas pesan Alex.


"Hai kak Alex."


"Apa aku menggangu?" tanya Alex lagi, jelas-jelas ia sangat mengganggu, ia menghubungi Irene saat masih jam belajar.

__ADS_1


"Gak ko kak, santai aja," balas Irene lagi.


"Pulang sekolah kamu ada acara gak?" tanya Alex basa-basi.


"Aku free, kenapa?"


"Mau jalan?"


Irene pun kembali cengar-cengir, bagaimana bisa ia menolak, jika tawaran itu berasal dari Alex.


"Boleh," balas Irene lagi.


"Ok, nanti aku jemput ya," ucap Alex lagi, dan di balas, "Ok," oleh Irene.


Setelah pulang sekolah, Irene pun langsung bergegas menemui Alex yang sudah menunggu di luar pagar sekolah. Tini, Salsa dan Rara sama sekali tidak bisa menghalanginya.


"Hati-hati Ren, jangan mau dikibuli sama kak Alex," teriak Tini.


"Love you guys, kalian tidak usah kwatir," sahut Irene sambil berlari.


Melihat keberadaan Alex, kembali membuat jantung Irene berdebar, entah kenapa ia sangat menyukai Alex.


"Hai," sapa Alex.


"Hai kak," sahut Irene. Alex pun langsung memberikan helm cadangannya, lalu memakaikannya, dan saat Irene hendak menaiki motor Alex, tiba-tiba bunyi klakson pak Harto pun langsung terdengar. Melihat Irene yang hendak pergi, dengan cepat pak Harto keluar menghampiri.


"Non Irene, tunggu," panggil pak Harto, melihat kedatangan pak Harto kembali membuat Irene merasa was-was.


"Non Irene mau ke mana?" tanya pak Harto lagi.


"Aku ada urusan, jadi bapak pulang sendiri saja," jawab Irene, sambil menyuruh Alex untuk berangkat. Alex pun langsung melajukan motornya meninggalkan pak Harto yang kebingungan.


"Aduh, bagaimana ini, non Irene sudah menikah, kenapa masih jalan dengan laki-laki lain? Apa yang akan saya katakan dengan pak Dev nanti," ucap pak Harto resai, dan benar saja, tidak menunggu lama, Dev pun menghubungi pak Harto, untuk menanyakan Irene.


"Mati aku, mati aku, apa yang akan aku katakan," ucap pak Harto panik. Dengan tangan yang gemetar, pak Harto pun menjawab telfon dari Dev.


"Halo tuan," ucap pak Harto gugup.


"Bapak dari mana saja, kenapa lama sekali angkat telfonya?" tanya Dev.


"Anu tuan, saya, aduh, bagaimana bilangnya," ujar pak Harto ketakutan.


"Kenapa? Irene tidak ada di sekolah?" tanya Dev menebak.


"Tadi saya masih sempat ketemu dengan non Irene tuan, namun dia sudah pergi, katanya ada urusan," jelas pak Harto.

__ADS_1


"Oh begitu, ya sudah biarkan saja, pak Harto pulang saja," ucap Dev. Pak Harto kembali merasa bingung, Dev bahkan tidak bertanya, ke mana dan dengan siapa istrinya pergi. Dengan perasaan bingung pak Harto pun langsung pulang.


__ADS_2