
Keesokan paginya, papa Bram pun bicara dengan Dev mengenai Irene yang belum siap tinggal dengannya, awalnya Dev menolak, namun demi kebaikan Irene, Dev sama sekali tidak bisa memaksakan kehendak. Papa Bram dan mama Ratna pun mengantar kepergian Dev, sementara Irene masih molor, semalaman ia begadang memikirkan bagaimana nasibnya setelah menikah.
Hari ini, Dev pun kembali melanjutkan aktifitasnya, ia langsung kembali bekerja ke kantor, ia berusaha menutupi kesedihannya dengan bekerja, dan berharap ia bisa melupakan semua kejadian buruk yang sudah menimpanya. Setibanya di kantor, semua mata pun langsung tertuju kepada Dev, mereka mengetahui apa yang menerpa Dev, namun satupun tidak ada yang berani membuka suara.
Di ruangannya Dev hanya duduk termenung, ia menatap fotonya dengan Tasya, ia bahkan sudah mencoba menghubungi Tasya, namun sampai detik ini juga Tasya sengaja mematikan ponselnya, untuk menghindari orang-orang yang ingin mencarinya.
Awalnya Dev mengira semua kesedihannya akan hilang saat kembali bekerja, namun kenangannya bersama Tasya semakin mengganggunya, ia masih tidak habis pikir, kenapa Tasya tega pergi, dan kenapa Tasya memilih kabur daripada membicarakannya dengannya, padahal jika Tasya meminta, Dev bisa saja menjadikan Tasya sebagai model yang terkenal. Dev punya kuasa, punya uang, jadi apapun yang ia inginkan dengan mudah untuk bisa ia dapatkan.
Tidak lama setelah itu, suara ketukan pintu pun terdengar, dengan wajah yang sembam Dev pun menoleh, ia melihat kedatangan Fahri sekertarisnya, sekaligus sahabatnya itu.
"Dev, what's wrong men? Kenapa Lo sudah masuk kerja? Bukannya seharusnya Lo bulan madu dengan Tasya?" tanya Fahri, ia baru pulang dari luar kota menggantikan Dev, sehingga ia tidak tahu, apa yang sudah terjadi dengan sahabatnya itu. Saat mendengar para karyawan yang sedang membicarakan Dev, membuat Fahri penasaran dan langsung bergegas menemuinya, tanpa mengetahui masalah apa yang sedang mereka bicarakan.
Dev hanya menatap Fahri dengan datar, "Gue tidak menikah dengan Tasya," ucapnya, namun bukannya terkejut, Fahri justru tertawa.
"Hahahaha, bisa aja Lo, setahu gue Lo hanya mencintai Tasya, kalau Lo tidak menikahi Tasya, mungkin Lo menikahi setannya Tasya, hidup Lo selalu berhubungan dengan Tasya, apapun itu Tasya, dan selalu Tasya," sahut Fahri, selama ini ia selalu menjadi obat nyamuk untuk Dev dan Tasya, ia selalu menyaksikan keromantisan Dev dan Tasya, dan ia juga tahu bahwa Dev sangat mencintai Tasya. Dev bahkan tidak sungkan-sungkan untuk mengajaknya liburan bersama Tasya.
"Tasya kabur, gue menikahi Irene, gue juga tidak tahu, kenapa gue melakukan ini," sambung Dev. Dan kali ini ekspresi Fahri benar-benar tidak tertebak, matanya melotot, mulutnya mangap.
__ADS_1
"What the hell, Lo serius. Lo menikahi Irene adiknya Tasya?" tanya Fahri terkejut, dan Dev pun hanya mengangguk.
"Dev, are you crazy? Ini benar-benar gila men, gue tidak percaya Lo melakukan hal gila ini," ucap Fahri lagi, namun Dev hanya diam, ia juga merasa gila, dan seakan menyesal sudah menikahi Irene.
"Gue juga tidak mengerti, kenapa gue melakukan hal bodoh ini. Sekarang melihat wajah Irene saja membuat gue geli, kalau begini rasanya lebih bagus mati saja. Gue benar-benar kehilangan muka, gue tidak sanggup melihat ekspresi semua orang, rasanya telinga gue panas mau terbakar, mereka pasti mentertawakan gue sekarang," keluh Dev, hanya dengan Fahri ia bisa bicara seperti ini. Selain partner kerja dan sahabat, Fahri adalah tempat curahan hati Dev yang menurutnya aman.
Mendengar itu Fahri pun mendekat, "Apa Lo pernah dengar kata pepatah?" tanyanya, dan Dev pun menggeleng.
"Kejadian yang Lo alami sama seperti ucapan pepatah yang berbunyi 'tidak ada rotan, akar pun jadi' jika tidak bisa menikahi Tasya, maka Irene pun jadi, toh menurut gue Irene jauh lebih cantik dari Tasya, hahahahha," goda Fahri, ia bahkan tidak merasa iba dengan apa yang sudah Dev alami. Justru ia merasa Dev beruntung, sebab Irene jauh lebih cantik ketimbang Tasya. Padahal ia baru sekali bertemu dengan Irene, namun ia begitu mengagumi kecantikan Irene.
"Sialan Lo, dalam otak Lo hanya itu saja. Tidak selamanya cinta itu memandang rupa, gue benar-benar mencintai Tasya, gue hampir gila memikirkannya, ke mana dia pergi, dan apa yang dia lakukan sekarang," sahut Dev.
Setelah itu, Fahri pun semakin mendekatkan diri dengan Dev, "Jadi bagaimana Dev, apa Lo sudah melakukannya dengan Irene?" bisiknya, dalam sekejap sebuah pukulan pun mendarat di kepala Fahri.
"Sialan Lo, bisa-bisanya Lo mikir jauh ke sana. Gue tidak akan pernah melakukan apa yang ada dalam otak Lo," ucap Dev, Fahri pun langsung menjauh, ia takut pukulan yang lebih keras akan mendarat di tubuhnya.
"Gila Lo, bisa-bisanya Lo sia-siakan makanan empuk seperti Irene," ucap Fahri lagi. Ia sangat senang mengganggu dan menggoda Dev seperti itu. Dev pun langsung beranjak, lalu mendaratkan kakinya ke bokong Fahri.
__ADS_1
"Jangan pernah Lo berfikir kotor seperti itu lagi, bagaimanapun Irene masih sekolah, dan gue tidak akan pernah menyentuhnya," ketusnya, namun mendengar itu bukan membuat Fahri takut, ia justru semakin merasa bergejolak ingin menggoda Dev.
Setelah bangun dari tidurnya, Irene pun langsung melirik ke tempat tidurnya, malam tadi ia memutuskan untuk tidur di sofa kamarnya, ia benar-benar tidak mau satu ranjang dengan Dev.
"Dia sudah pergi, syukurlah," ucap Irene. Ia pun langsung bergegas bangun, lalu membersihkan diri. Setelah itu ia menemui papa dan mamanya yang tengah sibuk menghubungi Tasya.
"Pa, Ma. Apa kak Dev sudah pulang ke rumahnya? Dia tidak akan kembali lagi kan, Ma?" tanya Irene.
"Dia hanya kerja sayang, mama juga tidak tahu, apa nanti dia pulang ke sini atau tidak," sahut Mama Ratna.
"Mudah-mudahan dia tidak pulang ke sini. Ngomong-ngomong apa yang papa dan mama lakukan?" sambung Irene, lalu duduk di sofa yang sama dengan papa dan mamanya.
"Papa dan mama mencoba untuk menghubungi kakak kamu, tapi sampai sekarang nomornya masih tidak aktif," jawab mama Ratna.
"Biarkan saja ma, Irene masih kesal dengan kak Tasya, gara-gara dia Irene harus menikah dengan kak Dev, paling nanti kalau uangnya habis dia juga pulang," ketus Irene.
"Tidak boleh seperti itu sayang, bisa saja Dev memang jodoh kamu, Tuhan mempersatukan kalian dengan cara seperti ini, jadi kamu harus bersyukur, Tuhan sudah memberikan suami seperti Dev untuk kamu. Di luar sana banyak wanita yang meminta jodoh tampan, kaya seperti Dev, tapi belum tentu Tuhan memberikannya," sahut papa Bram.
__ADS_1
"Tapi Tuhan memberikannya kecepatan Pa, dan tidak harus kak Dev juga, pacar kak Tasya, sekarang Irene pasti menjadi bahan omongan di sekolah, besok Irene tidak mau sekolah, Irene malu, Irene masih sekolah tapi sudah menikah," ucap Irene lagi. Papa Bram dan Mama Ratna pun saling menatap, lalu diam-diam papa Bram menyampaikan itu kepada Dev.