Diperistri Dalam 10 Menit

Diperistri Dalam 10 Menit
Bab 19 Sebuah Telpon


__ADS_3

Husein memperhatikan tangan Arina yang kini dengan santai melihat Arina yang sangat santai dan tenang menonton serial mukbang pedas dari layar handphone-nya.


'Ternyata dia pecinta serial mukbang' batin Husein dengan tetap menonton-nya juga.


"Aku mau makan ini nanti" Ucap Arina


"Kamu suka makanan pedas gak Husein? " Tanya Arina


"Iya suka" Jawab Husein pelan.


"Kamu ngantuk ya? " Tanya Arina kembali dengan sedikit mendongak.


Husein akhirnya berpura-pura tidur, ingin melihat apa yang akan dilakukan  Arina. Jika dia tertidur dengan handphone yang sedang digenggam-nya.


Arina yang mendapati Husein sudah tertidur lelap langsung kembali menatap layar handphone ditangannya dan terus menonton acara mukbang tanpa henti sampai dia merasa bosan.


Arina mengembalikan layar handphone ditangannya dan menatap Husein yang tampak begitu lelap. Arina akhirnya membuka kamera dan mulai mengambil swafoto dengan Husein yang berada di pelukannya. Berbagai model photo telah diambil Arina mulai mencium pipi, bibir menatap wajah, memeluk dengan phose yang sedikit melihatkan dada dan lehernya yang jenjang bahkan berpose jelek. Husein terus berpura-pura tidur dan membiarkan Arina melakukan apapun.


Merasa puas, Arina kini menatap Husein lama sebelum dia bangkit dari tempat tidurnya. Sementara, Husein tetap bertahan dengan posisi semula.


Arina mulai membenarkan tubuh Husein agar menjadi telentang. Arina membuka kancing baju Husein perlahan  dan tampaklah dada bidang yang sangat disukai-nya itu.


"Kok kamu suka banget pake sarung sih" Tanya Arina pada Husein yang telah terlelap


Perlahan Arina melepas sarung itu dengan gerakan yang susah payah. Husein yang mendapati tingkah Arina yang sudah tak waras ini hendak segera membuka mata-nya ragu. Kala sudah selesai menampakkan logo dari pakaian dalam Husein, Arina segera mengambil kamera dan berpose seksi diatas tubuh Husein.


Merasa puas Arina berhenti dengan tetap duduk di pinggang Husein. Husein yang merasa sudah cukup berakting hendak pura-pura terbangun dari tidur. Tapi, malah terhenti ketika ponsel itu berdering keras.


"Via?" Arina membaca nama yang tertera di layar kamera meminta video call bergantian memandang Husein.


"Assalamu'alaikum bg Husein" Tampak dari seberang wajah seorang wanita yang tampak malu-malu menghadap kamera.


Arina mematikan kamera tanpa bersuara.


"Jawab salam itu wajib lo bg, kok abg gak ngejawab salam via" Ucapnya manja


Mendengar nada wanita itu berbicara manja seperti itu Arina segera membuka room chat Via whatsapp dengan Husein. Ternyata ini bukan kali pertama via menelpon Husein. Tampak juga Via menceritakan isi hatinya pada Husein tapi tidak ditanggapi.

__ADS_1


"Gak papa deh, aku udah senang banget pokoknya abg udah mau ngangkat telpon aku"


"Abg buka kamera-nya dong" Pinta wanita itu.


"Nah gitu dong" Ucapnya kala melihat video call diaktifkan.


Mendengar itu Husein langsung terbangun seketika menatap Arina yang duduk diatas-nya, mengira kamera diarahkan pada-nya. Segera ketika melihat Husein Arina mematikan mikrofon dan kamera-nya. Husein langsung terduduk berada tepat sangat dekat dengan Arina dipangkuan-nya.


"Kamu telponan sama siapa? " Tanya Husein berusaha merebut ponsel dari tangan Arina.


"Kamu kok marah? Aku cuman angkat telpon aja" Jawab Arina kala melihat wajah Husein


Mendengar ungkapan Arina membuat Husein berhenti meminta ponselnya dan menatap wajah Arina.


"Abg kok matiin lagi sih? " Ucap wanita itu kembali membuyarkan lamunan mereka berdua.


"Ini" Lempar Arina kedada Husein.


Segera Arina ingin beranjak dari pangkuan Husein tapi malah dihentikan oleh tangan Husein. Husein langsung mematikan telpon di tangan-nya dan memandang Arina.


"Dia saudara jauh aku Arina" Husein memandang Arina lekat.


"Gak perlu kok, aku cuman heran aja pas liat mimik diwajah kamu, aku gak pernah liat kamu sebegitu teraksi kayak gini sebelum-nya" Ucap Arina mengingat tingkah kurang ajarnya didepan Husein selama ini.


"Aku tadi ngira kamu nunjukin aku" Jawab Husein kembali.


"Enggak bakalan kok" Jawab Arina dan menyingkir dari tubuh Husein.


Husein memandangi Arina dengan tatapan bersalah karna menunjukkan wajah marahnya barusan, padahal bukan  itu maksudnya. Sekarang, Arina pasti jadi berpikir aneh-aneh terhadap-nya.


"Aku mau kemasjid dulu" Ucap Husein beranjak dari kasur.


Husein melangkah pelan sembari mengancing baju-nya keluar dari kamar menuju masjid.


"Dasar payah dia kira aku cemburu apa? Ngapain juga dia beraksi gitu? Jadi orang kepedean banget sih" Ketus Arina kala Husein keluar dari kamar.


Arina mendapati tubuhnya yang sangat membuat dirinya risih dengan minyak herbal bercampur keringat-nya itu. Arini kini meraih tisu basah diatas meja dan membersihkan seluruh tubuhnya menggunakan tisu basah dengan susah payah sampai habis. Tak bisa dipungkiri pijatan dari ibu mertuanya itu memang begitu ampuh. Meski, luka berupa jahitan itu tentu tidak bisa sembuh karna sebuah pijatan. Kini, tubuh Arina jadi tampak lebih bersih dan wangi seperti sudah mandi.

__ADS_1


Ceklek suara pintu terbuka tapi Arina tidak menoleh kearah suara.


"Arina" Suara wanita memanggil Arina.


"Umi?! " Arina kaget bukan main melihat siapa yang datang. Segera, Arina menutupi tubuhnya kembali


"Maaf umi aku kira yang masuk tadi Husein" Ujar Arina


"Gak papa kok nak... Sini umi bantu" Tawar umi membersihkan punggung Arina.


"Kamu bosan gak nak dikamar terus? " Tanya umi basa-basi sembari membersihkan punggung Arina.


"Iya umi" Arina mengangguk.


"Kamu sabar ya nak, sebentar lagi umi akan yakinin orang tua kamu biar bisa keluar dari kamar... Sekarang kamu terpaksa dikurung di kamar dulu"


Mendengar penjelasan umi Arina langsung terkejut " Tapi umi, tadi Husein ngajak aku keluar nanti malam"


"Hah apa iya? " Tanya umi yang juga terkejut.


"Iya umi Husein udah janji bakal ngajak Arina keluar malam ini" Jelas Arina kembali


"Gak mungkin nak, tadi malam Husein juga udah sepakat nurutin keinginan ayah kamu" Jawab Umi kembali.


Arina terdiam seketika, kala menyadari ternyata Husein membohongi-nya. Dia merasa bodoh bisa-bisanya dirinya percaya dengan hal yang tak mungkin itu. Kejadian melarikan diri baru terjadi tadi malam, tak mungkin  malam ini ayahnya mengijinkan Husein membawa Arina keluar rumah.


"Mungkin nak Husein cuma mau menghibur kamu aja nak"


"Ini diminum dulu" Umi memberikan gelas kaca berisi kunyit disana.


"Umi? " Husein kaget dengan kehadiran umi di dalam kamar


"Umi cuman mau masuk ngantar jamu aja nak, kebetulan kunci kamar juga kan ada di buya" Jelas umi kenapa dia bisa masuk kedalam kamar.


"Umi pergi dulu ya nak" Ujar umi sembari membelai pucuk kepala Arina


Umi mendekat kearah Husein dan berbicara dengan sedikit berbisik

__ADS_1


"Kamu kok malah becanda soal bakal ngajak Arina keluar sih Husein, nanti Arina berharap gimana? " Tanya Umi dengan mata yang memelototi anak-nya itu.


Seketika Husein terdiam dan langsung memandang punggung Arina yang membelakangi dirinya.


__ADS_2