
Dev pun langsung menyusul Irene yang sudah berada di luar, Irene benar-benar sangat merasa kesal, Dev seolah mencari perhatian dari papa dan mamanya, sampai papa dan mamanya hanya membela Dev, dan tidak memperdulikan perasaannya.
"Irene, kamu apa-apaan sih, jangan mentang-mentang papa dan mama memanjakan kamu, kamu bisa seenaknya pergi begitu saja," ucap Dev. Ia tidak suka dengan sikap Irene yang tidak sopan, pergi meninggalkan meja makan begitu saja.
"Berapa kali aku bilang, aku tidak suka kakak ikut campur urusanku, apa kakak lupa janji pernikahan kita, jangan memperlakukan aku seperti istri kakak," ucap Irene.
"Ya sudah, kalau itu kemauan kamu," sambung Dev, lalu bergegas memasuki mobil. Melihat Dev yang pergi begitu saja membuat Irene panik, kenapa Dev tidak mengajaknya, padahal mereka sama-sama mau pergi ke sekolah.
"Kak Dev, kakak mau ke mana?" tanya Irene, ia harus menurunkan egonya, karena hanya Dev lah yang bisa membantunya sekarang.
"Bukan urusan kamu," ketus Dev. Irene pun mengepal kedua tangannya, lalu menggertak giginya, tanpa persetujuan Dev, ia pun langsung membuka pintu mobil Dev, lalu duduk di belakang.
Melihat Irene duduk di belakang membuat Dev kesal, ia pun langsung turun dari mobil, lalu kembali masuk dan duduk di belakang tepat di sebelah Irene.
"Apa yang kakak lakukan?" tanya Irene lagi. Dua-duanya saling adu ego masing-masing, tidak ada yang mau kalah, keduanya terlihat ingin menonjolkan keegoisan masing-masing.
"Aku bukan supir, kalau mau, kemudikan saja mobilnya," sahut Dev. Amarah Irene benar-benar memuncak, ia juga salah menilai Dev, selama ini ia mengira Dev laki-laki yang baik dan sangat pengertian, namun setelah mengetahui sifat Dev yang sangat menjengkelkan, membuat Irene terpaksa meladeninya, ia bertekad akan membuat Dev merasa semakin tersiksa.
"Ok," jawab Irene, ia menyanggupi tantangan Dev. Ia tidak peduli mau Dev duduk di belakang atau di depan. Irene pun berpindah duduk ke kursi supir, dan langsung menghidupkan mesin. Dev yang tadinya hanya menggertak merasa terkejut, saat melihat Irene yang mulai mengemudikan mobilnya.
"Irene, tunggu, Irene, berhenti," ucap Dev panik.
"Jangan pernah mengatur supir, kalau mau, duduk saja di belakang dengan tenang," sahut Irene, dan semakin menambah kecepatan mobilnya. Irene sebenarnya bisa menyetir, namun hanya saja ia tidak memiliki surat izin mengemudi.
__ADS_1
Di dalam mobil Dev hanya bisa menahan nafas, ia benar-benar merasa takut. Irene sepertinya sengaja menyetir ugal-ugalan.
"Baiklah kak Dev, jika ini yang kakak mau, dengan senang hati aku akan mengikuti permainan kakak," batin Irene, dengan senyuman sinis di bibirnya.
Irene sama sekali tidak memperdulikan keselamatan, ia bermain-main dengan setir, terkadang ia menginjak rem, lalu menarik gas, hal itu membuat Dev panik, dalam seperti ini ia sepertinya menyesali ucapannya untuk ingin mati. Ia tidak ingin mati konyol, apalagi dengan cara seperti ini. Ia mengkhayalkan, jika mereka kecelakaan dan tidak mati, pasti seluruh tubuhnya akan terluka dan juga lecet-lecet, hal itu bisa mengurangi ketampanannya, sehingga membuat Dev tidak bisa terima.
"Irene, pinggirkan mobilnya, biar aku yang nyetir," pinta Dev, namun Irene sama sekali tidak peduli, ia paling tidak bisa ditantang. Dev pun berusaha meminggirkan mobilnya, dan berusaha merebut setir dari belakang. Posisi mereka sudah seperti berpelukan dari belakang, namun Dev tetap menjaga diri untuk tidak bersentuhan dengan Irene.
"Irene, pinggirkan mobilnya," teriak Dev lagi, namun Irene tetap tidak peduli, ia pun semakin mempercepat kecepatannya, hingga tidak mereka sadari, ada seorang polisi yang sedang patroli. Melihat mobil ugal-ugalan, dengan cepat polisi itu pun langsung mengikuti, saat mendengar suara serene dan melihat polisi di belakang mereka, seketika membuat Irene merasa panik.
"Bagaimana ini kak? Ada polisi?" tanyanya merasa tidak bersalah. Devil hanya bisa mendengus, ia benar-benar marah dan ingin memaki Irene saat itu juga. Namun Dev berusaha meredam amarah dengan cara menggertakkan giginya.
"Sekarang pinggirkan mobilnya!" bentak Dev, tanpa berkata-kata, Irene pun langsung meminggirkan mobilnya
"Sekarang kamu pindah, aku tidak mau berdebat dengan polisi itu, jika dia tau kamu yang menyetir, urusannya akan semakin panjang," ucap Dev, Irene pun langsung menuruti perintah Dev, ia langsung pindah duduk ke samping, sementara Dev langsung pindah ke kursi supir. Tidak lama setelah itu, polisi itupun datang.
'Tok tok tok'
Dev pun langsung membuka kaca mobilnya.
"Selamat siang," ucap pak polisi.
"Selamat siang, pak," jawab Dev.
__ADS_1
"Kenapa bapak bawa mobilnya kebut-kebutan serta ugal-ugalan? Apa bapak tidak tahu itu sangat berbahaya," sambung pak polisi, Dev hanya bisa menahan amarah, dari raut wajahnya terlihat sangat kesal.
"Maaf pak, tadi saya ada sedikit masalah dengan adik saya, saya tidak bermaksud kebut-kebutan, kebetuan jalan kosong, itu sebabnya saya menambah kecepatan," jawab Dev beralasan.
"Tolong tunjukkan surat-surat kendaraan anda," ucap pak polisi itu lagi. Dev pun langsung menyakar kantungnya, namun sialnya, dompetnya tertinggal di kamar Irene. Ia lupa mengambilnya, karena kekesalannya pada Irene tadi pagi.
"Sial," umpat Dev, dan Irene pun langsung melirik.
"Kenapa kak?" tanya Irene.
"Dompetku tinggal di kamar kamu, ini semua gara-gara kamu," jawab Dev.
"Enak saja, ini semua salah kakak, kenapa kakak gak bawa dompetnya," sahut Irene. Ia yang menyebabkan kekacauan tapi tidak mau disalahkan.
"Sudah, sudah, kalian jangan berantam di sini, cukup di rumah saja. Sekarang ikut saya ke kantor," ajak polisi itu, ia percaya Dev dan Irene adalah adik kakak. Dev pun langsung mengerutkan keningnya, lalu keluar dari mobil.
"Bagaimana kalau kita selesaikan di sini saja pak?" tanya Dev, sambil merangkul pinggang pak polisi itu. Pak polisi yang mengerti maksud Dev pun setuju.
"Baik, jika bapak mau seperti itu," jawabnya. Dev pun kembali mencakar kantung jasnya, dan beruntung ia selalu menyelipkan uang di sana. Dev pun mengambil beberapa lembar, lalu menyalamkan untuk polisi itu.
"Lain kali jangan ugal-ugalan ya pak, bahaya. Beruntung jalannya sepi, jadi tidak ada korban jiwa atau bahaya lainnya," ucap polisi itu dengan manis. Dev yang mendengar itu hanya bisa tersenyum sinis, ia sudah mengerti akan berakhir seperti ini.
"Iya pak, kalau begitu saya pergi dulu, lain kali saya tidak akan kebut-kebutan," sahut Dev.
__ADS_1
"Baik, pak," jawab polisi itu, setelah itu Dev pun kembali ke mobil, dan langsung melajukan mobilnya.
Sepanjang perjalanan Dev dan Irene hanya diam, Irene menyadari kesalahannya sehingga ia tidak mau bicara, sementara Dev sangat kesal, sampai ia tidak sudi untuk bicara.