Dinikahi Pacar Kakakku

Dinikahi Pacar Kakakku
Posisi Kotor


__ADS_3

Setelah selesai nonton, Alex pun membawa Irene ke tempat tongkrongan mereka, di sana sudah ada Kevin, Aprilio, Angga serta anak-anak lainnya yang sudah menunggu.


"Hai guys," sapa Alex.


"Hai Lex," sahut Kevin.


"Kenalin, ini Irene. Irene, ini teman-teman aku," ucap Alex memperkenalkan, Irene pun tersenyum menyapa teman-teman Alex, begitu juga dengan teman-teman Alex menyapa Irene. Setelah selesai basa-basi, Irene pun memperhatikan Alex yang hanya duduk termenung, Alex seperti sedang memikirkan sesuatu, sehingga membuat Irene penasaran.


"Kak Alex, kakak kenapa?" tanya Irene.


"Enggak kenapa-kenapa Ren, aku hanya sedih aja, andai aku orang kaya, aku pasti sudah bisa seperti mereka," sahut Alex. Irene pun memperhatikan teman-teman Alex, yang sibuk dengan motor sport mereka.


"Kakak juga sudah punya motor, apa bedanya dengan mereka?" tanya Irene lagi. Alex pun tersenyum, "Motor aku gak ada apa-apanya dengan motor mereka, tapi gak apa-apa, hanya saja kadang aku merasa minder, dan berandai-andai, kapan aku bisa memilikinya," ucap Alex. Entah apa maksud Alex, ia sepertinya sudah memainkan triknya untuk ingin memoroti Irene.


Irene yang bisa mengerti perasaan Alex, sungguh merasa tidak tega, ia bisa merasa kesedihan Alex, apalagi ia sangat menyukai Alex, dan ia ingin memberikan yang terbaik untuk Alex.


"Apa kakak benar-benar mau motornya?" tanya Irene, sekilas Alex tersenyum licik, namun dalam sekejap, ia bisa merubah ekspresi wajahnya.


"Itu salah satu keinginan aku Ren, namun dengan kondisiku seperti ini, sepertinya itu hanya angan-angan. Dan aku mohon, tolong kamu jangan mengira aku anak orang kaya, aku laki-laki sederhana Ren, bahkan untuk berteman dengan kamu saja sebenarnya aku merasa minder," ucap Alex lagi.


Irene pun tersenyum, ia langsung meraih tangan Alex, "Kakak jangan pernah berfikiran seperti itu, dan kalau kakak benar-benar mau motornya, aku bisa bantu. Kebetulan aku punya tabungan, dan aku rasa uangnya cukup untuk beli motor sport yang kakak suka," kata Irene.


Mendengar ucapan Irene, membuat Alex melotot, ia tidak menyangka, dalam sekejap Irene bisa terperangkap dalam jebakannya.


"Hahaha. Kamu becanda saja, jangan! Kamu kira aku laki-laki apaan, aku gak akan pernah mau menerima uang dari kamu," tolak Alex basa-basi, dan ini merupakan salah satu triknya, untuk semakin menarik simpati Irene.


"Aku gak apa-apa kak, aku punya uangnya," tawar Irene lagi, namun Alex tetap bersikeras menolak, sehingga membuat Irene tidak bisa memaksa.


Setelah selesai nongkrong, Alex pun mengantar Irene pulang ke rumah. Sepanjang jalan Irene terus menawarkan kepada Alex, namun Alex tetap menolak. Hal itu membuat Irene semakin kagum, bahkan semakin menyukai Alex. Ternyata Alex tidak seperti gosip yang ia dengar.


"Kakak gak mampir dulu?" tanya Irene. Dan kali ini Alex tidak menolak, sehingga membuat Irene merasa jantungan. Namun saat mendengar janji Dev, yang akan membiarkan dirinya untuk pecaran dengan siapapun, membuat Irene merasa sedikit tenang.


Irene pun membawa Alex masuk, dan lagi-lagi Alex merasa kagum, dengan kemegahan rumah Dev. Pak Harto dan bik Yani yang melihat kedatangan Alex, hanya bisa diam, mereka seakan sudah bisa mengerti tentang rumah tangga yang Dev dan Irene lakukan.


"Selamat malam non Irene," sapa bik Yani.


"Malam bik, tolong buatkan minum untuk temanku ya," balas Irene.


"Baik non."


"Kakak mau minum apa?"


"Apa aja Ren," ucap Alex, bik Yani pun langsung bergegas ke dapur.

__ADS_1


Sekilas Alex membidik seluruh ruangan, namun ia sedikit merasa heran, ia tidak menemukan foto keluarga Irene.


"Btw, orangtua kamu gak ada di rumah Ren?" tanya Alex.


"Oh, kebetulan papa dan mama lagi kerja ke luar kota kak, mungkin 2-3 hari lagi pulang," ucap Irene berbohong.


"Oh, jadi kamu tinggal sendiri di sini?" tanya Alex lagi, ia ingin mengetahui semua informasi tentang Irene.


"Saat ini hanya ada aku, pak Harto, dan bik Yani. Aku punya satu kakak, dan kebetulan sekarang dia berada di luar negeri," sahut Irene. Alex pun mengangguk-angguk, dan kemudian bik Yani pun datang membawakan secangkir teh.


Sembari bercerita, lama makin lama membuat Irene semakin mengagumi kepribadian Alex, Alex benar-benar menjaga imagenya, ia menunjukkan kepolosannya kepada Irene.


Namun tidak lama setelah itu, suara mobil pun terdengar, membuat jantung Irene langsung berdebar.


"Mati aku, kak Dev," batin Irene.


Pak Harto yang menyambut kedatangan Dev sangat merasa gelisah, namun saat melihat motor Alex parkir di halaman seolah membuat Dev mengerti, apa yang di kwatirkan oleh pak Harto.


"Selamat malam tuan," sapa pak Harto.


"Malam pak, apa Irene sudah pulang?" tanya Dev. Dev sebenarnya juga tidak peduli terhadap Irene, baginya wajar bila Irene pergi dan pacaran dengan siapapun, namun hanya saja Dev hanya ingin menjaga martabatnya sebagai suami, di hadapan pak Harto dan bik Yani.


"Sudah tuan," jawab pak Harto gerogi. Dev pun langsung menyerahkan kunci, setelah itu ia langsung bergegas masuk. Dan saat ia memasuki rumah, matanya pun langsung tertuju kepada Irene dan Alex yang juga sedang tertuju ke padanya.


"Eh, ada tamu," ucap Dev, sambil menjabat tangan Alex, dengan sigap Alex pun langsung menyambut tangan Dev.


"Dev, kakaknya Irene," ucap Dev memperkenalkan diri. Alex pun tersenyum, ia tidak menyangka kakak yang Irene maksud adalah laki-laki tampan seperti Dev.


"Alex," ucap Alex, entah kenapa saat melihat penampilan Dev benar-benar membuat ia minder. Irene hanya bisa memandang Dev, ia seakan memberikan isyarat, untuk menyuruhnya pergi.


"Pacar Irene?" tanya Dev lagi.


"Oh, enggak. Aku dan Irene baru berteman," jawab Alex gerogi.


"Oh, ya sudah kalau begitu. Aku gak enak lama-lama, kalau begitu aku tinggal dulu ya, silahkan dihabiskan tehnya, dan kalau lapar, silahkan makan," ucap Dev lagi.


Dev pun beranjak, lalu mengacak-acak rambut Irene, melihat perlakuan Dev membuat Irene bingung, apa yang terjadi dengan suami yang tidak diinginkannya itu.


Tidak lama setelah Dev ke atas, Alex pun langsung pamit pulang, ia seakan bisa merasakan ada sesuatu antara Dev dan Irene. Namun tidak bisa dipungkiri, Alex benar-benar minder saat melihat Dev. Ia ingin terlihat seperti Dev dan setelah Alex pulang, Irene pun langsung berlari ke kamar, menghampiri Dev.


"Kak Dev," panggil Irene yang langsung menerobos masuk. Dev yang hendak mandi dan hanya menggunakan handuk dengan santai menyahut, "Hem, iya kenapa."


Melihat Dev bertelanjang dada seperti itu, membuat Irene menjerit, "Aa-aaaaaaaaa!"

__ADS_1


"Kakak ngapain?" tanyanya, sambil menutup kedua matanya.


"Mau mandi," jawab Dev santai.


"Mau mandi kenapa di sini, mandi itu ke kamar mandi," ucap Irene lagi.


"Iya, ini mau ke kamar mandi," balas Dev santai, ia seakan tidak ingin berdebat dengan Irene, walaupun sebenarnya Irene yang salah.


Irene yang sudah merasa risih dengan badannya pun langsung menghentikan Dev.


"Kak Dev, tunggu."


"Iya, kenapa lagi?"


"Aku juga mau mandi."


"Ya sudah ayok," sahut Dev.


"Enak saja. Aku duluan, aku udah gak nyaman," balas Irene. Dev pun menghela nafas, ia mengerti apa maksud Irene.


"Ya sudah, pergi." suruh Dev. Melihat sikap Dev semakin membuat Irene bingung, kenapa ia menjadi baik seperti itu.


Irene pun langsung menarik handuk, lalu menuju kamar mandi.


Sembari menunggu Irene selesai mandi, Dev kembali meraih ponselnya, ia melihat semua isi chatnya dengan Tasya, rasa rindu itu benar-benar sangat menyiksanya.


Namun Irene yang terlalu lama di kamar mandi, membuat Dev mengantuk, apalagi tadi malam ia juga tidak ada tidur, seharian sibuk di kantor, membuat ia benar-benar kelelahan. Sembari menyandarkan tubuhnya di kursi, lama makin lama Dev pun terpejam.


Sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk, mata Irene pun langsung tertuju kepada Dev yang sudah tertidur. Dev bahkan hanya menggunakan handuk, dan masih bertelanjang dada. Dengan hati-hati, Irene pun langsung menghampiri.


"Kak Dev," panggil Irene.


"Kak Dev, bangun. Kakak belum mandi," panggil Irene lagi, namun Dev tetap tidak bangun.


"Kak Dev, kakak yakin tidur seperti ini?" tanya Irene, Dev pun bergerak, dan tidak sengaja menjatuhkan ponselnya. Irene yang tidak bermaksud apa-apa pun langsung mengambil handphone Dev, namun di saat itu juga Dev terbangun dan melihat Irene jongkok tepat di hadapannya.


"Astaga, Irene. Apa yang mau kamu lakukan? Kamu mau ambil kesempatan dalam kesempitan?" tanya Dev panik.


Irene yang sama sekali tidak mengerti apa maksudnya hanya bisa menatap Dev dengan kebingungan.


"Mengambil kesempatan apa?" tanya Irene lagi. Dan belum sempat Dev menjawab, Irene pun langsung sadar dan mengerti apa yang Dev ucapkan.


"Enak saja. Kakak pikir aku wanita apaan, aku hanya mengambil handphone kakak yang terjatuh. Dari tadi dibangunin gak bangun-bangun, dan sekarang malah nuduh yang tidak-tidak," ucap Irene kesal.

__ADS_1


Dev pun langsung mengambil kembali handphonenya, "Ya maaf, habisnya posisi kamu dan aku membuat siapapun akan berpikir yang sama denganku," ucapnya. Irene pun menaikkan bibirnya, lalu langsung pergi.


__ADS_2