Dinikahi Pacar Kakakku

Dinikahi Pacar Kakakku
Mengingatkan Akan Perjanjian Pernikahan


__ADS_3

Sepulang dari dari sekolah, Dev pun langsung menuju ke rumah orangtuanya, ia ingin mengambil beberapa pakaian ganti, untuk ia bawa ke rumah Irene.


Melihat papa dan mamanya yang tengah asik duduk di ruang keluarga, membuat Dev sedikit merasa minder, terus terang ia juga merasa malu. Dev pun sengaja melewati mereka, untuk menghindari pertanyaan yang akan mereka ajukan.


Namun kedatangan Dev langsung tertangkap oleh mama Ani, "Dev, kamu pulang? Di mana Irene?" tanya mama Ani, dan spontan langsung menghentikan langkah Dev.


"Sekolah ma," jawab Dev singkat.


"Ayo sini, duduk dulu. Beberapa hari ini papa dan mama tidak melihat kamu, ini kamu mau langsung masuk saja, menyapa papa dan mama saja tidak," sambung mama Ani. Tidak ada pilihan, Dev pun langsung memutar langkahnya, lalu duduk bergabung dengan papa dan mamanya.


Melihat tampang Dev membuat papa Sanjaya dan Mama Ani merasa iba, mereka tentu sangat mengerti perasaan Dev, namun mau bagaimanapun Dev yang membuat keputusan, jadi mereka sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa.


"Bagaimana kabarmu Dev, papa perhatian setelah menikah, kamu sepertinya sangat berantakan," ucap pak Sanjaya.


"Dev baik pa," jawab Dev singkat.


"Oh iya Dev, kapan kamu dan Irene pindah kemari, kalau perlu mama akan nambahin asisten untuk bantu-bantu Irene," sambung mama Ani lagi.


"Dev sudah beli rumah ma, rencananya lusa Dev dan Irene akan tinggal di sana. Sekarang Fahri sedang mengisi perabotan di sana, jadi mama tolong carikan ART dan supir saja untuk Irene. Dev tidak bisa antar jemputnya tiap hari, dan Dev juga tidak bisa biarkan Irene bawa mobil sendiri," sahut Dev.

__ADS_1


"Apa kamu yakin tidak ingin tinggal di sini. Papa dan mama tau hubungan kalian, papa dan mama tidak ingin kamu menanggung ini sendiri Dev," ucap mama Ani lagi. Terus terang mereka sangat menghawatirkan Dev, walaupun Dev anak sulung, namun sejak kecil, Dev tidak luput dari pengawasan mereka.


"Tidak ma, justru itu Dev tidak ingin menyusahkan papa dan mama. Dev bisa menangani ini sendiri, ditambah Irene juga anaknya baik, jadi Dev yakin, Irene tidak akan mengganggu Dev, begitu juga dengan Dev, Dev tidak akan mengganggunya," ujar Dev.


"Bagaimana dengan Tasya Dev? Jika nanti dia kembali, apa kamu juga akan kembali dengannya? Bukan bermaksud papa mau ikut campur, namun sebagai orang tua, papa wajar menanyakan ini, karena bagaimanapun kamu sudah melakukan pernikahan, yang tidak bisa kamu mainkan sesuka hati begitu saja. Pernikahan itu hal yang sakral Dev, sebenarnya papa sendiri tidak setuju dengan perjanjian pernikahan yang kalian lakukan, jika kamu bertanya dengan papa, lebih baik pernikahan ini tidak dilakukan, daripada kamu menjalani rumah tangga seperti ini. Menikah tapi seperti tidak menikah," sambung papa Sanjaya, dari kemarin-kemarin ia ingin memberikan nasihat ini, namun ia merasa tidak ada waktu yang tepat.


"Papa tidak usah kwatir, Dev baik-baik saja. Dev bisa menangani ini," sahut Dev yang tidak ingin berdebat.


"Apa yang papa kamu katakan benar Dev, pernikahan itu untuk menyatukan dua hati dengan sifat yang berbeda, belajar saling memahami, serta saling mengisi satu sama lain. Pernikahan itu seperti tiang rumah Dev, jika tiangnya tidak kuat, maka rumah yang dibangun bisa roboh. Begitu juga dengan pernikahan, kamu dan Irene seperti tiang, jika kalian sendiri tidak saling memahami dan tidak mencintai, bagaimana pernikahan kalian bisa kokoh. Mama juga tidak setuju, jika pernikahan ini hanya kamu jadikan karena sebuah alasan, lebih baik tidak usah ada pernikahan. Papa dan mama lebih baik merasa malu, daripada melihat kamu seperti ini, dan melihat pernikahan kamu yang tidak berarti," lanjut mama Ani. Mendengar nasihat papa dan mamanya membuat Dev diam, ia semakin merasa menyesal dan semakin terpojokkan dengan semua kejadian ini.


"Dev akan berusaha pa, ma. Mungkin sekarang pernikahan ini tidak berarti, namun kita tidak tahu takdir, dan kita juga tidak tahu perasaan manusia, mungkin saja suatu saat perasaan Dev bisa berubah, begitu juga dengan Irene. Dev harap papa dan mama selalu mendukung dan membantu Dev, Dev hanya mengharapkan itu dari papa dan mama," ucap Dev. Ia tidak ingin terlihat lemah, walaupun sebenarnya ia sangat merasa rapuh, apalagi ia tidak suka jika harus dijengkali seperti itu. Namun walaupun seperti itu, ia juga tidak mau menjelek-jelekkan Irene di hadapan papa dan mamanya.


"Tentu Dev, papa dan mama akan selalu membantu dan mendukung kamu," kata mama Ani.


"Iya Dev, mama dan bik Lala akan mengemas barang-barang kamu," ucap mama Ani. Setelah itu Dev pun langsung menuju kamarnya.


Setibanya di rumah, Irene juga mulai mengemas pakaiannya, ia membawa seperlunya saja, karena menurutnya ia akan pulang sesering mungkin ke rumah orangtuanya.


Mama Ratna yang melihat kesibukan Irene pun langsung menghampiri, sejak pulang sekolah, Irene terlihat sibuk, jalan mondar-mandir seperti mencari sesuatu.

__ADS_1


TOK-TOK-TOK


"Irene, ini mama," ucap mama Ratna.


"Masuk aja ma, pintunya gak Irene kunci," jawab Irene.


Mama Ratna pun langsung membuka pintu kamar Irene, dan melihat kamar Irene yang sangat berantakan seperti kapal pecah.


"Ya ampun Irene, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamar kamu berantakan? Pakaian berserakan kemana-mana," ujar mama Ratna.


"Irene lagi berkemas ma. Papa dan mama sendiri yang bilang, Irene harus ikut kak Dev pindah, jadi sekarang Irene pilih-pilih barang dulu, mana yang akan Irene bawa dan tinggal di sini," ucap Irene. Dan seketika membuat mama Ratna sedih, sebenarnya ia tidak ingin Irene pergi, namun mau bagaimanapun Irene sudah menikah, dan harus mengikuti kemanapun Dev pergi.


"Ya ampun, mama tidak menyangka kamu berubah pikiran secepat ini. Mama senang mendengarnya, apa kamu mau mama bantu?" tanya mama Ratna, ia berpura-pura bahagia, namun nyatanya matanya sudah berkaca-kaca.


"Gak usah ma, mama siap-siap saja di depan, sebentar lagi papa pulang. Irene juga udah mau selesai kok, Irene gak bawa barang banyak, Irene takut, nanti Irene gak betah, dan gak bisa bawa barang Irene pulang," sahut Irene.


"Irene, dengar nasihat mama. Kamu harus tahu ini, kalau kamu sudah menikah, jangan pernah keluar dari rumah kamu nanti, apalagi membawa barang-barang kamu, pamali. Itu yang membuat rumah tangga hancur."


Seketika Irene pun langsung menghentikan pekerjaannya, "Ma, mama tidak lupa kan dengan perjanjian pernikahan Irene dan kak Dev? Pernikahan ini hanya sementara ma. Irene yakin, kak Tasya akan kembali, dia akan mengambil kak Dev kembali, mama seperti tidak mengenal kak Tasya saja, dia tidak suka apapun yang menjadi miliknya menjadi milik orang lain," sahut Irene, lalu melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


"Kamu bisa saja. Ya sudah mama tunggu papa di depan ya, kalau kamu butuh bantuan mama, panggil mama aja, kalau gak panggil mbok Atun, agar dia bisa bantuin kamu," ucap mama Ratna. Ia sama sekali tidak bisa berkata apa-apa, apa yang dikatakan Irene benar, sejak kecil Tasya bahkan tidak mau berbagi kepada Irene, jika ia sangat menyukai sesuatu, seperti baju dan mainan. Apalagi ia tahu, Tasya sangat mencintai Dev, mungkin sampai kapanpun, Tasya tidak akan pernah mau memberikan Dev untuk Irene.


"Iya ma," jawab Irene, setelah itu mama Ratna pun langsung keluar.


__ADS_2