Dinikahi Pacar Kakakku

Dinikahi Pacar Kakakku
Alex Mulai Menjalankan Aksinya


__ADS_3

"Dev, kenapa lo? Tadi melamun, sekarang cengar-cengir sendiri, kesambat setan apaan lo?" tanya Fahri lagi.


"Gue pikir gue perlu memberikan Irene pelajaran," sahut Dev.


"Pelajaran apa? Lo mau jadi guru Irene?" tanya Fahri meledek.


"Bukan. Gue gak akan beli tempat tidur untuk Irene. Gue akan tidur satu kamar dengannya," jawab Dev serius, membuat Fahri terkejut dan langsung memikirkan sesuatu yang kotor.


"Sialan lo Dev, secepat itu lo menjilat air liur sendiri, kemaren sok-sokan bilang gak akan gue sentuh Irene, sekarang mau tidur bareng, dasar lo!" umpat Fahri.


"Gue tidak melakukan seperti apa yang ada di dalam otak lo! Gak usah mesum!" bantah Dev, namun Fahri tetap tidak percaya.


"Kucing mana yang menolak ikan, potong telinga gue kalau lo gak tergoda dengan Irene," sambung Fahri.


"Lo kenapa jadi sensitif gini sih, asal lo tau ya, sekali gue bilang gak, ya bakalan tetep enggak. Gue hanya mau membalas perbuatan Irene, biar dia gak semena-mena dengan gue," tegas Dev, namun Fahri tetap tidak bisa percaya, ia bahkan berani bertaruh, suatu saat Dev pasti jatuh cinta dengan Irene.


Setibanya di bioskop, Tika dan Salsa pun langsung membeli karcis serta memilih film yang akan mereka tonton, sementara Rara membeli minuman dan popcorn. Irene yang sedari tadi kebelet kencing pun langsung berlari ke toilet, dan saat ia keluar, hal yang tidak disangka pun kembali terulang, ia kembali bertemu dengan Alex yang juga baru keluar dari toilet.


"Kak Alex," panggil Irene. Secepat itu pandangannya langsung tertuju kepada Alex.


"Hei, Irene," sahut Alex terkejut, namun ia tetap berusaha bersikap cool.


"Aku gak nyangka kita bertemu lagi di sini," sambung Irene yang tidak bisa menutupi perasaannya, ia benar-benar sangat menyukai Alex.


"Iya, aku juga gak nyangka, btw kamu sendiri?"


"Oh, gak. Aku bareng teman-teman aku. Kakak sendiri gimana?"


"Aku sendiri, tadinya ada janji sih, tapi teman aku gak bisa datang, katanya ada urusan penting, aku juga gak tau urusan apa," jawab Alex berbohong, padahal ia juga akan melakukan kencan, namun demi Irene, ia rela berbohong. Dan berbohong merupakan hal biasa yang Alex lakukan. Sehari tidak berbohong bagaikan makan tanpa garam di hidupnya.

__ADS_1


"Oh gitu, jadi ini kakak mau pulang atau bagaimana?" tanya Irene lagi.


"Tadinya mau nonton, cuma kalau nonton sendiri pasti gak seru, dan gak ada pilihan, sepertinya aku memang harus pulang," jawab Alex mencari simpati.


"Gimana kalau kakak gabung dengan kami," tawar Irene. Alex pun sekilas berfikir, mau menolak namun ia tidak ingin melewatkan kesempatan, dan jika ia setuju, bagaimana dengan Putri yang sedang menunggunya di luar.


"Kak Alex, bagaimana?" tanya Irene lagi, ia sangat berharap Alex mau menerima tawarannya.


"Aku takut mengganggu, aku juga gak enak dengan teman-teman kamu," elak Alex. Sebisa mungkin ia menunjukkan sikap baiknya, agar semakin menarik perhatian Irene.


"Kakak gak usah kwatir, teman-teman aku orangnya baik-baik kok. Tapi kalau kakak yang merasa gak nyaman aku juga gak bisa maksa," ucap Irene pasrah, padahal hatinya menjerit memaksa Alex untuk ikut dengannya.


"Ok deh, aku gak enak menolak tawaran cewek cantik seperti kamu," ucap Alex. Ia bahkan tega membiarkan Putri menunggu. Sejak melihat Irene, ternyata Alex tidak tinggal diam, ia langsung mencari tahu semua tentang Irene, dan saat mengetahui Irene anak kaya raya, membuat ia semakin tertarik. Namun sejauh ini, ia belum mengetahui bahwa Irene sudah menikah.


Setelah itu mereka pun langsung menyusul Tika, Salsa dan Rara. Dan saat melihat keberadaan Alex, membuat mereka kebingungan, bagaimana dan kenapa bisa Irene datang bersamaan dengan Alex.


"Gak tau, apa mereka janjian?" tanya Tini menebak. Namun belum sempat mereka menerka-nerka jawaban, dengan wajah sumringah Irene pun datang, dan menyampaikan tentang Alex yang akan bergabung dengan mereka. Tini, Salsa dan Rara sama sekali tidak bisa berkata-kata, Alex pun langsung membeli karcis film yang sama, dan setelah itu mereka pun langsung memasuki studio.


Setelah selesai kerja, Dev pun langsung memutuskan untuk pulang, kini ia di sambut oleh bik Yani dan juga pak Harto. Mereka adalah suami-istri yang akan bekerja bersama mereka.


"Selamat malam tuan," sapa bik Yani. Bik Yani dan pak Harto hanya mengenal Dev dan Irene sebatas suami-istri yang baru menikah dari mama Ani.


"Selamat malam bik, apa Irene sudah pulang?" tanya Dev. Dev sama sekali tidak memperdulikan orang baru yang tinggal di rumahnya, selama itu saran dari mamanya, maka ia percaya dan bisa menerimanya dengan tangan terbuka.


"Belum tuan," jawab bik Yani.


"Apa barang-barang Irene sudah di pindahkan ke kamar saya?" tanya Dev lagi, sebelum pulang, ia sudah memberi perintah kepada pak Harto, untuk memindahkan semua barang Irene ke kamarnya.


"Sudah tuan," jawab bik Yani lagi.

__ADS_1


"Oh, ok. Terimakasih ya bik," ucap Dev. Dev sebenarnya orang yang baik, ia bahkan tidak sungkan mengucapkan kata terimakasih jika seseorang sudah membantu atau melakukan perintahnya.


"Sama-sama tuan, apa tuan mau langsung makan malam? Atau masih menunggu nyonya Irene?" tanya bik Yani memberanikan diri.


"Setelah mandi saya akan langsung makan, jadi tolong bibik siapkan makanannya, saya yakin Irene pasti sudah makan di luar, jadi saya tidak perlu menunggunya," ucap Dev.


"Baik tuan," sahut bik Yani. Mendengar jawaban Dev, membuat bik Yani dan pak Harto saling tatap, mereka merasa ada yang ganjal dalam hubungan Dev dan Irene. Dev yang menyadari kebingungan antara pak Harto dan bik Yani hanya bisa diam, ia juga tidak ingin membahas sesuatu yang menurutnya tidak penting. Setelah itu Dev pun langsung menuju kamar.


Di dalam kamar, Dev memperhatikan semua barang-barang Irene, semua sudah tersusun rapi, ia bahkan sangat menyukai pekerjaan bik Yani yang rapi. Setelah itu Dev pun langsung bergegas mandi, perutnya sudah sangat kelaparan, sejak menikah dengan Irene, bukan hanya penampilannya saja yang berantakan, jadwal makannya pun juga ikut berantakan.


Setelah selesai menonton film, Irene, Alex dan lainnya pun memutuskan untuk makan malam, dan saat melihat Alex membayar bill makanan, membuat Irene semakin kesemsem.


"Tuh kan kalian lihat sendiri, kak Alex tidak seperti cowok yang kalian pikirkan, dia laki-laki baik," puji Irene, sambil memperhatikan Alex yang berdiri di depan meja kasir.


"Ya kali dia makan geratis gak mau bayarin Ren, sementara dia laki-laki, di mana-mana yang namanya laki-laki ya memang harus modal. Tapi sepertinya aku percuma ngomong seperti ini, pasti tidak akan masuk di akal kamu," sahut Rara.


"Apaan sih Ra," ucap Irene, namun belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, Alex pun datang.


"Apa kalian masih mau pergi ke tempat lain?" tanya Alex, sedari tadi ia sudah gelisah, sebab sedari tadi Putri sudah menghubunginya, namun selalu ia reject.


Irene pun melihat jam tangannya, "Sepertinya kami langsung pulang kak, udah malam juga," ucapnya.


"Btw kamu pulang sama siapa Ren?" tanya Alex lagi.


"Bareng mereka," jawab Irene.


"Apa aku boleh antar kamu? Tapi aku naik motor, mungkin kamu tidak mau naik motor," ucap Alex ngeles. Ia memutuskan untuk membiarkan Putri begitu saja, sedari tadi Putri sudah seperti orang linglung, bahkan seperti anak yang kehilangan ibunya.


Mendengar itu membuat jantung Irene berdebar, tentu itu adalah sesuatu yang sangat ia inginkan. Tini dan Salsa sudah memberikan kode untuk Irene, agar ia menolak tawaran Alex. Namun Irene yang mengerti arti kode itu sama sekali tidak peduli, baginya ia tidak akan pernah melewatkan kesempatan jika itu bisa membuatnya dekat dengan Alex.

__ADS_1


__ADS_2