
Setibanya di kamar Irene, Dev pun memergoki Irene yang masih asik dengan gagdetnya, sementara melihat kedatangan Dev, membuat Irene terkejut, ia mengira Dev tidak akan pulang ke rumah mereka.
"Kak Dev, kakak pulang? Dan kakak tidur di sini lagi?" tanya Irene dengan nada tidak suka.
"Hem," jawab Dev singkat, setelah itu Dev pun langsung meletakkan tas kerjanya, kemudian melonggarkan dasinya, lalu duduk di sofa.
Irene hanya bisa menatap Dev, Dev terlihat sangat lelah, sehingga membuatnya tidak tega untuk memeranginya.
"Kalau kamu mau tidur, tidur saja. Aku tidak akan mengganggu kamu, aku bisa tidur di sofa," ucap Dev, sambil menyandarkan tubuhnya di sofa dan juga memejamkan matanya.
"Aku belum ngantuk, seharian aku hanya tidur, kalau kakak mau tidur ya tidur saja, aku tidak memiliki tenaga untuk mengusir kakak dari sini, jadi aku akan membiarkan kakak tidur nyenyak, aku sedang berbaik hati, jadi berterimakasih 'lah," sahut Irene.
"Aku tidak akan pernah tidur nyenyak," ketus Dev, dan Irene hanya memanyunkan bibirnya, sebab Dev tidak melakukan perintahnya. Irene pun kembali memainkan ponselnya, dan tidak menunggu, matanya pun langsung tertuju kepada Dev yang sudah tertidur dengan nyenyak.
"Apa dia sudah tidur?" batin Irene.
"Biarkan sajalah, aku tidak mau mengurusi hidupnya," ucap Irene lagi, setelah itu ia pun langsung membaringkan tubuh, menarik selimut menyelimuti seluruh tubuhnya.
Semakin malam terasa semakin senyap, jarum jam sudah menunjukkan pukul 02:00 dini, namun Irene belum juga bisa tidur. Irene pun kembali duduk, lalu melihat Dev yang tidur dengan posisi duduk. Seketika Irene merasa tidak tega, ia pun bergerak dari tempat tidur, lalu membantu Dev untuk membenarkan posisi tidur.
Melihat Dev yang masih menggunakan jas, dasi, berserta setelan kerja lainnya membuat Irene berfikir panjang, ia yakin pasti tidak nyaman tidur dalam kondisi seperti itu. Irene pun memberanikan diri untuk melepas jas, dan juga dasi Dev, ia berusaha melakukannya dengan hati-hati, agar Dev tidak terbangun dari tidurnya. Setelah itu, Irene pun mengambil bantal dan selimut, lalu menaruhnya di sofa, kemudian ia membaringkan tubuh Dev, lalu menyelimutinya.
__ADS_1
Setelah semua beres, Irene pun hendak kembali ke ranjang, namun tiba-tiba Dev menarik lengannya, sambil mengigau memanggil nama Tasya.
"Tasya, jangan pergi, jangan tinggalkan aku di sini, aku mohon kembali, aku tidak ingin hidup seperti ini," ucap Dev. Mendengar itu Irene hanya mendengus, walaupun suara Dev sangat kecil, namun ucapan itu sangat jelas terdengar di telinganya.
Irene pun langsung melepaskan tangan Dev, "Tunggu saja, aku yakin kak Tasya akan pulang. Dia wanita bodoh, bagaimana bisa dia pergi saat hari pernikahannya," sahut Irene. Walaupun Dev kini sudah menjadi suaminya, ia sama sekali tidak merasa cemburu saat Dev mengigau nama Tasya.
Setelah merasa aman, Irene pun kembali ke ranjang, ia langsung membaringkan tubuhnya, lalu memaksa matanya untuk tidur. Tidak menunggu lama, Irene pun tertidur, namun tidak lama setelah itu, terdengar seseorang sedang memanggil namanya.
"Irene, bangun."
"Irene, bangun."
"Kak Dev, ada apa? Kenapa membangunkan ku, aku baru saja tidur," keluh Irene.
"Bangun, ini sudah jam 7, kamu harus sekolah," ucap Dev.
"Tidak, aku tidak mau sekolah, aku malu," sahut Irene, sambil menarik kembali selimutnya, dan menutupi seluruh tubuhnya.
Dev pun mendengus, ia benar-benar menghadapi seorang anak kecil, kepribadian Tasya jauh lebih dewasa daripada Irene. Namun Dev tidak membiarkan Irene kembali tidur, ia hanya ingin menepati janjinya kepada papa Bram, Dev pun menarik selimut Irene, lalu mengangkat Irene dan membawanya ke kamar mandi.
"Kak Dev, apa yang kakak lakukan? Turunku aku," jerit Irene, namun Dev sama sekali tidak peduli, ia terus mengangkat Irene, lalu memasukkan Irene ke bath-up yang sudah dipenuhi dengan air.
__ADS_1
Melihat kelakuan Dev membuat Irene murka, "Apa yang kakak lakukan? Apa yang kakak lakukan ini tidak lucu, aku tidak suka kakak beginikan, aku sudah katakan, jangan pernah ikut campur dalam hidupku. Aku benci kakak, pantas saja kak Tasya lari meninggalkan kakak, jika aku berada di posisi kak Tasya, pasti aku juga melakukan hal sama. Aku seperti mendapat nasib buruk menikah dengan kakak," umpat Irene. Ia benar-benar sangat merasa kesal, sehingga ia tidak memperdulikan ucapannya yang sangat melukai perasaan Dev.
"Kamu pikir aku melakukan ini karena kemauanku? Aku juga tidak sudi menyentuh kamu, aku hanya ingin menepati janjiku untuk papa, aku akan membawa kamu ke sekolah, dan menerangkan semua kepada guru di sana. Aku harap kamu tidak lupa siapa pemilik sekolah itu. Aku juga peringatkan, jangan pernah menyentuh tubuhku, apalagi berani-beraninya melepas pakaianku, melihat kamu saja aku geli, apalagi disentuh dan bersentuhan dengan kamu," balas Dev, saat ia terbangun, ia melihat jas dan dasinya sudah terlepas, ia tahu pasti Irene yang melakukannya, Dev sebenarnya tidak suka, ia tidak ingin Irene menyentuh dirinya. Tidak ingin kalah, ia pun membalas umpatan Irene, sampai membuat Irene benar-benar murka.
"Kalau begitu ceraikan saja aku," teriak Irene, suaranya bahkan terdengar sampai ke meja makan. Papa Bram dan mama Ratna yang mendengar itu hanya bisa mengelus dada, bagaimanapun mereka mengerti, pertengkaran seperti itu pasti akan terjadi.
"Apa kamu lupa, kita bercerai kalau Tasya sudah kembali, sekarang kamu harus tanggung deritanya menjadi istriku. Beruntung Tasya lari, jadi dia tidak akan menderita, dan kamu harus sudi menanggung penderitaan atas namanya," ketus Dev, amarahnya benar-benar memuncak, selama ini ia mengira Irene gadis yang lugu dan baik-baik, ternyata ucapan Irene tidak sepadan dengan wajah cantiknya.
"Dasar laki-laki gila, aku benci kakak," teriak Irene, sambil menyirami Dev dengan air.
"Kamu yang gila. Aku tunggu 5 menit, kalau tidak, aku tidak akan pernah bicara dengan guru kamu," ancam Dev, lalu meninggalkan Irene. Irene yang mendengar itupun merasa takut, bagaimanapun ia tahu keluarga Dev adalah pemilik sekolahnya, dan ia juga masih ingin pergi sekolah, ia merindukan teman-temannya, dan rindu melihat laki-laki yang ia sukai. Irene pun langsung bergegas mandi, lalu memakai seragam sekolahnya, dengan cepat ia menyusul Dev ke meja makan bersama papa dan mamanya.
Setibanya di meja makan, Irene pun menatap Dev dengan tatapan kebencian, awalnya ia tidak terlalu membenci Dev, namun sekarang ia benar-benar sangat membenci Dev. Dev yang menyadari itu sama sekali tidak peduli, ia justru semakin memasang wajah juteknya, dan membuat Irene semakin membencinya.
"Irene, mulai hari ini kami harus kembali ke sekolah, kamu tidak usah takut, Dev akan ikut kamu sekolah, dia akan menjelaskan kepada kepala sekolah dan guru-guru lainnya. Bagaimanapun sebentar lagi kamu akan ujian, lalu kuliah, papa dan mama tidak akan pernah melarang apapun yang akan kamu lakukan, termasuk Dev, iyakan Dev?" tanya mama Ratna.
"Iya ma, aku juga akan mendukung apapun yang Irene inginkan, papa dan mama tidak usah kwatir, tapi kalau bisa meminta, dalam Minggu ini aku ingin mengajak Irene pindah ke rumah baru yang sudah aku beli, aku tidak enak merepotkan papa dan mama seperti ini, apalagi jarak dari kantor ke sini cukup jauh, aku benar-benar butuh waktu untuk istirahat," jawab Dev.
"Enak saja, gak! Aku gak akan pernah mau tinggal dengan kakak," tolak Irene.
"Irene, jangan seperti itu. Sekarang kamu bukan tanggungjawab papa dan mama lagi, kamu sudah menikah, dan Dev lah yang bertanggungjawab atas diri kamu," ucap papa Bram. Irene pun menangis, ia benar-benar tidak suka melihat papa dan mamanya membela Dev seperti itu, tanpa menyentuh makanannya, Irene pun langsung beranjak keluar, lalu disusul Dev yang kebetulan sudah selesai sarapan.
__ADS_1