
Setelah itu, Irene pun langsung berlari ke toilet, di sana ia teriak bahagia, ia tidak menyangka, laki-laki yang sudah lama ia sukai kini memandangnya, bahkan mengundangnya langsung untuk kuliah di tempat yang sama.
"Aku senang banget, aku tidak menyangka akan bertemu kak Alex hari ini," ucap Irene.
"Ren, kita udah ingatkan kamu, kak Alex bukan laki-laki baik, kita gak mau kamu di sakiti Ren, kita gak mau kamu nantinya hanya mainan atau sekedar pelampiasan dia aja. Dan lagian kamu udah nikah Ren, apa kamu yakin kak Alex bisa menerimanya," ucap Salsa.
Irene pun terdiam, lalu menatap ketiga sahabatnya itu dengan dalam.
"Aku mohon, tolong jaga rahasia ini, jangan biarkan kak Alex mengetahuinya, kalian tau sendiri aku dan kak Dev itu bagaimana, dan aku yakin, kak Tasya pasti kembali, setelah kak Tasya kembali, aku dan kak Dev langsung cerai kok," pinta Irene meyakinkan.
"Tapi Ren, cowok seperti kak Alex bukan cowok bodoh yang bisa di tipu, yang ada dia yang selalu nipu, kalau aku jadi kamu, mending aku berusaha ambil hati pak Devan, menurutku pak Devan masih jauh dari kak Alex," sambung Tini.
"Ternyata kalian bukan sahabat baik, aku kira kalian sahabat yang udah mengerti dan tau tentang aku, aku kecewa sama kalian," ujar Irene kecewa, lalu meninggalkan Tini, Salsa dan juga Rara. Tini, Salsa dan juga Rara yang merasa bersalah pun langsung mengejar Irene, mereka tidak mau persahabatan mereka hancur hanya karena masalah sepele.
"Irene, tunggu," panggil Tini. Irene pun tersenyum tipis, ia tahu Tini, Salsa dan Rara akan mengejar dan membujuknya.
"Apa lagi?" tanya Irene pura-pura kesal.
"Sorry Ren, kita tau kita salah, tapi kita hanya ingin yang terbaik untuk kamu, kita gak mau kamu disakiti kak Alex," ucap Salsa tulus.
"Iya Ren, tapi kalau kamu benar-benar mencintai kak Alex, kita tetap dukung kamu kok, kamu seperti tidak mengenal kami saja, setiap hal gila yang kamu lakukan, pasti kami juga selalu ikut dengan kamu," sambung Tini.
"Gitu dong, kalian memang sahabat terbaik aku. Dan kalian tidak usah kwatir, aku tidak bodoh kalau sedang jatuh cinta, otakku masih bisa berpikir, jadi kak Alex tidak akan bisa nyakitin aku," kata Iren penuh percaya diri.
Sepulang sekolah, pak Harto yang bekerja sebagai supir pribadi Irene sudah menunggu di gerbang sekolah. Ia langsung ditugaskan oleh Dev untuk menjemput Irene dan langsung membawanya ke rumah. Sedari tadi pak Harto jalan mondar-mandir, sambil memegang selembar kertas berisi foto Irene.
Setelah menunggu 2 jam, Irene dan gengnya pun keluar, dengan cepat pak Harto langsung berlari menghampirinya.
__ADS_1
"Nyonya Irene," panggil pak Harto, sambil mencocokkan foto Irene yang ada di foto.
Mendengar pak Harto memanggilnya dengan sebutan nyonya, membuat Irene melotot, ia merasa merasa malu, ia takut teman sekolahnya mendengar panggilan menjijikkan itu.
"Bapak siapa? Kenapa memanggilku seperti itu?" tanya Irene.
"Perkenalkan, saya Harto nyonya, saya ditugaskan pak Devan sebagai supir pribadi nyonya," jawab pak Harto. Irene pun mengerutkan keningnya, ia semakin merasa kesal terhadap Dev.
"Bapak pulang saja, aku pulang dengan teman-temanku, nanti kalau kak Dev bertanya, bilang saja bapak tidak tahu apa-apa," suruh Irene.
"Tapi nyonya, pak Devan meminta saya untuk langsung membawa nyonya pulang," sambung pak Harto. Ia sangat takut melanggar perintah Dev. Selain itu, ia juga takut jika langsung kehilangan pekerjaannya.
"Sekali lagi bapak memanggil aku nyonya, aku tidak akan pernah mau menjadikan bapak sebagai supir pribadiku," ancam Irene, membuat pak Harto semakin ketakutan.
"Baik non," ucap pak Harto.
'Jangan harap bisa mengaturku!'
"Sekarang bapak ke kantor kak Dev, dan berikan ini padanya. Bapak harus pastikan kak Dev menerima dan membaca surat ini. Kalau tidak, aku akan meminta kak Dev langsung memecat bapak," ancam Irene lagi. Pak Harto yang belum tahu apa-apa benar-benar takut, ia pun langsung bergegas pergi dan membawa kertas yang sudah Irene remuk.
Di dalam mobil, Irene tertawa dengan kencang, ia sudah membayangkan, bagaimana reaksi Dev saat membaca suratnya.
"Kamu yakin bisa bebas setelah menikah Ren, aku takut kak Dev suami yang posesif," ucap Tini sambil mengemudi.
"Emang kak Dev siapa, siapa dia yang berani merenggut kebebasanku. Dia bukan siapa-siapa, dia hanya suami di atas kertas, sampai kapanpun aku tidak akan pernah menganggapnya suami, sampai detik ini, membayangkannya saja aku masih geli, iyuh!"
"Hahahaha, jangan jadi istri durhaka Ren, entar kualat tau rasa. Hati-hati Ren, kebanyakan cinta berasal karena benci, awas aja nanti kamu jatuh cinta dengan pak Devan," goda Rara.
__ADS_1
"Amit-amit jabang bayi, aku gak akan pernah jatuh cinta padanya, gila aja kalau aku bisa cinta pada calon kakak ipar. Asal kalian tau ni ya, bagiku, kak Dev tidak lebih dari calon kakak iparku, bahkan aku sudah menganggap dia seperti kakak ipar sendiri, jadi itu tidak akan pernah terjadi," sahut Irene.
"Jadi sekarang kita ke mana ni?" tanya Salsa.
"Bagaimana kalau kita nonton," jawab Irene.
"Ide bagus," sahut Salsa, kemudian Tini pun langsung memutar mobilnya menuju bioskop.
Di dalam kantor, Dev pun langsung meremas surat dari Irene. Ia benar-benar tidak habis pikir, selama ini ia mengira Irene anak yang polos dan lugu, namun ternyata, Irene benar-benar gadis nakal, keras kepala dan juga pembangkang.
Fahri yang baru selesai meeting pun langsung menghampiri Dev, ia ingin menyampaikan hasil meeting yang sudah ia lakukan.
"Dev, ini laporan hasil meetingnya, lo bisa baca ulang, gue rasa ini proyek yang cukup menggiurkan," ucap Fahri, lalu duduk bersandar di sofa.
Dev sama sekali tidak menggubris Fahri, ia bahkan tidak menyadari kedatangan Fahri. Fahri yang langsung menyadari sikap Dev, kembali berdiri, lalu mengejutkan Dev dengan memukul meja.
Dorrrrrrrr
"Sialan lo!" umpat Dev terkejut. Fahri pun tertawa hingga terbahak-bahak.
"Siapa suruh melamun," ucap Fahri merasa tidak bersalah.
"Ngapain lo ke sini?" tanya Dev, sambil membuang kertas dari Irene ke keranjang sampah.
"Itu laporan meetingnya, lo lihat dulu, kalau lo setuju baru tanda tangan," jawab Fahri. Dev pun langsung meraih berkas yang ada di meja. Setelah membacanya dengan teliti, tidak butuh waktu lama Dev pun langsung membubuhkan tanda tangannya.
"Jadi bagaimana Dev, apa lo sudah membeli tempat tidur Irene?" tanya Fahri. Pertanyaan itu membuat hati dan pikiran Dev terbuka, untuk membalas dendam terhadap Irene.
__ADS_1