
Sepanjang jalan, Irene terus tersenyum, ia sungguh sangat merasa bahagia, rasanya berada di dekat Alex, membuat ia akan lupa segalanya. Irene pun mencoba untuk memegang pinggang Alex, namun rasa malu, sungkan, seakan menghalangi keinginannya. Alex yang melihat itu pun tersenyum tipis, tanpa aba-aba, ia pun langsung menarik tangan Irene dan merangkulkan ke pinggangnya.
"Kalau mau peluk, peluk aja. Gak usah malu-malu," ucap Alex, jantung Irene semakin berdebar, ia semakin merasa melayang, ia pun langsung menggigit bibirnya, agar jeritan di hatinya tidak kebablasan.
Dengan malu-malu tapi sangat mau, Irene pun langsung memeluk Alex, serta menyandarkan dagunya ke bahu Alex. Alex yang tidak ingin melewatkan kesempatan pun langsung menambah kecepatan motornya, sehingga membuat Irene takut dan langsung memeluk Alex dengan erat.
Menghabiskan waktu satu jam, Irene dan Alex pun tiba, rasa cemas seketika menyerang perasaan Irene, ia takut Dev akan muncul tiba-tiba.
Sambil memegang bahu Alex, Irene pun turun, dan saat ia ingin membuka helm yang ia pakai, dengan cepat Alex langsung menahan tangan Irene, "Sini, aku bukain," ucapnya, sehingga membuat Irene semakin tidak bisa membendung rasa. Dengan hati-hati, Alex pun melepas helm dari kepala Irene, lalu merapikan rambut Irene yang sedikit berantakan.
"Maaf ya, aku gak bisa bawa kamu naik mobil. Aku bukan laki-laki seperti yang kamu ketahui, inilah aku apa adanya, aku tidak ingin menutupi apapun dari kamu," ucap Alex. Entah apa maksud Alex mengatakan seperti itu, namun entah kenapa, Irene semakin menyukainya.
"Enggak apa-apa, santai aja. Aku senang kok naik motor, kakak gak usah merasa seperti itu, dan aku juga bukan tipikal cewek yang harus selalu naik mobil. Justru naik motor lebih enak, lebih seru," sahut Irene.
"Aku salut sama kamu, tidak hanya cantik, hati kamu juga baik," puji Alex. Ia memang seperti sudah merencanakan sesuatu. Selain berbohong, merayu dan memuji merupakan salah satu keahlian yang ia miliki.
"Kakak bisa saja. Apa kakak tidak mau mampir?" tanya Irene basa-basi, kali ini ia berharap agar Alex menolak tawarannya. Alex pun sekilas membidik rumah Dev yang besar dan mewah, "Lain kali aja deh, udah malam, aku gak enak sama orangtua kamu," ucapnya. Ia mengira Irene tinggal di sana bersama papa dan mamanya. Perasaan Irene pun langsung lega, ia sungguh sangat takut, jika Alex mengetahui rahasianya.
"Ya sudah, kalau gitu aku masuk ya," sambung Irene. Walaupun sebenarnya ia masih ingin bersama Alex.
"Iya Irene, good night," ucap Alex manis, sambil melambaikan tangannya.
"Good night," balas Irene. Irene pun langsung berbalik, dan hendak membuka pagar. Lalu, tiba-tiba Alex pun memanggilnya, "Irene," dengan jantung yang masih dag dig dug, Irene pun berbalik, "Iya," sahutnya.
Alex pun menurunkan cagak motornya, lalu menghampiri Irene.
"Apa aku boleh minta nomor kamu?" tanyanya. Perasa Irene semakin tidak karuan, andai ia tidak menjaga image, mungkin ia sudah teriak histeris.
"Hem, boleh," jawab Irene malu-malu, lalu memberikan nomornya kepada Alex.
__ADS_1
"Terimakasih ya, btw, aku boleh kan call atau chat kamu?" tanya Alex lagi. Sikap Alex yang sopan, membuat Irene semakin mengaguminya. Tanpa menjawab, Irene pun mengangguk sambil tersipu malu.
"Kalau begitu, aku masuk ya," ucap Irene. Keduanya seolah berat untuk berpisah. Alex pun tersenyum lalu mengangguk. Dan saat Irene membuka gerbang, dengan cepat Alex menarik tangan Irene, lalu membawa tubuh Irene ke dalam pelukannya.
Deg, jantung Irene seakan berhenti berdetak, lalu tiba-tiba, kembali berdetak dengan sangat kencang. Alex jelas merasakan detak jantung Irene yang begitu hebat, sehingga membuat Alex semakin yakin, bahwa Irene memang mencintainya. Tidak hanya itu, sekujur tubuh Irene juga gemetar, sehingga membuat Alex semakin tersenyum puas.
"Terimakasih ya, aku senang bisa kenal dengan kamu, aku harap kita bisa bertemu lagi," ucap Alex, lalu melepas pelukannya. Irene yang masih berada di bawah alam sadar hanya bisa diam, sambil menatap Alex dengan dalam, ia seperti orang linglung, yang lupa akan segalanya.
Setelah itu Alex pun langsung pergi. Ia meninggalkan Irene yang masih tampil bingung sendiri, walaupun Irene perempuan cantik yang banyak disukai pria, ia tetaplah wanita yang luluh saat diperlakukan lembut dan mesra seperti yang Alex lakukan.
Sesaat setelah Alex pergi, Irene pun sadar, lalu teriak histeris, sambil melompat-lompat bahagia. Ia seperti anak kecil, saat mendapatkan mainan yang ia inginkan. Pak Harto yang sedang berjaga-jaga pun terkejut, dengan cepat ia langsung membuka gerbang dan memergoki Irene yang masih lompat-lompat kegirangan.
"Non Irene," panggil pak Harto, dan membuat Irene sangat terkejut.
"Astaga, pak, bapak siapa?" ucap Irene.
"Pak Harto non," jawab pak Harto.
"Maaf non, saya tidak sengaja. Saya kira ada apa saat mendengar non menjerit-jerit di luar," kata pak Harto.
"Enggak ada apa-apa kok pak, malam ini aku sangat senang, jadi aku tidak akan pernah meminta kak Dev untuk memecat bapak," ucap Irene lagi, lalu berlari meninggalkan pak Harto. Melihat tingkah Irene membuat pak Harto semakin bingung, "Apa benar non Irene sudah menikah? Dan apa benar tuan Dev yang menikahinya, yang satu masih seperti bocah, sedangkan yang satu sudah matang seperti sawo matang," ujar pak Harto kebingungan, sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak terasa gatal.
Masih merasa bahagia, Irene pun membuka pintu rumah, dan saat melihat keberadaan bik Yani yang datang tiba-tiba, kembali membuat ia terkejut dan nyaris jantungan.
"Astaga, kamu siapa?" tanya Irene, sambil mengelus dadanya yang terasa ngilu.
"Perkenalkan, saya Yani non, saya sebagai ART baru di sini," jawab bik Yani. Bik Yani sama sekali tidak mengetahui bahwa wanita cantik yang ada di depannya itu adalah Irene. Sebab yang ia lihat di kamar Dev adalah foto Tasya, jadi ia mengira, Tasya adalah Irene istri Dev.
"Oh, maaf bik, aku tidak tahu, dan kak Dev juga gak bilang apa-apa. Perkenalkan, aku Irene, aku rasa bibik pasti sudah tahu siapa aku, dan aku harap bibik jangan memperlakukan aku seperti istri kak Dev, aku hanyalah Irene, walaupun aku sudah menikah tapi aku masih single, aku harap bibik paham apa maksudku," jelas Irene. Namun bukannya membuat bik Yani mengerti, ia justru semakin merasa bingung. Irene pun langsung melewati tangga dengan hati yang berbunga-bunga. Dan saat ia membuka pintu kamarnya, ia pun kembali dikejutkan dengan kamarnya yang sudah kosong.
__ADS_1
A-aaaaaaaaa
Jeritan Irene langsung menggemparkan seisi rumah, Dev yang mendengar itu hanya tersenyum licik, dan tetap fokus menatap layar laptopnya.
Dengan lari terburu-buru, bik Yani pun langsung berlari menghampiri Irene.
"Ada apa nyonya, kenapa nyonya menjerit?" tanya bik Yani.
"Sebelum aku marah, aku mau ingatkan, jangan panggil aku nyonya! Kan aku sudah katakan, jangan perlakukan aku seperti istri kak Dev!" tegas Irene menahan amarah. Bik Yani yang tidak mengerti merasa panik, ia sungguh sangat merasa takut.
"Maaf non, apa yang terjadi non, kenapa non Irene menjerit?" tanya bik Yani, ia bahkan tidak berani mengangkat wajahnya untuk memandang Irene.
"Barang-barangku ke mana semua? Kenapa tidak ada di sini? Siapa yang melakukan ini?" tanya Irene penuh kekesalan.
"Barang-barang non Irene ada di kamar tuan Dev. Tuan Dev yang meminta saya untuk memindahkan semua barang non ke sana," jawab bik Yani ketakutan.
Dengan emosi yang menggebu-gebu, Irene pun langsung menghampiri Dev ke kamarnya. Tanpa mengetuk pintu, ia langsung membuka pintu kamar Dev, dan menghempaskaskanya dengan kuat. Dan saat melihat semua barang-barangnya berada di kamar Dev, membuat emosi Irene semakin memuncak.
"Maksud kakak apa? Kenapa kakak menyuruh bik Yani membawa semua barang-barangku ke sini?" tanya Irene, namun Dev sama sekali tidak menjawab, ia bahkan menghiraukan Irene, ia terus sibuk mengerjakan pekerjaannya yang ia bawa dari kantor.
"Kak Dev, kakak dengar gak sih? Aku di sini ngomong," kata Irene lagi. Dev pun langsung menghentikan jarinya, "Ke mana saja kamu, anak sekolah baru pulang jam segini," ucapnya, sambil melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 23:45.
"Itu bukan urusan kakak, mau aku ke mana, sama siapa, pulang jam berapa, itu bukan urusan kakak. Berapa kali aku sudah peringatkan, jangan ikut campur urusanku, aku tidak suka!" bentak Irene.
Dev pun langsung menutup laptopnya, lalu beranjak menuju kasur.
"Bagaimana jika papa dan mama tau kamu seperti ini, kalau kamu tidak bisa menghargai aku, setidaknya hargai mereka. Kamu masih sekolah Irene, jangan melakukan sesuatu yang tidak pantas seusia kamu lakukan," kata Dev menyindir.
"Emang apa yang aku lakukan? Kakak pikir aku jual diri? Aku masih tau batasan kak. Dan kakak tidak pernah pantas untuk menilai aku seperti itu," sahut Irene. Entah kenapa hatinya sangat sakit saat mendengar Dev bicara seperti itu, sekuat mungkin ia menahan agar tidak menangis, namun nyatanya ucapan Dev benar-benar sangat menyakitinya.
__ADS_1
"Dari awal aku sudah tidak setuju untuk menikah dengan kakak. Kakak tahu aku masih sekolah, kakak tahu aku masih ingin bebas, aku masih ingin melakukan semuanya, tapi aku masih punya batasan kak, aku tidak sekotor yang kakak pikirkan," ucap Irene dengan tangis. Dev pun terdiam, ia tidak menyangka ucapannya akan sangat melukai Irene seperti itu. Tidak kuasa menahan tangis, Irene pun langsung berlari keluar.