
Arina berjalan dengan menyeret kakinya yang terluka didampingi dua pengawal yang membantu Arina untuk memasuki salah satu mobil yang mengejarnya tadi.
Mau tak mau meski perasaannya sangat sakit dan pernikahan ini sangat dibencinya dia harus masuk kembali kedalam rumah yang berisikan seorang suami yang sangat dia benci atau lebih tepatnya seorang pria yang gila harta miliknya pikir Arina.
Seiring perjalanan Arina menatap kearah luar jendela dengan tatapan kosong tak percaya akan seperti ini takdir hidup yang ia terima.
Ingatannya kembali memutar kembali dimana saat ayah dan ibunya tadi sore pamit pergi dari Aceh.
"Bukankah ayahku seharusnya sudah berangkat dari Aceh sejak sore tadi?" Tanya Arina pada seorang pengawal yang sedang menyetir
"Tidak nona" Ucapnya singkat
"Ohh ternyata dia sudah merencanakan ini sejak jauh hari ya" Gumam Arina menjawab pertanyaan atas pikirannya sendiri.
"Maaf nona, tuan meminta atas percakapan antara kalian berdua didalam mobil tadi agar tidak diketahui oleh siapapun termasuk oleh mereka berdua" Jelas pengawal itu menyampaikan pesan dari ayah Arina.
"Maksudnya?! " Tanya Arina heran dengan penjelasan pengawal itu
"Saya hanya diberitahu untuk mengatakan itu saja nona" Jelas pengawal itu kembali
Arina semakin bingung dengan perkataan pengawal itu.
'Kenapa harus merahasiakan dari dua orang itu? John dan Husein... Kenapa harus merahasiakan ini dari mereka yang jelas sudah tau ini.... Atau mereka belum tau sama sekali?... Jika seandainya mereka tidak tau harusnya John tak akan menjebakkku untuk menikah dan Husein tak akan menikah denganku. Mereka tak mungkin mau melakukan itu semua tanpa upah sama sekali' gumam Arina bertanya-tanya dalam hati
Rombongan mobil itu kini sudah sampai di gerbang komplek menuju rumah Husein, tampak dari jauh mata Arina melihat sudah banyak orang yang duduk disofa depan rumah Husein menunggu kedatangan Arina.
Arina mendengus kesal dan benci kala melihat pria berkopiah dan sarung corak dengan baju kaos hitam juga berada diantara mereka, dia tak lain adalah Husein. Pria agamis yang telah membuat Arina seperti saat ini.
Ayah Arina keluar terlebih dahulu dari dalam mobil berjalan kearah keluarga Husein yang telah menunggunya sedari tadi.
"Nak Husein... Arina sedang tak mau melihat saya, tolong kamu jemput dia kedalam mobil" Tutur ayah Arina pada Husein
__ADS_1
"Baik ayah" Ucap Husein dengan senyuman dan bergegas mendekati mobil yang telah ditunjuk oleh ayah Arina tadi.
Sementara, sang ayah bersama keluarga Husein bercerita sejenak apa yang telah terjadi tadi dan kemungkinan apa yang akan terjadi dimasa depan nanti. Ayah Arina berharap agar keluarga Husein memaklumi segala tingkah Arina yang mungkin akan keluar batas kedepannya dan mampu membina Arina agar mendekat kepada Allah. Ayah Arina berharap besar agar putrinya bisa menjadi wanita yang baik-baik dan kembali keajaran agama yang telah banyak ia tinggal dan ingkari.
"Arina" Husein memanggil sembari membuka pintu mobil
"Astaghfirullah Arina"
Kala pintu mobil itu terbuka betapa terkejutnya Husein ketika melihat penampilan Arina yang sangat acak-acakan. Arina bahkan tak mengenakan jilbab padahal ada seorang pria yang bukan mahramnya didalam mobil. Husein semakin terkejut ketika melihat Arina yang bersimpah darah di kepala-nya.
Arina melihat kearah Husein sembari bertanya-tanya dalam batin
'Kenapa kau mau menikahiku?'
Segera Husein membuka sarung-nya dan mengenakan-nya ke kepala Arina.
"Kamu ngapain? " Arina bingung melihat perlakuan Husein
"Aurat Arina" Ucap Husein ketika selesai membungkus kepala Arina mengenakan sarung yang ia kenakan barusan
"Gak papa...sebentar aja" Ucap Husein dengan sedikit tertawa ketika mendengar ucapan Arina yang ada benarnya juga.
Arina mendengus kesal memutar bola matanya malas melihat Husein.
"Ayok aku bantu turun" Ucap Husein sembari merangkul Arina ke gendongan-nya.
"Kamu ngapain lagi sih Husein?! " Ucap Arina kaget melihat Husein yang kini sudah merangkul dirinya kedalam pelukan Husein
"Aku bantu kamu jalan" Ucap Husein dan segera menggendong Arina keluar dari mobil
Arina yang merasa malu wajahnya sudah terpampang jelas langsung menyembunyikan kepalanya diceruk leher Husein. Husein yang mendapati tingkah Arina langsung terdiam mematung kala napas Arina berhembus pelan di lehernya.
__ADS_1
"Nak Arina bawak aja kedalam kamar, dikamar sudah ada dokternya" Ucap umi menyadarkan Husein
"Iya umi" Ucap Husein dan melangkah menuju kamar
Sesampainya didalam kamar, Husein langsung meletakkan Arina keatas kasur dan melihat didalam kamar sudah ada seorang dokter wanita berjas putih lengkap dengan koper berisikan peralatan dokternya.
"Nona Arina, saya akan memeriksa anda sekarang" Ucapnya melihat Arina
Arina hanya diam melihat dokter wanita itu mendekat kearahnya dengan sebuah gunting.
Tangan dokter itu dengan cepat menggunting baju gamis yang Arina kenakan agar lebih leluasa setelah melepas balutan kepalanya.
"Kamu gak pergi? " Tanya Arina melihat Husein yang masih berdiri di sampingnya
"Aku takut kamu kabur lagi" Ucap Husein
Arina memutar bola matanya "Aku gak bakal kabur lagi, kamu keluar aja sana" Suruh Arina
"Aku disini aja" Ucap Husein kekeh dan duduk di sudut kasur dengan kepala menunduk tanpa melihat tubuh Arina yang kini sudah terekspos.
Dua jam berlalu dokter itu menjahit kembali luka Arina dan memeriksa seluruh tubuh Arina bagian mana yang terluka.
Arina yang merasa lelah dan kesakitan tertidur pulas pada saat dokter itu memeriksa luka Arina.
"Tuan... Saya sudah selesai" Ucap dokter itu
"Oh iya dok, Terima kasih banyak ya dok" Ucap Husein sembari mempersilahkan dokter itu keluar kamar
Husein menutup pintu kamar dan mendekat kearah Arina yang kini sudah tertidur pulas dengan sebuah kantong impus yang menggantung disebelah tempat tidur. Husein menatap wajah cantik Arina yang semakin menambah menawan kala dia terdiam seperti saat ini.
'Betapa cantiknya Arina kalau dia menjadi gadis pendiam dan pemalu' batin Husein kala melihat wanita yang di depan-nya ini. Kini, telah menjadi istrinya dalam beberapa menit yang lalu.
__ADS_1
Lamunan Husein seketika buyar saat mendengar suara mikrofon berbunyi dari masjid dan terdengar lantunan ayat alquran diucapkan.
Mata Husein langsung melihat jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Dia tak menyangka waktu begitu cepat berputar. Husein menatap Arina lama dengan sebuah senyuman kagum akan kecantikan Arina sebelum akhirnya bergegas kekamar mandi membersihkan diri untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah.