Dinikahi Pacar Kakakku

Dinikahi Pacar Kakakku
Irene dan Dev Sama-sama Merasa Canggung


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Dev terus memikirkan nasihat Fahri, tekadnya pun semakin bulat, ia yakin, Irene juga pasti menginginkan hal yang sama.


Setibanya di rumah, lagi-lagi langkah Dev terasa berat, ia harus mengumpulkan niat agar bisa memasuki rumah mertuanya itu.


Setelah selesai bergelut dengan hati dan pikirannya, Dev pun memutuskan masuk. Ia menarik gagang pintu, dan langsung terbuka. Pintu rumah papa Bram dan mama Ratna sama sekali tidak pernah terkunci untuknya.


"Assalamualaikum," ucap Dev, saat melihat papa Bram dan mama Ratna di ruang keluarga.


"Walaikumsalam, kamu sudah pulang Dev? Mama kira kamu pulang malam, itu sebabnya papa dan mama gak nungguin kamu makan malam," sahut Mama Ratna.


"Gak apa-apa kok ma, Dev bisa makan sendiri, lagian ini salah Dev juga, Dev tidak ngabarin papa dan mama," balas Dev.


"Nanti kamu bisa makan dengan Irene ya Dev, kebetulan Irene juga belum makan tuh, sedari tadi siang dia sibuk beres-beres, sepertinya dia terlalu semangat untuk tinggal dengan kamu," sambung mama Ratna.


"Maksud mama apa?" tanya Dev yang tidak mengerti.


"Sampai sekarang Irene masih berkemas, dia sudah setuju untuk tinggal dengan kamu, kalau kamu tidak percaya, kamu bisa lihat sendiri, mungkin kamu bisa membantunya," jawab mama Ratna. Mendengar itupun membuat Dev terkejut, padahal ia ingin membahas soal perceraian, namun ia tidak tahu, bahwa Irene akan benar-benar setuju untuk pindah dengannya.


"Oh syukurlah, kalau begitu Dev ke kamar Irene dulu ma, siapa tau Dev bisa membantu," ucap Dev menutupi kegelisahannya.

__ADS_1


"Iya Dev, nanti jangan lupa makan. Mama akan suruh mbok Atun untuk nyiapinnya," sahut Mama Ratna.


"Iya ma, Dev pergi dulu pa, ma," ucap Dev lagi. Dan disahut senyuman oleh papa Bram dan mama Ratna.


Sembari menenteng pakaian gantinya, Dev pun memikirkan tentang rencana yang akan ia lakukan. Ia masih tidak tahu, apa ia akan membahasnya dengan Irene atau tidak. Hingga langkah kakinya berhenti tepat di pintu kamar Irene, saat ia membuka pintu, Irene pun terlihat membaringkan tubuhnya, ia benar-benar merasa lelah. Ucapannya saja yang ingin membewa beberapa pakaian dan barang-barangnya, namun nyatanya, ia hampir tidak menyisakan pakaian dan barang-barang miliknya. Semua ia kemas, hingga beberapa koper dan juga kotak besar sudah tersusun rapi di kamarnya. Melihat itu membuat Dev hanya diam, sambil menatap barang-barang milik Irene dengan wajah kebingungan.


Melihat kedatangan Dev, Irene pun langsung beranjak, "Kak Dev, kakak sudah pulang? Kamarnya agak sedikit berantakan, aku baru mengemas pakaian dan barang-barang lainnya, jadi mungkin akan terasa sedikit sempit," ucapnya.


"Oh, gak apa-apa, kamu tidak usah hiraukan aku, aku baik-baik saja," sahut Dev. Ia sungguh sangat merasa heran, kenapa Irene bicara lembut seperti itu, padahal tadi pagi mereka hampir saling menikam.


Dev pun langsung meletakkan tas jinjingnya dan juga tas kerjanya, setelah itu ia melepaskan sepatu dan jasnya, lalu melepaskan dasinya. Saat ia ingin duduk, ia pun melihat sofa yang sudah dipenuhi dengan kardus milik Irene, tidak ada pilihan, ia pun terpaksa duduk di pinggir ranjang tepat di sebelah Irene.


"Apa aku boleh duduk di sini?" tanya Dev sebelum duduk.


"Irene, ada sesuatu yang ingin aku katakan," ucap Dev. Irene pun langsung pindah, lalu duduk di sebelah Dev.


"Apa yang mau kakak katakan? Katakan saja, gak usah sungkan-sungkan," sahut Irene. Namun tiba-tiba Dev merasa berat, apalagi saat ia melihat barang-barang Irene, membuat ia tidak kuasa menyampaikan keinginannya.


"Apa aku bisa minta tolong?" tanya Dev mengalihkan, ia benar-benar tidak bisa mengatakannya, mungkin lebih baik baginya menunggu Tasya, agar Irene sendirilah yang akan meminta berpisah.

__ADS_1


"Jangan aneh-aneh, aku benar-benar capek," jawab Irene ketus.


"Aku lapar, mama bilang kamu juga belum makan. Apa kamu bisa mengambil makanan dan membawanya ke sini? Aku benar-benar capek turun ke meja makan, sembari menunggu kamu, aku mau mandi dulu," ucap Dev. Irene pun mengangguk, kebetulan perutnya juga mulai terasa lapar.


"Ok," ucap Irene. Setelah itu ia pun langsung bergegas menuju meja makan.


Setelah Irene pergi, Dev pun langsung membuka tas jinjingnya, lalu mengambil baju tidurnya. Kemudian ia langsung mengguyur tubuhnya di bawah shower. Pikirkan dan hatinya masih bergelut, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.


Irene yang sedang menemui papa dan mamanya pun berbincang sebentar, sembari mengatakan ia ingin mengambil makanan untuk ia bawa ke kamar. Mendengar itu membuat papa Bram dan mama Ratna senang, mereka mengira hubungan Dev dan Irene sudah mengalami kemajuan, nyatanya Irene dan Dev sama-sama memiliki niat masing-masing yang ingin mereka lakukan. Dengan semangat mama Ratna pun membantu Irene menyiapkan makanan di atas nampan, setelah itu Irene pun kembali ke kamar bersama nampan makanannya.


Setibanya di kamar, Irene pun langsung meletakkan nampan di atas meja. Ia juga menggeser kardus yang sebelumnya ia taruh di sofa. Tiba-tiba ponsel Dev pun berdering, seketika rasa penasaran Irene menyerang, ia mencoba mendekati ponsel Dev, namun sayang, Dev pun langsung keluar dari kamar mandi.


"Makanannya sudah siap," ucap Irene gerogi, ia sangat terkejut, ia takut Dev mengatahui niatnya, walaupun ia tidak sempat melihat pesan Dev, namun ia sempat melihat wallpaper Dev, yaitu foto Dev dengan Tasya.


Sambil mengeringkan rambut dengan handuk, Dev pun duduk di sofa, lalu diikuti oleh Irene. Tiba-tiba keduanya merasa gugup, serta canggung yang luar biasa.


"Ayo makan, aku benar-benar lapar," ucap Dev. Irene pun mengangguk, kemudian ia mengambil piring yang sudah berisi makanan dengan porsi masing-masing.


Dev dan Irene pun mulai melahap makan malam mereka, selama makan tidak ada yang membuka suara. Hingga keduanya selesai menghabiskan makanan dengan lahap.

__ADS_1


Dev pun langsung mengangkat piring dan berencana akan membawa ke dapur, namun tiba-tiba spontan Irene menahan tangannya. Dev pun melirik tangan Irene yang kini berada di tangannya, sebenarnya ia ingin langsung menariknya, namun ia takut membuat Irene tersinggung.


"Biar aku saja, kakak tidur saja," ucap Irene, dan langsung melepaskan tangannya. Irene pun langsung mengangkat piring dan gelas ke atas nampan, lalu pergi meninggalkan Dev yang masih merasa kebingungan. Saat Irene berada di luar kamar, tiba-tiba Irene tersenyum licik, ia memang seperti sedang merencanakan sesuatu untuk Dev.


__ADS_2