Dinikahi Pacar Kakakku

Dinikahi Pacar Kakakku
Semakin Merasa Dendam


__ADS_3

Setelah keluar dari ruangan kepala sekolah, Irene pun langsung menarik tangan Dev menuju parkiran, ia sangat merasa kesal, kenapa Dev berbohong dan harus meladeni ucapan kepala sekolah. Dev hanya bisa pasrah, ia tidak ingin membuat keributan, walaupun sebenarnya ia merasa malu ditarik secara paksa oleh Irene seperti itu.


Setibanya di parkiran, Irene pun langsung mengeluarkan uneg-unegnya, "Kakak apa-apaan sih, bisa-bisanya ngomong seperti itu, apa jangan-jangan kakak berniat mau melakukan yang tidak-tidak denganku. Kakak jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan, sampai kapanpun aku tidak akan mau," ketus Irene.


"Kamu kenapa? Bukannya terimakasih tapi marah-marah gak jelas seperti ini," sahut Dev santai.


"Kakak jangan pura-pura gak tahu, apa maksud kakak bilang pakai pengaman terbaik, amit-amit cabang bayi, sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau kakak sentuh, ingat perjanjian pernikahan kita, jangan pernah melangkah terlalu jauh, apalagi mengharapkan sesuatu yang membuat aku geli dan membencinya!" tegas Irene, sambil menatap Dev penuh dengan kebencian.


Dev pun pun tersenyum, lalu menggulung lengan bajunya, ia benar-benar tidak kuat menghadapi mulut Irene yang semakin keterlaluan.


"Sepertinya kamu terlalu mudah terbawa perasaan, bisa-bisa nanti kamu juga jatuh cinta denganku. Dengarkan baik-baik Irene, sampai kapanpun aku selalu mencintai Tasya, dan jika Tasya kembali, kamu sudah tahu apa yang harus kita lakukan. Aku juga mau menekankan sesuatu kepada kamu, jangan beranggapan aku tergoda dengan kamu, dan ingin menyentuh kamu, sedikitpun aku tidak mau, dan tidak akan pernah mau menyentuh kamu. Jadi mulai sekarang, setiap ucapan yang ingin keluar dari mulut kamu, tolong kamu saring terlebih dahulu, karena itu bisa jadi memalukan diri kamu sendiri. Dan ingat, aku melakukan ini bukan untuk kamu, jadi kamu jangan terlalu merasa tinggi dan percaya diri. Dan mulai sekarang urus diri kamu sendiri, dan lusa, kamu harus ikut tinggal denganku, kalau tidak, jangan paksa aku melakukan sesuatu yang bisa membuat kamu membenciku seumur hidupmu!" ancam Dev, Irene hanya melotot, ia ingin mencakar wajah Dev saat itu juga. Melihat ekspresi Irene yang sudah seperti singa kelaparan, Dev pun memutuskan untuk masuk ke mobil, ia tidak ingin perdebatan mereka semakin panjang, apalagi itu di sekolah.


"Minggir, jangan pernah menghalangi jalanku," ucap Dev, sehingga membuat Irene semakin kesal, namun entah kenapa kali ini Irene tidak bisa membalas dengan kata-kata, air matanya langsung mengalir begitu saja, Dev yang menyadari itu sama sekali tidak peduli, ia justru menghidupkan mesin lalu pergi.


Melihat kepergian Dev membuat Irene menjerit, "Dasar laki-laki brengsek, aku benci, aku sangat benci!" teriaknya. Tini, Salsa dan Rara yang kebetulan tadi mengikuti mereka, dan mendengarkan semua perkataan Irene dan Dev pun merasa iba, mereka langsung menghampiri Irene, lalu memeluk Irene dengan erat. Melihat kedatangan teman-temannya, membuat Irene semakin merasa sedih, ia pun langsung membalas pelukan teman-temannya itu, dan semakin melepaskan tangisnya.


Tidak mood melanjutkan pelajaran, mereka pun memutuskan untuk bolos. Mereka pun kini sudah berada di sebuah hotel, kebetulan hotel itu adalah milik keluarga Salsa. Irene dan teman-temannya sama-sama memiliki keluarga kaya, bahkan bukan hanya mereka, seluruh siswa yang sekolah di sekolah milik Dev memiliki perekonomian di atas rata-rata.

__ADS_1


Di kamar hotel Irene masih menangis, ia sangat menyesal menikah dengan Dev, jika ia tahu ujungnya akan seperti ini, maka lebih baik baginya menanggung malu, daripada harus menahan rasa sakit yang Dev torehkan.


"Irene, sudah dong, jangan nangis terus, bisa-bisa mata kamu nanti bengkak, entar cantiknya hilang lagi," ucap Rara, sambil mengelus-elus punggung Irene.


"Kenapa aku harus menghadapi ini, aku benci kak Tasya, aku benci kak Dev, aku membenci semua yang selalu mendukung kak Dev, aku juga punya perasaan, kenapa tidak ada yang peduli dengan perasaanku, aku sudah berkorban, tapi kenapa tidak ada yang peduli dengan pengorbananku," keluh Irene dengan tangis.


Tini pun mendekat, lalu meraih tangan Irene, "Irene, kita tidak tahu apa yang sudah terjadi dengan kamu, kalau kamu mau cerita, mungkin kita bisa bantu. Ingat Irene, kita ini sahabat, jadi apapun masalah kamu, kami pasti akan selalu membantu kamu," ucapnya.


Seketika Irene pun berhenti menangis, lalu menyeka air matanya, kemudian ia menatap ketiga sahabatnya itu, "Apa kalian sudah tahu kalau aku sudah menikah?" tanyanya, Tini, Salsa dan Rara pun saling menatap, lalu mengangguk bersama.


"Awalnya kami tidak percaya, tapi setelah dengar kamu dan suami kamu di parkiran, kami jadi yakin dan tahu, bahwa kamu tidak menginginkan pernikahan ini. Sebenarnya apa yang sudah terjadi Irene, kenapa tiba-tiba kamu menikah dengan orang yang tidak kamu cintai, tidak hanya itu, kamu juga masih sekolah, apa tidak bisa menunggu setelah lulus sekolah dulu?" tanya Salsa.


"Apa mereka juga dijodohkan?" sambung Tini.


"Tidak, mereka pacaran sudah lima tahun, namun demi menjadi model, kak Tasya lebih memilih lari dari pada menikah dengan kak Dev. Aku tahu kak Tasya sangat mencintai kak Dev, begitu juga dengan kak Dev, dia sangat tergila-gila dengan kak Tasya. Tapi kak Tasya benar-benar bodoh, padahal kak Dev memiliki segala-galanya, kalau hanya menjadi model, mungkin hal mudah untuk kak Dev mewujudkannya. Dan asal kalian tahu, kak Dev adalah pemilik sekolah ini," ujar Irene, sehingga membuat Tini, Salsa dan Rara terkejut.


"Kamu serius, Ren?" tanya Rara tidak percaya.

__ADS_1


"Beneran, untuk apa aku bohong, aku juga baru tahu tadi pagi. Mungkin itu penyebab dia bersikap seenaknya, dia pikir karena dia pemilik sekolah ini, aku harus melakukan apapun maunya, sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau tinggal dengannya," tegas Irene.


"Apa dia benar sejahat itu Ren? Tapi suami kamu benar-benar tampan, aku tidak munafik, jika aku di posisi kamu, maka aku tidak akan membiarkan suami tampan seperti itu lepas dari genggaman," goda Salsa.


"Kamu tidak tahu aja bagaimana dia sebenarnya, dia paling bisa cari muka. Yang dulunya aku selalu dimanja papa dan mama, namun sekarang mereka juga selalu berpihak kepada kak Dev, aku benar-benar sangat membencinya," ucap Irene lagi.


"Tapi menurutku, jika kamu ingin balas dendam, maka jalan satu-satunya adalah kamu tinggal dengannya. Kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau, tanpa harus dilihat dan diketahui orang tua kamu Ren," sambung Tini berpendapat.


"Benar Ren, walaupun suami kamu pemilik sekolah ini, kami tidak takut membela kamu, selama dia menyakiti kamu, maka kami akan siap maju," sambung Rara.


"Benar, kalau dia mengeluarkan kita, masih banyak sekolah yang lebih bagus di luar sana," sahut Tini.


"Aku juga setuju, walaupun dia tampan, kalau dia menyakiti dan membuat kamu menangis, aku akan menuntutnya, kalian tahu sendiri mamaku seorang pengacara terkenal, jadi kalau suami kamu macam-macam, kita bisa menjebloskan dia ke penjara, dengan kasus KDRT," sambung Salsa. Membuat Tini dan Rara tertawa.


Seketika pikiran Irene pun terbuka, ia setuju dengan ucapan teman-temannya, jika ia tinggal dengan Dev, maka ia bisa melakukan apa saja, ia bahkan bisa mengajak Tini, Salsa dan Rara menginap di sana, dan juga bebas keluar main ke mana saja, tanpa sepengetahuan papa dan mamanya.


"Kalian benar-benar sahabat yang paling terbaik, aku akan setuju tinggal dengannya, kita lihat saja, aku akan menunjukkan siapa Irene. Dia pikir dia siapa, berani-beraninya membuatku menangis," ucap Irene.

__ADS_1


"Nah gitu dong, ini baru Irene yang kita kenal," ucap Salsa. Setelah itu mereka pun saling berpelukan.


__ADS_2